
Berbicara tanpa tiada henti Richard merasa aneh ketika seseorang yang ada dihadapannya hanyalah menunjukkan tatapan senyuman tanpa ada respon yang barusan ia katakan tadi.
"Devi apa kamu mendengarkan apa yang barusan aku katakan tadi?" tanya Richard yang akhirnya membuat lamunan Devi terperanjat kaget.
"Oh maaf Tuan, iya saya paham betul apa yang barusan Tuan katakan tadi. Dan sama seperti anda, saya sendiri percaya jika seseorang seperti anda akan memberikan pengaruh baik bagi nama perusahaan ini jadi sekarang kita deal ya," ucapnya dengan menjabatnya.
"Iya saya deal.
"Oh iya saya lihat anda ini sering sendirian apa anda masih lajang. Atau pun sudah duda?"tanya Devi dengan mengigit bibirnya sendiri.
"Kalau soal itu entahlah aku sendiri bingung akan siapa aku. Karena beberapa waktu yang lalu saya baru aja mengalami kecelakaan. Dan akibat kecelakaan itu saya kehilangan ingatan saya termasuk lupa nama sendiri.
"Astaga sangat disayangkan, oh iya anda ini sangatlah tampan dan aku lihat anda orangnya itu seperti lagi butuh belaian seorang wanita jadi apa anda bersedia mengijinkan saya mengisi kekosongan hati anda ini?"tawarnya yang mulai mendekati Richard.
"Gila apa yang dia lakukan apa dia berniat ingin menggodanya bukankah cara itu bukan cara yang saya ajarkan tadi. Kurang ajar berani sekali lagi dia membohongiku!" gertak Resya yang terlihat marah akibat mendengar ucapan wanita sialan tersebut.
"Hey tampan aku kan lagi menggoda-mu apa kamu sangat susah untuk ditaklukkan," ucapnya lagi dengan berbarengan tangan mungil Devi yang mulai meraba-raba dada bidang Richard. Richard yang melihat dan menyadari akan tindakannya hanya membalasnya dengan senyuman.
"Baiklah jika kamu ingin menggoda-ku silahkan. Dan nanti malam aku tunggu kamu di hotel Sriwijaya No 4 dan aku harap kamu akan hadir nanti malam untuk memuaskan-ku apa kamu bersedia cantik," balasnya Richard dengan percaya dirinya.
"Baiklah aku suka dengan tawaran kamu itu,"
Pandangan mereka yang belum juga teralihkan. Tak lama mereka pun dikejutkan dengan kehadiran Resya yang tiba-tiba masuk tanpa mengetok pintu terlebih dulu.
Melihat siapa seseorang yang berada dihadapannya saat ini, pandangan Richard pun tak henti-hentinya menatapnya. Resya yang melihatnya ia hanya menunjukkan raut wajah juteknya. Richard yang melihatnya pun ia membalasnya dengan sebuah senyuman.
"Kamu apa yang kamu lakukan kemana kamu tiba-tiba masuk tanpa mengetok pintu terlebih dulu. Apa kamu tidak lihat kita masih membicarakan rencana kerja sama ini!" gertak Richard akan tetapi Resya nampak marah dan tidak memperdulikan ocehan yang dilakukannya.
"Kamu? aku sedang berbicara dengan-mu apa kamu tuli!"
"Bodoh," balasnya bergegas ia mengambil tasnya dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Dia. Apa yang dia lakukan apa dia sedang marah dengan-ku?"
"Sudahlah Tuan abaikan saja sekertaris seperti itu. Baiklah karena kita sudah sama-sama deal kamu gak lupa kan ucapan yang barusan kamu katakan tadi soal malam nanti?" tanyanya dengan mengigit bibirnya sendiri.
"Iya aku tidak lupa datanglah nanti malam. Karena aku akan siaga menunggu-mu nanti malam apa kamu bersedia?"
"Baiklah.
"Dasar wanita ****** berani sekali ia menggoda-ku dengan cara seperti itu sangat menjijikkan. Dan lihat saja nanti malam kejutan apa yang akan kamu dapatkan dari-ku jadi tunggulah," batinnya dengan menyunggingkan bibirnya.
"Oh iya Resya apa yang terjadi dengannya. Apa dia mendengar ucapan-ku tadi. Apa dia berfikir aku Bos yang brengsek tidak, itu tidak bisa dibiarkan. Jika aku tidak mencegahnya dia pasti akan menyebarkan berita bohong dan menjelekkan nama baik-ku disini, jadi aku harus cegah dia."
Segera Richard pun mengambil benda pipih dan menghubungi salah satu nomor yang tertera pada layar ponselnya. Tak lama seseorang yang habis ia hubungi itu pun segera menghadap langsung kearahnya.
