
Jam yang sudah menunjukkan pukul 12:00 siang yang artinya bagi para Polisi untuk melakukan istirahatnya.
Rasya yang sedari tadi nampak bingung mencari keberadaan Sifa. Ia tidak melihat akan batang hitung Sifa yang berlalu lalang dihadapannya.
"Kemana perginya Sifa kenapa aku tidak pernah melihatnya lagi setelah beberapa jam yang lalu?"
"Apa Kapten. Sifa mau pindah ke Seoul, dan hari ini dia berangkatnya?" tanya Verrel pada Kapten sembari memberikan beberapa lembar surat kepadanya.
"Baik Pak terima kasih ya infonya. Saya akan beri tahu teman yang lainnya.
"Baiklah.
"Sifa tega banget kamu ninggalin kita, memangnya kamu anggap kita semua apa?" gumam Verrel yang rasanya panik.
Dan tanpa disangka dari kejauhan Rasya yang tak sengaja mendengar perkataan Verrel, ia pun langsung menghampirinya.
"Verrel apa yang barusan kamu ucapkan tadi?"
"Rasya kamu sejak kapan ada disini?"
"Kamu belum jawab apa yang barusan kamu katakan tadi?"
"Sifa ... Dia ... Mau pindah ke Seoul Ras!"
"Katakan padaku apa yang barusan kamu katakan hanyalah mimpi?"
" Ini sungguhan Rasya Sifa dia hari ini mau berangkat ke Seoul. Dia..dia mau pindah kesana!"
"Itu tidak mungkin. Sifa gak boleh ninggalin aku, itu tidak boleh sampai terjadi." tanpa berfikir lagi Rasya langsung berlari.
__ADS_1
"Rasya kamu mau kemana?"teriak Verrel tapi Rasya sudah jauh dari pandangannya.
Tanpa menunggu lagi. Bergegas Rasya pun berlari dengan sekuat tenaganya dan tanpa memperdulikan kerumuman yang menghadangnya.
Layaknya tidak mengenal kata lelah ia terus berlari sampai keringatnya yang muncul tidak beraturan yang membasahi wajahnya. Dan hanya membutuhkan waktu 30 menit akhirnya ia sampai juga di bandara.
"Dimana dia sekarang kenapa aku gak melihatnya. Apa mungkin pesawat yang ditumpangginya sudah terbang, kemana lagi aku harus mencarinya.
Dengan perasaan campur aduk yang ia rasakan sekarang ini, ia terus memperhatikan setiap orang yang lewat dihadapannya. Melihat banyaknya orang yang berada dibandara ini membuatnya sangat kesulitan untuk mencari keberadaan Sifa.
Hingga pada akhirnya pandangannya pun teralihkan setelah ia melihat sesesosok wanita yang berjalan sembari menyeret koper yang ia bawanya. Melihat jaket yang dikenakan wanita itu, bergegas Rasya pun berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang.
Dan ternyata firasat yang rasakan Rasya akhirnya membuahkan hasil. Lantaran orang yang ia peluk ternyata memang sunguhan Sifa, wanita yang sangat ia cintainya.
Merasakan ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya, bergegas Sifa pun membalikkan tubuhnya dan melepaskan pelukan seseorang itu.
"Apa yang kamu lakukan, kamu anggap apa aku ini, kita masih berstatus masih pacaran tapi kenapa kamu asal mau pergi dan ninggalin aku seperti ini tanpa menggucapkan pamit atau pun sepatah kata padaku?"
"Maaf aku harus pergi sekarang, pesawat yang aku naikin akan segera berangkat,"ucap Sifa yang mencoba mengelak-nya, tapi Rasya dengan langsung, langsung memeganggi atas koper Putri.
"Gak aku gak akan biarkan kamu untuk pergi. Aku akan melepaskan kamu asal kamu berkata jujur kepadaku apa yang sedang kamu senbunyikan dariku dan apa alasannya kamu mencampakan aku seperti ini aku butuh penjelasan yang jelas. Jadi aku minta kamu cepat katakan padaku?"
"Aku gak butuh alasan lagi untuk menjelaskan semuanya ke kamu. Bagiku hubungan kita dan perasaan kita yang kita rasakan selama ini semua ini hanyalah cinta monyet cinta. Iya cinta monyet yang hanya akan dirasakan oleh remaja seperti kita. Aku masih punya rencana dan mimpi yang harus aku kejar, aku gak mau hanya gara-gara hubungan kita ini aku melupakan mimpi dan cita-cita yang sudah aku impikan sejak dulu. Didunia ini masih banyak orang yang lebih sempurna dariku kamu berhak mendapatkan yang terbaik dariku jadi maaf aku harus pergi."
