Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Resya diculik


__ADS_3

Kota Jakarta terlihat sangatlah cerah. Di rumah yang terlihat mewah . Resya berjalan menuruni anak tangga satu persatu, lalu berakhir di mobil yang sudah menunggunya dengan hadirnya sesosok bodyguard nya yang tak lain adalah anak buah dari eyang. Salah satu bodyguard berniat ingin membuka pintu mobil belakang, tapi Resya malah menghentikan.


"Kalian siapa? Kenapa kalian tiba-tiba ada disini aku tahu kalian bukanlah anak buah eyang. Apa kalian salah satu mata-mata yang ditugaskan seseorang?"


"Bukan begitu Nona kami adalah anak buah dari Eyang yang ditugaskan untuk menjaga Nyonya," balasnya.


"Menjaga...tapi buat apa?"


"Eyang khawatir jika ada sesuatu yang terjadi pada nyonya, jadi maka hal itu eyang menyuruh kami untuk menjaga Nyonya Resya?"


"Tapi maaf aku sangat berterima kasih akan niat baik kalian ini. Akan tetapi aku tidak mau dijaga seperti ini. Aku baik-baik saja dan aku juga bisa menjaga diriku sendiri jadi tidak masalah kalau saya berangkat sendiri karena saya sudah biasa jadi kalian tidak perlu mengantarkan saya ke saya baik-baik saja kok,” ucap Resya dengan tersenyum.


"Tapi, Nyonya,” balas bodyguard yang sedikit keberatan dengan keinginan Resya.


"Tidak ada kata-kata lagi tapi, ini perintah dari saya,” ucap Resya penuh penekanan lagi.


"Ba--baiklah,” jawabnya pasrah.


"Tapi untuk berjaga-jaga bisakah Nona pakai pengikat rambut ini? Ini bukanlah pengikat rambut biasa dan bisa dibilang didalam sini telah terdapat alat pelacak yang mampu melacak keberadaan Nona jika tiba-tiba Nona menghilang tanpa jejak,"pintanya.


"Baiklah saya akan memakainya. Saya tidak akan pernah melepaskannya,"balasnya.


"Baiklah itu lebih bagus," balas sang bodyguard.


"Ya sudah saya permisi dulu!"

__ADS_1


"Baiklah berhati-hatilah!"


"Baiklah!"


Entah mengapa, mendadak hari ini Resya ingin membawa mobil sendiri. Dia duduk di kursi pengemudi, memakai sabuk pengaman sebelum menjalankan mobilnya pergi meninggalkan kawasan rumah megahnya.


Resya mulai membelah jalan raya dengan kecepatan sedang. Namun, dalam perjalanan menuju ke kantor, tiba-tiba seseorang melintas di depan mobilnya. Lantaran terkejut sekaligus refleks seketika ia menginjak rem.


Ciit ....


Bugk!


"Astagfirullah. Apa aku baru saja menabraknya?" gumam Resya yang kaget bukan main, dan nafasnya sudah tidak beraturan.


Resya melepaskan sabuk pengamannya dengan buru-buru, lalu membuka pintu mobil dan berlari ke depan mobilnya.


Dalam keadaan masih bersimpuh di tanah seseorang laki-laki itu memperhatikan Resya dengan pandangan cukup tajam.


Dia seorang pria yang berumur 30 an, memakai pakaian serba hitam dan topi hitam. Resya tidak terlalu bisa mengenali wajah pria itu.


"Bagaimana kalau saya antar ke rumah sakit?” lanjut Resya yang terlihat panik.


"Tidak perlu. Saya baik-baik saja,” jawabnya yang terdengar dingin.


"Lebih baik kita ke rumah sakit saja, ya. Saya khawatir jika terjadi sesuatu dengan Anda,” ucapnya yang sangat khawatir.

__ADS_1


Lantaran terlihat sangatlah cemas ia tidak menyadari seseorang berjalan mendekatinya dari belakang. Seseorang itu dengan sigap langsung menyekap mulut Resya menggunakan kain yang sudah diberi obat.


Resya berusaha meronta-ronta, tapi perlahan pandangannya mulai buram sebelum dia tidak sadarkan diri, karena pengaruh obat yang berada di kain tersebut.


Setelah jatuh pingsan, pria yang berpura-pura tertabrak ia langsung membantu membopong tubuh Resya dan memasukkan ke dalam mobilnya yang berada di belakang mobil yang ditumpangi Resya. Kebetulan jalan sedang sepi karena jam kerja sibuk. Mereka pergi meninggalkan mobil Resya begitu saja.


Berada didalam ruangan yang terlihat sangatlah sepi tanpa ada seseorang sekalipun dan hanya sendiri dalam kondisi kedua tangan dan kaki yang masih dalam keadaan terikat beberapa kali Resya mencoba menenangkan pikirannya yang selalu kacau, sekaligus bingung apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.


Setiap detik banyak sekali pertanyaan tentang nasib buruk yang tengah ia pikirkan. Namun hal yang paling ia takuti dari semua itu adalah kematian, ia takut jika orang jahat yang sedang menyekapnya akan bertindak nekat untuk mencelakai dirinya.


Belum juga rasa was-was nya hilang ia sudah dibuat terkejut sekaligus ketakutan setelah pintu yang tiba-tiba terbuka dengan berbarengan langkah kaki seseorang yang mulai menunjukkan sepatu berwarna hitam yang perlahan-lahan mulai menghampirinya


Pandangan sekaligus matanya seketika terdiam bahkan tidak berkedip setelah ia tahu siapa seseorang yang mulai menghampirinya.


Melangkah menghampiri Resya yang sedang duduk di atas kursi dengan kondisi kedua tangan dan kakinya yang terikat. Seseorang itu menunjukkan raut wajah cerah dan terlihat senang. Akan tetapi dibalik wajah senangnya ada sesuatu yang aneh terjadi didalam diri pria itu.


"Kau wanita yang bisa aku jadikan kambing hitamnya, tapi kulihat di saat berada seperti ini kamu nampak menjadi wanita yang kuat?"


Erlangga mengangkat tangannya ke atas, seakan ingin memberikan tamparan keras pada Resya.


Memperhatikan setiap tatapan yang ditunjukkan pada Pria kejam ini. Resya akhirnya buka suara karena ia tahu dengan berdiam diri mungkin cara itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Apalagi musuh yang ada dihadapannya bukanlah seseorang yang biasa.


"Apa sebenarnya mau mu apa kamu ingin membunuhku? Jika kamu ingin membunuhku silahkan karena aku tidak akan pernah takut!"


"Apa kamu bilang! Apa kamu mengancam ku?"

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2