
Perlahan-lahan langkah kaki Richard pun mulai mendekati kearah Resya. Tatapannya yang semakin menjadi sesaat ia memperhatikan bibir mungil yang dimiliki Gadis cantik yang sudah berada dihadapannya, tidak tahu perasaan apa yang dirasakan Richard saat ini, ia tambah semakin mendekat lagi...dan lagi.
Resya yang menyadari jika Richard tambah semakin mendekati dirinya. Akhirnya ia pun berjalan mundur untuk menghindari niat yang hendak akan dilakukan Richard saat ini.
Melihat Richard yang berniat inggin menciumnya, lantas Resya dengan sigap ia langsung mengigit hidung mancung Richard secara langsung.
"Aw, kamu? Kenapa kamu menggigitku?" tanya Richard dengan memegang hidung mancungnya.
"Kenapa, kamu kira aku takut apa sama kamu, cepat kamu pergi dari hadapanku sekarang! Kalau kamu gak mau aku memberikan gigitan sekali lagi ke kuping kamu!"ancam Resya dengan tegas.
Akan tetapi mendengar ancaman yang dikatakan Resya. Richard malah tersenyum sinis dengan beralih menatap kearah Resya. Dengan mencengkram kedua pergelangan tangan Resya keatas yang belakang Resya sudahlah mentok tembok. Seketika Resya tidak bisa berbuat apa-apa akibat cengkraman itu, berniat ingin menjauhi laki-laki ini dari pandangannya, yang ada ia malah terjebak dalam situasi yang sangat rumit ini.
"Lepaskan aku..apa yang inggin kamu lakukan, lepaskan aku!"gertak Resya yang berusaha inggin memberontak, tapi ia tidak mampu berbuat apa-apa.
"Resya..Resya..aku sadar bagimu aku ini memang bukanlah siapa-siapa. Aku sadar untuk mendapatkan hatimu itu pasti akan sangatlah sulit, apalagi untuk mendapat pintu maaf darimu. Tapi sekarang kita kan sudah jadi sepasang Suami, Istri dan selama satu bulan lebih kita menikah aku tidak pernah memberikan ciuman manis dan sekarang pertanyaannya yang inggin aku tanyakan sama kamu? Apa kamu bersedia jika hari ini kita melakukan ciuman itu?"desak Richard yang masih mencengkram kedua tangan Resya, Resya yang mendengar ucapan yang barusan dikatakan Richard, perasaan gugup pun akhirnya menyerangnya.
"Dasar, Pria kejam apa bagimu dengan tindakan yang kamu lakukan saat ini. Aku akan tergoda akan godaan yang kamu lakukan saat ini? Tidak! Meskipun kamu mencium-ku seribu kali pun aku tidak akan tergoda apalagi sama Pria kejam sepertimu, jadi lepaskan aku! Lepaskan aku!" tegas Resya dengan berusaha memberontak tapi apa yang ia lakukan saat ini sama sekali tidak membantunya untuk bisa terbebas dari cengkraman pria yang sudah berada dihadapannya saat ini.
"Baiklah jika itu balasan dari pertanyaan yang aku tanyakan tadi. Dan tadi kamu bilang biarpun seribu kali pun aku menciummu tapi kamu tidak akan tergoda. Maka itu artinya kamu tidak masalahkan jika sekarang aku akan menciummu, jadi rasakan ciuman dariku Resya."
Hampir se'senti Richard akan mengecup bibir manis Resya, pintu yang tadinya tertutup dengan sangat rapat, kini dalam sekejap pintu itu pun terbuka, dan hadirlah tiga Pria yang langsung masuk kedalam sana tanpa mengetok pintu terlebih dulu. Terkejut akan kehadiran mereka, ciuman yang hendak akan dilakukan Richard kini hanya tinggal bayangan. Dan lagi-lagi niatnya untuk memberikan kecupan itu pun sirna seketika.
"Kalian. Apa yang kalian lakukan kenapa kalian malah masuk kesini?"bentak Richard yang merasa kesal lantaran ketiga anak buahnya masuk tanpa menggetok pintu terlebih dulu. Dan mendapat Richard yang sudah hampir memojokkan Resya tapi semua itu gagal dalam sekejab lantaran ulah mereka.
"Maaf Tuan mendingan Tuan sudahi niat Tuan untuk menciumnya. Ada Nyonya Sandra yang menuju kemari!"ucap Gibran yang seketika membuat Richard pun beralih jadi terkejut.
