
Pukulan demi pukulan pun siap mendarat tepat mengenai dada kekar Richard. Akan tetapi Richard dengan sigapnya dia langsung menghindari setiap pukulan yang hendak akan dilakukan oleh para pelaku untuk mengenai dirinya
Merasa tenaga mereka lebih kuat dan tidak mampu untuk Richard tanding'i sendiri, Richard yang sudah dalam kondisi terpojok ia pun melihat kanan kiri untuk mencari ide dengan cara apa ia bisa berhasil keluar dari tempat ini. Karena dia tahu semakin lama ia mendekam disini, akan tambah semakin besar resiko dia akan celaka lantaran ia sadar jika dirinya sama aja seperti ayam yang sudah terkepung dengan adanya empat buaya yang siap melahapnya.
Tatapannya yang sedari tadi terus berputar di seluruh arah, hingga kemudian tatapannya pun teralihkan sesaat iya melihat gorden jendela berwarna putih yang sangat panjang yang sudah terpasang disela-sela jendela. Seketika ia pun mempunyai ide, dan tanpa berfikir lagi dengan langkah cepat lan sigap. Richard pun menarik gorden tersebut, alhasil gorden itu pun seketika terputus dari pengikatnya yang hanya mengisahkan kain panjang nya.
Mengikat kembali ujung Gorden dengan melilitkannya ke lingkaran tubuhnya, ditambah lagi mengikatnya kembali disalah satu pembatas pagar anak tanga Richard pun segera terjun dari ketinggian dua meter, meluncur kelantai bawah alhasil semua ide rencananya pun berhasil.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami Richard saat ini, Gibran dan kedua kawannya yang juga menjadi sasaran amukan mereka pun ikut kewalahan menghadapi mereka semua.
Selama beberapa menit mereka melawan para penjahat, berhasil mengalahkannya dengan tangan kosong, akan tetapi secara perlahan-lahan tenaga yang di miliki oleh Gibran mau pun yang lainnya seketika mulai memudar. Bahkan terlihat dari wajah mereka yang kelihatan sudah sangat kelelahan dengan nafas yang tidak beraturan membuat mereka bertiga bingung dengan cara apa lagi mereka bisa terbebas dari amukan sang Singa ini.
" Aku sudah sangat kelelahan, aku sudah tidak mampu lagi melawan mereka, mereka sangatlah kuat!" ucap Reza dengan nafasnya yang tidak beraturan, sesaat Gibran pun menimpali pembicaraannya.
"Iya! Mereka sangatlah kuat, terus sekarang apa yang harus kita lakukan, jika kita terus berdiam disini yang ada kita sama aja menyerahkan nyawa kita ke mereka?" balas Gibran yang mulai kebingungan
Richard yang berhasil terjun dan mendarat tepat disaat para penjahat yang hendak inggin memukul ketiga anak buahnya, pukulan demi pukulan pun tepat mereka dapat sesaat Richard yang meluncurkan dengan beberapa pukulan yang tepat mengarah kearah mereka.
Melihat kejadian yang barusan dilakukan Tuannya membuat ketiganya pun tercengang dan tidak bisa berkata sepatah kata pun lagi.
Melihat mereka yang sudah mulai tidak berdaya, ditambah lagi Richard yang sibuk mengurus para penjahat itu, satu penjahat yang melihat Richard ia pun spontan inggin menyerang dari arah belakangnya. Dan baru aja mereka mau memukulnya, Gibran yang dengan sigapnya ia langsung melemparkan sebuah guci kecil tepat mengenai kepala penjahat tersebut, alhasil orang itu pun seketika ambruk tidak sadarkan diri dengan adanya luka parah yang mengenai kepalanya.
Tergeletak dilantai dalam kondisi darah yang keluar tidak terhenti membuat Richard dan ketiga anak buahnya dengan segera mau gak mau mereka harus segera pergi dari tempat ini, jika mereka tidak inggin salah satu dari mereka akan menjadi korban selanjutnya.
"Apa Tuan tidak apa-apa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa, tapi dia, cepatlah pergi tinggalkan tempat ini jika kalian tidak mau diantara kita harus ada yang jadi korban selanjutnya, cepat ayo kita pergi!"
"Baik Tuan!"
Berlari sekuat tenaganya mereka pun akhirnya berhasil menghindari serangan amukan mereka, bergegas Richard pun mengaitkan se'balok kayu pada gagang depan pintu untuk bisa menahan para penjahat agar tidak berhasil keluar dari dalam ruangan.
"Sekarang cepatlah kita keluar, kita sudah tidak ada waktu lagi"
__ADS_1
"Baik Tuan!"
Selangkah Richard berhasil keluar dari dalam rumah itu. Akan tetapi sesampainya mereka dihalaman Rumah , mereka semua pun dibuat terkejut lantaran masih ada dua penjahat yang ternyata masih berjaga dihalaman sana.
Langkah yang tadinya bersemangat, kini dalam hitungan detik mau pun menit mereka harus mencari cara bagaimana caranya agar mereka bisa mengalahkan dua penjahat itu
"Apa kamu sudah punya rencana?" bisik Gibran kepada Reza.
