
"Mama mendingan Mama pulang dan beristirahatlah di-Rumah Sifa tidak mau Mama juga akan sakit karena kecapean jadi pulang ya Ma, plis Sifa mohon.
"Tidak sayang, Mama tidak pernah capek kok apalagi jika harus menjaga Papa kamu sepanjang hari. Oh iya kamu juga sedari tadi menemani Mama disini jadi mendingan kamu aja yang pulang dan istirahat Mama tidak mau kamu juga akan sakit jadi pulanglah.
"Tapi Ma?"
"Tidak ada tapi-tapian cepat pulanglah.
"Baiklah Ma Sifa akan pulang kabari Sifa kalau Papa menunjukkan sesuatu.
"Kamu tenang saja sayang secepatnya Mama akan beritahu kamu nanti cepatlah pulang dan berhati-hatilah
"Baik Ma Sifa pulang ya Assalamualaikum.
"Walalaikum'salam
"Richard kenapa kamu lama sekali tidak bangun-bangun juga apa kamu tidak kangen dengan Istri kamu ini? Apa kamu tidak kangen dengan ocehan-ku ini, sampai kapan? Sampai kapan kamu akan terus tertidur seperti ini sampai kapan.
Menemani sepanjang hari sejak ia dirawat tidak nampak akan kecapean yang dirasakannya. Dengan penuh sabar dan kasih sayang Resya terus saja menemani Richard tanpa ada keluhan yang dilontarkan Wanita berambut panjang tersebut.
Bersanding disamping Richard terbaring. Dan genggaman tangan yang tak juga terlepas. Bahkan mata Resya yang mulai terpejam lantaran sedari tadi ia menahan kantuk yang terus saja menghantuinya.
Membaringkan kepalanya tepat disamping tangan Richard. Resya akhirnya tertidur pulas biar pun tempat tidur yang ia gunakan hanyalah sebuah ganjalan dari tangan Richard.
Berjalan dengan langkah pelan dan putus asa, tiba-tiba langkahnya pun terhenti setelah suara ponsel yang tiba-tiba terdengar dari dalam sakunya lantas ia pun segera mengambil benda pipih tersebut dan menekan salah satu nomor yang sudah tertera pada layar panggilan ponselnya.
"Gibran? Untuk apa Gibran menelfon ku?" gumamnya yang merasa penasaran lantaran anak buah Richard yang tiba-tiba menghubunginya.
๐ Iya Gibran ada apa kenapa kamu mengubungi saya. Apa ada masalah dengan kondisi Tuan saat ini? Tuan ...dia ...dia baik-baik saja kan?" balas Resya akan tetapi jawaban yang dilontarkan Gibran malah membuat Resya tambah semakin bingung lantaran Gibran hanya menangis dan terus menangis dengan sesegukan.
๐ Gibran kamu kenapa ada apa kenapa kamu malah menangis sejadi-jadinya apa kondisi Richard memburuk cepat katakan pada-ku ada apa? Jangan bikin aku merasa bingung dan penasaran seperti ini.
"Tuan ...Tuan telah meninggal dia ...dia telah pergi ninggalin kita nyonya," balas Gibran dengan suaranya yang sesegukan.
__ADS_1
Satu ucapan yang spontan membuatnya terdiam bahkan tidak mampu untuk berkata sepatah kataย lagi.
"Dia telah pergi nyonya, Tuan dia telah pergi ninggalin kita.
"Aku tidak percaya aku tahu pasti kamu hanya bergurau aku tidak percaya.
Tanpa mematikan telefon ia pun berlari sekuat tenaganya untuk mencapai tempat yang akan ia tuju. Mata yang terlihat mulai mengeluarkan butiran air dan tak lama Butiran itu tambah semakin menjadi membahasi kedua pipinya.
"Tidak aku tidak percaya aku tahu semua ini pasti hanya lelucon. Aku tahu Gibran pasti hanya ingin mengerjai ku tidak semua ini tidak mungkin. Richard dia pasti tidak mungkin ninggalin aku, semua ini pasti hanyalah tipuan iya hanya tipuan. Baru beberapa menit kita ketemuan dan dia juga mengatakan kata manis jadi tidak, dia pasti tidak mungkin meninggal," gumamnya yang terus berjalan dengan berbarengan air mata yang terus-menerus membahasi kedua pipinya
Setibanya ia di ruangan yang sudah dipenuhi dengan adanya beberapa orang yang sudah berkerumun menyaksikan sesuatu. Dengan berbarengan suara tangisannya sesegukan yang tambah semakin membuat suasana tambah semakin haru pilu.
