
"Baik Nyonya terima kasih atas kedatangannya. Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan seseorang seperti anda, selain cantik, pandai mengelola bisnis anda juga sangat baik lantaran mau meluangkan waktunya untuk menemui kita.
"Iya Tuan saya sendiri juga sangat senang bisa menjalankan rencana kerja sama kita ini. Kami harap dengan kedekatan hubungan ini mampu membesarkan nama Perusahaan kita masing-masing.
"Baik Nyonya sekali lagi terima kasih.
"Sama-sama, ya sudah karena saya masih ada urusan saya pamit pergi dulu, kalian tidak masalah kan kalau saya tidak mengantarkan kalian ke bandara?"tanya Resya kemudian Laki-laki itu menimpalinya.
"Iya tidak masalah kok Nyonya, sudah dengan membagi waktu Nyonya untuk menemui kita saya kita sudah sangat bahagia, jadi berhati-hatilah.
"Baik Tuan ...Nyonya mari saya tingal dulu.
"Baik Nyonya mari.
"Alhamdulillah tugas-ku yang pertama sudah berjalan sesuai rencana.
Tiba diparkiran Mobilnya. Resya yang hendak ingin membuka pintu, langkahnya terhenti sesaat handphonenya yang berbunyi. Segera mengambil benda pipih itu dan ia pun mengangkatnya.
"Gibran ada apa kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku?" tanya balik Resya yang masih berada diluar mobilnya.
"Nyonya. Tuan ...tuan nyonya
"Tuan. Tuan kenapa Gibran apa yang terjadi dengannya kenapa dengan Tuan kamu jangan bikin cemas aku seperti ini?" balas Resya yang nampak diselimuti rasa paniknya.
"Tuan ... dia ...sudah ....!
Belum juga Gibran selesai berbicara dengannya. Sambungannya telfonnya sudah terlebih dulu dimatikan Resya. Terkejut Gibran yang menyadari akan hal itu ia mencoba menelfon beberapa kali tapi semua usaha itu pun sia-sia lantaran apa yang ia lakukan nyatanya tidak membuahkan hasil.
Nyonya ...nyonya ...astaga saya belum selesai ngomong kenapa Nyonya Resya sudah terlebih dulu mematikan telfonnya," gumam Gibran dengan mengusap-usap rambutnya.
Mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi Resya mengendalikan semuanya tanpa melihat akan resiko besar apa yang akan ia alami nanti jika sampai ia mengalami kecelakaan lantaran mengendarai dengan cara ugal-ugalan seperti ini.
"Tidak. Richard dia ...tidak mungkin meninggalkan aku. Tidak, itu tidak mungkin aku tahu semua ini pasti mimpi ... iya semua ini pasti mimpi.
Buliran demi buliran air mata perlahan-lahan mulai berjatuhan membasahi kedua pipi mulusnya.
__ADS_1
CEEKLEK
Baru juga ia melangkahkan kakinya didepan pintu, wajah Resya yang tadinya terlihat sangat cemas, kini ekpresi wajah Resya pun seketika berubah memerah. Setelah ia melihat dengan kedua matanya sendiri, siapa orang yang terbaring lemas diatas brankar rumah sakit ini.
Seseorang yang dalam kondisi sudah tidak berdaya, dengan adanya kain putih yang menutup seluruh bagian tubuhnya, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut hingga tidak terlihat siapa orang itu.
"Tidak, itu tidak mungkin. Richard ...dia...dia tidak mungkin meninggal, ini tidak mungkin ini pasti cuma mimpi, iya aku pasti lagi bermimpi!.
Ucap Resya dengan perkataannya yang tersenggal-senggal, kakinya pun seketika melemas dan merosot kebawah lantai. Dengan perasaan tidak percaya, air matanya pun akhirnya jatuh dan membahasi dari kedua sudut matanya.
Hingga kemudian seseorang pun memegang pundak kanan Resya, seketika Resya yang menyadarinya ia pun langsung membalikkan wajahnya kebelakang melihat siapa orang itu.
"Apa kamu cucu dari orang yang terbaring diatas brankar ini?" tanya seorang suster yang seketika membuat pandangan Wanita dihadapannya pun seketika melongo.
"Cucu?" tanya balik Resya dengan wajah agak kebingungan.
"Iya cucu, ini kan seorang nenek-nenek yang usianya sekitar 60 an, yang dimana dia baru aja menggalami kecelakaan lalu lintas tadi. Jadi kamu cucunya kan, Kenapa memangnya? Kenapa anda begitu terkejut," balas Suster itu yang agak kebingungan melihat ekpresi seorang wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Astaga, Alhamdulillah!. ucap Resya yang seketika keluar dari mulutnya.
"Maaf-maaf Suster, bukan maksud saya berkata lancang seperti itu. Aku mengatakan itu karena ternyata aku sadar kalau aku telah salah sangka. Dan mengira kalau yang terbaring disini adalah Suami-ku, sekali lagi maaf ya, maaf.
"Ooo baiklah kalau gitu, tunggu tadi anda bilang Istri dari pasien yang sebelumnya?"