" Belum! Saat ini pikiranku sedang mampet, tidak ada ide yang keluar dari otakku saat ini?" bisik balik Gibran.
"Aku dapat ide kita bagi menjadi dua, Reza kamu sama aku sedangkan Maikel kamu pergilah sama Gibran!"
"Baiklah ayo Tuan kita habisi mereka sekarang!"
"Hay pengecut sinilah bukan mereka lawanmu,"tantang Gibran pada salah satu musuhnya.
"Dasar bedebah rasakan ini!"
Pelaku yang berniat akan mengambil pisau tersebut. Maikel dengan sigap ia pun terlebih dulu menendang pisau itu mengunakan kakinya dan pisau itu pun mengarah jauh dari luar halaman.
Pelaku yang berusaha untuk melawan. Richard pun langsung memukulnya dan mengakibatkan pelaku pun tersungkur jatuh ketanah.
Tanpa berfikir lagi, Richard dan Maikel, pun langsung menjatuhkan diri ketanah yang dimana pelaku telah berada dilantai, akibat tindihan tak terduga itu pelaku pun tak berdaya, mereka melakukan pengulatan yang mengakibatkan pelaku pun kalah.
Sedangkan Gibran dan Reza yang dengan berhasilnya ia juga mampu membekuk tangan penjahat satunya. Akibatnya keduanya pun kalah tidak berdaya.
"Cepatlah ikat lah mereka, agar mereka tidak bisa memberontak lagi"
"Baik Tuan!"
Dengan tangan kosong, Gibran pun akhirnya melepaskan sabuknya sebagai bahan cadangan untuk mengikat keduanya. Setelah berhasil terikat satu sama lain, dengan langkah cepat mereka pun segera masuk kedalam mobil mereka dan pergi meninggalkan lokasi ini.
Berhasil melarikan diri dari tempat ini, Ruslan dan beberapa anak buahnya yang akhirnya turun kelantai satu, mereka dibuat terkejut dengan adanya salah satu anak buahnya yang sudah dalam kondisi tergeletak dilantai dalam keadaan tidak bernyawa dan pendarahan arah dibagian kepala.
__ADS_1
" Tuan, mereka telah berani membunuh salah satu anak buah Tuan?"
"Bedebah berani sekali mereka datang ke Rumahku dan melenyapkan anak buahku, segera pergi dari cari tempat dimana mereka berada sekarang. Ingatlah jangan coba-coba kembali jika kalian tidak kembali dengan membawa hasil. Satu lagi selidiki latar belakang dari Laki-laki yang bernama Richard? Karena aku masih punya satu nyawa yang belum aku ambil darinya!"
"Baik Tuan segera mungkin kita akan mendapatkan salah satu diantara mereka. Oh iya Tuan soal barang haram itu. Apa yang harus kita lakukan, mereka sudah terlebih dulu mengetahuinya. Saya yakin mereka pasti sedang menuju ke lokasi sana?"
"Soal barang itu sudahlah kita lupakan saja, jika kita datang dan menyelamatkannya yang ada nasib buruk akan menghampiri kita!"
"Tuan rupanya mereka sangatlah cerdik dan pintar lantaran mereka dengan pintarnya telah menjebak kita dengan mengaitkan se'balok kayu pada gagang depan pintu ini, alhasil pintu ini tidak bisa dibuka dari dalam Tuan?"
"Dasar bedebah cepat hancurkan kaca ini, hanya dengan cara inilah kita bisa terbebas dari kurungan Rumahku sendiri!"
"Baik Tuan!"
"Sial akibat pukulan tadi, perutku tambah terasa semakin sakit sekarang. Aku harus melakukan sesuatu agar mereka tidak ada yang curiga dengan kondisiku seperti sekarang ini," batin Richard yang dengan kuatnya ia menahan rasa sakitnya sendiri. Sembari tangannya yang fokus memegang laju setir kendaraannya.
"Tuan. Apa Tuan terluka cukup serius, kenapa Tuan sedari tadi seperti menahan sakit?" tanya Gibran.
"Aku tidak apa-apa, sekarang aku minta segera beritahu Revan untuk memblokir jalan **** Blok **** karena ada penyelundupan barang haram menuju kewilayahan sana!"
"Baik Tuan!"
Tak berselang lama, Gibran pun menggeluarkan benda pipih itu, menghubungi salah satu Nomor yang tertera pada layar ponselnya.
"📞 Iya Gibran ada apa?"
"📞 Revan aku perintahkan ke kamu segera blokir jalan ***"itu sekarang juga. Karena ada seseorang yang berniat mengedarkan barang haram menuju kewilayahan itu, jadi cepat blokir lah. Untuk alasannya biar aku sendiri yang menjelaskannya nanti!" timpal Richard yang langsung menjawabnya.
"📞 Baiklah sekarang aku akan perintahkan anak buahku untuk memblokir jalan tersebut!"
"📞 Baguslah kalau gitu!"
BERSAMBUNG.
__ADS_1