Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
APAKAH RICHARD AKAN SELAMAT.


__ADS_3

Dalam perjalanan Richard yang telah bekerja sama dengan beberapa anak buah Revan, perjalanan pun berjalan dengan lancar, bahkan Mamanya Sandra yang diangkut mobil yang awal sudahlah sampai ditempat tujuan.


"Richard apa kamu serius inggin menjebloskan ku kepenjara? Apa kamu tidak kasihan kepadaku, apa kamu juga tidak kasihan pada anakmu yang ada dikandungan ku, apa kamu tega melakukan semua ini padaku Richard?"ucap Sandra tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Richard yang berada disampingnya.


Seberusaha apa Sandra merayu dan mengalihkan perhatian Richard agar bisa luluh kepadanya, tapi nyatanya apa yang ia lakukan hanya berbuah sia-sia saja, jalankan membalas perkataannya barusan b melirik kearahnya saja Richard tidak melakukannya. Hingga rasa kesal pun terjadi yang akhirnya membuat Sandra pun memutuskan untuk berdiam diri tanpa harus mengeluarkan suaranya sama sekali.


Melewati jalanan yang sepi bahkan perbatasan jalan yang tanpa adanya penghalang dan pembatas yang langsung terjun kedalam jurang yang berkedalaman cukup dalam tidak membuat semangat Richard untuk membawa Sandra kepenjara pun merasa luntur.


Akan tetapi ditengah-tengah perjalanan kejanggalan pun mulai terjadi, dan Richard pun perlahan-lahan mulai menyadarinya gimana pada saat Richard yang masih dalam fokus memegang laju kendaraannya ia baru aja menyadari jika tidak ada satu pun pengendara roda empat mau pun roda dua yang melewati arah ini, mau dari arah depan mau pun belakang semuanya terlihat sangatlah sepi.


"Ada apa ini, kenapa jalanan ini terlihat sangatlah sepi, padahal biasanya selalu ramai tidak pernah seperti ini?"batinnya yang sembari melirik arah kanan mau kiri yang sudah terdapat lah jurang.


Baru aja ia fokus pada laju kendaraannya ia dibuat tercengang ketika melihat sebongkah pohon besar yang telah menghadang tepat didepan laju kendaraannya ini.


"Sial pasti ada orang yang berniat iseng, kamu tunggulah disini biar aku yang keluar. Buat jaga-jaga aku akan memborgol kedua tangan dan kakimu agar kamu tidak bisa berusaha melarikan diri disaat suasana yang lagi genting ini?"


"Richard apa kamu setega ini kepadaku? Apa kamu tidak merasa kasihan kepadaku?"


"Diam-lah karena sekarang bukan saatnya untuk berakting, apa kamu paham!"tegas Richard yang akhirnya ia pun berhasil memborgol kedua tangan dan kaki Sandra yang kemudian kuncinya pun ia sembunyikan dalam saku celananya sendiri.


Memutuskan untuk keluar dan hanya berbekal sengaja Pistol yang berada di genggamannya saat ini, Richard pun akhirnya mempertegaskan pada seseorang itu. Karena dia tahu pasti ada seseorang dibalik dalang dari semua ini.


"Siapapun kalian cepat keluarlah, jangan coba-coba jadi pengecut yang hanya mampu bersembunyi, ayo pengecut keluarlah!"


"Ayo tahu semua ini pasti ulah kamu kan Lex, jadi cepat keluarlah jangan coba-coba menjadi seorang pengecut karena hanya berani bersembunyi tanpa menunjukkan siapa jati dirimu, cepat keluarlah!"tegas Richard sembari pandangannya yang fokus menatap tajam kearah kiri mau pun kanan.


Baru aja Richard berhenti dari perkataannya, tiba-tiba seseorang pun datang dari balik pepohonan sembari menggenggam sebuah Pistol.


"Masuk jebakanku juga anak Singa?"balas seseorang itu yang tak lain adalah Alex.


"Sudah aku duga pasti semua ini ulah kamu, tapi ngomong-ngomong mana anak buahmu kenapa kamu hanya sendiri disini. Wajah kanan kamu, kenapa wajah kamu bisa terluka cacat seperti itu?"


"Bisa-bisanya kamu masih bisa tersenyum di hadapanku setelah apa yang kamu lakukan pada waktu itu. Kamu memang berhasil membunuh semua anak buahku dengan mengebom Markas ku pada waktu itu, tapi kamu tidak akan pernah berhasil membunuhku, jadi sekarang bersiaplah karena tempat ini akan jadi tempat terakhirmu untuk bisa menginjakkan kakimu di tanah ini paham!"


"Hanya orang pengecut lah yang mampu bisa berkata seperti itu!"


"Banyak omong rasakan ini!"tegas Alex yang akhirnya ia pun menggeluarkan senjatanya, hendak akan menembakkan misinya pada Richard, Richard yang terlebih dulu menghindar dan akhirnya misi itu pun tidak mengenalinya.


Tembakan demi tembakan telah mereka lalukan, akan tetapi karena mereka sudah ahli dalam bidang penembakan tidak ada diantara salah satu dari mereka yang terkena tembakan tersebut.


