
Tanggal: 23 Agu 2022
Subjek: 3
"Kita sekarang berpencar karena aku yakin pelaku itu lebih dari satu orang ayo Rangga kamu ikuti aku dan kamu Verrel kamu ikut dengan Gibran
"Baiklah ayo Gibran,"
"Baiklah ayo, kita sisir ditempat bagian sana."
Melakukan penyisiran diberbagai arah, Rasya akhirnya mendapati dua pria yang sedang mengancam kelima anak kecil pemulung yang mereka paksa untuk meminta uang dijalanan umum.
"Angkat kedua tangan kalian karena kalian sudah tertangkap basah sekarang. Menyerah-lah karena aku tidak akan segan-segan untuk menembak kalian jika kalian berani membangkang ayo tiarap!"tegas Rasya sembari menodongkan pistolnya kearah pelaku.
"Bos gawat mereka mengetahui keberadaan kita apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Kalian tenang aja biar aku yang urus mereka semua.
Menatap kedua musuh yang siap menyerangnya, sedangkan Rasya mau pun Rangga yang sudah siaga dengan kedua pistol digenggaman-nya.
"Ayo tembak-lah aku jika itu akan membuat kalian merasa puas, tapi sadarlah aku bukanlah orang yang seperti kalian kira. Aku akan menganggap masalah ini usai asalkan kalian mengijinkan-ku untuk pergi dari sini, dengan begitu aku harap diantara kedua pihak tidak ada yang merasa tersakiti apa kamu setuju?"
"Beraninya kau mengancam kita. Apa kalian pikir dengan iming-iming yang kalian buat kita akan patuh gitu tidak lagi, jadi lebih baik sekarang kalian menyerah-lah karena sekarang kau sudah terkepung.
Melihat situasi memanas para pelaku yg lainnya pun akhirnya akan meloloskan diri. Akan tetapi Rasya yang mengetahuinya pun tidak tinggal diam, dia pun langsung menembak salah satu dari mereka sedangkan bos yg melihat pun juga tidak akan tinggal diam dia pun berencana ingin menembak Rasya akan tetapi Rangga yang melihat ia langsung mendorongnya. Dan akhirnya peluru pun mengenai lengan kanan Rangga.
"Astaga Rangga!"
Selangkah Preman itu hendak melayangkan kembali tembakannya, dengan sigap Rasya terlebih dulu menembakkan pistol itu yang akhirnya tepat mengenai kedua kaki pelaku.
Tubuhnya yang seketika tersungkur, sedangkan pistol yang tadinya berada di genggamannya itu pun seketika terlepas. Dan menuju kearah Rasya berjongkok saat ini.
Merasa tak tahan dengan rasa sakit yang sedang ia rasakan saat ini, ia hanya bisa meratapi nasibnya yang akhirnya telah tertangkap oleh kepungan Polisi. Sedangkan Verrel mau pun Gibran yang mendengar suara tembakan mereka segera mengejar arah suara itu berada, mendapati satu pelaku yang hendak ingin melarikan diri dari kejaran mereka. Gibran akhirnya melayangkan pistolnya yang tepat mengenai kaki kiri pelaku. Tersungkur dengan sigap mereka menangkapnya.
"Selama ini kalian berani membuat semua warga disini merasa resah akibat perbuatan kalian jadi rasakan-lah ini, ayo cepat jalan jika anda tidak ingin saya memberikan satu tembakan lagi ayo jalan!"perintah Gibran dengan tegas.
"Rangga kamu gak papa kan?"tanya Verrel ketika mendapati lengan Rangga yang bersimbah darah.
"Aku gak papa kok ini hanya luka sedikit," balas Rangga
"Luka sedikit gimana?"bentak Rasya yang terlihat panik.
__ADS_1
"Mendingan sekarang kalian bawa pelaku itu ke-kantor polisi, biar aku sendiri yang membawa Rangga ke-Rumah sakit ayo Rangga berdirilah," ajak Rasya yang ingin membantunya berdiri, tapi Rangga menolaknya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa jadi kamu tidak perlu membawaku ke rumah sakit.
"Jangan membantah!"
"Baiklah," balas Rangga, kemudian Rasya membantu Rangga untuk berjalan.
"Kalian gak masalah kan kalau membawa kedua pelaku itu sendiri?" tanya Rasya.
"Tidak apa-apa kok, kabar kita kalau kondisi Rangga ada apa-apa ya?"
"Siap, nanti aku bakal kabarin kalian ayo Rangga jalan-lah.
Berada dalam satu mobil, wajah Rasya nampak terlihat panik sedangkan Rangga atau Sifa yang menatapnya ia terlihat menahan senyumannya.
"Apa kamu mengkhawatirkan-ku?"tanya Rangga, seketika Rasya berpaling kepadanya.
"Haruskah kamu bertanya soal ini di-situasi yang genting seperti ini?"
"Iya aku memang harus bertanya padamu, ngomong-ngomong ada untung juga ya aku tertembak nolongin kamu jadi kita bisa berdamai seperti ini?"
