
Tanpa berkata mau pun mengucapkan sepatah kata lagi pada Richard, Resya pun akhirnya perlahan-lahan mulai pergi meninggalkan tempat ini, tanpa mau menengok kebelakang yang dimana Richard telah menatapnya. Resya terus berjalan tanpa mau memperdulikannya lagi.
"Ternyata kebencian yang kamu rasakan saat ini sangatlah susah untuk bisa memaafkan ku, baiklah aku tidak akan memaksamu dan ciuman tadi aku berharap itu adalah ciuman terakhir untuk kita. Surat ini kamu tenang saja aku akan menanda tangani surat ini, kamu berhak untuk bahagia jadi aku akan melepaskan kamu dengan ikhlas!"
Tanpa berfikir Richard pun akhirnya menggambil sepucuk surat yang berada diatas meja, dengan tatapan sedih dan putus asanya ia pun akhirnya bersedia menanda tangani surat perceraian ini tanpa adanya pemaksaan lagi.
Dalam perjalanan pulang, Resya yang memutuskan untuk berjalan kaki air matanya pun tak henti-hentinya mengalir dari kedua sudut matanya sesaat bayang-bayang ciuman tadi yang terus-menerus terlintas dalam benak pikirannya. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini kenapa dia bisa sampai sesedih seperti sekarang ini.
Berjalan dengan langkah kaki putus asa, dengan tatapan kosongnya ia pun akhirnya tersadar jika sedari tadi ia menangis dan terus menangis tanpa henti.
"Resya apa yang kamu lakukan kenapa kamu bisa menangis seperti ini. Apa kamu sedang menangisi Laki-laki sepertinya, Ingat Resya kamu masih punya waktu untuk menata kehidupan yang yang lebih baik lagi, jadi jangan tangis'i Laki-laki seperti dia, dia itu sama sekali tidak cocok untukmu jadi jangan menangislah!"batinnya yang kemudian ia pun mengusap air matanya.
Dengan mencoba tegar Resya pun akhirnya mengusap air matanya dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Dalam perjalanan Resya yang mengitari anak jalanan ini, ia tidak sengaja berpapasan dengan seorang preman yang inggin merampok sebuah tas yang berada didalam salah satu mobil mewah berwarna hitam, dengan usahanya memecahkan kaca mobil seseorang itu pun hampir saja melahap habis isi dari dalam mobil mewah tersebut.
"Tunggu, apa yang mau dilakukan oleh orang itu, hei! Apa yang mau kamu lakukan?" teriak Resya pada preman tersebut yang kemudian membuat si preman itu pun terkejut yang berusaha ingin melarikan diri.
"Sial ada orang yang lihat!"ucap Preman itu sambil menunjukkan wajah terkejutnya, tanpa pikir panjang lagi, Preman itu pun hendak inggin meloloskan diri, tapi naas dia telah tertangkap orang beberapa orang yang juga telah memergokinya terlebih dulu.
"Rampok ...rampok?"teriak Resya yang kemudian membuat beberapa orang yang sedari tadi tidak mengetahuinya, akhirnya mengetahui niat jahat dari si preman tersebut. Kemudian akhirnya si Preman berhasil dibekuk juga.
"Lepasin aku! Lepasin aku!" gertak preman yang berusaha untuk melakukan pemberontakan.
Tak lama kemudian pemilik dari barang yang mau dirampok pun datang, seseorang itu yang tak lain ia adalah seorang lansia yang usianya terlihat sudah sangat tua. Seseorang itu salah satunya orang yang memiliki cabang Restoran terbesar disini, terlihat jika lansia itu juga bukanlah golongan biasa.
Melihat ada sebuah keributan, tanpa berfikir supir dari lansia itu pun langsung menghampiri dan bertanya pada salah satu pengguna jalan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa ada keributan disini tas itu? Itu kan tas milik Nyonya Verlanta apa yang terjadi?" tanya supir yang usianya sekitar 30 an yang terkejut melihat barang berharga milik nyonya besarnya sudah jatuh di tangan orang lain.
"Iya ini kan tas milikku. Apa yang terjadi?" tanya nenek itu.
