
Sedangkan Sifa yang masih dalam keadaan terikat diatas kursi dengan kencang. Inggin sekali ia memukul dan menendang ya balik akan tetapi tenaganya tidaklah sanggup untuk melakukan semua itu.
Sedangkan Rasya yang berniat ingin menghampiri mau pun menolong Sifa, tubuhnya seketika tersungkur lantaran dirinya yang tidak kuat menahan rasa sakit yang menyertai dirinya.
Terjatuh diatas lantai dengan luka memar sekujur tubuhnya membuat Rasya meringis sakit dan hanya bisa mengigit bawah bibirnya sebagai penahan rasa sakitnya.
"Kamu tidak perlu susah payah berencana untuk menolongnya Rasya karena semua itu tidak akan pernah terjadi. Dan sadarlah aku sudah menyuntikkan cairan bius yang dalam kurang waktu 30 menit, cairan itu akan merasuk tubuhmu dan membuatmu jatuh pingsan tidak berdaya jadi kamu jangan susah payah untuk melakukannya.
"Kamu lihat kan sekarang Laki-laki yang kamu cintai sudah tidak berdaya, dia memang seorang Detektif yang biasa menuntaskan kasus kejahatan tapi kamu lihat-kan dia sama sekali tidak berguna. Bahkan untuk melindungi dirinya sendiri aja ia tidak sanggup jadi mana mungkin ia sanggup untuk menolong Wanita yang sangat ia cintai sendiri."
"Dasar brengsek. Lepaskan aku...lepaskan aku...aku pertegas-kan ke kamu jika sekali lagi kamu berani menyakitinya maka kamu akan menyesal, jadi lepaskan aku...lepaskan aku!"
"Apa kamu bilang, apa aku tidak lagi salah dengar kamu...kamu mengancam ku anak manis. Apa kamu sadar kamu sekarang masih dalam kondisi terikat bahkan kalau aku sanggup aku juga sanggup untuk membunuhmu sekalipun apa kamu sadar itu. Sudahlah pemanasan ini sudah berakhir Vernando dorong gadis ini menuju ke kandang ular peliharaan kita. Karena dia kayaknya sangatlah cocok buat Mika si ular besar dan aku rasa Mika juga akan suka dengan kehadirannya.
"Apa maksud kamu apa kamu sudah gila lepaskan aku? Lepaskan aku brengsek lepaskan aku lepaskan aku!"
PLAK...
"Ini adalah balasan karena kamu sudah dengan beraninya menantang ku. Dan ini adalah balasan karena kamu sudah beraninya membangunkan macan yang masih tertidur pulas, jadi cepat Vernando masukkan dia ke kandang tersebut cepat masukkan.
"Tubuhku semakin lemah akibat obat bius itu, jika dalam kurang waktu 30 menit aku tidak segera membebaskan Sifa, Sifa akan dihabisi olehnya. Aku harus kuat, aku harus kuat!" batinnya dengan pandangannya yang mulai samar-samar.
Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Sifa dan membuat darah segar keluar dari sudut kanannya. Rasya yang awalnya tubuhnya sama sekali tidak bertenaga kini dalam hitungan menit tenaganya seketika muncul sesaat ia sudah tidak bisa berdiam lagi melihat seorang gadis yang sangat ia cintai sedang dalam bahaya.
Kedua mata Rasya yang menatap tajam kearah Bella yang fokus melihat kearah Sifa dengan tawa sinisnya.
Tanpa berfikir ia langsung menendang kaki Bella dari belakang. Setelah terjatuh senjata pistol yang ia bawa pun terlepas dari cengkramannya.
Para anak buah yang berniat ingin melawan, Rasya pun dengan langsung ia meluncurkan beberapa tembakan tepat mengenai jantung kedua anak buah Bella.
Darah pun keluar bagaikan cairan biasa yang mengalir deras dari tubuh pria kekar tersebut.
DYAR...
__ADS_1
DYAR...
Lantaran lengah menghabisi para lawan yang lainnya, Rasya pun mendapatkan satu sayatan yang tepat mengenai lengan kirinya setelah Bella yang dengan sigap langsung mengambil senjata yang terlepas dari anak buahnya yang tewas seketika.
