
"Kalian? kenapa kalian semua tidak berani menatapku? apa kalian takut jika aku akan mengajar kalian semua karena dengan beraninya membuat Putriku Sifa masuk kedalam dunia mafia seperti ini. Apa kalian tahu atas perbuatan kalian ini kalian bukan hanya mengancam keselamatan putri saya, tapi kalian sudah hampir bikin Putri saya celaka atas perbuatan kalian ini. Dan sekarang setelah apa yang kalian lakukan tidak ada di antara kalian berani untuk menatap-ku kenapa?
Melihat semua anak buahnya pada berkeringat dingin, ketakutan akan ucapan amarahnya. Richard memulai membangunkan suasana dengan tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka saat ini
"Tuan. Maksud tuan apa kenapa tuan malah ketawa apa tuan baik-baik saja. Atau mungkin tuan sudah menyiapkan hukuman besar pada kami?"
"Apa kalian sebodoh itu percaya akan tipuan-ku? apa kalian sadar kalian hanya aku prank sekarang," balas Richard yang spontan membuat pandangan mereka berbalik lega dan menatap satu sama lain.
Awalnya suasana yang terlihat canggung itu pun berubah menjadi tawa. Setelah seseorang yang mereka takuti nyatanya tidak sejahat yang mereka kira.
Mendengar suara tawa yang mulai meramaikan suasana ini. Akhirnya mereka dengan kompak menatap satu sama lain. Dan tak lupa menunjukkan tawa lepas mereka yang akhirnya membangkitkan suasana canggung ini.
"Ruangan kerjaku akhirnya aku bisa kembali menginjakkan ruangan ini setelah sekian lama ruangan ini aku abaikan," ucap Richard dengan memegang satu persatu benda-benda disini. Tak lama langkah seseorang datang yaitu Sifa dan juga Gibran.
"Papa?" panggil Sifa yang kemudian Richard pun membalikkan tubuhnya kebelakang.
"Iya sayang ada apa?" tanya Richard dengan memegang pundak Putrinya.
"Sekarang Papa sudah kembali, jadi sudah saatnya benda ini kembali ke-tangan Papa. Papa orang yang sudah berjuang mati-matian membesarkan nama Tayger Lee jadi ini sudah sepantasnya berada ditangan Papa!" ucap Sifa dengan memberikan beberapa pistol yang berada didalam salah satu kotak hitam.
"Terima kasih sayang. Terima kasih selama Papa tidak ada disini kamu sudah dengan baik menjaga dan melindungi senjata ini terima kasih," balas Richard yang kemudian mereka pun berpelukan.
"Ya sudah karena Sifa sudah mengembalikan senjata ini. Sekarang Sifa pamit pergi dulu ya Pa. Sifa harus berangkat sekolah jadi Sifa pamit dulu, oh iya mana kunci mobilnya Pa?"
"Tidak perlu kunci mobil sayang. Kamu masih SMA dan pastinya banyak laki-laki tampan yang ingin mengincar-mu. Apalagi tahu kamu adalah Putriku jadi Papa takut ada orang jahat yang akan berniat mencelakai-mu. Jadi Mendingan biar om Gibran aja ya mengantar-mu?" bujuk Richard.
"Tapi Pa. Apa Om Gibran tidak keberatan dan aku tidak mau ngerepotin," timpal Sifa.
"Tidak Non, saya tidak merasa keberatan kok. Hanya saja yang membuat aku keberatan bisakah kalian Jangan memanggilku dengan sebutan Om. Aku ini jujur masih muda dan belum menikah sakit banget rasanya dipanggil dengan sebutan Om," sambung Gibran yang spontan membuat Richard mau pun Sifa yang mendengarnya mereka hanya bisa tertawa secara diam-diam.
"Baiklah sayang jangan panggil dia dengan sebutan Om. Panggil aja Mas atau Kak itu lebih bagus ya kan Om Gibran?" ledek Richard.
"Ist tuan ini," sambung Gibran yang merasa malu.
Dalam perjalanan Richard menuju kekantor yang biasanya hanya menempuh jarak sekitar 1 jam'an dari Rumahnya. Akan tetapi dalam perjalanannya kali ini tanpa Richard sadari dia harus kehilangan cukup banyak waktu, lantaran tanpa dia duga mobil yang dia kendarai ternyata menggalami rem blong, Richard yang tadinya inggin berhenti lantaran ia melihat ada seorang nenek-nenek yang membawa tongkat dan hendak inggin menyebrangi jalan, karena merasa kasihan Richard pun berniat inggin membantunya tapi betapa terkejutnya dia setelah mencoba untuk mengerem pedal tersebut. Dan apa yang terjadi selanjutnya.
"Kasihan sekali nenek-nenek itu?"aku harus membantunya?" ucap Richard yang merasa miris ketika melihat ada seorang nenek-nenek yang berada dipinggir jalan. Dan seperti membutuhkan bantuan seseorang.
"Ada apa ini?" kenapa Mobilku remnya tidak berfungsi seperti ini, ada apa?" ucap Richard yang merasa cemas sekaligus was-was. Dan dengan berusaha dia pun menyeimbangkan laju setir yang dia kendalikan.
__ADS_1
"Astaga apa yang harus aku lakukan sekarang, rem mobil ini sama sekali tidak bisa dikendalikan?"
Karena menghindari sebuah Truk yang tiba-tiba melintas dihadapannya, terkejut ia pun akhirnya membanting setirnya kekiri.menabrakkan mobilnya tepat mengenai sebuah pohon yang berdiri tepat dipinggir jalan.
