Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Jatuh pingsan.


__ADS_3

"Apa aku memang tidak pantas ditakdirkan untuk bahagia kenapa takdir penderitaan yang aku alami sebesar ini, belum sanggup aku juga kita hidup bahagia menyambut calon buah hati kita. Kenapa? Lagi dan lagi penderitaan ini hadir kenapa?"


Berjalan dengan langkah pelan membalikkan tubuhnya dan bersandar pada salah satu tembok. Kemudian perlahan-lahan tubuhnya mulai merosot kebawah lantaran tidak tahu lagi dengan cara apa lagi ia mampu bisa menopang tubuhnya yang cukup lemah ini.


Tuhan. Hamba tidak akan mengeluh jika takdir kebahagiaan Hamba sudah ditakdirkan seperti ini, tapi hamba hanya minta satu permintaan tolong ...tolong kuatkan hamba menjalani kehidupan hamba yang sangat menyakitkan ini. Tolong ...beri kesempatan kepada-nya untuk menata hidupnya lebih lama lagi hamba mohon.


Air mata yang tidak bisa hentikan lagi dan terus membasahi kedua pipinya. Menangis dengan sesegukan Resya tidak memperdulikan jika ada seseorang yang melihatnya. Karena dia tahu air mata yang semakin ia pendam air mata itu akan mampu membuat luka yang lebih menyakitkan jika ia tidak segera membuangnya.


Bersandar dan menangis sesenggukan dengan menyembunyikan raut wajahnya dari kedua lipatan tangannya. Seseorang secara diam telah melihatnya. Akan tetapi melihatnya seseorang itu hanya bisa berkata.


"Kamu tenang aja Resya aku akan mengembalikan kebahagiaan yang selama hampir ia rebut. Aku janji aku akan mempersatukan kalian biar pun aku sendiri yang harus mengalami luka ini?"


Satu ucapan yang akhirnya terlontar dari mulut seseorang itu. Terlihat dari raut wajahnya jika terdapat-lah ketulusan yang sangatlah dalam terpancar dari seseorang itu.


Terduduk melamun sembari matanya yang terlihat sedang menikmati pandangan di-taman dekat Rumah sakit. Tak lama Resya menghampirinya.


"Astaga Richard aku cari kamu kemana-mana ternyata kamu disini. Apa yang kamu tunggu disini? Apa kamu menunggu kedatangan seseorang?" tanya Resya akan tetapi Richard hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian dia pun mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Resya?" tanya Richard dengan pandangannya berpaling padanya.


"Iya!"


"Apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?"


"Bertanya?" tanya balik Resya.


"Iya;"


"Baiklah tanya aja."


"Kenapa kamu berkata seperti itu? aku tidak mau membalas pertanyaan macam itu," balas Resya dengan ikut membelakanginya.


"Resya? Jika pada dasarnya setiap manusia yang ditakdirkan bahagia dan merasakan apa itu cinta dan arti ketulusan. Apa di-dunia ini kamu sudah menemukan seseorang yang menurutmu dia adalah lelaki yang tulus selain aku?"


"Kenapa Richard, kenapa kamu selalu mengatakan seolah-olah kamu itu sudah menyerah dengan situasi ini?"

__ADS_1


"Karena sebelum aku pergi nanti aku ingin mengetahui apa isi hatimu yang sebenarnya. Aku mau jika nanti aku pergi, aku pergi dengan perasaan yang lega dan tanpa adanya sesuatu yang membuatku sedih di-alam sana!"


"Semua orang di-dunia juga pasti akan mati sama halnya dengan diriku sendiri. Jadi jangan beranggapan jika penyakit kamu ini tidak bisa disembuhkan karena ini hanyalah masalah ginjal dan butuh pendonor. Aku sangat yakin jika nanti kamu sudah dapat pendonor aku sangat yakin kamu akan kembali normal seperti semula?"


"Akan tetapi rasa ketakutan-ku tidak tentang semua itu. Jika aku bisa terbebas dari rasa sakit yang aku alami akibat ginjal ini. Aku takut jika Erlangga dan sandra-lah yang akan menang lantaran berhasil menlenyapkan-ku dan jika itu sampai terjadi mau tidak mau kamu juga harus siap-siap untuk kehilangan-ku entah dengan cara apapun itu tapi aku mau jika nanti aku pergi kamu bisa kuat menghadapi semua ini. Dan aku mau jika nanti aku mati menikahlah dengan Revan karena dialah orang yang selama ini sudah aku anggap sebagai lelaki yang tulus yang mampu menjaga kamu. Padahal sejatinya dia secara diam-diam juga mengagumi-mu?"


"Akan tetapi mengagumi sangat berbeda dengan menyukai Richard. Mengagumi bukan berarti harus mendapatkan atau pun memiliki. Apalagi tahu jika seseorang itu sudahlah punya berlian spesial yang melekat pada hatinya pada seseorang pilihannya. Jadi aku tidak mau merebut berlian itu dari genggaman-mu," timpal Revan yang seketika datang dari belakang mereka.


"Revan kamu sudah bilang kalau kamu mau mengabulkan permintaan aku itu, tapi kenapa lagi-lagi kamu sekarang mengingkarinya?"


"Aku berani mengingkarinya karena aku berpendapat sama Resya, kamu hanya membutuhkan donor ginjal sedangkan ucapan Dokter yang bilang nyawa kamu hanya bisa menghitung hari aku tidak percaya dengan semua itu?"


Karena? Karena pada kenyataannya umur manusia kita tidak akan pernah tahu dan bisa saja nyawaku sendiri yang terlebih dulu diambil oleh Tuhan, begitu juga dengan Resya. Aku percaya Tuhan tidak pernah tidur untuk menolong hambanya.


Jika kamu memang sudah ditakdirkan untuk mati dengan cepat, kenapa? Kenapa tidak sedari dulu disaat ginjal kamu tertusuk kamu meninggal. Jika kamu memang ditakdirkan untuk meninggal kenapa kamu tidak meninggal pada saat mendapatkan tusukan dan penembakan kemaren?"


Belum selesai pembicaraan yang sedang mereka bicarakan selesai. Tiba-tiba Richard merasa jika dirinya sangat lemah dan pandangan matanya pun perlahan-lahan menjadi rabun. Kemudian Richard yang tadinya baik-baik saja dia pun merasa  kesakitan dan terus menahan rasa sakit yang sedang menyerang dirinya sekarang ini. Karena tidak bisa menahan rasa sakitnya Richard akhirnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2