"Apa?"
"Sandra, aku harus memangilnya!"gumam Resya yang baru aja mau bersuara dengan sigap Richard pun membungkam mulut Resya.
"Ingat aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu. Apa kamu mengerti!"tegas Richard yang menengok kanan kiri untuk mencari tempat persembunyian.
"Tok...Tok...Tok...Gibran...." Suara Sandra yang akhirnya muncul. Dan membuat ke empat Pria yang berada didalam ruangan itu pun menjadi gugup kocar-kacir.
"Astaga gimana ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"tanya Richard yang terlihat sangat gugup.
"Mmmmm." suara Resya yang berusaha untuk menunjukkan suara tapi gagal, karena ia juga tidak mampu untuk menjangkau tangan kiri Richard yang sudah mendekapnya dengan sangat erat.
"Gibran..apa kalian ada didalam?"tanya Sandra dengan terus mengetuknya.
"Maaf Nyonya, aku lagi ganti baju jadi bisakah Nyonya tunggu lima menit lagi?"teriak Gibran untuk mengalihkan perhatian Sandra.
__ADS_1
"Baiklah cepat ganti bajumu, aku akan menunggumu!"balas Sandra.
"Tuan mendingan sekarang Tuan dan Nyonya muda segera masuk kedalam almari ini sekarang juga!"perintah Reza dengan sigap.
"Apa?"balas Richard terkejut.
"Cepat masuklah kita tidak ada waktu lagi!" timpal Gibran yang langsung mendorong tubuh mereka berdua kedalam almari yang tidak ada pakaiannya dan kemudian ia pun menguncinya dari luar.
"Astaga Gibran apa yang lo lakuin, lo mengunci Tuan lo sendiri?"tanya Reza yang tidak percaya.
"Sudahlah aman!"balas Gibran yang kemudian ia pun berjalan dan membuka pintunya.
"Kamu itu lama sekali sih ganti bajunya?"
"Maaf Nyonya kalau saya sudah bikin Nyonya lama menunggu, saya lagi menganti pakaian soalnya. Oh iya ada apa Nyonya, kenapa Nyonya kemari?"
"Saya kemari karena saya hanya inggin bertanya pada kalian bertiga. Apa kalian tahu dimana Richard pergi sekarang?" tanya Sandra yang kemudian Gibran pun beralih menatap kearah dua temannya sembari bingung mau mengatakan apa.
"Tu...Tuan Richard?"balas Gibran.
"Iya Tuan Richard?"balas Sandra.
"Maaf kita tidak tahu Nyonya memangnya Tuan tidak bilang dia inggin pergi kemana?"timpal Reza yang langsung menimpali pertanyaan yang dilontarkan Sandra.
"Sudahlah Nyonya, Tuan kan sudah dewasa dan dia juga seorang Mafia jadi Nyonya gak perlu mengkhawatirkannya, nanti Tuan juga akan kembali," timpal David lagi.
"Baiklah kalau gitu, kabari saya kalau kalian tahu keberadaan Tuan Richard ya?"
"Baik Nyonya."
DUK...DUK...DUK.
Suara pun akhirnya keluar dari dalam almari yang letaknya berada dibelakang Gibran. Sandra yang mendengarnya ia lantas bertanya dan langkah kakinya untuk pergi dari ruangan ini pun lagi-lagi terganggu sesaat ia mulai menghampiri Almari itu.
"Itu suara apa kok bisa ada didalam almari itu?" tanya Sandra yang langsung mengarahkan pandangan dari arah Almari tersebut. Dan perlahan-lahan langkahnya pun mulai menuju kesana.
Melihat Sandra yang hampir saja mau membuka pintu almari itu. Dengan sigap Reza pun mencari cara untuk mengalihkan perhatian Sandra.
"Itu..itu mungkin suara tikus yang hendak akan kita tangkap tadi Nyonya. Karena saya rasa fasilitas Hotel ini tidak sebaik yang kita kira. Awalnya aku berfikir jika Hotel ini Hotel yang terbaik tapi nyatanya semua itu hanyalah kebohongan," cela Reza agar bisa meyakinkan Sandra.
"Iya Nyonya yang dikatakan Reza memang benar, fasilitas Hotel ini tidak sebaik yang kita kira. Karena rupanya masih ada tikus yang mampu berkeliaran disini," timpal David lagi.
