Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
BAB 31. memasang CCTV


__ADS_3

"Tuan Richard, ada apa? Kenapa Tuan memerintahkan kami semua untuk berkumpul di markas ini?" tanya Gibran yang baru aja sampai.


"Aku sengaja menyuruh kalian berkumpul karena ada tugas yang harus kalian kerjakan saat ini. Dan aku membutuhkan bantuan kalian jadi sekarang aku akan akan bagi tugas kalian satu persatu. Rico aku tugaskan kamu untuk segera datang ke lokasi Permata indah dan aku inggin kamu menjambret ponsel milik Istriku yang dimana saat ini ia berada di lokasi itu jadi paham kan!"perintahnya yang membuat anak buahnya pun beralih menatapnya dengan tatapan heran.


"Menjambret ponsel milik Istri Tuan, tapi kenapa Tuan? Apa alasannya?" tanya Reza yang menimpali perkataan yang barusan dikatakan Richard barusan.


"Sekarang aku belum bisa menjelaskan apa alasanku memperindah kamu untuk melakukan ini, tapi yang pasti ada satu hal yang perlu saya tahu sekarang. Kalian, Gibran dan Reza aku perintahkan kalian untuk memesankan alat pengintai canggih ber merk HDleans. Saya tidak perduli berapa banyak total semua biaya yang harus saya keluarkan nanti. Karena saya sangat butuh alat itu sekarang!"perintahnya lagi.


"Tunggu Tuan, mesin HDleans itu bukannya alat pengintai yang sama halnya seperti mesin CCTV pada umumnya, kenapa Tuan tidak memesan mau pun membelinya secara langsung? Dan kenapa yang Tuan incar malah alat pengintai yang bentuknya super mini dan kecil itu dan apa rencana yang Tuan rencanakan saat ini? Belum lagi menyuruh Rico untuk menjambret ponsel Sandra yang tak lain dia adalah Istri Tuan sendiri apa semua ini hanya kebetulan?"


"Saya melakukan semua ini karena saya punya firasat ada yang tidak beres dengan semua ini, jadi sekali lagi kalian menyangkal perintah yang saya perintahkan barusan, maka jangan salahkan saya kalau saya akan bertindak tegas ke kalian terlebih dulu apa kalian mengerti!"tegas Richard yang akhirnya membuat anak buahnya hanya bisa menundukkan kepalanya.


Dalam situasi yang terlihat sepi. Dan posisi Sandra yang pada saat itu sedang main ponselnya sembari berjalan dan tidak memperhatikan situasi yang lainnya terlihat ada seseorang yang mendekat kearah Sandra dan langsung menjambret ponsel yang tadinya sudah berada digenggaman tangannya sendiri.


Menyadari jika ponselnya sudah berada di genggaman tangan laki-laki lain, Sandra langsung berteriak sekeras mungkin untuk meminta bantuan.


"Jambret....jambret...tolong ada jambret...!" teriak Sandra yang akhirnya beberapa orang pun menghampirinya.


"Nona ada apa kenapa Nona teriak-teriak?" tanya salah satu pejalan kaki yang kebetulan lewat dihadapannya.


"Itu Mas Ponsel saya dijambret oleh laki-laki berjaket hitam tadi dia sudah berhasil membawa kabur Ponsel saya,"balasnya sembari menunjuk kearah barat.


Mendengar petunjuk kemana arah penjambret itu pergi, orang-orang lantas


Langsung mengejarnya. Akan tetapi tidak membutuhkan waktu 10 menit orang-orang itu pun kembali tanpa membawa barang yang sedang mereka cari tadi.


"Maaf Mbak penjambret itu sudah berhasil meloloskan diri dan maaf kita tidak bisa membawa ponsel anda kembali?"ucap salah satu Seseorang.


"Baiklah kalau gitu mas, udahlah lupakan saja mungkin itu rezeki si penjambret itu,"balas Sandra yang akhirnya orang-orang itu pun pergi.


