
"Laki-laki ini aku rasa dia laki-laki mesum bahkan senyumannya itu sudahlah terlihat jadi akan lebih baik aku pergi saja sebelum ia bertindak lebih nekat dari ini" batinnya yang kemudian ia berniat melepaskan genggaman tangannya.
"Maaf aku harus pergi," ucapnya yang hendak akan pergi. Akan tetapi karena terkejut dengan ucapannya barusan. Richard pun tanpa sengaja telah menarik tangan Wanita itu yang pada saat itu hendak inggin pergi. Karena terkejut dengan tarikan itu, Resya pun langsung jatuh ke pelukan Richard dan tanpa sengaja juga ia telah mengecup bibir Richard yang seketika mereka berdua pun ?
Tak sengaja berpapasan dengan jarak yang sangat dekat membuat Resya tidak bisa menghindarinya yang akhirnya tanpa sengaja ia pun malah menciumnya.
"Astaga apa yang aku lakukan, kenapa aku malah menciumnya," batinnya yang tanpa berkata mau pun mengucapkan sesuatu ia bergegas langsung pergi dari hadapan Richard. Richard yang tadinya terdiam tak terkutik kini dalam hitungan menit pandangannya pun menjadi bingung setelah terjadinya ciuman yang datang tanpa tak terduga barusan
Malam yang sunyi dengan adanya angin sepoi-sepoi yang berhasil menusuk kulitnya yang membuatnya terasa sangatlah dingin. Akan tetapi Resya tidak memperdulikan semua itu setelah ia menatap kearah langit dan melihat Bintang-bintang yang bersinar terang sangatlah indah jika dipandang dan tak mungkin untuk dilupakan begitu saja.
Langkahnya yang tadinya berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti, kini langkah itu pun terhenti sembari menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Dan tak lama secara kebetulan salah satu dari kumpulan Bintang yang bersanding itu pun terlihat berjalan yang dimana kata orang Bintang tersebut adalah Bintang yang jatuh.
Dan tak lama Resya pun mengingat akan perkataan atau pun hanyalah sebuah mitos belaka jika setiap ada orang yang melihat dan menyaksikan langsung atas terjadinya Bintang jatuh satu ucapan atau pun keinginannya seseorang itu pun akan terkabul jika seseorang itu memandang Bintang dengan cara memejamkan kedua matanya secara perlahan maka permintaan itu akan terkabul.
Akan tetapi percaya atau pun tidak kita tidak tahu karena mitos atau fakta kita sendirilah yang merasakannya.
"Aku tidak tahu apa mitos itu memang beneran adanya dan mungkin ini adalah pertama kalinya aku mengikuti sebuah perkataan yang dimana orang-orang pada mempercayai semua itu. Aku mengikuti cara itu dan berharap apa yang aku katakan nanti memang beneran terbukti. Tuhan aku tidak tahu apa aku pantas berkata seperti ini. Apa aku pantas meminta impian jika pada kenyataannya seseorang itu memang beneran sudahlah terlebih dulu meninggalkanku. Satu ucapan dan impianku aku ingin sekali bertemu dengannya walau pun itu hanya dalam sebuah mimpi apa aku masih pantas meminta semua ini? apa permintaan ku ini akan bisa terkabulkan.
Satu kata dan ucapan baru saja diucapkan oleh Resya. Dan belum juga Resya terdiam bahkan air matanya belumlah surut langkah kaki seseorang terlihat mulai berjalan kearahnya, datang dan mengatakan sesuatu yang akhirnya membuat pandangan Resya pun beralih menatap kearah suara tersebut.
"Dan kenyatannya impian kamu akan segera terkabul Resya," timpal seseorang yang tak lain adalah Richard.
__ADS_1
Dengan berdiri disalah satu taman yang terlihat sangatlah gelap tanpa ada Sinaran cahaya, tak lama sinar cahaya pun seketika bermunculan setelah seseorang yang tiba-tiba menyalakannya secara bersamaan.
Lampu yang menghiasi pepohonan dan terdapat beberapa bunga mawar merah mau pun putih yang juga menghiasi taman ini pun seketika membuka mata Resya terbuka sangatlah lebar bahkan ia seperti tidak mempercayai dengan apa yang barusan ia lihat saat ini.
Melihat langsung dengan kedua matanya sendiri ia pun tidak bisa mempercayai siapa seseorang yang berada dihadapannya saat ini.
Langkah Richard yang tambah semakin mendekati Resya membuat air mata Resya mengalir sangatlah deras bahkan tidak bisa dihitung akan berapa jumplah jika dikumpulkan.