"Iya Sus pasien yang sebelumnya itu Suami saya, makanya saya terkejut kenapa disini tiba-tiba pasiennya berubah bahkan nama yang tertera disini tidak ada perubahan jadi karena itulah saya menyangka jika pasien diatas adalah Suami saya. Oh iya terus Suami saya dipindahkan keruangan mana Sus?"
"Untuk pasien yang sebelumnya dirawat di-ruangan ini telah dipindahkan keruang no 57 ruang rawat biasa karena kondisinya sudah cukup pulih," balas Suster.
"Baik Sus terima kasih atas pemberiannya, ya sudah saya tinggal dulu permisi?".
"Baiklah, silahkan!.
Dipenuhi dengan rasa malu atas perkataan yang barusan ia ucapkan tadi, kemudian Resya pun pergi meninggalkan ruangan ini.
"Astaga Resya kamu itu kenapa bisa se-ceroboh ini sih, hampir saja kamu kena gebukan karena udah membuat salah faham Suster tadi, dasar bodoh!" gumam Resya yang terus-menerus mengacak-ngacak rambutnya jadi berantakan.
__ADS_1
Dalam perjalanan Resya yang menyitari seluruh ruangan di Rumah sakit ini. Kemudian hadir Gibran yang menemuinya.
"Nyonya ...
"Gibran kenapa kamu tidak memberitahu -ku kalau Tuan telah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Apa kamu gak tahu gimana malunya aku mengira jika pasien yang meninggal tadi adalah Richard apa kamu paham itu. Dan apa kamu paham gimana cemasnya aku disaat aku mengira jika Richard sudah meninggal apa kamu paham gimana semua perasaan hancur yang aku rasakan tadi?" gertak Resya yang dengan beraninya memarahi Gibran tanpa henti.
"Maaf Nyonya bukan maksud saya ingin membuat hati anda terluka. Mungkin saya sudah membuat anda marah besar karena ke-salah pahaman ini. Akan tetapi semua itu bukan sepenuhnya kesalahan saya, tadi dalam telfon saya sudah berniat ingin memberitahukan masalah ini Nyonya soal Tuan yang dipindahkan. Akan tetapi karena Nyonya yang terlebih dulu diserang rasa panik dan menangis tadi, saya belum sempat memberitahunya pada nyonya belum lagi Nyonya langsung mengabaikan sambungan telefon saya tadi," jelas Gibran dengan menundukkan kepalanya.
"Astaga maafkan saya Gibran saya tadi yang lalai dan keburu dipenuhi rasa panik jadi saya tidak konsen, maafkan saya."
"Iya tidak apa-apa Nyonya, saya ngerti kok dengan perasaan ayang telah nyonya rasakan saat ini. Ya sudah karena Nyonya sudah kembali saya pamit ya karena masih ada kerjaan yang belum saya kerjakan.
"Baiklah sekali lagi terima kasih karena kamu sudah mau menjaga tuan.
"Iya sama-sama Nyonya permisi.
"Silahkan berhati-hatilah.
"Baik Nyonya.
Terduduk disalah satu kursi dengan berbarengan lamunannya membuat Rasya yang melihatnya dari kejauhan pun akhirnya menghampiri seorang gadis tersebut.
Memberikan satu botol aQua padanya membuat kesadaran gadis itu pun mulai buyar.
"Rasya apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah memberikan Aqua ini padaku?"tanya gadis itu yang tak lain adalah Sifa.
"Kenapa kamu bersedih? Apa kesedihan yang kamu rasakan saat ini semua ini karena kamu masih kepikiran dengan kondisi Papa kamu?" tanya Rasya, tak lama akibat perkataan itu air mata Sifa pun mulai terjatuh membahasi kedua pipinya.
"Aku tahu di-dunia ini tidak akan ada anak yang tidak akan bersedih ketika melihat Ayah tercintanya terbaring lemas di-Rumah sakit, sama halnya dengan diriku sendiri. Tapi aku yakin Papa kamu akan sembuh dan kembali kedalam pelukan kalian. Papa kamu bukanlah orang biasa dia itu termasuk manusia yang kuat. Bayangkan selama belasan tahun ia terkurung oleh musuhnya, cambukan, pukulan bahkan tembakan sering ia lalui tapi apa? Apa Papa kamu meningal karena semua siksaan itu? Tidak kan! Jadi sadarlah Papa kamu itu manusia yang sangat istimewa bahkan bisa dibilang kebal akan semua siksaan itu. Jadi aku sangat yakin cepat atau lambat dia pasti bakalan pulih percayalah sama aku.
"Kenapa kamu bisa berkata semudah itu? Dan kenapa juga kamu masih bersikap sangat baik padaku padahal kamu tahu sendiri aku ini termasuk gadis yang sangat menyebalkan tapi kenapa kamu masih saja mau berteman dengan-ku?"
"Entahlah aku sendiri juga heran kenapa aku masih mau berteman dengan gadis gila seperti-mu?" balas Rasya dengan sedikit ke-depannya. Sifa yang mendengarnya ia pun akhirnya bisa tersenyum walaupun senyuman itu hanyalah sesaat muncul dalam benaknya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1