Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
SIAPAKAH RANGGA


__ADS_3

Mungkin hari ini tidak akan secerita seperti hari yang sebelumnya. Jika dulunya ada seseorang yang bakal memberi semangat kepadanya, mungkin mulai saat ini semangat yang selalu ditunjukkan seseorang itu hanya akan jadi kenangan yang mungkin akan sangat sulit untuk dia lupakan.


Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Rasya sekarang ini. Sifa yang saat ini sedang berdiri dengan menyenderkan tubuhnya disalah satu tembok yang kokoh sembari melihat kearah taman Rumahnya dan tanpa mengedipkan satu kedippan pun. Hingga kemudian Papanya pun menghampirinya dengan menunjukkan ekspresi senyumnya.


"Ada apa sayang apa masih ada hal yang memberatkan pikiran kamu sampai sekarang ini?"


"Tidak kok Pa, Sifa baik-baik saja hanya saja Sifa masih membutuhkan waktu untuk menerima semua ini jadi beri Sifa waktu untuk bisa memikirkannya.


"Papa tahu sayang tidak gampang bagi kamu untuk meninggalkan kota Jakarta, tempat dimana kamu dilahirkan disana. Oh iya apa Papa boleh bertanya sesuatu sama kamu?"


"Boleh tanya aja Pa, memangnya hal apa yang ingin Papa tanyakan pada Sifa?"


"Apa kamu masih sangat mencintainya?"tanya Richard beralih Sifa menatap Papanya dengan tatapan bingung.


"Untuk apa Papa masih bertanya soal itu.Hubungan aku dan Rasya sekarang sudah tidak bersatu lagi, bahkan mungkin sekarang Rasya sudah membenciku jadi akan lebih baik kita alihkan ke'pembicaraan yang lain saja Pa.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Papa apa kamu masih mencintainya?"


"Apa Papa sangat ingin tahu tentang isi hati Sifa saat ini?"


Memandang satu sama lain tanpa ada kedipan sekali pun, Richard segera membekam tubuh Sifa dan memeluknya dengan sangat erat.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


"Rasya sudahlah ini sudah hari ketiga kamu suka melamun dan tidak konsen seperti ini. Aku tahu tidak mudah bagi kamu untuk melepaskannya tapi setidaknya kamu harus selalu fokus dan ingat akan pekerjaan kamu ini. Kamu itu sebagai seorang detektif yang pastinya membutuhkan konsentrasi cukup setiap menjalankan tugas, jangan buat hanya masalah asmara kamu gunakan waktu percuma kamu untuk memikirkan hal yang tidak jelas seperti ini. Dan ingat Sifa disana juga menempuh pendidikannya jadi kamu tidak bisa egois dengan dirimu sendiri bangkitlah.


"Iya Gibran yang kamu katakan memang benar, aku tidak bisa lemah hanya karena masalah Wanita. Sifa hanya pergi mengejar cita-citanya jadi aku tidak bisa egois pada diriku sendiri thank ya kamu sudah menyadarkan aku.


"Iya sama-sama ya sudah ayo kita kumpul bersama yang lainnya.


Berjalan bersandingan, Gibran menepuk pundak Richard dan bertanya akan sesuatu.

__ADS_1


"Oh iya Rasya apa kamu sudah denger yang katanya kita bakal kedatangan seseorang pengganti dari Sifa. Dan katanya juga hari ini seseorang itu akan datang kira-kira kamu penasaran apa tidak dengan seseorang itu?"tanya Gibran.


"Yang pasti aku tidak terlalu penasaran. Asalkan dia bisa diajak kerja sama itu sudah cukup!"balas Rasya dengan santainya.


"Hanya itu jawaban kamu?"tanya Verrel.


"Baiklah kalau itu jawaban kamu aku bisa apa. Ya udah ayo kita samperin dia," balas Gibran yang kemudian mendapatkan balasan dari Rasya lagi.


"Memangnya dia sudah datang?"tanya Rasya.


"Iya dia sudah datang dan seseorang itu lagi mengarah kearah kamu sekarang" balas Gibran tak lama pandangan Rasya seketika teralihkan pada seseorang yang berjalan kearahnya.


Mengenakan jaket, celana jeans sekaligus kaca matanya dan rambut hitam yang terlihat agak acak-acakan membuat ketiga pria dihadapannya nampak bingung menatapnya.


"Hay kamu kan yang namanya Rangga?"tanya Gibran yang sesaat menghentikan langkah pria itu.


"Iya itu aku salam kenal," balas Pria itu dengan menundukkan kepalanya.


