
"Ada dimana aku ini kenapa aku bisa ada disini?" ucap Resya dengan melihat kanan maupun kiri.
"Mbak, syukurlah mbak sudah sadar tadi mbak jatuh pingsan karena ada perampok yang tiba-tiba menyerang saya," ucap seseorang yang tak lain adalah supir tadi.
"Perampok. Jadi orang yang tadi membungkam saya dia itu perampok?" tanya Resya dengan wajah terkejutnya.
"Iya Mbak, dia itu perampok dan untungnya saja ada orang-orang yang datang tepat waktu dan menggagalkan rencana si perampok tadi sedangkan mbak akibat kena obat bius, mbak jadi tidak sadarkan diri dan akhirnya sekarang mbah sadar juga."
"Jadi seperti itu ceritanya, astaga aku sampai lupa aku harus pergi ke pasar sekarang bapak gak keberatan kan kalau mengantar saya ke pasar sekarang?" tanya Resya.
"Iya gak papa kok Mbak, saya akan mengantar mbak sekarang."
"Terima kasih ya Pak."
"Iya sama-sama Mbak. Rupanya wanita ini sama sekali tidak curiga kalau aku ini bukanlah supir sungguhan," batin seseorang itu dengan tersenyum sinis.
Tidak membutuhkan waktu lebih lama. Akhirnya Resya sampai juga di Rumah Richard dengan membawa beberapa barang belanjaannya tadi.
"Gara-gara pingsan tadi, aku jadi telat belanja sampai jam segini pasti tante akan sangat marah sekarang," batin Resya sedikit takut.
Berjalan menuju ke dapur tiba-tiba seseorang datang dan langsung menarik lengan tangan Resya dengan kasar. Dan kemudian seseorang itu pun langsung mendorong tubuh Resa hingga terjatuh dan terkapar dilantai.
"Ada apa? Kenapa anda bersikap kasar seperti ini padaku, ada apa?" tanya Resya dengan wajah kebingungannya.
"Sudahlah jangan banyak bertanya lagi kamu. Bagiku semua ini sudahlah jelas dan inggin menggeles apa lagi kamu sekarang," gertak Richard dengan wajah yang terlihat sangat marah.
"Apa maksud kamu aku sama sekali tidak mengerti?"
"Oh jadi kamu masih tidak mau mengaku juga kamu lihat ini? Ini kamu kan, kenapa kamu bisa masuk kedalam Markas Alex jadi sekarang sudah jelas kan kalau kamu itu memang mata-mata yang ditugaskan Alex untuk memata-matai ku inggin membela apa lagi kamu sekarang?"
"Tidak, ini bukan aku, aku tidak pernah masuk kedalam tempat ini maupun bertemu dengan mereka itu tidak bena!"
"Baiklah jika kamu masih tidak mau mengaku juga. Aku bakal memberimu pelajaran sebagai imbalan karena kamu udah berani membohongiku, ayo cepat jalan sekarang," perintah Richard yang langsung menarik tangan Resya agar langsung berdiri.
"Gak aku gak mau, aku tidak salah jadi kamu tidak punya gak mau menghukum ku dengan cara seperti ini, aku tidak mau!" bela Resya.
Richard yang sudah tidak tahan lagi, ia lantas langsung menarik dan menjambak rambut Resya yang indah itu dengan sangat kasar. Resya yang tak bisa menahan rasa sakitnya ia lantas langsung berdiri dengan meringis sakit akibat tembakan yang dilakukan Richard kepada dirinya.
"Aww sakit, lepaskan..sakit!" rintihan Resya.
"Ingat biar pun kamu sekarang sudah sah menjadi Istriku, tapi bukan berarti aku akan diam dan memaafkan mu begitu saja, Richard paling tidak suka jika ada orang yang dengan sengaja telah mempermainkannya, mau itu Istrinya sendiri. Dan kamu, kamu adalah wanita bodoh yang dengan bodohnya mau diperalat oleh Alex jadi sekarang rasakan hukuman dariku."
Tak hanya menjambak rambut Resya yang indah menjadi acak-acakan, Richard dengan tega ia langsung mendorong tubuh Resya kedalam salah satu ruangan yang gelap dan tidak berpenghuni.
__ADS_1
Berusaha mendobrak-dobrak pintu berwarna putih dengan sangat keras dan berteriak meminta tolong, tapi semua usahanya ternyata sia-sia tidak ada orang yang mampu berani untuk membuka maupun menolong dirinya yang sengaja disekap oleh Suaminya sendiri.
"Buka pintunya ... Buka ....."
"Ingat aku pertegaskan ke kalian semua jangan ada yang berani sampai melepaskan dia mau pun membuka pintu ini, jika aku tahu diantara kalian ada yang berani melanggar perintah ini maka jangan salahkan aku kalau aku akan memberi perhitungan balik ke kalian apa kalian mengerti?"
"Baik Tuan saya mengerti!"
Setelah menguncinya didalam gudang, Richard pun akhirnya pergi dan mengabaikan suara istrinya yang berteriak meminta tolong.
"Kasihan sekali kamu nak, maafkan Bibik karena Bibik tidak mampu untuk menyelamatkanmu maafkan Bibik," batin Bibik yang merasa tidak tega.
"Buka...aku mohon buka pintunya." suara tersedu-sedu Resya dengan bersamaan butiran air mata yang sudah menjatuhi kedua pipinya.
