Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
MENGUNGKAPKAN SEMUANYA


__ADS_3

"Kaki kamu sekarang sedang terluka, jadi lebih baik aku aja yang mengantar kamu pulang." tawar Rasya.


"Baiklah kalau kamu tidak keberatan," balas Sifa yang kemudian ia pun masuk kedalam mobil Rasya dan dalam perjalanan.


"Kamu kenapa membawaku kejalan ini, ini kan bukan jalan menuju ke area Rumahku?" tanya Sifa.


"Memang ini bukan menuju ke Rumahmu. Dan aku sengaja inggin membawa kamu ke-suatu tempat," timpal Rasya yang seketika membuat pandangan Sifa beralih memandangnya.


"Ke-suatu tempat, dimana?" tanya Sifa lagi.


"Sudah, nanti kamu juga akan tahu," balas Rasya.


Tak berselang lama akhirnya mereka pun sampai juga disalah satu taman yang dihiasi dengan adanya beberapa jenis bunga seperti Bunga Mawar, melati, angrek dan jiga Krisan ditambah lagi dengan adanya perpohonan yang sunguh sangat indah jika dilihat. Dan suasana seperti inilah yang membuat suasana pun menjadi sangatlah indah dan tak mampu untuk dilupakan.


"Ini taman yang kamu gunakan untuk mengungkap perasaan kamu kepadaku apa hari ini kamu ingin mengulanginya lagi?" tanya Sifa mencoba memancing Rasya.


"Tidak. Aku tidak ingin menembak mau pun mengungkapkan perasaan itu lagi, dua kali aku mengungkapkannya tapi ujung-ujungnya kita akan selalu berpisah lagi dan lagi dan itu yang membuatku merasa tidak ingin lagi untuk mengungkapkan isi hati itu," balas Rasya dengan spontan, Sifa yang mendengarkan ucapan Rasya ia nampak terdiam dan terdiam sedih.


"Terus tujuan kamu datang kesini untuk apa? Apa kamu hanya ingin melihat pemandangan yang indah ini?" tanya Sifa lagi.


"Ya bisa dikata seperti itu!" balas Rasya secara spontan lagi.


"Baiklah kalau gitu," balas Sifa nampak murung dan kecewa.


"Oh iya aku haus aku beli minuman dulu ya kamu disini aja nanti aku akan kembali," ucap Rasya.


"Baiklah tapi kamu beneran akan kembali kan?"


"Iya aku akan kembali kamu tenang saja," balas Rasya yang berlalu ia pun pergi membeli minuman.

__ADS_1


"Tidak sesuai dugaan-ku. Aku kira dia membawaku kesini karena ingin melawan atau setidaknya menembak-ku lagi, tapi ternyata berbeda dari dugaan-ku," gumam Sifa nampak kesal dan beberapa kali ia nendang-nendang batu dibawah kakinya yang tidak bersalah.


"Ini minumlah," ucap Rasya dengan memberikan satu minuman coklat kepada Sifa.


"Thank ya," balas Sifa.


"Baiklah santai aja," balas Rasya.


"Oh iya aku selain itu sebenarnya ada hal lain lagi yang ingin aku tanyakan sama kamu. Dan ini mengenai soal aku yang berpura-pura menjadi Rangga apa kamu benar sudah memaafkan-ku?"


"Iya aku sudah memaafkan-mu lagian untuk apa menahan dendam gak ada gunanya juga. Dan mungkin sekarang aku akan lebih fokus soal pertemanan kita. Aku ingin kamu menjadi teman yang selalu setia disaat aku membutuhkanmu apa kamu tidak keberatan?"


"Jika pertemanan mampu mempererat ikatan antara kedua pihak, terus gimana dengan hati kita masing-masing? Apa kita mampu menjalankan status pertemanan jika kedua hati kita sudah pernah terukir dalam satu hati yang sama?" tanya Sifa dengan pandangannya yang memandang tulus kearah Rasya.


"Aku akan berusaha untuk melupakanmu bagiku cara itu cara yang tepat untuk kita pilih saat ini," balas Rasya.


"Apa kamu yakin kamu bisa melakukannya?"tanya Sifa.


"Baiklah kalau gitu," balas Sifa yang menahan sedihnya.


"Sudah kamu jangan banyak omong cepat minum sampai habis mubazir kalau itu tidak dingin lagi," perintah Rasya.


"Iya ... Iya ... Aku akan menghabiskannya," balas Sifa, Rasya yang melihatnya ia nampak tersenyum.


