
Tatapan mata Arung pun semakin tajam melirik ke arah Sang Penyihir yang Berpakaian Serba Hitam tersebut, Pendekar Setengah Naga tersebut pada saat ini sedang menganalisa situasi pertarungan nya pada saat ini.
Sang Penyihir masih berdiri dengan gagah diatas sapu terbang nya.
"Sepertinya dia terlalu kuat, serangan ku tadi tidak berdampak apa-apa kepada nya???"
"Apa yang harus kulakukan...??? "
"Apakah aku harus meminta tolong kepada Black Hole Dragon....??? " Gumam Arung yang mulai sedikit putus asa dengan situasi pertarungan nya pada saat ini.
"Kau mengganggu ku saja, aku masih banyak pekerjaan lain nya.... "
"Matilah..... " Ujar sang Penyihir lalu mulai mengayunkan tongkat hitam nya sambil mengucapkan mantra sihir.
"Alakazam...... " Seru sang Penyihir.
"Sihir Alakazam.....??? " Gumam Dewi Seribu Kayu.
Permukaan padang rumput pun mulai terlihat retak-retak, tidak lama berselang ratusan akar-akar hitam dengan ujung-ujungnya yang runcing seperti tombak pun mulai melesat secara bersamaan.
"Whussss.......... "
"Whussss.......... "
"Whusssss......... " Suara hempasan angin saat akar-akar tersebut mulai melesat keluar dari dalam tanah.
Di kejauhan tampak Bocah Berekor Kera itu mata nya mulai melotot dan mulut nya mulai ternganga ketika menyaksikan peristiwa tersebut.
"Cilaka....... "
"Sihir Alakazam..... "
"Kakak Naga itu pasti mati...... " Ucap Bocah Berekor Kera tersebut kemudian mulai terpaku menyaksikan serangan dahsyat tersebut.
Sementara itu Dewi Seribu Kayu yang pada saat ini sedang terlentang di tanah dengan kondisi terlilit akar pun terlihat cemas.
"Arung........ "
"Sepertinya kali ini kau akan tamat.... " Ucap Dewi Seribu Kayu.
"Akar-akar itu.....??? "
"Banyak banget.... " Gumam Pendekar Setengah Naga tersebut.
"Hua........"
"Ha......... "
"Ha........ "
"Ha......... " Tawa Sang Penyihir.
"Kali ini kau tidak akan bisa kemana-mana lagi.... " Ujar Sang Penyihir yang masih berdiri dengan tenang di atas sapu sihir nya.
"Whussss......... "
"Whussss......... "
"Whussss.......... " Suara hempasan angin saat akar-akar tersebut menerjang ke arah Arung.
Akar-akar itu pun melesat ke arah Arung secara membabi buta dan dengan lintasan yang random, Arung pun menghindari nya dengan jurus langkah petir sempurna milik nya.
__ADS_1
"Dash........... "
"Dash.......... "
"Dash.......... " Suara lesatan Arung di langit di tempat tersebut.
Beberapa akar-akar itu pun berhasil menyerempet kulit Pendekar Don Juan itu, tampak jubah dewa koyak di beberapa tempat kemudian menutup kembali.
"Ouchhh....... " Ucap Arung saat kulitnya terserempet Akar-akar tersebut.
"Kita lihat saja, sampai kapan kau bisa menghindari nya... " Ujar Penyihir dari Klan Penyihir Gelap tersebut.
Sementara itu Dewi Seribu Kayu menonton pertarungan tersebut dengan serius dari padang rumput dan mulai berkomentar untuk dirinya sendiri di dalam hati nya.
"Dasar bodoh..... "
"Jangan hanya terfokus dengan serangan akar-akar itu saja, lawan yang harus kau tumbangkan adalah Penyihir itu.... " Gumam sang Dewi yang cantik jelita tersebut.
"Rasakannn ini......... " Teriak Arung sambil mengayun pedang naga khayangan nya.
"Swinggg........... " Suara ayunan Pedang Naga Khayangan yang menghasilkan beberapa sabetan Pedang Ber elemen Api Hitam.
"Whusssss........ "
"Whusssss........ "
"Whusssss........ " Suara lesatan pedang-pedang raksasa berelemen api hitam yang sedang terbang menerjang dan memotong akar-akar hitam menuju sang Penyihir Bertopi Hitam tersebut.
"Serangan seperti ini, dengan segel petir saja sudah dapat di tahan...." Ujar sang Penyihir lalu mulai mengayun-ayunkan tongkat nya lagi.
Seketika muncul beberapa segel petir yang berhasil menahan serangan-serangan pedang raksasa berelemen api hitam tersebut.
