Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Perubahan sifat Richard


__ADS_3

Dua hari telah berlalu dengan cepat. Dan selama itu sifat Richard telah berbeda dirasakan oleh Resya, jika biasanya Richard akan selalu bersifat manis dan sedikit manja kepadanya. Untuk kali ini ia nampak menunjukkan sifat yang sebenarnya yaitu Richard yang dulu.


Mendapat kabar jika Richard sudahlah kembali dari Amerika, Resya dibuat terheran lantaran sesampainya Richard di-Jakarta Richard tidak menemui Resya akan tetapi Richard malah lebih memilih mendatangi Markasnya terlebih dulu.


Kesal ia lantas menyusulnya kesana.


Mendapati seorang laki-laki yang terlihat sibuk dengan beberapa lembar kertas yang masih berantakan didepannya, tanpa berkata ia segera mendatanginya.


"Richard kamu itu kenapa sih kenapa kamu tega tidak berpamit saat pergi ke Amerika. Aku kan Istrimu jadi harusnya kamu itu pamit sama aku agar aku tidak cemas memikirkan keadaan kamu.


Mendengar perkataan yang diucapkannya yang tanpa berhenti ngomong, sikap Richard pun tiba-tiba berubah jadi dingin, hal itu pun membuat Resya pun terkejut.


"Res kamu itu sedang ngomong atau sedang apa sih..kamu tidak bisa apa kalau bicara itu pelan-pelan saja! Budek ini kuping," bentaknya seketika membuat Resya terdiam.


"Maaf Richard bukannya aku mau buat kamu marah tapi aku hanya khawatir sama kondisi kamu saat ini. Kamu pergi tanpa berpamit apa itu tidak membuat orang khawatir?"


"Baiklah jika itu yang inggin kamu katakan kepadaku. Aku sekarang lagi sangat sibuk dan pekerjaanku juga masih numpuk, jadi aku harap kamu tidak akan menggangguku lagi jadi kamu bisa kan pergi dari ruangan ini sekarang," titah Richard yang membuat Resya geleng percaya tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar saat ini.


Mendengar kata menganggu. Hati Resya pun serasa sakit bagaikan tercabik-cabik.


"Jadi menurutmu aku mengganggumu sekarang," balas Resya yang akhirnya air matanya pun tumpah.


"Iya kamu itu menganggu-ku sekarang, jadi aku harap sekarang kamu mau pergi dari hadapan-ku,"ucap Richard tanpa melirik kearah Resya.


Merasa tak hargai akan kehadirannya. Resya pun berlari dari ruangan Richard berada, menutup pintu dengan cukup menandakan jika isi hatinya sedang lah kacau.


Melihat kepergian Resya yang lagi-lagi  diselimuti dengan air matanya. Hati Richard ikut merasa tercabik-cabik.


"Maafkan aku Resya maafkan aku. Lagi-lagi aku telah melukai hatimu maafkan aku!"


"Apa yang terjadi dengan-mu Richard apa? Baru kemaren kamu bersikap manis kepadaku tapi kenapa lagi-lagi kamu membuat air mata ini terjatuh. Apa alasan kamu melakukan semua ini apa?"


Berjalan sembari melamun dan tak fokus pada pandangannya didepan. Resya hampir saja tertabrak oleh seseorang pengendara mobil yang waktu itu sedang melajukan kendaraannya tepat dijalan yang dilewati Resya.


Sama-sama terkejut kemudian seseorang itu yang tak lain adalah Revan, bergegas ia turun dari mobil memeriksa kondisi seseorang yang hampir saja ia tabrak tadi. Sesampainya ia pun terkejut jika Resya-lah orang yang hampir ia tabrak tadi.


"Resya?"


"Revan," balasnya kemudian Revan membantunya untuk berdiri.


"Resya apa yang kamu lakukan di-jalanan ini kamu gak kenapa-kenapa kan kamu tidak ada yang terluka kan?" tanya Revan yang terlihat panik.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak apa-apa kok Revan aku baik-baik saja," balasnya kemudian pandangan Revan teralihkan pada kedua mata Resya yang terlihat lebam seperti habis menangis.


"Resya kamu kenapa? Kenapa kamu nangis ada apa?"


"Revan tidak kok aku tidak nangis aku hanya kelilipan saja tadi," balas Resya  sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Res ...kamu tidak bisa bohongi aku, aku tau kalau kamu habis  menangis..katakan kepadaku siapa orang yang sudah membuat kamu menangis seperti ini katakan padaku!" ucap Revan sambil memegang kedua tangan Resya sambil terduduk dilantai . Resya yang sadar dia pun terkejut begitu juga Revan.


"Maaf aku tidak berniat untuk melakukan itu, maafkan aku!"


"Tidak apa-apa kok Revan aku paham!"


"Ya udah kasih tau aku siapa orang yang sudah melukai perasaan kamu?"


"Richard aku tidak tau apa yang terjadi dengannya saat ini, tapi dia bener-bener menunjukkan sifat yang sangat berbeda kepadaku. Aku juga tidak tau apa alasannya?"