"Richard...tidak, ini tidak mungkin. Aku...aku pasti salah, ini..ini tidak mungkin. Aku tahu ini pasti hanyalah sebuah mimpi, iya ini pasti hanyalah sebuah mimpi," ucapnya yang beberapa kali ia menepuk pipinya tapi hasilnya rasa sakit yang ia rasakan.
"Katakan padaku ini pasti hanyalah mimpi kan? kamu..kamu pasti bukanlah Richard kan? tanya Resya yang merasa sangat tidak percaya. Dan kemudian Richard pun menggenggam kedua tangan Resya dan menyentuhkannya pada wajah Richard.
Dada terasa berdebar, lebih tepatnya jantung yang berdebar ketika kedua tangan tepat di genggam olehnya. Matanya yang menatap mataku dan sebaliknya membuatku susah untuk percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.
Berulang-ulang kali aku mencoba menepuk pipiku dan merasa jika apa yang aku lihat saat ini adalah sebuah mimpi. Akan tetapi rasa sakit ketika aku menyubit sendiri pipiku telah menandakan jika apa yang sedang aku alami saat ini memang beneran nyata bukanlah bayang-bayang mimpi yang ia rasakan.
"Aku mencintaimu Resya...aku sangat mencintaimu. "
Enam kata dalam satu kalimat membuat air mata ini keluar secara bersamaan dengan berbarengan air mata yang bertaburan di wajahku. Dia..? ya dia menyatakan ungkapan cinta itu padaku ku seketika tubuhku pun terasa terangkat setelah Richard yang dengan langsung ia seketika memeluknya tanpa berkata sepatah kata lagi.
Tangan mau pun tubuh yang serasa kaku bahkan seperti tidak ada tenaga yang membopong. Kini tubuhnya seketika bertenaga setelah seseorang yang berada dihadapannya memberikan pelukan hangat untuknya.
__ADS_1
Dekapan yang Richard lakukan mempererat pelukan pada lekuk tubuh Resya membuat Resya berbalik dan membalas pelukan hangat tersebut.
Berlinang air mata dengan dilihat banyak orang yang menyaksikan pertemuan ini membuat mereka ikut terharu. Dan benih-benih tetesan air mata tidak bisa lagi untuk mereka pendam.
Kedua Putri mereka yang tak lain adalah Sifa dan juga Silvi mereka ikut merasa sangat bahagia melihat kedua orang tuanya telah bersatu kembali setelah belasan tahun lama cinta mereka terpisah dalam sebuah tragedi masalalu.
"Melihat kalian berpelukan seperti ini apa kita tidak boleh ikut berpelukan juga," tanya Sifa yang mencoba menggoda kedua orang tuanya.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkannya oleh putrinya sepontan mereka pun langsung memeluk Sifa mau Silvi yang sedari tadi telah memperhatikannya dengan air kesedihan.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena kalian sudah menyatukan kita terima kasih,"
"Mama adalah orang yang sangat baik jadi ini sudah sepantasnya untuk mama dapatkan. Selain kita kebahagiaan Mama adalah Papa jadi kita tidak mungkin membiarkan Mama terus-menerus hidup dalam kesedihan," balas Sifa yang kemudian ia pun mempererat pelukannya.
"Maafkan Papa sayang, maafkan Papa selama ini Papa tidak ada disaat kalian membutuhkan bantuan Papa. Maafkan Papa karena karena kalian belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang Papa, maafkan Papa. Dan kamu Silvi maafkan Papa, gara-gara Papa kamu harus menderita karena ulah Papa maafkan Papa.
"Papa jangan bersedih seperti itu semua ini sudah takdir jadi Papa tidak boleh menyalahkan diri Papa seperti ini. Biar pun selama 17 tahun Silvi tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Papa, Silvi sudah sangat menyayangi Papa. Karena bagi Silvi Papa adalah Papa yang terhebat, selama kurang lebih 17 tahun lamanya Papa hidup dalam ruangan yang terpencil dan selalu mendapatkan siksaan setiap harinya Papa masih sanggup menahan semua rasa sakit itu sendiri. Pukulan bahkan cambukan dan tembakan pasti semua siksaan itu sering Papa rasakan selama ini, terima kasih Pa..terima kasih karena Papa sudah bertahan demi kita terima kasih.
Satu ucapan yang kemudian ditabur dengan satu pelukan hangat mereka membuat semua orang yang melihatnya ikut bahagia merasakannya
BERSAMBUNG.
__ADS_1