"Kamu lihat kan senjata kamu sudah ku'buang dari genggaman tangan kamu, jadi dengan cara apa kamu ingin menyerang ku?
Mendengar perkataan demi perkataan yang diucapkannya yang Bella yang dilakukannya hanyalah menunjukkan senyuman sinisnya. Bahkan Bella yang melihatnya tidak terdengar satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Melihat hal ini Bella yang hanya menatapnya dengan tatapan tajam kini mulut Rasya pun akhirnya berbicara.
"Bella apa yang kamu lakukan apa kamu udah gila. Apa kamu sudah gila karena berniat ingin membunuh Sifa. Apa kamu tidak kasihan, dia sudah menderita apa kamu mau menambah penderitaannya lagi.
"Jangan mendekat, jika selangkah aja kamu berani mendekatiku maka pisau tajam inilah yang akan melukai leher wanita yang kamu cintai ini. Apa kamu mau melihatnya terluka? tidak kan?"
"Sekarang aku tidak tahu harus memulai darimana untuk mengatakan ini sama kamu, tapi aku mohon jangan lakukan itu, aku mohon buanglah pisau itu aku mohon jangan lukai dia aku mohon.
"Kenapa Rasya? Kenapa giliran Wanita ini kamu rela melakukan apa aja demi dia apa kamu gak mikir gimana perasaanku. Apa kamu gak mikir gimana rasanya sakit hatiku ketika aku mengingat dulu kamu selalu membanggakan dia daripada aku? Apa sangat sulit untuk membuatmu mencintaiku apa sulit?"
"Bella sadarlah aku bukanlah laki-laki sebaik yang kamu kira. Dan sadarlah aku sudah punya tunangan jadi carilah laki-laki yang lebih baik dariku aku, aku bukanlah laki-laki yang pantas untukmu jadi lupakanlah aku, lupakanlah!"
"Aku tahu aku memang egois tapi sadarlah cara ini cara yang tepat untuk membuatmu menjadi Wanita yang kuat dan lebih baik jadi lupakanlah aku... lupakanlah aku.
"Di dunia ini hal yang paling gampang diucapkan oleh seseorang yaitu kata maaf, tapi tidak semudah itu orang bisa memaafkannya termasuk aku. Selama ini aku sudah sangat mencintai kamu tapi apa balasan kamu, kamu malah mencintai Wanita ini daripada aku! Jadi kamu akan melihat gimana kamu akan kehilangan dia? Dan melihat gimana sadisnya aku membu*uh Wanita yang sangat kamu cintai ini,"balasnya sembari menatap tajam kearah Sifa/ Silvi.
Mata tajam Bella yang mengarah tajam kearah Sifa. Dengan adanya pisau yang masih berada di genggamannya membuat Bella tak segan-segan ingin segera menancapkan pisau ini ke tubuh Sifa. Rasya yang tidak tingal diam ia berusaha sekuat tenaga menggambil pisau itu dari genggaman Bella
Tarikan demi tarikan telah mereka lalui bahkan Pisau lancip yang sudah berada digenggaman mereka akibatnya mereka pun saling rebut merebut. Wajah yang sudah terpenuhi adanya luka lebam dan babak belur nyatanya tidak membuat tenaga keduanya luntur.
Setelah beberapa jam saling adu saling rebut merebut Pisau. Akhirnya tepat berada ditangan Rasya dengan tak sengaja ia pun menusukkan pisau lancip itu yang dan tepat mengenai perut Bella.
Dar*h yang mengalir dengan deras membuat Rasya yang melihatnya ia hanya melihat dengan tatapan yang kosong.
Terduduk lemas dengan darah segar yang menyelimuti kakinya membuat wajah Bella berubah memucat.
Rasa sakit yang tidak tertahan akhirnya berhasil menyerang tubuh Bella hingga ia tak mampu lagi untuk berdiri tegak. Dan saat itu juga tubuhnya pun tersungkur kelantai.
