
Resya sudah nampak pasrah dengan nyawanya saat pelatuk itu sudah berhasil di tekan oleh Pria itu. Lalu ia merasa ada yang aneh. Tidak ada suara tembakan ataupun peluru yang mengenai akan dirinya yang sedari tadi sudah siap jadi santapan mereka.
Resya perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya yang tertutup. Terkejut? Sungguh, Resya begitu terkejut dengan apa yang kini ia lihat. Pistol yang sedari tadi sudah mengarah kearah dirinya nyatanya misi itu tidaklah tembus dalam organ tubuhnya.
"Kau apa yang kau lakukan bukankah tadi kamu ingin menembak-ku?.
Belum juga ucapan Resya terhenti. Terdengar suara letusan kembang api berbahan dari kertas terdengar sangat menyelenggar di-telinganya dan membangkitkan suasana.
SELAMAT ULANG TAHUN
Iya teriakan itulah yang akhirnya membuat Resya berhenti berkedip. Bahkan sedari tadi wajah yang nampak tegang. Kini rasa tegang itu berubah menjadi kebingungan yang belum juga terartikan dengan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Melihat satu persatu orang-orang yang ia kenal dan sangat ia sayangi perlahan-lahan mulai menampakkan dirinya masing-masing. Membuat Resya sedikit bingung dengan kehadiran semua orang.
Apalagi menyadari posisinya yang masih terikat rantai besi menjadikannya sedikit linglung.
"A-apa maksud dari semua ini? Dan kalian Silvi, Sifa, Rasya, Rasyel kenapa kalian tiba-tiba bisa datang kesini. Dan petasaan tadi? Apa maksud dari semua ini?" tanya Resya bingung.
Mereka berempat sama-sama tersenyum kearah satu sama lain. Ia lalu berjalan mendekati Resya dan langsung memeluk erat seorang wanita yang juga sudah jadi Ibu kandungnya.
"Malam ini. Tepatnya pukul dua belas malam, adalah tanggal dimana Mama dilahirkan ke-dunia ini. Atau lebih tepatnya hari ini adalah hari ulang tahun Mama ...Apa Mama lupa dengan hari ulang tahun Mama sendiri?"
"Masa Mama lupa sih, sama tanggal ulang tahun Mama sendiri." Resya hanya terdiam menatap kedua Putrinya dengan tatapan haru. Ia tak tau harus mengucapkan apa. Sedikitpun dirinya benar-benar tidak mengingat kalau hari ini adalah tanggal ulang tahunnya.
Tak lama kemudian lampu-lampu yang indah menyala dengan otomatis, beberapa hiasan pernak-pernik menyala dengan indah di-pandangannya. Resya menatap takjub ke arah huruf besar yang menyala ''Happy Birthday Resya "
Tak lama setelah itu seorang lelaki yang memakai kemeja sekaligus Jas berwarna hitam serta sepatu berwarna hitam mengkilap menambah kesan tampan di wajahnya itu.
Lelaki itu berjalan diantara beberapa orang yang berjajar itu.
Resya masih merasa tak menyangka dengan semua ini. Rasa senang dan bahagia bercampur jadi satu.
Melihat orang yang paling ia sayangi mulai mendekatinya, sembari membawa sekotak kue membuat suasana nampak-lah indah.
Saat sudah berdiri di hadapan Resya, Richard lalu membuka kotak yang ia bawa dan mengeluarkan kue ulang tahun di dalamnya yang berbentuk hati dua tingkat serta dihias dengan sangat indah.
"Selamat ulang tahun, Sayang," ujar Richard sembari menengadahkan kue itu di depan Resya.
"Aku ...aku masih tidak menyangka dengan semua ini. Kamu ... bukannya tidak ingat akan siapa aku, tapi kenapa kamu bisa ingat akan hari kelahiran -ku?" tanya Resya kemudian dipotong oleh Richard.
"Berdoalah terlebih dahulu, lalu tiuplah lilinnya, kemudian apa yang membuatmu bingung aku akan siaga menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kamu itu," ujar Richard dengan tersenyum lembut.
__ADS_1
Dengan berderai air mata Resya akhirnya meniup 3 lilin kecil yang sudah terpasang diatas kue cantik itu, wajah bahagia terpancar. Bahkan kesedihan dan ketakutan yang sedari ia tahan kini ia bisa merasa lega jika apa yang ia impikan nyatanya tidak seburuk dengan apa dugaan yang ada didalam pikirannya.
Kelima Laki-laki bertubuh kekar yang tadinya hampir membuat jantungnya copot, kini Resya sadar jika kelima Pria kekar itu aslinya bukanlah penjahat jahat yang ingin membunuhnya melainkan lima laki-laki yang ternyata selama ia kenal yaitu Gibran, Reza, David, Revan dan juga salah satu anak buah dari Richard sendiri.
"Apa semua ini ulah kamu juga?"
"Iya aku memang sengaja menugaskan mereka biar suatu saat nanti salah satu dari mereka bisa jadi Artis lantaran aktingnya sudahlah berhasil hampir membuat-mu mati berdiri. Dan soal permasalahan yang terjadi di Rumah sakit semua itu juga termasuk ide aku dan juga ide kedua Putri kembar kita," jelas Richard, berlalu Resya memandang wajah kedua putrinya yang nampak senyum.
"Kalian?"
"Maafkan kami Ma, sebenarnya sejak awal kami tahu Papa sudah sadar, kami berniat ingin memberitahukan kabar baik ini pada Mama tapi ...."
FLASHBACK
Rumah sakit
"Papa kapan Papa akan kembali sadar dan berkumpul kembali sama kita semua, Silvi kangen sama Papa disaat Papa memanggilku dengan sebutan Putri Papa Silva sangat kangen.