"Aku gak butuh yang sempurna. Yang aku butuhkan aku hanya inggin kejujuran. Tapi baiklah jika bagimu hubungan kita hanya akan jadi beban bagimu, baiklah pergilah karena aku gak akan melarang-mu sekarang, pergilah!" perintah Rasya yang kemudian ia pun melepaskan genggamannya pada ujung ujung koper yang hendak akan dibawa Sifa.
"Maafkan aku Rasya. Maafkan aku karena aku sudah mencampakkan kamu seperti ini maafkan aku. Aku yakin jika kita ditakdirkan berjodoh pasti tuhan akan mempertemukan kita kembali dalam keadaan apapun. Karena aku yakin jodoh tidak akan pernah tertukar jika sekarang aku tidak bisa bersamamu, aku yakin suatu saat nanti kita pasti bisa kembali bersatu," batin Sifa yang kemudian ia pun melangkahkan kakinya dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Berusaha tidak inggin terlihat cenggeng dihadapan Sifa. Dengan berusaha Rasya pun menahan air matanya agar tidak terjatuh dan membasahi kedua pipinya. Dan dengan memalingkan wajahnya agar tidak melihat kearah Sifa yang mulai menjauhi dirinya.
__ADS_1
Sifa yang dengan perjalan menuju kearah masuk sesekali ia menatap kearah Rasya, tapi Rasya tidak membalas tatapan yang diberikannya. Hingga Sifa yang sudah sampai diujung pintu ia pun menggucapkan kata selama tinggal untuk yang terakhir kalinya yang akhirnya tubuhnya seketika menghilang dari pandangan Rasya.
Rasya yang akhirnya menatap kearah Sifa tapi ia sudah terlambat yang bisa ia pandang hanyalah pungung Sifa yang perlahan-lahan mulai hilang dari pandangannya.
Dan akhirnya air mata yang sedari tadi ia tahan, detik ini pun tetesan demi tetesan air mata itu akhirnya terjatuh dan membahasi kedua pipi Rasya dari kedua sudut matanya
"Selamat tinggal Sifa mungkin hari ini adalah hari terakhir bagiku yang bisa melihatmu. Terima kasih karena selama ini kamu telah memberi kesempatan kepadaku untuk menjadi orang yang berhasil masuk ke hatimu terima kasih. Terima kasih karena kamu sudah menitipkan hati yang mungkin tidak akan lama akan kembali runtuh.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Rasya saat ini. Sifa yang sudah berada didalam awak pesawat. Dengan kondisi dia yang terduduk dengan mencoba bertahan tabah dan kuat. Nyatanya semua itu yang berhasil untuk dia lakukan. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya dengan cepat tetesan air mata itu pun perlahan-lahan menjatuhi dan membahasi dari kedua sudut matanya.
Luka yang sudah tidak bisa ia pendam lagi akhirnya seketika rapuh, hati bagaikan tercabik-cabik dan tidak mampu untuk ia obati. Bahkan dengan cara apa ia mampu mengobati luka yang sudah terlanjur rapuh dan retak ini, jika ada Dokter yang mampu mengobatinya maka dengan rela akan rela membayarkan walaupun dalam jumplah yang sangat banyak.
Tapi nyatanya semua itu hanyalah mimpi dan bayangan yang hanya mampu Sifa rasakan.
Langkahnya yang semakin lemah. Bahkan untuk melangkahkan satu langkahan kedepan tenaga Rasya rasanya sudah tidak sanggup lagi hingga ada seseorang yang datang dan menghampirinya. Dan seseorang itu yang tak lain ia adalah Verrel dan juga Gibran.
"Rasya apa yang terjadi, kenapa kamu terduduk dan lemas seperti ini? Dimana Sifa, dimana dia sekarang?" tanya Verrel dengan melihat kanan mau pun kiri.
"Percuma kamu cari dia disini. Karena sampai kapan pun kamu gak akan mungkin akan menemukannya," timpal Rasya.
"Ver. Apa aku memang tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan, apa aku memang lebih pantas untuk menderita kenapa aku harus menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan seperti ini, kenapa?" tanya Rasya yang kemudian ia pun merangkul Verrel.
"Kamu gak bisa berkata seperti itu. Semua nasib sudah diatur oleh Tuhan, jika sekarang kalian tidak bersama aku yakin suatu saat nanti kalian akan bersatu aku yakin."
"Aku tidak percaya itu, sekarang aku minta kamu antarkan aku pulang aku inggin pulang sekarang," perintah Rasya kemudian mendapatkan anggukan dari Gibran mau pun Verrel.
"Baiklah aku akan mengantarmu sekarang. Ayo bangkitlah," ucap Verrel dengan membantu Rasya untuk bangkit berdiri.
BERSAMBUNG.
__ADS_1