__ADS_1
"Bahkan yang lebih parahnya lagi, itu tikus ada dua pasti itu tikus sepasang Suami Istri yang lagi kejar-kejaran untuk membuat dedek bayi tikus jadi geli bukan Nyonya?"
"Iya sangat geli, ya sudah kalau gitu aku pergi saja, geli juga ternyata kalau Hotel ini ada Tikusnya, ya sudah kabari saya kalau kalian menemukan Richard ya?"
"Baik Nyonya kita akan kabari Nyonya nanti."
"Ya sudah kalau gitu aku permisi!"
"Baik Nyonya!"
Setelah perginya Sandra. Mereka bertiga pun akhirnya bisa bernafas dengan sangat lega dan bersama-sama merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Akhirnya dia sudah pergi. Tuan keluarlah!" perintah Gibran yang langsung membuka kuncinya.
"Dia sudah pergi, jadi aku harus pergi sekarang!"ucap Resya yang baru aja mau pergi, tangan Richard pun langsung menghalangi langkahnya.
"Tunggu, siapa yang menyuruhmu untuk pergi. Kalau pun aku belum memintamu untuk pergi, maka kamu tidak boleh pergi dulu apa kamu paham?"ucap Richard dengan menunjukkan senyuman manisnya.
"Oh jadi seperti itu?"balas Resya dengan membalas senyuman paksanya yang akhirnya dengan sengaja, Resya pun menendang barang berharga yang dimiliki oleh Richard.
Setelah memberikan satu tendangan pada Richard, wajah Richard pun seketika berubah menciut bahkan ia tidak mampu lagi untuk bersuara mau pun mengatakan sepatah kata lagi, mendorong tubuh Richard ke belakang yang akhirnya membuat pintu almari yang seketika terbuka terlebar hingga ia pun jatuh tersungkur kelantai dengan menahan sakit di bagian titik berharganya.
Membuat anak buah Richard pun terkejut dengan pandangan apa yang barusan mereka melihat tadi. Semua mata mereka pun akhirnya hanya tertuju pada sesosok Wanita yang berdiri tegah di sampingnya dengan menunjukkan tatapan sinisnya.
Hanya bisa menelan sal*vanya secara bersamaan, mereka pun hanya bisa terdiam dan berlalu menghampiri Tuannya sesaat setelah Wanita itu pergi meninggalkan ruangan ini.
"Itu balasan buat Pria kejam sepertimu karena sudah dengan beraninya kamu berniat inggin mencium-ku. Apa kamu paham!"tegas Resya yang kemudian ia pun pergi dari ruangan ini.
"Tuan. Apa yang terjadi kenapa dia bisa sekuat itu sampai mampu membuat Tuan lemah tak berdaya seperti ini?"tanya Gibran dengan nada penasarannya.
"Apa kalian mau merasakan apa yang aku rasakan saat ini jika kalian masih saja diam tanpa bertindak apapun lagi. Cepat bantu aku berdiri sekarang!"bentak Richard yang akhirnya ketiga anak buahnya pun menghampiri dan membantunya untuk berdiri.
"Tidak aku sangka, ternyata Tuan bisa seloyo ini juga?"ledek Gibran yang kemudian baru aja ia berkata, sesuatu pun akhirnya mengenai barang berharga yang juga dimiliki oleh Gibran sendiri.
"Awww," rintih Gibran yang langsung jatuh tersungkur setelah mendapat tendangan tak terduga yang dilakukan Richard.
"Itu balasan karena kamu sudah berani merendahkan ku paham!" balas Richard yang kemudian ia pun pergi dari ruangan ini.
"Makanya kalau ngomong itu dijaga, sekarang lo ngerasain kan rasakan sakit itu. Gue gak nyangka ternyata lo juga bisa loyo juga ya Gib?"
ledek Reza yang berlalu pergi dari hadapannya Gibran, dan lebih memutuskan untuk merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tak jauh berbeda yang dilakukan Resa, David pun ikut pergi tanpa memperdulikan seseorang yang sedang merintis kesakitan dilantai.
__ADS_1
"Dasar temen kampret bisa-bisanya kalian abaikan teman disaat sedang tidak berdaya seperti ini?" gumam Gibran tapi sama sekali tidak ditanggapin oleh kedua temannya.
BERSAMBUNG.