Tatapan Resya yang memandang satu persatu kearah orang yang berada dihadapannya dengan tangisan tersedu-sedu. Tak lama Resya segera menyelinap langsung kedalam ruangan itu. Sesampainya ia mendapati sebuah pemandangan yang menurutnya semua ini hanyalah mimpi, mimpi yang tidak mungkin terjadi.
Melihat salah seorang laki-laki yang telah berbaring lemas diatas brangkar tanpa senyuman atau pun sahutan yang diberikannya. Bahkan wajah pucat yang dihasilkannya membuat kedua mata Resya berderai air mata.
Perlahan-lahan Resya ia pun menghampiri seseorang itu yang tak lain adalah Suaminya yaitu Richard.
"Dokter cepat katakan padaku, dia tidak benar-benar meninggal kan. Dia hanya lagi tertidur kan?
"Anda harus tabah dia ...dia telah pergi ninggalin kita semua. Akibat luka tembakan yang sudah sangat parah ia tidak bisa menghindari ajalnya. Dan itulah yang membuatnya tidak bisa diselamatkan maafkan kami karena kami telah gagal menyelematkan nyawa pasien maafkan kami," ucap Dokter yang hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa berani menatapnya langsung.
"Gak, Dokter pasti salah, gak mungkin! Richard pasti masih hidup!" teriak Resya ia pun menggoyang-goyangkan tubuh Richard, berharap ia akan bangun, akan tetapi semua itu sia-sia.
"Richard .. bangun,bangun, Richard bangun kenapa kamu tega meninggalkan aku dengan cara seperti ini kenapa Richard aku mohon bangunlah aku mohon, bangun!" teriak Resya dengan memeluk tubuh Richard yang sudah tak bernyawa.
"Richard ...!" teriak Resya lebih keras. Dengan kepala yang mendongak ke atas, air mata Resya mengalir begitu deras.
"Mbak yang sabar dia sudah pergi mbak harus sabar," ucap salah satu suster tersebut sambil menahan lengan Resya.
Sementara, Sifa dan Silvi hanya bisa menangis, tak ada yang bisa mereka perbuat. Dengan memeluk satu sama lain, mereka terlihat begitu hancur lebur oleh luka ini.
"Richard, banguuunnn," teriaknya lagi, dengan memeluk erat tubuh Richard.
__ADS_1
Kedua suster yang melihat itupun langsung menarik lengan Resya, agar ia menjauh dari jenazah Richard. Karna jenazahnya akan di tutup dengan selimut.
"Lepasin! lepasin aku!" ucap Resya terus berontak.
Akan tetapi siapa sangka apa yang telah dialami Resya saat ini semua itu ternyata hanya halusinasinya saja.
Terkejut lantaran ada tangan yang menepuknya membuatnya seketika bangun dari tidur yang sedari tadi telah ia lakukan.
Menatap seseorang itu, Resya nampak lega jika apa yang barusan ia alami ternyata hanyalah sebuah halusinasinya saja.
"Alhamdulillah syukurlah semua itu hanya mimpi." Puji syukur Resya kemudian seseorang yang menepuknya pun menimpali pembicaraannya.
"Maafkan saya Nyonya kalau saya sudah membuat anda terkejut tadi, saya tidak ada maksud apa-apa. Tadi saya melihat Nyonya sedang mengigau menangis jadi saya akhirnya membangunkan Nyonya," jelas Gibran.
"Iya tidak apa-apa Gibran. Saya malah sangat bersyukur anda tapi segera membangunkan saya dari mimpi buruk tadi," balas Resya dengan membelai wajah Richard.
"Oh iya ada apa kenapa kamu datang kesini?" tanya Resya kemudian Gibran pun membalasnya.
"Gini Nyonya tadi saya baru aja mendatangi Kantor, dan sepertinya Nyonya harus datang sebentar kesana karena ada cliyen yang ingin membicarakan masalah kerja samanya. Beliau jauh-jauh datang dari Korea hanya untuk mendatangi Nyonya jadi akan sangat disayangkan jika beliau harus kembali lagi," jelas Gibran.
"Baiklah saya mengerti apa maksud kamu. Ya sudah sekarang saya akan datang menemuinya, dan kamu gak masalahkan kalau aku tugaskan menjaga tuan sebentar hari ini?"perintah Resya.
"Iya itu tidak masalah Nyonya dengan senang hati saya akan menjaga Tuan, jadi Nyonya jangan khawatir," timpalnya.
"Baiklah kalau gitu ya sudah saya pamit pergi dulu, kabari saya kalau Tuan menunjukkan tanda-tanda akan kesadarannya," ucap Resya.
"Baik Nyonya saya akan memberitahu Nyonya nanti.
"Baiklah saya permisi.
"Baik Nyonya berhati-hatilah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1