"Baru pertama kali aku menjadi Istrinya tapi kenapa dia sudah menunjukkan perilaku se kasar ini padaku. Jika hidupku seperti ini terus yang ada kejiwaan ku akan terganggu, apa yang harus aku lakukan?"
Tubuhnya yang seketika merosot kebawah lantai, dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi kedua pipinya membuat Resya tidak tahu dengan cara apa dia bisa terbebas dari semua ini.
"Nasib yang malang, ternyata rencana Alex berhasil juga ya?" batin Sandra dengan tersenyum sinis.
FLASE BACK OF.
"Kayaknya kesempatan yang bagus buat aku menjebak Resya masuk kedalam perangkap ku ini," batinnya yang kemudian ia pun menggambil benda pipih yang kemudian ia pun mengirimkan satu pesan ke nomor yang tertera pada layar ponselnya atas nama Bunga akan tetapi tanpa diduga bukan seorang wanitalah yang menerima pesan itu, melainkan seorang laki-laki yang tak lain orang itu adalah Alex."
@ sasaran sudah masuk kedalam jebakan, sekarang giliran anak buah kamu yang kamu perintahkan.
" Kalian, cepat jalankan misi yang barusan aku perintahkan tadi!"perintah Alex pada anak buahnya.
"Baik bos," balas anak buah kemudian.
*****
"Bos sasaran sudah berhasil kita bius, jadi sekarang apa yang perlu kita lakukan?" tanya anak buah Alex.
"Lihatlah dibelakang kalian apa ada orang yang membuntuti kalian?" tanya Alex pada seseorang yang ada didepannya.
"Iya benar ada bos, mobil berwarna hitam."
"Bagus, cepat jalankan mobil kalian dan bawa gadis itu ke Markas kita sekarang juga," perintahnya.
"Baik Bos."
Tak menunggu waktu yang lama, mereka akhirnya sampai juga di salah satu tempat persembunyian geng Black blaker.
__ADS_1
"Apa yang inggin bos lakukan, apa Bos inggin mencium gadis ini?" tanya seseorang.
"Tidak, aku tidak inggin menciumnya tapi aku minta kalian foto ini aku dari samping agar terlihat jika aku dengan gadis itu seperti sedang berciuman. Setelah itu kalian kirimkan foto ini ke salah satu nomor ponsel anak buah Richard agar mereka berprasangka jika gadis ini memang ada hubungan denganku, dengan begitu Richard pasti akan percaya kalau gadis ini memang orang yang aku tugaskan untuk memata-matainya, jadi kalian mengerti kan apa maksudku?"
"Tuan benar, memang Tuan kita ini sangatlah Genius."
"Sekarang cepat kalian bawa pergi Gadis ini. Dan ingat buatlah dia tidak merasa curiga jika kita sedang menculiknya tadi apa kalian mengerti."
"Oh iya apa mata-mata dari anak buah Richard telah pergi?"
"Belum tuan orang itu masih memata-matai kita sedari tadi, dan kayaknya orang itu tidak curiga kalau kita hanya menjebaknya.
"Baguslah kalau gitu, sekarang cepat kalian bawa pergi gadis ini?"
"Iya Tuan kita mengerti, kita akan pergi sekarang."
Tak berselang lama mobil yang ditumpangi Resya pun akhirnya kembali keluar dan meninggalkan tempat ini. Dan dari kejauhan anak buah Richard yang telah membuntutinya ia langsung mengikuti laju kendaraan yang baru aja keluar dari Markas.
******* ******** *******
"Gimana apa kamu mendapatkan bukti, apa kamu mendapatkan sesuatu setelah saya perintahkan kamu untuk memata-matai wanita itu?"
"Saya tidak tahu harus harus memulai membicarakan saya darimana, yang jelas apa yang tuan pikirkan ternyata semua itu memanglah benar, istri baru Tuan tadi diam-diam dia mendatangi Markas Black blaker saya tahu semua ini karena saya telah membuntutinya dari kejauhan, dan saya juga melihat sendiri kalau Istri tuan bersama mobil yang ia tumpangi memasuki markas Black blaker dan setelah beberapa menit kemudian akhirnya mereka kembali keluar dan ini beberapa foto mobil yang ia tumpangi, dan yang ini 30 menit kemudian setelah istri tuan menemuinya.
"Breng*ek berani sekali dia mempermainkan saya dan membohongiku seperti ini."
"Tuan saya dapat kiriman sebuah foto dari seseorang yang tidak saya kenal," timpal Reza.
"Foto," ucap Richard dengan wajah penasaran.
"Iya ini," balas Reza yang kemudian memberikan benda pipih itu pada Richard.
"Ini kan Istri tuan bukan bisa-bisanya mereka berciuman, apa Istri Tuan gak sadar dia itu sudah jadi Istri Tuan dan bisa-bisanya dia mengkhianati tuan seperti ini?" ucap Gibran.
"Kurang ajar rupanya dia tidak tahu siapa orang yang sudah dia bohongi saat ini!" gertak Richard yang tanpa berfikir ia langsung pergi dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat marah.
"Tuan!" teriak Gibran yang berusaha menghalangi Richard tapi sia-sia.
"Apa yang akan terjadi nanti apa tuan akan membunuh Istrinya?" tanya Gibran pada Reza.
"Saya tidak tahu, tapi kalau dilihat dari raut wajah Tuan yang se marah ini. Tuan pasti bakal memberi pelajaran setimpal pada Istri barunya itu."
"Sungguh malang sekali nasib wanita itu."
__ADS_1
FLASE BACK ON.
BERSAMBUNG...