"Ya sudah aku pamit pergi dulu salam," balas pria itu yang tanpa menunggu balasan dari mereka, ia terlebih dulu pergi dari pandangan ketiganya.


"Apa sih,"balas Gibran yang langsung membalasnya.


"Kamu gak ada rasa sama dia?"bisik Rasya.


"Rasa? Rasa apaan kita kan sama-sama laki-laki yang benar saja," sewot Gibran.


"Bukan itu maksudku. Aku merasa aja kalau dia itu laki-laki yang aneh saja bahkan suaranya kamu bisa dengar sendiri kan?"


"Astaga masalah kaya gitu aja masih kamu ributin yang namanya manusia kan ada kekurangannya. Dan mungkin kekurangan dari Rangga ini yang kamu bilang aneh tadi," jelas Gibran yang terlihat kesal.


"Iya benar yang dikatakan Gibran. Rangga suaranya jadi seperti itu karena kata Kapten dia itu pernah mengalami kecelakaan yang akhirnya kehilangan pita suaranya gitu lah yang bermasalah. Dan kapten juga minta kepada kita semua untuk jangan ada yang membully-nya karena ini masalah fisik," timpal Verrel.

__ADS_1


"Astaga jadi itu yang alasan kenapa dia suaranya aneh kaya gitu syukurlah setidaknya dia tidak akan membuat kita malu," balas Rasya kemudian mendapatkan tarikan dari Gibran yang memaksanya untuk melanjutkan jalannya.


Kadang aku berfikir dunia ini cepat sekali berputar, kadang dibawah kadang juga diatas. Ada yang bahagia kini bahagia itu hanya tinggal bayangan dan dengan cepat telah berubah menjadi kesepian dan kekecewaan yang akhirnya membuat hati ini akan sangat sulit untuk menyampaikan rasa rindu itu.


Apa aku masih pantas untuk menggatakan rasa rindu jika aku sekarang sangat merindukan akan dirinya. Setelah apa yang aku lakukan kepadanya dan mencampakkannya begitu saja. Aku rasa aku tidak pantas untuk menggatakan itu.


Rasya sedang apa kamu disana. Apa kamu juga merasakan kerinduan yang aku rasakan saat ini, apa kamu malah sudah berhasil melupakan aku dengan begitu mudah setelah apa telah aku lakukan padamu.


Apa kamu disana juga masih memikirkanku, ataukan perasaan kamu terhadap diriku sudah hilang dan berganti menjadi rasa benci.


Terduduk disalah satu kursi taman sembari memandang kearah menara namsan yang berdiri kokoh dengan adanya warna lampu sinaran yang berkelap-kelip membuatnya tambah indah dan tidak boleh untuk diabaikan begitu saja


Senyuman lepas yang dihasilkannya telah membuktikan jika apa yang ia rasakan saat ini sangatlah membahagiakan dirinya.


Melanjutkan lagi perjalanannya, tempat yang pertama kalinya ia datangi adalah kediaman seseorang yang mungkin selama ini telah menguatkan dirinya.


Biar pun selama beberapa bulan lamanya ia tidak pernah berjumpa dengannya. Ia tidak perduli karena selain ingin bertemu dengan seseorang itu. Seseorang yang ingin ia temui yang tak lain adalah Rasya.


Sedangkan Rasya yang dalam keadaan berjalan dengan adanya lamunan yang menyertai dirinya. Duduk disalah satu kursi taman sembari meminum sebotol air putih. Rasya hanya bisa menatap dan memandangi pemandangan yang indah. Akan tetapi keindahan yang sangat indah ini nyatanya tidak sebanding dengan perasaan kecewa yang ia rasakan saat ini.


Tak lama muncullah seseorang yang cukup seksi mendekati Rasya dan mulai menggodanya. Bahkan dengan berani wanita itu menyentuh dagu Rasya yang berniat ingin mengecup bibir Rasya, dengan sigap Rasya menepis tangan wanita itu dengan kasar.


"Cukup! Apa anda sudah gila pergilah!" perintahnya dengan kasar.


Tanpa menjawab wanita seksi itu pun pergi dari hadapannya. Sedangkan Rasya yang sadar jika dagunya telah disentuh oleh wanita itu, ia bergegas mengusapnya dengan air minum yang ia bawa tadi.


"Dasar wanita ******, dia pikir aku akan tergoda apa dengan bodinya itu tidak lagi," gumamnya yang terlihat kesal.


Pergi dari tempat yang ia duduki tadi,terlihat dari kejauhan terdapat-lah tatapan mata yang terlihat sedang mengawasinya. Bahkan senyuman manis yang terukir dari bibir seseorang itu nampak indah dan menyukainya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2