Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Kembali berdetak


__ADS_3

Tanya memikirkan yang aneh-aneh, bergegas Resya pun berlari menuju ketempat Wudhu, karena disaat seperti ini dia tidak tahu harus melakukan apa, karena yang bisa dia lakukan sekarang dia hanya bisa meminta bantuan kepada tuhan yang maha Esa sekaligus meminta petunjuk kepadanya, agar Richard bisa selamat menghadapi masa sulitnya ini.


Setelah berWudhu. Bergegas Resya pun memakai Mukena berwarna Putih, yang dimana sudah disiapkan ditempat itu . Dan kemudian dia pun bersujud dan memohon ampun kepada Tuhan.


"Hamba tahu, hamba hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Dan hamba juga tahu, hamba hanyalah wanita lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa disaat musibah sedang menghampiri hamba seperti ini, hamba hanya bisa minta satu permintaan darimu, hamba mohon tolong...tolong selamatkan suami hamba. Hamba mohon tolong selamatkan dia.


Karena dia belum sepantasnya untuk kau ambil tuhan, beri dia kesempatan yang kedua kali supaya dia bisa menjadi Suami sekaligus ayah yang bertanggungjawab pada putri-putrinya Hamba tahu suami hamba masih mempunyai banyak dosa yang mungkin belum bisa untuk tuhan ampuni, tapi hamba mohon tolong selamatkan dia ...hamba mohon tolong selamatkan dia. Amiiinn...Amiiin..yarobbalaalamin.


Setelah melakukan doa Resya kemudian bergegas kembali. Sesampainya ia melihat Sifa dan Silvi yang sudah berada disini.


"Sayang kalian?" ucap Resya langsung memeluk keduanya.


"Mama ...Papa ...Papa ...."ucap Sifa yang tidak bisa menghentikan air matanya.


"Kalian tenang saja Papa dia pasti baik-baik saja kalian tenang saya," balas Resya dengan mengusap air mata kedua Putrinya dan berusaha menenangkan keduanya. Tak lama Dokter pun keluar.


"Gimana Dok keadaan Suami saya apa dia baik-baik saja? Tidak ada luka yang serius yang dialaminya kan?"tanya Resya yang dipenuhi dengan kepanikannya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Resya. Dokter nampak hanya terdiam dengan tatapan mata yang seolah-olah mengisyaratkan kabar buruk yang siap untuk diucapkannya.


Resya yang menyadari akan reaksi dari ekpresi itu ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya berharap jika apa yang ingin diucapkan Dokter ini sama seperti apa yang diinginkannya.


"Dokter diam seperti ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti kita kan? Cepat katakan Dok kenapa Dokter diam kenapa Dokter hanya diam," gertaknya dengan mengkoyak- nyoyah tubuh Dokter itu. Menerobos masuk ruangan UGD tanpa meminta ijin terlebih dulu orang-orang yang melihatnya bergegas mengejarnya.


Mendapati Richard yang masih terbaring lemas diatas brangkar dengan wajah pucat seketika membuat Resya seperti mati rasa.


"Tidak. Ini tidak mungkin kamu ...kamu tidak mungkin ninggalin aku ..tidak ini tidak mungkin tidak ...." Air matanya seketika terjatuh, memeluk tubuh Richard yang sudah tidak bernyawa membuat Resya tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Berusaha mengoyak tubuh Richard agar bangun tapi apa daya apa dilakukannya sama sekali tidak ada hasil.


"Papa ...Papa jangan tinggalkan Sifa ...Papa jangan tinggalin kita. Papa jahat kenapa Papa cepat sekali menyerah akan keadaan ini papa bangunlah ...papa bangun." teriak Sifa yang ingin sekali membangun Papanya akan tetapi dengan sigap Rasya menghalanginya. Silvi yang menatap Papanya terdiam ia hanya bisa menangis di-pelukan Rasyel.


"Tidak. Papa tidak mungkin meninggal dia hanya sedang bergurau aku tahu Papa sedang membodohi kita aku tahu semua ini akal-akalan Papa aku tahu." Tubuh Sifa yang seketika merosot layaknya tidak ada semangatnya yang mampu menopangnya.


"Sifa ...!" Dekapan erat telah dirasakan Sifa setelah Rasya yang dengan langsung ia memeluk Sifa tanpa bertanya sedikit pun. Air mata yang terus saja terjatuh dari kedua sudut matanya berharap jika apa yang ia rasakan ini pasti mimpi.


Memeluk tubuh Richard yang masih terbaring lemas. Tangisan Resya terhenti setelah adanya suara pendeteksi jantung yang tiba-tiba berbunyi setelah hampir 10 menit tadi terhenti.

__ADS_1


Dokter yang terkejut akan hal ini. Ia segera menyuruh Suster untuk mengusir mereka semua.


"Suster cepat suruh mereka pergi dari ruangan ini. Pasien detak jantungnya kembali normal.


"Baik Dok.


"Silahkan keluar dulu dari ruangan ini. Semaksimal mungkin kami akan berusaha menyelamatkan nyawa pasien.


"Richard aku tahu kamu pasti bisa mendengar -ku aku tahu kamu pasti bisa mendengar suara tangisan putri kembar kamu ini. Aku tahu." Mendekam Sifa dan Silvi dalam pelukannya, tak lama Dokter yang menangani Richard pun keluar.


"Dokter gimana? Apa yang terjadi dengan Suami saya dia ...dia gak kenapa-kenapa kan Dok?"


"Alhamdulillah Tuhan mengabulkan Doa kalian. Suami anda detak jantungnya kembali normal, dan dia berhasil melewati masa kritisnya biar pun sekarang pasien belumlah sadar dan berhasil melewati masa kritisnya 100 persen tapi saya yakin dengan bantuan doa apa yang tidak mungkin akan benar-benar terjadi. Saat ini


"Baik Dok.


"Alhamdulillah terima kasih Tuhan terima kasih engkau telah memberikan kesempatan lagi untuknya terima kasih." Puji syukur telah diucapkan Resya dengan memeluk satu sama lain membuat ketiga Wanita itu nampak senyum dengan wajah kebahagian.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2