"Iya Tuan ada apa kenapa Tuna tiba-tiba menghubungiku. Dan menyuruhku untuk menemui Tuan?" tanya Gibran Kemudian Richard membalasnya.
"Gibran apa kamu tahu kemana perginya Resya?" tanya Richard beralih Gibran bertanya balik.
"Tadi dia tiba-tiba pergi tanpa berpamit atau pun menunjukkan alasan yang jelas. Jadi aku minta kamu cepat cari dia dan jika kamu tahu dimana dia cepat beritahu saya apa kamu paham!" tegasnya.
"Baik tuan saya akan mencarinya,"balasnya bergegas Gibran pun pergi dari hadapan Tuannya.
"Resya ... Resya akhirnya apa kamu inginkan benar-benar terjadi, kamu terlalu bodoh sampai-sampai dengan bodohnya mengijinkan Suamimu untuk aku goda. Dan laki-laki pastinya akan cepat luluh jika berhadapan dengan wanita sexy seperti-ku,"
Tawa menyeringai telah ditunjukkan oleh wanita berbodi sexy tersebut, yang dengan berbangga diri jika dirinya adalah wanita yang paling sempurna dan siapa pun seseorang yang melihatnya pasti akan tergoda termasuk Richard sendiri.
Akan tetapi ia lupa dibalik sifat pria yang dikiranya mudah luluh, terdapat-lah wanita yang sudah siap mengoyak-ngoyak tubuhnya. Langkahnya yang tadi terlihat santai tanpa memikirkan nasib buruknya dan seakan-akan kupon undian telah ia dapat.
Tarikan kasar telah ia rasakan sesaat seseorang yang dengan sengaja menjambak rambutnya hinga dirinya meringis sakit. Tak hanya menjambak seseorang itu juga dengan beraninya menamparnya seakan-akan dirinya adalah sebuah mainan.
Plak...
__ADS_1
Plak ...
Plak ...
"Dasar pelakor jadi ini cara kamu mengait seorang laki-laki ayo maju ...ayo maju biar aku tambah lagi tamparan itu," gertaknya yang ingin sekali menghabisi wanita dihadapannya.
"Kamu? apa yang kamu lakukan kenapa tiba-tiba kamu menamparku?"
"Kamu masih tanya juga apa kesalahan kamu kenapa aku menampar kamu? apa kamu belum sadar atas apa yang sudah kamu lakukan kepadaku? apa kamu pikir aku tidak tahu semuanya kamu? kamu menggodanya kamu pasti sengaja kan ingin merebut dia dariku ayo jawab?"gertak Resya dengan amarahnya yang terlihat tak tertahankan.
"Resya ...Resya ...kamu itu kenapa sih jadi wanita itu bodoh sekali. Bukankah kamu sendiri yang menggijinkan-ku untuk menggoda Suami-mu, jadi untuk apa kamu marah sama aku jika aku berhasil menggodanya dengan caraku sendiri?"
"Hey aku menyuruh-mu itu bukan untuk menggodanya dengan mengunakan postur tubuh sexy yang kamu miliki itu, tapi aku menyuruh-mu menggodanya dengan cara lembut apa kamu belum paham?''
"Baiklah aku akui aku salah, tapi ini yang aku inginkan. Dan sekarang suami kamu sudah tergoda akan kemolekan tubuh sexy-ku ini. Bahkan nanti malam ia sendiri memintaku untuk menemuinya di salah satu hotel jadi sudahlah ikhlaskan saja dia,"
"Kamu?"
Sedetik Resya ingin melayangkan tangannya untuk mengenai pipi Devi. Niatnya pun gagal setelah seseorang datang dan menghalanginya dengan menangkap tangan yang hendak akan ia layangkan.
"Punya hak apa kamu sampai berani menamparnya?"
"Richard kamu?"
"Aku pertegas-kan ke kamu? jika kamu sampai berani memukulnya maka keluarlah dari perusahaan-ku apa kamu paham!"gertaknya tanpa berkata langsung menghempaskan tangan Resya darinya.
"Baiklah jika ini yang kamu inginkan aku akan mengalah. Dan kamu? kamu pasti puas kan sekarang?" gertaknya tanpa berkata lagi ia bergegas pergi dari hadapan mereka.
"Richard terima kasih kamu udah mau membelaku ya. Aku senang akhirnya ada seseorang yang mau membelaku disaat seperti ini," ucapnya dengan memeluk lengan Richard.
"Baiklah," balasnya dengan pandangannya yang masih melihat langkah Resya yang mulai menjauh darinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.