
Setelah menempuh jarak sekitar 30 menit akhirnya Resya sampai juga di-kantor tempat ia memulai rencananya. Karena memang jarak disini menuju kediamannya memang sangatlah dekat jadi gak butuh waktu yang lama bagi Resya untuk tepat waktu sampai disini. Hanya saja jika ada kemacetan yang terjadi akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk dia bisa sampai disini.
Akan tetapi karena hari ini dia telat akibat dari kecerobohannya sendiri, Jadi mau gak mau dia harus dapat hukuman ringan dari Richard lantaran tanpa diduga dia ternyata telah sampai disini lebih awal.
"Itu sekretaris baru rupanya belum juga datang enak banget ya dia, dia pikir ini kantor milik bapaknya apa? dia memang harus dikasih pelajaran nih," ujar Richard sembari menggerutu.
"Mati, aku kesiangan lagi mudah-mudah itu Richard belum sampai di-kantor. Karena bisa-bisa kalau dia sudah ada disana nanti yang ada bakalan ada macan yang ngamuk hari ini," ucap Resya sambil menggerutu dengan berjalan dalam keadaan terburu-buru. Dan tak disangka Richard ternyata sudah terlebih dulu datang dan memasuki ruangan "
Satu ucapan yang barusan ia ucapkan tak lama ada langkah kaki seseorang yang terdengar dari luar ruangan Richard berada, perlahan-lahan pintu mulai membuka, Richard yang mengetahuinya ia lantas sengaja bersembunyi dibelakang pintu. Setelah berhasil terbuka seseorang itu pun akhirnya masuk dan orang itu yang yang tak lain dia adalah Resya.
"Huhu syukurlah Bapaknya si macan garong itu belum datang kesini jadi aku aman sekarang," celetuk Resya dengan leganya bisa berkata tanpa berfikir. Dan naasnya orang yang ia kata'in berada dibelakangnya.
"Apa dia bilang. Macan garong? berani sekali dia ngatain aku macan dia pikir dia siapa? batinnya dengan mengepalkan kedua tangannya dengan bersembunyi dibalik pintu ia kemudian memunculkan diri tepat dibelakang Resya berdiri saat ini.
"Apa kamu bilang tadi, bapaknya macan? siapa yang kamu bilang macan apa kamu sedang ngatain aku? tanya Richard yang spontan membuat Resya yang tadinya baik-baik saja kini pandangannya pun teralihkan menghadap kearahnya dengan ekspresi terkejutnya.
Tersadar akan kehadiran Richard yang ternyata telah datang terlebih dulu darinya. Resya seketika terperanjat kaget. Bahkan pandangannya tidak bisa lagi ia bohongi.
Memandang dari ujung kaki sampai ujung kepala, Resya masih tidak bisa mempercayainya dengan siapa ia sedang berhadapan saat ini. Bahkan semua ucapan yang ia lontarkan tadi apa semua ucapan itu akan jadi bencana baru baginya.
Berhenti tanpa ada ucapan yang terucap dari mulutnya. Bahkan tatapan Resya yang menatap wajah Richard dengan menatapnya dengan tatapan sinisnya membuat Resya merasa takut.
"Enak ya jam segini baru datang? kamu pikir ini Perusahaan milik bokap kamu apa?"
"Mati aku bapaknya si macan tutul ternyata sudah ada disini. Sekarang apa yang harus aku lakukan? batin Resya yang merasa takut bahkan tidak berani untuk menatap langsung wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa malah bengong disana ayo cepat kerja apa kamu mau aku seret langsung kemeja kerja kamu!" bentak Richard yang terlihat sedikit emosi.
"Maaf pak, baik saya akan duduk sekarang," balasnya yang tanpa basa basi lagi Resya memutuskan untuk duduk.
"Karena kamu sudah telat maka kerjakan semua laporan ini. Dan saya mau kerjaan ini harus selesai dalam waktu 24 jam apa kamu mengerti? tegas Richard sambil membanting semua berkas tepat dihadapan meja kerja Resya.
"Iya Pak saya paham!" balas Resya dengan menunjukkan muka yang pasrah.
