
"Jadi kamu masih tidak mau jujur kepada Mama, baiklah Mama akan membuatmu berkata jujur dan Mama juga ada kejutan untuk kamu, Mama rasa kamu akan terkejut!"
"Kejutan, tapi Sifa kan tidak lagi ulang tahun Ma?"
"Iya Mama tahu kalau kamu memang tidak lagi ulang tahun, tapi Mama sangat inggin menunjukkan ini padamu kamu lihatlah kearah sana,"perintahnya dengan menunjukkan jarinya kearah kanan Sifa.
Pandangan Sifa yang tadinya hanya terlihat terkejut, kini dalam hitungan detik pandangan Sifa pun berubah tambah semakin takut. Bahkan keringatnya pun terlihat akan mulai menjatuhi wajahnya.
"Kenapa sayang? Kenapa kamu terkejut?"tanya Resya yang semakin membuat Sifa pun hanya bisa terdiam.
"Mama dapat darimana semua itu?"
"Itu bukanlah pertanyaan yang tidak perlu untuk Mama jawab, tapi pertanyaan itu lebih cocoknya kamu sendiri yang harus menjawabnya, dapat dari mana kamu barang-barang itu. Dan apa yang akan kamu gunakan pada benda-benda itu, kamu tidak lagi bertindak yang aneh-aneh kan sayang? Kamu gak mungkin bertindak seperti apa yang ada dipikiran Papa kamu kan?"
"Mungkin kini saatnya aku untuk berkata jujur pada Mama. Apa yang Mama pikirkan ini memang beneran terjadi, aku ...aku memang melakukan tindakan apa yang Mama pikirkan. Putri imut yang dulunya sering Mama belai kini telah berubah menjadi seorang penjahat, aku ...aku bukanlah gadis pendiam dan polos yang Mama pikirkan aku berbeda dari semua itu, aku ...."
"Kamu tidak mungkin menjadi seorang Mafia kan? Ayo katakan pada Mama kamu tidak lagi melakukan hal itu kan?"
"Maafkan Sifa Ma, maafkan Sifa, Sifa tahu kalau Sifa salah, maafkan Sifa!"
"Kenapa sayang? Kenapa kamu harus melakukan profesi itu. Apa tidak ada kerjaan lain selain menjadi Mafia ada kamu tidak memikirkan resiko besar apa yang akan kamu hadapi nanti. Apa kamu tidak memikirkan semua itu. Apa kamu tidak kasihan dengan Mama, apa kamu tidak kasihan?"
Isak tangis Resya yang akhirnya mengetahui jika apa yang dipikirkan beneran terjadi pada Sifa. Melihat Mamanya yang sedang meneteskan air matanya, Sifa pun berbalik bertanya.
__ADS_1
"Terus apa bedanya dengan Mama? Kenapa Mama juga selama ini berbohong padaku dan juga pada Silvi, kenapa Mama tidak bilang kalau Papa kita itu seorang Mafia. Kenapa Mama tidak bilang kalau Papa itu meninggal karena dibunuh bukan karena adanya penyakit yang menyerangnya kenapa Mama melakukan semua itu, kenapa!
Dan kenapa Mama juga bohong yang mengatakan jika Papa meninggal tepat diusia kandungan Mama yang menginjak sembilan bulan, kenapa Mama membohongi kita semua dan apa alasannya?"
Mungkin Mama adalah Mama yang jahat karena Mama tidak pernah berkata jujur pada kalian, maafkan Mama, Maafkan Mama kalau Mama sudah membuatmu kecewa maafkan Mama. Mama sengaja berkata dan berbohong seperti itu karena Mama tidak mau menjadikan kalian menjadi korban selanjutnya dari permusuhan antara kelompok Papa kamu, Papa kamu adalah seorang Mafia, Mama tidak mau kalian akan celaka nanti, maafkan Mama.
Melihat Mamanya yang terlihat bersedih dan tak henti-hentinya meneteskan air matanya, Sifa pun mendekatkan diri ke Mamanya. Dan tak berkata mau pun mengucapkan sepatah kata lagi padanya, ia pun memberikan satu pelukan kepada Mama sebagai simbol tanda permintaan maafnya karena dia juga udah membuat Mamanya kecewa.
"Maafkan Sifa Ma, maafkan Sifa, Sifa tahu kalau Sifa salah maafkan Sifa."
"Mama akan memaafkan kamu kalau kamu mau menuruti apa permintaan Mama, Mama mohon tolong berhentilah dari seorang Mafia Mama mohon. Mama sudah pernah kehilangan Papa kamu, jadi Mama mohon tolong jangan buat Mama harus kehilangan kamu, Mama mohon."
"Baiklah Sifa akan menuruti apa permintaan Mama, mulai sekarang Sifa akan tinggalkan dunia Mafia, Sifa janji!"
