
Beberapa menit kemudian Richard telah sampai disalah satu gedung kosong perlahan-lahan ia mulai mendekati sebuah lokasi pembangunan yang dimana terdapat banyak kayu-kayu yang berjajar rapi
"Ini tuan tempat yang menjadi persembunyian Erlangga sekarang!"
"Kira-kira berapa banyak orang yang ada didalam sana?"
"Entahlah kali ini aku belum bisa memastikannya!"
"Aku rasa mereka mengatur rencana menjadi dua regu, kamu bersama Gibran pergilah kesana biar didalam sini aku yang mengatasinya!"
"Tuan yakin?"tanyanya.
"Iya aku yakin cepat pergilah!"pintanya.
__ADS_1
Tatapannya mengarah tajam kearah bongkahan kayu, dirinya tak memperdulikan dan lebih memilih dihiraukannya, hinga ia memutuskan untuk menabraknya menggunakan mobil bernilai milyaran rupiah miliknya, penyok bagian depan tak memikirkan akan berapa banyak dana yang akan ia pakai, tak sabar ingin bertemu seseorang yang ingin ia temui-nya dengan semangat 45 ia maju seorang diri dan menerobos siapa saja yang menghalanginya. Hingga tatapannya tertuju pada beberapa orang yang sudah siap didepan matanya.
"Kau ternyata sangatlah pemberani sampai-sampai dengan beraninya kamu datang kesini dengan tangan kosong. Apa kamu sudah siap jika tempat ini akan jadi tempat peristirahatan terakhir kamu makanya kamu berbangga diri seperti ini? Kau terlalu percaya diri Richard?"
Menambah laju kendaraan, tak memperdulikan adanya seseorang yang sedang menghadang dirinya, ketiganya mulai gelagapan menyelamatkan diri. Mobil yang tadinya akan dibuat sengaja untuk menghabisi ketiganya kini hanya bisa tersenyum pasrah sadar tindakannya tak membuahkan hasil.
Turun dari mobil, menatap ketiganya dengan tatapan yang amat memancing, menahan tangannya yang sedari ingin memukul, kini dalam hitungan detik amarahnya sudah tidak lagi ia pendam dengan langkah seribu akhirnya ia menendangnya hingga membuat tubuh seseorang yang ia incar seketika tersungkur ketanah.
Melihat wajahnya seketika memar, bersamaan adanya darah mengalir deras bagian kepala tak menghiraukan niat pria itu untuk membunuhnya sekali pun.
Niatnya yang ingin bangkit dengan sigap Richard berbalik menendangnya dan satu benturan tepat mengenai Erlangga lantaran tidak terima laki-laki itu berkata seperti tadi.
Ia terus menerus Richard memberikan serangannya. Pria bertubuh kekar itu menghajar sang lawan seperti kesetanan. Tidak memberikan lawannya untuk melawan sedikit pun. Sembari mengeluarkan umpatan kasar. .
__ADS_1
Sedangkan Erlangga yang tadinya berada dalam posisi setengah berbaring di tanah dan terus mendapatkan pukulan tanpa ampun dari Richard. Sampai akhirnya ia menemukan celah dan langsung saja, memberikan bogeman mentah pada wajah Richard.
Membuat lelaki itu mundur dari hadapannya. Richard yang mendapat serangan tak terduga itu pun lantas memundurkan langkah kaki. Dengan nafas memburu ia menatap tajam layaknya harimau ke arah pria yang kini sudah berdiri meski kesusahan dan sesekali merintih.
Tentunya, kali ini Richard yang sudah babak belur di beberapa bagian wajahnya tidak akan tinggal diam. Sehingga, perkelahian pun kembali terjadi dan lebih sengit lagi hinga akhirnya Erlangga yang merasa tak sanggup melawannya lagi ia berlari keluar menghindari amukan sang lawan.
"Hey jangan kabur kamu," teriaknya yang kemudian Richard kembali mengejarnya, belum berhasil ia menemukan Erlangga terlebih dulu ia sudah dihadang dengan hadirnya anak buah Erlangga.
"Jika kamu berniat ingin menghajar bos kamu maka langkah'i jasad kami terlebih dulu," tantangannya.
"Baiklah jika itu mau kamu akan akan buat teman ini akan menjadi tempat terakhir-mu!"
Pukulan demi pukulan pun siap mendarat tepat mengenai dada kekar Richard. akan tetapi Richard dengan sigapnya dia langsung menghindari setiap pukulan yang hendak akan dilakukan oleh para pelaku untuk mengenai dirinya
__ADS_1
Merasa tenaga mereka lebih kuat dan tidak mampu untuk Richard tandingi sendiri, Richard yang sudah dalam kondisi terpojok ia pun melihat kanan kiri untuk mencari ide dengan cara apa ia bisa berhasil keluar dari tempat ini. Karena dia tahu semakin lama ia mendekam disini, akan tambah semakin besar resiko dia akan celaka lantaran ia sadar jika dirinya sama aja seperti ayam yang sudah terkepung dengan adanya empat buaya yang siap melahapnya.
BERSAMBUNG.