Berada dalam satu ruangan yang sama. Akan tetapi tidak terdengar akan ocehan atau pun saling sahut-sahutan antara keduanya.
Fokus pada pandangan masing-masing. Richard yang lebih tepatnya fokus didepan layar laptop. Sedangkan Resya yang terlihat kesal lantaran harus diabaikan oleh seseorang yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Dasar manusia patung sudah tahu aku ini istrinya disapa atau apa Kek, dasar menyebalkan. Oh iya mumpung dia lagi fokus sama kerjaannya coba aku jalankan rencana yang kedua sekarang," batinnya dengan tersenyum sinis.
"Rencana satu," batin Resya yang kemudian ia mengangkat sambungan telfonnya.
"Iya sayang ada apa kenapa pagi-pagi gini kamu menelfon-ku. Apa kamu sudah sangat kangen dengan pacar kesayangan kamu ini?"balasnya dengan tersenyum. Dan sekali-kali Resya menatap Richard yang terlihat tegang.
"Pacar. Jadi dia sudah punya pacar enak aja apa dia pikir tempat ini untuk pacaran apa," batin Richard yang dengan emosinya meremas kertas yang hendak ia tanda tangani tadi tanpa berkata ia bergegas bangkit dan tempat duduknya. Kemudian dengan sigap ia merebut telfon dari genggaman tangan Resya.
"Aku beritahu anda. Ini kantor jadi kalau mau pacaran nanti aja apa kamu paham," gertaknya yang tanpa berkata atau pun menatap Resya ia berlalu pergi meninggalkan ruangan ini.
Resya yang melihat raut wajah Richard berubah memerah layaknya orang yang cemburu. Senyumannya tidak bisa ia bohongi jika ia sangatlah senang melihat jika Richard masih bisa merasa cemburu biar pun ia lupa akan siapa dirinya.
"Aku tahu Richard yang hilang hanyalah kenangan kita dalam pikiran-mu, tapi sejatinya hati kamu masih menyimpan rasa ini. Dan aku sangat senang melihat semua ini.
__ADS_1
"Apa sih maunya dia. Dan Gibran? apa yang membuatnya percaya sampai-sampai mempekerjakan seorang wanita seperti dia," gerutu Richard yang berkata sendiri, tak lama tangan seseorang menepuk pundaknya.
"Hey apa yang kamu lakukan kenapa kamu marah-marah?"
"Apa kamu masih bisa bertanya juga. Apa aku perlu menjelaskan semuanya sama kamu tentang wanita itu?'
"Tentang wanita. Wanita siapa?"
"Iya siapa lagi kalau bukan Resya. Dia itu sama sekali tidak ada niatan untuk kerja apalagi jadi sekertaris-ku. Bayangkan disaat banyak orang lagi sibuk kerja dia malah seenaknya pacaran tanpa melihat-ku yang jelas-jelas aku ini atasannya apa itu tidak keterlaluan namanya.
"Oh ..
"Oh ...jadi itu jawaban kamu. Setelah panjang lebar aku menjelaskannya kamu hanya membalas hanya satu kata Oh itu. Dasar gak kamu dia sama-sama pengen aku jitak ya!" gertak Richard yang hampir saja melayangkan tangannya akan tetapi Gibran menebasnya.
"Astaga Richard kalau kamu memang cemburu, kan tingal bilang aja lagi gak harus marah-marah panjang lebar seperti ini," timpal Gibran dengan tersenyum malu-malu. Richard yang menatapnya ia pun melontarkan satu jitakan padanya.
"Apa kamu bilang Cemburu? yang benar saja gak lagi siapa juga yang cemburu padanya. Sudahlah gak ada gunanya aku berdebat sama kamu," ucapnya lagi yang kemudian ia beranjak pergi meninggalkan Gibran.
"Rupanya rencana yang dijalankan nyonya Resya telah berjalan sesuai rencana. Dan tidak sia-sia Nyonya tadi memberikanku untuk berpura-pura menelfon-nya dengan nada romantis," gumam Gibran yang ikut tersenyum.
Sekalian ijin promo ya
BERSAMBUNG.
__ADS_1