"Sial Ponselku telah dijambret apalagi didalam sana banyak data-data rahasia yang selama ini aku sembunyikan dari Richard. Tapi gak papa lag lagian yang menjambret ponselku kan bukan dia jadi untuk apa aku harus takut. Belum lagi aku memberinya kunci pada ponselku itu jadi akan sangat susah untuk bisa membukanya tak terkecuali ada hacker cerdas yang bisa mengotak-atik ponselku itu tapi sudahlah!"batin Sandra yang akhirnya ia pun berlalu pergi dan masuk kedalam mobilnya.


MARKAS TAYGER LEE.


"Tuan saya sudah berhasil menjambret Ponsel milik Istri Tuan tapi ada masalah Tuan?"ucap salah satu anak buah Richard yang baru saja mendatangi markas ini.


"Masalah apa? Apa kamu ketahuan olehnya dan dia sadar akan siapa kamu?" timpal Richard dengan menunjukkan tatapan tajamnya.


"Bukan itu Tuan, tapi ponsel ini telah terkunci jadi akan sangat sulit untuk bisa menemukan apa kode dari ponsel ini?"balas anak buah yang akhirnya membuat Richard pun merasa lega.

__ADS_1


"Astaga aku kirain apa? Tenanglah masalah itu biar aku yang menanganinya, mana ponselnya?"ucap Richard yang akhirnya seseorang itu pun menyerahkan benda pipih kepadanya.


"Ini Tuan!"


"Untuk saja aku sering sesekali memergoki Sandra ketika sedang membuka Ponsel ini jadi aku tahu apa kode dari ponselnya ini. Tapi pertama yang aku inggin aku butuh sim dari ponsel ini?"gumamnya yang mulai mengotak-atik benda pipih berwarna silver tersebut.


"Apa yang inggin Tuan lakukan, kenapa Tuan menggambil sim itu? Jika tuan hanya penasaran dan mencurigainya, kan Tuan hanya bisa melihat dan mengutak-atik saja apalagi dengan Tuan yang sudah mengetahui apa kodenya jadi bukannya itu tambah lebih mudah kan Tuan?"tanya Gibran yang mulai bingung dengan tindakan apa yang inggin dilakukan Tuannya saat ini.


"Iya aku bisa aja melakukan itu, tapi jika aku pakai cara seperti itu dia akan tahu kalau akulah orang yang sudah menjambret ponsel ini. Jadi cara yang aman aku harus menggambil sim ini dan menggantinya pada laptop setelah itu aku matikan GPS dari Ponsel ini agar ia tidak mengetahui dimana keberadaan ponsel ini!"


"Jujur aku tidak tahu apa permasalah yang Tuan hadapi saat ini, karena melihat Tuan yang seperti ini aku malah jadi sedikit bingung?"balas Reza dengan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.


"Iya aku sendiri juga bingung apa rencana yang dilakukan Tuan saat ini?"timpal Gibran yang akhirnya membuat Richard pun angkat bicara.


"Sudahlah ini masalahku jadi aku yang perlu mengerjakannya sendiri jadi sekarang kalian istirahatlah biar aku sendiri yang mengurusnya!"balas Richard yang akhirnya ia pun masuk kedalam ruangan pribadi yang dikhususkan untuknya.


"Baik Tuan!"balas anak buahnya yang akhirnya mereka pun pergi, dan beralih ketempat lain.


Fokus didepan layar laptop dan menahan rasa kantuknya akibat fokus mengotak-atik isi data dari sim tersebut.


Mata yang sudah mulai pegal lantaran berjam-jam ia fokus menatap kearah layar tak lama apa yang ia cari akhirnya mulai ia ketahui. Yang dimana setelah berjam-jam ia kesusahan mengotak-atik isi data dari ponsel tersebut akhirnya perlahan-lahan misteri mulai terkuak setelah ia mencoba memangil satu persatu nomor kontak yang tertera pada ponsel Sandra. Hingga akhirnya satu nama Perempuan yang tertera dalam Nomor kontak tersebut, tapi yang menerimanya seorang laki-laki membuat Richard teringat akan siapa suara laki-laki itu.