"Duarghhh.......... "
"Duarghhh........... "
"Ini saat nya...... " Gumam Arung sambil mengumpulkan 3/4 tenaga dalam milik nya kemudian mulai mengangkat sebelah tangan nya.
"Jurus Hujan Petir...... " Teriak Arung sambil melesatkan tenaga dalam nya keatas.
"Whussssss............... " Suara hempasan angin di sekeliling halilintar yang sedang melesat ke atas.
Energi elemen petir yang begitu besar pun melesat ke langit-langit goa serta berhasil melubangi nya.
"Duarghhhh.............. " Suara ledakan yang dahsyat saat langit-langit goa di hantam halilintar yang super dahsyat.
Langit-langit goa pun mulai runtuh dan menimpa akar-akar hitam tersebut, di saat yang bersamaan akar-akar hitam pun berhasil menusuk bahu dan paha Arung.
"Akhhhhh.......... " Teriak Arung kesakitan saat tertusuk beberapa akar hitam.
Arung pun mulai memotong akar-akar pohon yang menusuk nya kemudian kembali menghindari serangan akar-akar kayu tersebut.
"Akar-akar ini begitu menyusahkan..... " Ucap Arung seraya mencabut sisa-sisa potongan akar yang menancap.
Sementara itu sang Penyihir terlihat kebingungan dengan peristiwa tersebut.
"Kenapa dia malahan meruntuhkan langit-langit goa ini, kenapa tidak menyerangku, apa dia mau kabur..... " Gumam sang Penyihir yang baru pertama kali melihat jurus hujan petir.
Raut wajah kecewa terlihat dari bocah berekor kera tersebut, ia mengira sang Naga ingin kabur.
"Kakak...... "
__ADS_1
"Dasar cemen.... "
"Ternyata dia sok gentleman qja, padahal sebenarnya dia mau kabur..... " Gumam Bocah Berekor Putih tersebut dengan kecewa.
Raut wajah Dewi Seribu Kayu pun hampir sama seperti Bocah Berekor Kera tersebut.
"Kau mau kabur dan ninggalin aku di sini yachhh...???" Gumam Dewi Seribu Kayu.
"Dasar tidak setia aaa......... " Teriak Dewi Seribu Kayu.
Perubahan cuaca pun terjadi di atas oasis tersebut, seketika langit pun mulai ditutupi awan hitam.
"Dzzzitttt........... "
"DzZziittt........... "
"Dzziittttt........... " Suara percikan-percikan petir di langit.
Hembusan angin yang dingin pun mulai berhembus di area oasis tersebut.
"Aku telah mengerahkan tiga perempat dari tenaga dalam milik ku.... "
"Aku bertaruh pada serangan ini..... " Gumam Arung sambil menghindari dan menangkis serangan-serangan akar tersebut.
Beberapa saat kemudian hujan pun mulai turun dan semakin lebat.
"Byurrrrr............. " Suara hujan yang baru saja turun.
"Serangan yang dahsyat..... "
"Tapi kenapa dia malah mengarahkan nya ke langit.... "
"Dia pasti ingin kabur..... "
"Tidak akan kubiarkan kau kabur setelah merusak markas milik ku.... " Ujar Penyihir lalu mulai mengayunkan-ayunkan tongkat nya.
"Fire Alakazam........... " Teriak sang Penyihir.
Seketika akar-akar itu pun mulai di selimuti oleh api berwarna hitam, api ini adalah jenis api beracun.
"Api racun..... "
"Aku bisa tewas jika tergores.... " Gumam Arung kemudian mulai menyelimuti tubuh nya dengan perisai kultivasi berelemen air.
Beberapa saat kemudian halilintar-halilintar pun mulai menyambar dari atas langit. Halilintar-halilintar itu pun mulai menyambar akar-akar yang di selimuti oleh api beracun tersebut.
"Jderrr.........."
"Jderrr.......... "
"Jderrr........... " Suara sambaran petir.
Hujan petir pun menyambar akar-akar hitam tersebut, sang Penyihir pun melotot dan tidak percaya jika Pendekar tersebut mampu menahan sihir Fire Alakazam nya.
"Siapa bocah itu....??? "
"Sihir Fire Alakazam ku bisa di tahan nya, jurus apa ini... " Ujar sang Penyihir Hitam yang sedang terpukau menyaksikan sambaran-sambaran petir tersebut.
"Dia pasti kabur..... "
"Dia pasti kabur..... "
__ADS_1
"Dia tipe yang tidak bisa di jadikan suami, dia tidak setia.... " Gumam sang Dewi Seribu Kayu kemudian mulai menghayalkan kehidupan nya bersama Arung sebagai sepasang Suami Istri.