Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
NIAT RICHARD YANG SESUNGUHNYA.


__ADS_3

"Gimana Resya keadaanmu apa kamu baik-baik saja?"tanya Revan yang setibanya di Rumah sakit dan memasuki ruangan rawat Resya.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat sekarang, kondisiku sudah mulai membaik. Aku tidak sabar inggin melihat dunia ini lagi,"balas Resya yang masih terbaring diatas brangkar Rumah sakit ini, dengan mata yang masih tertutup dengan perban putih.


"Oh iya Revan aku inggin bertanya sama kamu, sebenarnya aku sudah lama inggin bertanya tentang masalah ini, tapi setiap kali aku ingin bertanya pasti kamu selalu hilang dari hadapanku. Jadi berhubung hari ini kamu ada disini aku inggin bertanya. Siapa sebenarnya orang yang berbaik hati sudah mau mendonorkan kornea mata ini untukku. Apa orang itu sudahlah tidak ada di dunia ini?"tanya Resya yang spontan membuat pandangan Revan pun berbalik menatap kearah Richard yang sedari tadi telah berada disamping Resya.


"Orang yang mendonorkan kornea matanya untukmu, dia..dia sudahlah meninggal dan sudah tidak ada di dunia ini Res, aku mengenal dia pribadi orang yang sangat baik, jadi kamu jangan pikirkan itu lagi ya, dia sudah tenang disana."


"Apa seseorang itu meninggal karena kecelakaan atau memang dia meninggal karena adanya penyakit yang dia derita?"


"Dia..salah satu Wanita korban tabrak lari, dan sebelum ia kritis ia sempat berpesan jika ia inggin sekali mendonorkan kornea matanya buat seseorang yang lagi membutuhkan. Tepatnya pada saat itu, aku yang tak sengaja melihat dan mendengar, jadi akhirnya aku ijin padanya dan dia menyetujuinya dengan lapang dada Resya."


"Kasihan sekali dia. Apa kamu mau mengantar aku ke pemakaman orang baik itu. Karena aku inggin berterima kasih kepadanya, biar pun aku tidak bisa melihat wajah siapa orang itu, tapi setidaknya aku berada disamping batu nisannya aku sudah merasa sangat lega karena aku bisa berterima kasih pada tanah pemakaman almarhumah sendiri?"batin pria itu.


"Tapi Resya, kondisimu kan baru aja menjalankan operasi, jadi lebih baik besok aja kamu kesana ya?"


"Tidak Revan, aku tidak bisa lakukan itu, jika kamu tidak mau mengantarkan aku, baiklah aku akan meminta bantuan pada orang lain,"ucap Resya yang terlihat sedih akan ucapan yang barusan dikatakan Revan tadi.


Melihat kearah Richard yang menganggukkan dagunya, Revan pun akhirnya bersedia mengantarnya.


"Baiklah aku akan mengantarmu nanti,"balas Resya yang akhirnya ia pun bisa tersenyum dengan manis.

__ADS_1


*****


Ditemani Richard yang ikut berada didalam mobil dan bersanding dengan Resya yang berada di kanannya, sedangkan Natali yang sengaja berada disamping kiri Richard untuk menjadi pemandu suara agar Resya tidak mencurigai jika Richard lah orang yang sedari tadi telah berada disampingnya. Akhirnya Revan yang menjadi supir, ia lantas langsung menjalankan laju kendaraannya.


Melihat Richard yang hanya terdiam dengan tatapannya yang masih fokus melihat kearah Resya secara diam-diam, tapi Resya sendiri tidak menyadarinya. Natali yang sedari tadi memperhatikannya, ia pun akhirnya memiliki ide untuk keduanya.


"Resya kamu kan pasti capek, jadi jika kamu inggin menyenderkan kepalamu ke bahuku aku tidak masalah, jadi bersandar lah."


"Apa kamu serius kamu tidak masalah jika aku melakukan itu?"


"Iya aku sama sekali gak masalah jadi bersandar lah!"ucap Natali yang kemudian ia memberikan isyarat pada Richard dengan menganggukkan kepalanya. Richard yang melihatnya ia pun membalasnya dengan senyuman.