Sedangkan Alex yang mengira jika yang meneleponnya adalah Sandra, ia terus menerus berbicara tanpa henti hingga fakta yang sesungguhnya akhirnya terkuak pada hari ini juga.


📞" Sandra kamu kenapa diam, apa yang kamu inggin bicaralah kepadaku. Apa kamu kangen kepadaku lantaran beberapa hari ini aku sibuk sama urusanku sendiri tanpa memperdulikan mu. Sudahlah sayang jika dendam kalian nanti sudah berhasil tercapai kamu dan Mama kamu kalian juga akan hidup dalam kelegaan kan? Tanpa harus menahan dendam ini terlalu lama. Dan kita akan hidup bersama dan kamu akan lihat Richard sialan itu akan nangis darah karena mengetahui jika Istri yang paling ia cintai ternyata secara diam-diam ia telah tega mengkhianatinya bahkan menjalin hubungan dengan musuh terbesarnya sendiri aku rasa dia akan gila? Belum lagi dia itu terlalu bodoh karena bisa-bisanya ia mempercayai semua perkataan kamu dan beranggapan jika gadis malang itu adalah seorang mata-mata dariku, bukankah dia itu sangatlah bodoh kan!"ucap Alex dengan tertawa sangat lepas.


"Sayang, kamu itu kenapa sih apa yang kamu pikirkan sekarang apa kamu ngambek kepadaku ayo katakanlah..katakanlah..sayang...sayang...."


PYAR...


Suara benda terjatuh pun akhirnya melayang tepat dilantai dan benda berbentuk persegi empat yang tadinya berada dihadapannya kini dalam hitungan detik, barang itu pun sudah hancur berserakan menjadi beberapa bagian. Bahkan barang yang sudah tertata rapi pun dengan seketika hanya menghitung menit semua benda itu sudah pada berserakan dilantai tanpa ada yang tersisa utuh sedikit pun.


Para anak buah Richard yang tadinya berada diluar ruangan pribadi Richard sembari ngobrol. Seketika obrolan mereka pun teralihkan sesaat mereka mendengar suara kegaduhan besar yang terjadi didalam ruangan pribadi Richard.


Tanpa menunggu mereka semua pun bergegas masuk dan mendapati semua barang-barang sudah hancur lebur menjadi beberapa bagian, bahkan telapak tangan Richard terlihat terluka dan berdarah setelah ia memukul tembok untuk melampiaskan kan semua amarahnya.


Melerai Richard agar tidak terlihat bodoh lantaran melukai dirinya sendiri para anak buahnya pun akhirnya berhasil.


"Tuan, sadarlah, Tuan, sadarlah. Apa yang Tuan lakukan sekarang, Tuan sadarlah. Kemarahan yang Tuan rasakan saat ini tidak akan membuat masalah menjadi hilang Tuan sadarlah!"bentak Gibran dengan menahan tubuh Richard akan tidak memukuli tembok tersebut.

__ADS_1


"Wanita brengsek itu berani sekali ia mengkhianati-ku..beraninya dia mengkhianati-ku..Gibran, Reza lepaskan aku..lepaskan aku..yang kamu katakan memang benar Gibran dengan aku berdiam diri, aku tidak menyelesaikan masalah , jadi yang harus aku lakukan sekarang aku harus membunuhnya..aku harus membunuhnya hari ini juga, lepaskan aku lepaskan aku!"


"Tuan jangan!Tindakan yang Tuan lakukan ini tambah akan membuat masalah tambah semakin besar! Masih ada cara untuk menghentikannya jadi sabarlah Tuan, sabarlah!"


"Sabar kamu bilang! Kamu tidak tahu seperti apa rasanya dikhianati oleh seseorang yang paling kita percayai? Kamu tidak pernah merasakan gimana rasanya dikhianati oleh seseorang yang sudah kita anggap sudah seperti Ibu kita sendiri.


Berpuluh-puluh tahun kita hidup bersama bahkan pada saat usiamu yang masih menginjak usia 8 tahun setelah kedua orang tuaku meninggal dan dia seseorang yang berhasil menjadi ibu pengganti.