"Richard, dia mungkin bersifat seperti itu karena dia ada masalah, atau mungkin dia sedang sibuk makanya dia jadi dingin gitu sifatnya jadi kamu tidak usah masukkan kehati ya anggap saja itu hanya angin."


"Iya Revan, terima kasih ya karena kamu aku sekarang bisa lebih tenang lagi. Mungkin yang kamu katakan memang benar, dia pasti ada masalah atau mungkin dia lagi sibuk makanya dia jadi marah sama aku."


"Gitu dong kalau kamu tersenyum gini kan cantik.."


"mm kamu bisa aja.."


"Baiklah aku pulang dulu!"


"Berhati-hatilah!"


"Baiklah!"


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Richard, kenapa dia bisa berubah seperti itu. Dan apa alasan dia seperti itu apa dia ada masalah sekarang? Lebih baik nanti aku tanya langsung aja sama dia..apa yang terjadi dengannya saat ini.."


Siang harinya tanpa sepengetahuan Richard, Revan diam -diam mendatangi markas Tayger lee untuk memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi dengannya saat ini.


"Revan ada apa?"tanya Gibran.


"Tujuanku datang kesini aku ingin menemui Richard dia ada kan didalam?"tanya Revan kemudian Gibran menjawabnya.


"Iya Richard ada disini tunggu saya panggilkan dulu!"


"Baiklah," balas Revan.

__ADS_1


"Richard ada seseorang yang mencari-mu?"


"Siapa?" sambung Richard agak penasaran.


"Dia Revan, Richard," balas Gibran.


"Baik suruh dia masuk sekarang," perintahnya.


"Baiklah tuan saya permisi!"


"Silahkan!"


Setelah memangil Revan, ia pun akhirnya masuk kedalam ruangan Richard. Dan menanyai apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya saat ini,  akan tetapi perilaku Richard juga sama terhadap Revan.


"Richard aku tidak tahu masalah apa yang terjadi sama kamu saat ini. Tapi aku mohon sama kamu jangan buat Resya menangis seperti ini lagi, selama ini dia sudah banyak menderita jadi kamu jangan melampiaskan kemarahan kamu padanya karena dia tidak tahu apa-apa. Jika kamu sedang ada masalah kamu bisa bicarakan denganku baik-baik tanpa harus membuat Resya meneteskan air matanya seperti ini lagi,"ucapnya kemudian Richard membalasnya.


"Jadi itu tujuan kamu datang kemarkas-ku saat ini, jika kamu hanya inggin menanyai itu saja maaf aku masih banyak pekerjaan sekarang jadi akan lebih baik jika kamu pergi saja dari sini, karena masalah itu juga tidak terlalu penting juga bagiku," balas Richard dengan suara yang agak dingin.


" Apa? Tidak penting menurutmu? Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu rich! Kenapa sikap kamu jadi jutek dan tidak perduli gini sama Resya. Dia itu istri kamu dan setidaknya kamu bisa hargai dia tapi kenapa kamu malah seperti ini?"


"Kenapa kamu jadi marah seperti ini? Memangnya aku salah berkata seperti itu! Sudahlah Revan jujur aja kali, kamu itu sebenarnya suka kan sama resya, makanya kamu jadi belain dia seperti ini," bentaknya kemudian membuat Revan naik darah.


Tanpa berfikir lagi Revan pun akhirnya mengungkap perasaan apa yang ada dihatinya sekarang. Dia mengakui kalau dirinya memang sangat mencintai Resya. Dia tidak akan membiarkan siapapun orang sampai berani menyakiti perasaanya apalagi sampai membuatnya mengeluarkan air mata. Siapapun mau orang lain atau  pun Richard sendiri. Dia tidak akan segan-segan untuk memberi perhitungan kepada orang itu.


"Dan jika kamu sampai berani menyakiti perasaanya, bahkan jika kamu sampai membuatnya nangis lagi, aku pastikan aku tidak segan-segan untuk beri perhitungan sama kamu, walaupun kamu adalah sahabatku sendiri pejamkan itu," gertak Revan yang tanpa berfikir dan langsung meninggalkan ruangan Richard tanpa sepatah kata pun lagi.


"Memang itu tujuanku Rev, Resya berhak bahagia sama kamu walaupun pada akhirnya aku sendiri yang akan merasakan penderitaan ini," gumamnya yang terlihat bersedih.


Setelah menemui Richard, Revan pun langsung kembali ke kantornya dan sesampainya dia tidak berhenti berkata sendiri. Bahkan sangking marahnya dia sampai-sampai menutup pintu mobil dengan sangat keras. Mengakibatkan orang-orang yang melihatnya pun terkejut dan takut.


"Gila apa yang sebenarnya ada dipikirannya si Richard. kenapa dia bisa berkata seperti itu padaku," gertaknya dengan membanting pintu mobil. 


DYAR...


Revan yang melihat orang-orang pada fokus kepada dirinya, dia pun langsung memarahi orang-orang tersebut.


"Hei! Kenapa kalian pada lihatin aku kaya gitu kalian mau aku pukul apa!"


"Tidak kapten maaf," balas salah satu orang yang ada dihadapannya itu.


"Ya sudah pergi sana..pergi," bentak Revan

__ADS_1


"Baik pak!"


BERSAMBUNG


__ADS_2