Akibat benturan keras yang dia alami, pendarahan pun tidak bisa dihindari lagi, darah yang terus mengalir di-kepala Richard pun akhirnya membuatnya tidak sadarkan diri lagi.
Sedangkan orang-orang yang melihat ada kecelakaan yang baru saja terjadi dihadapannya itupun bergegas langsung
menghampirinya.
"Ada...ada kecelakaan...ada kecelakaan, ayo cepat kita tolong orang itu, cepat!" teriak salah satu seseorang laki -laki yang kebetulan sedang berada disebuah warung kecil. Dan berhamburan mereka pun langsung berlari kearah kecelakaan itu.
"Aw...?" suara rintihan kesakitan Resya yang keluar setelah dia tidak sengaja tangannya telah tergores oleh pisau sewaktu sedang mengiris bawang putih di dapur bersama dengan sang bibik. Karena terkejut bibik pun lantas bertanya.
"Nyonya Resya,nyonya tidak apa-apa kan?" tanya bibik yang merasa agak khawatir.
"Tidak bik, aku baik-baik saja, tapi kenapa perasaanku jadi tidak enak kaya gini ya bik?" ucap Resya dengan mengelus dadanya.
"Non Resya mungkin hanya syok saja, jadi non Resya jangan pikirkan itu ya?" ya sudah mendingan sekarang non istirahat saja, biar saya saja yang mengerjakan semua ini ya?"tawar sang Bibik
"Ya sudah kalau gitu, aku masuk ke-kamar dulu ya bik?"
"Astaga ada apa ini?" ini kan fotonya Richard, kenapa fotonya Richard bisa jatuh tanpa ada yang menyenggolnya?"
"Sudah nyonya, nyonya jangan pikirkan itu?" mungkin foto ini kebetulan terkena angin makanya bisa terjatuh seperti ini, ya sudah biar saya aja yang membersihkannya?" ya sudah saya antar non Resya ke-kamar dulu ya?"
"Aku harus ketemu Richard sekarang, aku takut kalau terjadi sesuatu sama dia, jadi aku pergi dulu ya bik?" ucap Resya yang bergegas dia inggin pergi tapi segera bibik pun melarangnya.
"Non jangan pergi, mungkin ini hanya perasaan non Resya ?"
"Tidak bik?" saya tidak bisa diam disini seperti ini, saya harus menemui Richard sekarang juga. Karena saya tahu firasat seorang istri tidak mungkin salah, jadi aku harus pergi sekarang?" balas Resya yang kemudian tanpa berkata lagi, dia pun langsung melepaskan genggaman tangan bibik. Dan segera dia pun langsung pergi meninggalkan bibik.
"Pak antarkan saya kejalan gajah mada sekarang juga?" pinta Resya pada seorang supir pribadinya.
"Baik Nyonya silahkan masuk?" balasnya.
"Semoga aja ini hanya firasat-ku saja, semoga aja tidak terjadi sesuatu yang buruk sama Richard, TUHAN tolong lindungi Richard di manapun dia berada aku mohon. Batin Resya yang merasa sangat panik.
Tak mau berdiam diri. Resya akhirnya mengambil benda pipih dan menghubungi salah satu nomor anak buah Richard yaitu Gibran.
__ADS_1
"Nyonya Resya. Ada apa Nyonya kenapa Nyonya tiba-tiba menelfon saya?"
"Maaf Gibran saya menganggu waktu-mu sebentar. Apa di-markas Tuan Richard bersama-mu?"
"Tidak Nyonya, barusan Tuan memang datang kesini. Tapi beberapa menit yang lalu tuan telah pulang dan mungkin sekarang dia lagi dalam perjalanan. Ada apa Nyonya kenapa Nyonya terdengar panik? apa telah terjadi sesuatu?"
"Tidak ada apa-apa. Nanti kalau tuan Richard menghubungi-mu kamu beritahu saya ya. Saya sudah beberapa kali menghubunginya tapi dia tidak juga mengangkatnya.
"Baiklah Nyonya nanti saya akan bantu untuk mencari tuan,"balasnya yang kemudian Resya menutup telfonnya.
"Richard kamu ada dimana sih kenapa kamu suka sekali bikin aku gelisah seperti ini?" gumam Resya Kemudian ia terkejut lantaran supir tiba-tiba menghentikan laju kendaraannya.
"Ada apa disana?" kenapa orang-orang pada berkerumun disana?" tanya supir, spontan Resya berbalik menatapnya.
"Kenapa orang-orang pada berkerumunan disana?" ucap Resya yang kemudian diapun turun dan bertanya langsung pada seseorang yang kebetulan lewat.
"Pak maaf mau tanya?" disana ada apa?" kenapa orang-orang pada berkerumunan.
"Itu mbak disana baru aja ada kecelakaan tunggal. Dan korban masih terkapar disana?" ucap salah seorang warga.
"Kecelakaan?" ucap Resya yang tiba-tiba langsung terkejut setelah mendengar kata KECELAKAAN.
"Enggak!. batin Resya sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah mbak kita lanjutkan lagi perjalanannya?"pinta sang supir taksi.
"Baik pak ayo?" ajak Resya.
"Naas banget ya orang itu, pasti dia sedang terburu makanya sampai kecelakaan seperti itu, orang kantoran lagi.
"Tapi kalau tidak salah PLATNYA itu ....ya, berarti dia orang jakarta asli kan?"
" Apa .... plat itu bukannya plat mobil milik Richard, engak ini gak mungkin?" batin Resya yang seketika langsung berlari kearahnya mobil tersebut.
SEKALIAN IJIN PROMO KARYA TEMAN-KU YA
BERSAMBUNG.
__ADS_1