Menendang tangan Alex dengan kasar yang akhirnya membuat Alex pun yang sudah mulai kelelahan. Dan pistolnya pun tanpa sengaja telah terlempar didasar jurang sampingnya.

__ADS_1


"Kamu lihat kan senjata kamu sudah terbuang dari genggaman tanganmu, jadi dengan cara apa lagi kamu inggin menyerang ku?"


"Richard... Richard...itu hanyalah senjata kecil, biar pun senjata itu sudah terbuang tapi setidaknya aku masih pelindung dari senjata yang kamu gunakan itu. Apa kamu tahu pakaian yang aku kenakan ini adalah pakaian anti senapan, jadi percuma aja kamu berusaha menembak ku, aku rasa itu tidak akan mempan, jadi kini saatnya kamu mati dan tertembak menggunakan senjata andalan kamu sendiri!"


Mendengar perkataan demi perkataan yang diucapkan Alex, yang Richard lakukan saat ini hanyalah menunjukkan senyuman sinisnya kearah Alex . Bahkan tidak terdengar satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Melihat hal ini Alex yang sedari melihatnya dengan tatapan tajam ia pun langsung berkata.


"Kenapa kamu hanya menatapku dengan tatapan seperti itu. Apa kamu tidak takut sama ancaman aku ini?"tegas Alex yang kemudian Richard pun membalasnya.


"Hanya Mafia bodoh lah yang akan terpancing oleh omonganmu itu!"tegas Richard.


Pukulan demi pukulan pun siap mendarat tepat mengenai dada kekar Richard mau pun Alex. akan tetapi mereka dengan sigapnya dia langsung menghindari setiap pukulan yang hendak akan dilakukan setiap musuhnya untuk mengenai dirinya.


"Dasar bajing*n jika kamu berniat melawanku, aku rasa kamu akan kalah karena aku bukanlah sainganmu, Alex adalah penguasa Black blaker jadi kamu tidak akan mampu Richard!" ucap Alex yang terus-menerus memberi pukulan ke Richard.


"Banyak omong!" timpal Richard yang langsung memukul tepat dada Alex.


Berhasil terhindar dari serangan pukulan maut Alex, Richard yang tanpa sengaja telah menjatuhkan Pistol yang sedang ia sembunyikan tadi, bergegas Richard pun berlari kearah Pistol, Alex yang juga kebetulan melihatnya ia pun juga tak mau ketinggalan dan secara bersamaan pistol pun tepat berada digenggaman keduanya.


"Bersiaplah untuk ma*i Richard, karena ajalmu akan menjemputmu!"tegas Alex.


"Jangan berharap kalau kamu akan berhasil membunuhku. Karena sebelum kamu melakukan itu, akulah yang terlebih dulu akan mengantarkan mu pada anak buahmu!"tegas Richard dengan tatapan tajamnya.


Melirik kearah seberang yang sudah terdapat jurang, Alex pun akhirnya mendapatkan idenya. Dengan langsung Alex pun membuat Richard agar dirinya tambah semakin mendekati pembatas jurang itu.


"Aku tidak perduli jika hari ini aku akan mati. Karena setidaknya jika aku akan mati, kamu juga akan mati, jadi dendam kita akan impas kan karena kita akan mati bersama-sama?"


"Dasar bodoh, jika kamu inggin mati, matilah sendiri jangan mengajakku didalam kebodohanmu ini. Dan jika kamu cinta sama Sandra perjuangkan lah dia karena kalian sama-sama cocok untuk bersama paham!"tegas Richard dengan senyum sinisnya.


"Diam, kini bukan saatnya untuk membahas itu, kamu lihatlah kedalam jurang ini, bukannya kalau kita sampai terjatuh apa ada kemungkinan bagi kita untuk berhasil selamat?"tegas Alex yang kemudian menunjukkan senyum sinisnya.


"Hanya orang bodoh yang punya pikiran untuk mati. Dan aku! Sebelum aku mati, aku harus menyelesaikan urusanku dulu!"


"Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkan itu sampai terjadi!"timpal Alex


Tarikan demi tarikan telah mereka lalui, bahkan pistol yang sama-sama berada tepat di genggaman mereka akibatnya mereka pun saling rebut merebut. Bahkan pukulan demi pukulan tidak bisa mereka hindari lagi, wajah yang dipenuhi dengan lebam dan memar telah menghiasi keduanya. Kini Pistol itu tepat berada ditangan Richard. Dengan cepat Richard pun menembakkan satu peluru itu yang tepat mengenai lengan tangan kanan Alex.


Rasa sakit yang tidak tertahan akhirnya berhasil menyerang tubuh Alex sendiri, hingga ia yang sudah tidak tahan tubuhnya pun hendak ambruk kebawah yang dimana kedalaman jurang yang dipenuhi dengan adanya pepohonan yang rimbun telah jadi saksinya, tapi naasnya Alex yang sempat menarik jaket Richard yang kemudian membuat keduanya pun terjatuh dan tergulung di tanah yang bermedan sangat miring tersebut.