Nampak Sifa yang sedang menikmati minuman yang sedang ia minum.Dirinya dibuat terkejut setelah adanya sesuatu yang mengganjal sedotan dari dalam gelas kap yang ia pegang, mengambil dengan pelan ia terkejut setelah mendapati satu buah cincin berlian yang terdapat pada kap minuman yang barusan ia minum tadi.


"Cincin? Kenapa Cincin berlian ini bisa ada didalam sini apa pelayan tidak sengaja menjatuhkannya cincinnya? Rasya mendingan kamu cepat kembalikan cincin ini kepada pelayan yang melayani-mu dia pasti sedang mencarinya." Panik Sifa,tapi Rasya nampak terdiam dan hanya bisa tersenyum menikmati minuman yang ia nikmati.


"Rasya aku sedang berbicara denganmu apa kamu tidak mendengarnya?"tanya Sifa.

__ADS_1


"Kenapa aku harus mengembalikannya? Kan orang yang punya cincin itu sudah memegangnya sendiri?" timpal Rasya yang seketika mengejutkan Sifa, hinga pandangannya seketika teralihkan menatap dirinya dengan tatapan bingungnya.


"Ma ... Maksud kamu apa?"tanya Sifa nampak tidak tahu apa-apa.


"Iya cincin itu memang aslinya milik kamu sendiri. Dan aku sengaja meletakkan didalam sana karena aku ingin ....


Tiba-tiba berlutut dihadapan Sifa, mengambil cincin yang sudah dibawa Sifa dan mengatakan.


"Bagimu melihatku berlutut seperti ini pasti kamu sudah tahu apa yang akan lakukan. Dan mungkin ini bukan pertama kalinya aku mengungkapkan perasaan ini, tapi aku harap ini terakhir kalinya aku mengungkapkannya. Aku tidak bisa menunggu lagi jadi langsung intinya saja apa kamu mau menjadi Istriku?"


Melihat tatapan mata Rasya yang berkaca-kaca. Sifa yang melihatnya ia hanya bisa membungkam mulutnya, air mata yang tak bisa ia bendung lagi akhirnya ia berani mengatakan sesuatu.


"Aku tahu memang ini terlalu cepat buat kita, tapi aku juga tahu sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku sudah tahu jika kamu itu orang yang sangat baik. Dan inilah yang membuatku sangat menginginkan kamu menjadi Istriku, jika kamu bersedia menerimanya kamu boleh ambil daun kering ini sebagai simbol jika hatimu sudahlah kering untukmu. Dan jika kamu mau menerimanya kamu boleh ambil cincin berlian ini sebagai simbol kamu mau menerima lamaran-ku ini jadi gimana kamu bersedia kan?"


"Kenapa kamu sangat menginginkan aku sebagai Istrimu?Tapi maaf aku tidak bisa menerima kamu menjadi calon suamimu." Sahut Sifa dengan menggambil sebatang daun kering.


Mendengar perkataan Sifa barusan, seketika Rasya pun langsung lemas dan menundukkan kepalanya kebawah, melihat reaksi yang dilakukan Rasya, Sifa pun tersenyum dibuatnya.


"Aku memang tidak mau jadi Istri kamu, karena bagimu dengan status istri hal itu tidak akan membuat hubungan akan menjadi utuh. Jadi aku mau hubungan kita lebih dari itu, dan aku mau status kita lebih jadi ... Aku mau menjadi pendamping hidupmu hinga sampai akhir hayat kita," balas Sifa yang langsung membuang daun kering, berlalu ia mengambil cincin itu dan memasangkannya pada jari tengahnya.


"Jadi maksud kamu, kamu tidak menolak lamaran-ku ini?" timpal Rasya sedikit tidak percaya.


"Iya," jawab Sifa dengan tersenyum malu sembari menganggukkan kepala kedua kalinya.


"Astaga Sifa perkataan kamu dari awal tadi, kamu hampir saja membuatku terkena jantungan, tapi sekarang aku lega jadi sekarang status kita ..."


"Mm iya seperti itu," balas Sifa dengan malu-malu.


Dekapan hangat telah diberikan Rasya untuk Wanita yang sangat ia cintai. Memeluknya dengan sangat erat, bahkan hampir membuat Sifa sesak nafas lantaran sangking eratnya Rasya mendekap tubuh mungil itu tapi semua itu tidak menyurutkan rasa bahagia dari keduanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2