"Apa maksud kamu? Jadi maksud kamu kamu beruntung terluka seperti ini?"
"Aku heran kamu itu terluka tapi kenapa dari wajah kamu? Kamu nampak santai biasa saja seperti ini," heran Rasya sembari memperhatikannya.
"Sudahlah kamu hentikan mobil ini!"
"Untuk apa kita harus hentikan mobil ini kan jarak dari Rumah sakit masih sangat jauh?"
"Sudahlah hentikan apa sudah kamu untuk menghentikan laju kendaraan ini, ayo hentikan," perintah Rangga yang akhirnya Rasya pun menghentikannya.
"Baiklah aku akan menghentikannya," balas Rasya yang langsung memarkiran mobilnya dipinggir jalan.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Apa kamu bawa kotak P3K?"tanya Rangga.
"Ada ini!"balasnya sembari memberikan kotak putih itu.
"Jangan bilang kalau kamu ingin melakukan hal yang gila?"tanya Rasya.
__ADS_1
"Mungkin apa yang akan kamu lihat akan sangat mengejutkanmu jadi tutup mata kamu sekarang," perintah Rangga.
"Apa kamu pikir aku laki-laki jadi-jadian karena takut gak lagi," balas Rasya dengan tegas.
"Baiklah kalau gitu.
Tanggal: 23 Agu 2022
Subjek: 3 part 2
"Apa kamu serius ingin melakukan tindakan ini? Ini terlalu heroik apalagi disini aku tidak menyediakan obat bius jadi apa kamu sanggup menahan rasa sakit sekaligus perihnya yang bisa menyerang-mu nanti?"
"Iya aku serius, bagiku melakukan hal ini sudah biasa, jadi jangan khawatirkan aku," balas Rangga yang nampak masih santai.
"Jika disuruh jujur rasanya aku masih belum sanggup menahan rasa sakit yang akan aku rasakan nanti, tapi jika aku tidak melakukannya aku takut Rasya akan curiga akan siapa aku," batin Sifa berlalu ia mulai membuka kotak P3K tersebut.
"Jika kamu tidak sanggup tutuplah mata kamu," pinta Rangga yang akhirnya ia mulai menyuntikkan sesuatu pada lengannya.
Menggambil sebuah jarum suntik yang sudah ia kasihkan sejenis cairan, ia kemudian menyuntikkannya pada lengan tangannya yang terluka.
Tak tahan dengan rasa sakit yang ia tahan sedari tadi, akhirnya ia pun menggambil botol berwarna putih yang tak lain itu adalah Alcohol yang berwarna bening. berada di kotak P3K ia kemudian langsung menyiramkannya tepat pada luka tembakan tadi.
Rangga yang kemudian merobek pakaiannya menjadi seikat tali, ia langsung mengikatnya tepat diatas lenggan paling atas dan menggikatnya dengan sangat keras.
Rasa sakit yang sudah tidak bisa ditahan lagi, dengan berbarengan rasa perih yang semakin menjadi membuat wajah Sifa seketika berubah memerah. Rasa inggin sekali menjerit tapi ia tahan, karena jika selangkah ia ceroboh rahasianya akan terbongkar jika dirinya adalah seorang perempuan.
Rasya yang merasa terkejut sekaligus cemas dan merinding lantaran melihat apa yang barusan dilakukan Rangga tadi. Baginya melihat pemandangan seperti ini sangatlah langka.
Bukan dia yang menggalami luka tapi melihat tindakan heroik yang dilakukan Rangga tepat disampingnya membuatnya berkeringat banyak dan wajah ketakutannya pun sudah tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Akan tetapi bukan itu yang membuat terdiam, melainkan mengingat akan sesuatu yang akhirnya membuatnya terdiam akan bayang-bayang kejadian yang sama persis yang ia alami dulu sewaktu mendapatkan tembakan.
"ini hanya sebuah kebetulan atau memang mereka berdua memang ada kesamaan kenapa aku perhatian antara Rangga dan Sifa sama-sama memiliki kesamaan yang sama percis antaranya mereka sama-sama jago mengobati lukanya dengan cara seperti ini?"batin Rasya yang akhirnya Rangga pun menyadarkannya.
"Kamu kenapa malah terdiam?"tanya Rangga.
"Ka..kamu apa udah gila. Apa tidak ada cara lain untuk mengobati luka kamu itu, bukankah itu sangatlah heroik, apa yang kamu lakukan tadi itu sangatlah gila. Kenapa kamu malah lebih memilih menahan rasa sakit itu sendiri, jika kamu mau dilarikan ke Rumah sakit, mungkin rasa sakit yang kamu rasakan ini tidak akan sebanding disana," tegas Rasya yang seketika membuat pandangan Rangga seketika beralih menatapnya.
"Apa kamu masih merasa cemas sekarang?" tanya Rangga.
"Kamu masih bisa mencoba mengalihkan pembicaraan kita?"tegas balik Rasya, tapi Rangga tidak menghiraukannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.