FLASE BACK OFF.


"Mama...Papa...jangan tinggalin Richard, Mama...jangan tinggalin Richard.


Suara tangisan seorang anak kecil yang usianya masih menginjak 8 tahun yang harus mengikhlaskan kepergian Mama dan Papanya setelah adanya perampokan yang baru saja dialaminya malam kemaren.


Dengan tangisan tersedu-sedu dan kelopak mata yang mulai terlihat bengkak anak itu pun terus menangis dipangkuan Bibik minah yang tak lain ia adalah asisten rumah tangga dari keluarga Richard kecil.


Akan tetapi dengan menangis dipangkuan sang bibik tidak membuat anak itu untuk bisa berhenti menangis. Setelah melihat jasad kedua orang tuanya yang mulai dimasukkan ke liang lahat tangisan pun pecah hingga orang-orang yang melihatnya merasa sangat kasihan hingga akhirnya seorang wanita bersama anak kecil perempuan pun datang menghampirinya. Dan wanita itu pun memberikan pelukan hangat untuk anak kecil bernama Richard tersebut.


"Sayang cukup jangan menangis seperti ini, mereka akan tambah bersedih ketika melihatmu menangis seperti ini, berhentilah...berhentilah.."


"Bik apa saya boleh membawa anak ini pergi dari pemakaman ini?.Tanya Wanita itu pada Bibik Minah.


"Ba..baik silahkan!. Balas sang Bibik yang akhirnya wanita itu pun menggendong Richard dan membawanya pergi dari pemakaman ini, bibik yang melihatnya ia lantas mengikutinya.


"Sayang jangan nangis ya, kamu itu anak laki-laki kamu harus kuat dan tabah. Dan mereka sudah bahagia di Surga jadi kamu tidak boleh menangisi kepergian Mama dan Papa kamu seperti ini, kamu yang kuat ya?" ucap Wanita itu yang tak lain adalah Mamanya Sandra.


"Tante? Tante siapa kenapa tante baik sekali kepadaku?"tanya Richard kecil dengan sedikit suara Tangisannya.


"Saya adalah Tante Monika. Saya adalah teman dari kedua orang tua kamu semasa kuliah dulu, hubungan kita sangatlah dekat bahkan aku sudah menganggapnya sudah seperti kakak tante sendiri, jadi kamu jangan menangis ya ada Tante yang siap jadi Ibu pengganti buat kamu jadi jangan menangis lagi ya?"balas Monika yang memberikan pelukan lagi untuknya. Richard yang menerima pelukan itu, ia pun mendekap tubuh tante itu dengan berbarengan tangisan yang lagi-lagi keluar menyertai anak kecil bernama Richard itu.


FLASE BACK ON.


"Aku sudah menganggapnya sudah seperti Ibu kandungku sendiri. Bahkan biar pun aku bukanlah anak kandungnya ia tidak pernah memarahiku mau pun membentak-ku, ia menyayangiku sudah seperti menyayangi Putra kandungnya sendiri.


Kasih sayang yang ia tunjukkan kepadaku sudah berhasil membuat Trauma masa laluku yang aku alami sudah berhasil menghilang dari bayang-bayang mimpi yang selalu menghantuiku setiap malam, kamu tidak pernah merasakan gimana rasanya, kalian tidak pernah merasakannya." Ucap Richard yang akhirnya tubuhnya mulai merosot kebawah dengan air matanya yang keluar.


Bagi seseorang melihat hal seperti ini memang sangatlah langka. Apalagi melihat seorang Mafia yang sudah dicap sangat kejam yang ternyata ia juga mampu meneteskan air matanya dan terlihat rapuh dan tidak berdaya seperti ini.


dengan berlutut dibawah lantai dan berdiri dihadapan mereka semua, membuat anak buahnya yang melihatnya bukannya malah meninggalkannya, mereka malah memberi dukungan kepada Richard dan membangkitkan kembali tubuh Tuannya yang telah berlutut dihadapannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2