Terjatuh bersamaan didalam dasar jurang tidak bisa memastikan apa mereka akan bisa berhasil selamat, Sandra yang sedari tadi telah berada didalam Mobil Richard dengan kondisi tangan dan kakinya yang masih terborgol. Kini pandangannya hanya bisa menatap dengan tatapan terkejut setelah apa yang ia lihat barusan tadi.


"Astaga apa yang terjadi pada mereka nanti, apa mereka telah mati setelah terjatuh kedalam jurang itu. Sudahlah jangan pikirkan itu, yang terpenting sekarang kamu harus berhasil melarikan diri jika kamu tidak inggin masuk kepenjara!"

__ADS_1


Langkahnya yang perlahan-lahan mulai berhasil keluar dari mobil yang masih dalam keadaan tangan dan kaki yang sama terborgol membuat Sandra kesusahan untuk berhasil melarikan diri. Dan baru aja ia berhasil keluar, tubuhnya pun seketika melemah sesaat seseorang yang tiba-tiba menembakkan sebuah misi tepat mengenai kaki kanannya.


Dan seseorang itu yang tak lain adalah Richard, yang ternyata tanpa diduga iya berhasil menggaet sebuah rating kayu ketika tubuhnya masuk kedalam jurang bersamaan dengan Alex tadi. Akan tetapi pandangan tak menggenakan pun terjadi, gimana perut bagian kanan Richard yang ternyata telah tertusuk oleh sebatang kayu yang mulai rapuh. Dan kayu itu yang sebesar jempol jarinya berhasil membuat darah segarnya pun keluar tanpa henti.


"Aw... Richard tega sekali kamu menembak ku, Aw...sakit!"


"Itu akibat karena kamu telah beraninya berniat inggin melarikan diri dariku. Sial! Perut kananku mengalami tusukkan kayu tadi, aku harus segera pergi ke Rumah sakit sekarang!"


Hanya bisa merintih kesakitan merasakan rasa sakit dari luka ini, Richard pun merasa tubuhnya merasa sangat lemas dan tidak sanggup lagi untuk berjalan. Terduduk lemas dibawah pohon itulah yang ia lakukan.


"Richard apa kamu baik-baik saja, kamu terluka parah?"tanya Sandra yang terlihat ikut cemas.


"Jangan pedulikan aku, pedulikan lah dirimu sendiri!"


"Richard sedang terluka parah inilah kesempatan yang tepat untukku bisa melarikan diri?"batinnya yang baru aja melangkahkan kakinya, dengan sigap Richard yang melihatnya ia pun memberikan satu tembakan lagi pada kaki kiri Sandra, yang seketika tubuh Sandra pun seketika tersungkur lemas dan tidak sanggup untuk berjalan lagi.


"Aw..sakit kakiku?"teriak Sandra yang ikut merintih sakit.


Tanpa mau menunggu, Richard pun akhirnya menghubungi salah satu nomor yang tertera pada layar ponselnya.


"Kemari lah aku butuh bantuan kalian, aku mengalami penyerangan secara tiba-tiba, jadi cepat kemari lah aku tidak sanggup lagi untuk berjalan, cepatlah kesini sebelum seseorang datang dan mencurigai ku?"


"Baik Tuan kita akan segera mendatangi lokasi Tuan!"balas Reza yang kemudian bergegas ia pun melajukan laju kendaraannya. Tak lupa ia pun menghubungi David untuk membantu meminta bantuan kepadanya.


Muka yang sangat pucat bahkan darah yang mengalir deras diperut bagian kanannya membuat Richard akhirnya merasa lemas dan menjadi tidak berdaya, selama kurang lebih beberapa menit Richard hanya bisa terduduk lemas bersandar dibawah pohon. Akhirnya anak buahnya pun datang dan seketika langsung menghampirinya.


"Astaga Tuan, apa Tuan baik-baik saja kondisi Tuan cukup memprihatinkan, Tuan terluka parah dan kehilangan cukup banyak darah?"ucap Reza yang merasa cemas.


"Cepat antar lah aku ke Markas dan panggil Dokter Rusli untuk memeriksa lukaku. Karena aku tidak sanggup mengobati luka tusukan ini."


"Baik Tuan saya akan memangilnya."


"Dav, kebetulan kamu sudah datang kesini, bawalah Wanita ini soal bukti biar aku yang memberikannya pada Revan nanti."


"Baik Richard aku akan membawanya."


"Richard kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Richard kamu harus menghentikannya Richard,"teriak Sandra ketika David mulai memaksanya untuk


"Jangan pedulikan dia, cepat kita masuklah kedalam Mobil sekarang!"


"Baik Tuan."

__ADS_1


Sebelum menjalankan laju kendaraannya, terlebih dulu mereka pun mengangkat bongkahan kayu besar yang menghalangi jalan ini, dengan dibantu beberapa anak buah David dan para pengendara yang kebetulan ada yang melintasi, mereka pun akhirnya mengangkatnya bersama-sama.


BERSAMBUNG.


__ADS_2