Setelah mendapat tawaran dari Natali. Akhirnya Resya pun menyenderkan kepalanya pada bahu itu, akan tetapi Resya sama sekali tidak menyadari jika tempat yang ia gunakan bersandar saat ini bukanlah bahu Natali, tapi yang lebih tepatnya adalah bahu milik Richard Suaminya sendiri.


"Bersandar lah Resya karena aku sudah menanti ini sejak lama, jadi bersandar lah terus semau kamu," batin Richard yang dengan membelai rambut Resya dengan lembut.


"Resya?"tanya Natali yang kemudian Resya pun membalasnya.


"Iya ada apa Natali?"


"Sebenarnya aku juga inggin bertanya sama kamu soal ini sejak lama, tapi setiap kali aku inggin bertanya aku jadi merasa canggung dan takut kamu akan marah kepadaku soal pertanyaan aku ini. Akan tetapi semakin lama aku memendamnya aku tambah semakin penasaran dan terus merasa sangat penasaran Resya, jadi kamu gak masalah kan kalau aku bertanya padamu soal ini?"

__ADS_1


"Memangnya apa yang inggin kamu tanyakan Nat?"


"Aku hanya inggin bertanya? Apa kamu masih mencintainya?" tanya Natali yang spontan membuat pandangan Resya pun berubah.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu. Apa aku memang harus menjawabnya?"


"Resya setiap orang berhak untuk memilih apa yang dia mau, dan apa yang tidak ia suka. Aku juga akan mendukung setiap keputusan yang akan kamu ambil nanti, jadi cepat katakanlah padaku karena jujur aku sangat penasaran dan tidak seharusnya perasaan itu kamu pendam sendiri, jadi cepat cerita lah pada kita."


"Aku tidak tahu apa aku masih mencintainya atau tidak, tapi yang jelas melihat perlakukan dia selama ini kepadaku, aku jadi berfikir untuk apa aku harus memperjuangkan seseorang jika seseorang itu telah menyakiti hatiku dan membuatku sangatlah terluka akan cinta itu. Jadi hanya Wanita bodoh lah yang hanya akan memperjuangkan cinta seseorang tapi seseorang itu sama sekali tidak pernah menghargainya. Aku sudah putuskan kalau nanti aku sudah bisa melihat semuanya, aku sudah bersiap kalau aku akan menggugat dia, biarlah dia bahagia dengan Wanita yang ia cintai karena yang jelas aku sudah siap untuk melepaskannya."


"Apa kamu serius inggin melakukan itu? Apa kamu tidak akan menyesal?"


"Kenapa aku harus menyesal Nat, di dunia ini tidak akan ada orang yang mau dipoligami, jadi apapun resikonya nanti aku sudah putuskan dan aku sudah tidak mau berhubungan lagi dengan seseorang yang bernama Richard, bahkan jujur, untuk menyebutkan nama itu aja aku sudah mulai jijik. Karena bagiku nama itu sudah tidaklah pantas untuk aku sebut, jadi sudahlah jangan bahas itu aku tidak inggin membahasnya lagi!"


"Baiklah!"


"Se'benci itulah kamu kepadaku Res, sampai-sampai untuk menyebutkan namaku saya kamu sudah tidaklah sudi, tapi gak papa semakin kamu membenciku. Itu akan tambah semakin baik, karena itulah yang aku inginkan. Kamu pantas untuk bahagia, jadi sebisa mungkin aku akan mempersatukan kalian karena kalian memang sangat pantas untuk bersatu!"batinnya yang memberikan senyumannya pada Revan yang gimana sedari tadi ia hanya menatapnya dengan tatapan bingung.


Sedangkan Revan yang menatap balik kearah Richard, ia pun ikut merasa sangat bingung apa yang sebenarnya telah direncanakan oleh Richard. Jika ia sudah berhasil memecahkan semuanya, dan berhasil menjebloskan Istrinya ke penjara kenapa ia tidak berusaha menjelaskan semuanya pada Resya.


"Sebenarnya apa yang telah direncanakan oleh Richard, jika ia sudah tahu semuanya kenapa dia tidak berkata jujur pada Resya. Dan kenapa dia terus-menerus diam dan berbohong seperti ini?"batin Revan yang meras sangat bingung, sesekali ia pun menatap kearah kaca mobil yang berada diatasnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2