"Iya Sifa serius Ma!"balas Sifa yang kemudian dengan hangatnya ia pun kembali memeluk Mamanya.
Terkadang jika kita inggin melakukan sesuatu kita harus berkorban terlebih dulu. Dan itulah yang aku lakukan saat ini, maafkan aku Ma, maafkan aku karena aku belum bisa menuruti apa permintaan Mama. Maafkan aku kalau Sifa hanya bisa mengucap tanpa harus membuktikannya, maafkan Sifa jika Sifa telah membohongi Mama, Maafkan Sifa.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Sifa saat ini, didalam ruangan yang terlihat cukup ramai dengan adanya beberapa pelajaran yang pada bercanda, terdapat seseorang yang sedang melamun Hinga membuat para teman yang berada dikelas itu pun hanya bisa menatapnya dengan tatapan heran.
Selama kurang lebih beberapa menit seseorang itu melamun tanpa henti, kini lamunannya pun tersadar sesaat seseorang pun datang dan langsung mengagetkannya dengan menggebrak meja tersebut telat dihadapannya.
Seseorang yang tadinya terdiam membisu, kini dalam hitungan detik tatapan seseorang itu pun beralih menatap kearah asal suara dari seseorang yang membuat ulah tadi. Dan seseorang itu yang tak lain dia adalah Amel, Silvi yang sedari diam tak berkutik kini pandangan pun menjadi malas ketika harus memandang dan berurusan pada seseorang itu, sembari membuang pandangan wajahnya ia pun berkata padanya.
__ADS_1
"Apa mau kamu? Apa kamu tidak ada urusan lagi selain menggangguku? Apa kamu tidak punya kesibukan lain dari pada harus menganggu orang?"
"Silvi ...Silvi ...kayaknya kamu terlihat terpukul ketika tahu jika aku itu hanya memanfaatkan kamu selama ini sampai-sampai kamu terlihat murung dan bersedih seperti ini. Apa sampai segitunya kamu menginginkanku untuk jadi sahabatmu?"
Mendengar balasan apa yang barusan dikatakan Amel membuatnya tersenyum kecut, beralih menatapnya dengan tatapan sinis ia pun akhirnya berani berkata yang akhirnya membuat Amel pun terlihat cukup malu dibuatnya.
"Amel ...Amel ...kamu itu ternyata ke gr'aan banget sih. Apa kamu pikir aku sedih karena memikirkan mu, aku rasa aku akan gila jika punya pikiran seperti itu sudahlah aku capek dan tidak ada untungnya juga aku bersahabat mau pun berteman dengan seseorang yang hanya memanfaatkan kekayaannya," balasnya yang tanpa berkata ia pun bergegas pergi dari pandangan Amel, terkejut dengan perkataan apa yang barusan dikatakan olehnya membuat Amel pun menjadi sedikit geram.
"Berani sekali dia berkata seperti itu,"ucapnya yang tanpa berkata ia juga bergegas pergi meninggalkan ruangan kelas ini.
Langkahnya yang menuju ke kantin, kini langkahnya pun terhenti sesaat Silvi yang tak sengaja berpapasan dengan Reno, teringat akan kejadian yang barusan terjadi tadi malam membuat Silvi pun mengepal tangan kanannya dengan pandangan yang tak henti-hentinya mengarah kearah Reno.
Sedangkan Reno yang seperti sedang memikirkan sesuatu, langkahnya pun seketika terhenti. Sesaat ia berhenti ia pun memangil nama Silvi, dan dalam hitungan detik langkah Silvi pun terhenti. Melihat Silvi telah berhenti dari langkahnya ia pun menghampirinya akan tetapi Silvi tidak berani bertatap langsung dengan wajahnya ia hanya membelakanginya.
"Kenapa kamu memperhatikanku? Apa ada masalah?" balasnya dengan jutek.
"Apa kamu ingat akan kejadian yang barusan terjadi tadi malam. Apa kamu mau menjelaskan semuanya, jujur aku tidak ingat apa-apa tapi aku rasa diantara kita telah terjadi sesuatu, apalagi dengan aku menemukan jepit kamu ini aku tambah semakin yakin jika diantara kita telah terjadi sesuatu?"
"Kalau pun aku menjelaskan semuanya ke kamu, aku rasa kamu tidak akan mudah untuk mempercayaiku," balas Silvi yang tanpa berkata ia pun bergegas pergi dan melanjutkan lagi perjalanannya
Sekalian ijin promo ya kak, bila berkenan jangan lupa mampir ke-karya teman-ku yang pastinya sangat cocok untuk difavoritkan. Yuk mampir ke-karya kak Author Skysal
__ADS_1
BERSAMBUNG.