Tetesan air mata Silvi kembali berderai. Dengan menggenggam erat tangan Papanya ia bisa merasakan genggaman hangat dari seorang Papanya.
Tak lama hadirlah seseorang yang langsung membuka pintu ruangan ini, terkejut Silva pun mengalihkan pandangannya pada seseorang itu.
"Gimana kondisi Papa apa Papa masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadarnya?" tanya Sifa dengan pandangannya yang masih memandangi Papanya.
"Sama seperti yang Kak Sifa lihat, Papa masih belum kunjung tersadar. Bahkan tanda-tanda pun tak kunjung muncul, Kak Sifa aku takut ...aku takut kalau Papa akan ninggalin kita Silvi takut." Air mata Silvi terus saja menjatuhi kedua pipinya. Sifa yang melihatnya ia hanya mampu mengucapkan air mata itu.
"Kamu yang sabar Sil, kakak yakin Papa pasti akan kembali sama kita, kakak yakin, Papa tidak akan pernah ninggalin kita Kakak yakin."
"Apa Kak Sifa yakin?"
"Iya Kakak sangat yakin," balas Sifa kemudian ia pun memeluk Adiknya. Dan sama-sama menangis tepat disamping Richard terbaring lemas saat ini.
Entah merasakan kesedihan yang dirasakan semua orang yang menyayanginya. Perlahan-lahan jari Richard mulai bergerak-gerak hinga akhirnya Sifa yang menyadarinya ia merasa sangat terkejut dan dengan cepat, ia memangil Dokter.
"Ada apa apa yang terjadi?"
"Ini Dok Papa saya jarinya bergerak, saya rasa dia sudah siuman Dok," balas Sifa yang merasa sangat bahagia.
"Alhamdulillah ini benar-benar keajaiban Papa anda sudah berhasil melewati masa kritisnya. Bahkan setelah saya periksa kondisinya Papa anda keadaannya sudah mulai angsur-angsur membaik selamat.
Resya ....
__ADS_1
Satu ucapan yang berhasil disebutkan oleh Richard. Sifa dan Silvi yang mendengarnya mereka segera menghampirinya.
"Iya Papa tadi siapa wanita yang Papa sebut tadi?" tanya Sifa yang tak bisa menahan air matanya.
"Sifa sayang kamu kenapa menangis? Apa yang membuatmu menangis seperti ini?" tanya Richard dengan tangannya yang menghapus air mata Putrinya.
"Pa ... Papa sudah ingat siapa Sifa?" tanya Sifa sesekali ia melirik kearah Silvi dengan wajah tidak percayanya.
"Iya sayang Papa sudah ingat semuanya termasuk Silvi, jadi jangan menangis-lah Papa tidak bisa melihat kalian menangis seperti ini haruslah air mata kalian,"pinta Richard membantu mengusap air mata keduanya.
"Resya ...dimana Mama kalian kenapa dia tidak ada disini?" tanya Richard dengan pandangannya yang melirik kearah kanan mau pun kiri.
"Mama sekarang sudah ada di-Rumah, tadi Mama merasa pusing jadi Silvi memaksa Mama untuk pulang karena selama Papa sakit hanya Mama-lah yang sering begadang menunggu Papa disini," jelas Silvi.
"Kasihan sekali Mama kamu gara-gara Papa Mama kamu harus ikut begadang menunggu Papa.
"Papa jangan berkata seperti itu. Jika Papa ada di-kondisi Mama. papa juga pasti akan menjaga sama halnya seperti apa yang Mama lakukan saat ini,' jelas Sifa mencoba menenangkan Papanya.
"Hari ini perlu dirayakan pasti Mama akan sangat bahagia tepat dihari bahagianya ini Mama mendapatkan kado spesial yaitu melihat Papa kembali berkumpul pada kita
"Maksud kamu apa sayang. Hari bahagia apa yang kamu maksud?"
"Iya Silvi hari bahagia apa kenapa aku tidak tahu apa-apa?"
"Astaga Kak Sifa ini parah sekali, masak seorang Ibu yang telah melahirkan kamu sedang berulang tahun Kak Sifa tidak ingat sih parah." Kesal Silvi dengan wajah manyunnya.
"Tunggu hari ini hari apa memangnya?" timpal Richard yang sedikit memikirkan sesuatu.
"Sekarang hari Senin tanggal 25 Pa
Dan hari ini adalah hari dimana Mama dilahirkan jadi Silvi rasa Mama akan sangat bahagia mendapatkan kabar bahagia ini, jadi aku mau memberitahunya sekarang.
Selangkah Silvi berniat akan pergi mengambil ponselnya langkahnya terhenti setelah Richard yang tiba-tiba menghalanginya.
"Jangan. Jangan beritahu Mama kamu soal kesadaran Papa ini," jelas Richard kemudian ditimpali kedua putrinya.
"Maksud Papa apa? Bukankah kalau Mama tahu kabar ini Mama akan sangat bahagia? Apa Papa tidak ingin melihat Mama bahagia mendengar kabar baik ini?"
"Bukan seperti itu sayang. Nanti malam tepat pukul 12:00 malam tepat hari itu adalah hari dimana Mama kamu dilahirkan. Dan Papa ingin memberikan kejutan yang spesial untuk Mama kamu, sekarang Papa tidak bisa menjelaskannya secara detail tapi bisakah kalian membantu Papa dengan mengatakan jika Papa sudah sadar, tapi kalian jangan pernah bilang jika Papa sudah ingat semuanya termasuk siapa Mama kamu itu," timpal itu dengan wajah senyumannya. Kedua putrinya yang paham mereka pun paham maksud arti dari rencana Papanya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1