__ADS_1
Hanya bisa merintih kesakitan merasakan rasa sakit dari lukanya, Bella merasakan jika tubuhnya sudah sangatlah lemas tak sanggup lagi untuk berjalan. Hanya bisa terduduk lemas dan bersender disalah satu tembok sebelahnya menjadikan tempat senderan nya sebagai tempat pelampiasannya untuk sementara waktu.
Sedangkan Rasya yang tidak sengaja melakukan itu terlihat dari raut wajahnya menunjukkan akan penyesalannya. Bahkan air mata yang tidak bisa ia tahan akhirnya membuatnya tambah merasa bersalah.
"Ka ... Kamu kenapa setega ini membunuhku Rasya kenapa?"
Tubuh yang seketika hampir tersungkur, rasa sakit, perih yang tiba-tiba menyerangnya membuat pandangan Bella menjadi kabur.
Darah segar telah mengalir dari perutnya dan membuat pakaian hitam yang dipakainya berubah menjadi merah darah. Tubuh yang seketika hampir tersungkur, rasa sakit, perih yang tiba-tiba menyerangnya membuat pandangan Bella menjadi kabur.
Rasa lemas semakin telah dirasa olehnya. Tubuhnya yang seketika merosot kebawah yang akhirnya membuatnya tak tahan lagi, dengan bersimbah banyak dar*h akhirnya Bella pun jatuh tersungkur.
Rasa sakit yang tidak tertahan telah ia rasa, dengan berusaha ia mendekap dan terus mendekap tubuh yang seketika mati rasa bahkan tenaga yang sedari tadi ia keluarkan untuk bertahan. Pelan-pelan tubuh Bella akhirnya merosot kebawa.
Kedua mata yang tadinya terbuka dengan lebar, kini dalam hitungan detik pejaman mata itu mulai kusut. Meringis kesakitan dilantai dengan banyak darah yang keluar hinga mengotori lantai ruangan ini.
Tak lama seseorang pun datang, mendapati seorang Wanita yang terluka parah tergeletak dilantai.
Lantaran harus mengalahkan para penjaga diluar mereka harus telat menyaksikan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Astaga Tuan apa yang terjadi kenapa Bella bisa terluka separah ini apa yang terjadi?" tanya Gibran, tapi Richard yang melihat Putrinya masih terikat ia kemudian melepaskannya.
Sedangkan Rasya yang merasa dirinya dipenuhi dengan penyesalan. Dan belum juga Rasya berkata se'ucap kata, tubuhnya tiba-tiba menjadi gemeteran, keringatnya yang tiba-tiba keluar , bahkan wajahnya yang tadinya baik-baik saja berubah menjadi sangatlah pucat setelah dia mencoba menahan rasa sakit yang sedari tadi ia tahan akibat goresan pisau yang berhasil menembus perut kirinya, pandangan mata juga mulai rabun, rasanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun lagi, melihat Rasya yang sedari tadi terdiam dan orang-orang yang melihatnya tambah semakin panik, hampir saja terjatuh Rasyel dengan sigap ia langsung membopong tubuh Rasya.
Selangkah mereka hendak ingin menolong Bella.Akan tetapi tuhan berkehendak lain, Perlahan-lahan nafas Bella mulai sesak, Richard yang melihat kondisi Bella tambah semakin parah, dengan berat hati dia pun membantunya untuk mengucapkan sebuah kata.
"Ikuti ucapan Om, Asyhaduallla illaha ilallah, waashaduanna muhammad darrasuallah, Ikuti sampai ketiga kali.
Setelah berat hati Richard perlahan-lahan membantu Bella untuk bisa mengucapkan lafal tersebut. Setelah tiga kali ia mengikutinya dengan suara terbata-bata ia pun akhirnya bisa mengucapkan lafal tersebut, perlahan-lahan Bella pun mulai memejamkan matanya.
Tangisan Sifa mau pun Silvi yang hadir disana pun seketika pecah ketika melihat orang yang berada dalam tidak keberdayaan. Dan dipangkuan Richard, Bella pejamkan matanya untuk selama-lamanya
BERSAMBUNG.
__ADS_1