" Ini Nek hampir aja tas milik Nenek dirampok sama orang ini, untungnya saja Wanita ini langsung berteriak, Jadi anda selamat jadi korban rampok dari preman bajingan ini," balas salah satu warga yang memberi kesaksian pada Nenek tersebut.
"Kamu..terima kasih Nak, berkat bantuan kamu, saya tidak jadi kehilangan tas berharga saya ini. Karena didalam tas ini..ada banyak berkas-berkas yang sangat berharga, jika semua ini hilang saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, jadi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya."
"Iya Nek sama-sama aku juga senang karena bisa menolong Nenek, mendingan orang ini langsung dibawa kekantor Polisi aja, Biar pihak polisi yang memberikan hukumannya sendiri," timpal Resya yang mencoba memberi saran kepada para warga agar tidak menghakimi dengan cara sendiri.
Nenek yang inggin memberikan beberapa lembar uang pada Resya, dengan polosnya Resya pun menolak lembaran uang tersebut.
"Ini ada sedikit uang buat kamu, mungkin cuma dengan cara ini, saya bisa menunjukkan rasa berterima kasih saya ke kamu!" pinta Nenek itu sembari mengulurkan beberapa lembar uang.
"Maaf Nek, tapi saya tidak mau menerimanya, karena saya ikhlas menolong Nenek, lebih baik uang ini Nenek berikan kepada seseorang yang lebih membutuhkan dari pada saya, jadi maaf Nek saya menolaknya."
"Kalau itu saya tidak bisa menolak Nek, soalnya saya juga laper sekarang," ucap Resya yang sedikit malu.
"Ya sudah mari."
"Baik Nek!" balas Resya yang kemudian ia dengan langkah pelan, ia pun mulai mengikuti langkah Nenek itu.
Perjalan yang tidak memakan banyak waktu, mereka pun akhirnya telah sampai disalah satu Restoran terbesar dan mewah.
Bahkan menu makanannya terbilang sangatlah mahal, Resya yang menyadarinya ia pun berkata dalam hatinya.
"Nenek ini pasti sangatlah kaya raya, dan pastinya dia juga dari kalangan orang kaya raya dari menu makanan aja harganya segini? Kalau saja aku makan-makanan yang harga segini setiap hari, bisa-bisa besoknya aku mungkin sudah bangkrut!" batin Resya yang tidak percaya dengan siapa ia saat ini sedang berbincang.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Apa kamu tidak pernah makan ditempat seperti ini?" tanya Nenek itu yang spontan membuat pandangan Resya pun berbalik menatap balik Nenek itu.
"Mmm iya Nek, saya memang tidak pernah makan ditempat yang mewah seperti ini?"
"Ya sudah jika kamu inggin makan, pesanlah biar saya yang membayarnya. Oh iya siapa nama kamu?"
"Namaku Resya aninditya Nek, Nenek sendiri siapa namanya?"tanya balik Resya.
"Nama saya Nenek Rosalinda Verlanta, kamu bisa memangil saya dengan sebutan Nenek Verlanta?"
"Baiklah Nek Verlanta."
"Oh iya apa kamu sudah menikah?"
Mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh Nenek yang berada dihadapannya saat ini. Seketika pandangan dan raut wajah Resya yang tadinya bisa tersenyum lepas, seketika wajah senyumannya pun berubah murung dan melamunkan sesuatu. Melihat hal itu, Nenek itu pun lantas menggenggam tangan kanan Resya sembari mengatakan.
"Apa kamu ada masalah, jika kamu ada masalah cerita-lah pada Nenek, insyaallah Nenek pasti bisa membantumu?"
"Aku tahu Nenek ini sangatlah baik, tapi maaf aku tidak bisa bercerita tentang masalahku Nek. Aku juga sadar kalau sekarang aku sudah kenyang, jadi maaf aku harus pergi dulu ya Nek, karena masih ada tugas dan urusan yang belum saya selesaikan, jadi maaf saya harus pergi Nek!"
"Maaf apa kamu bersikap seperti ini karena kamu tersinggung dengan pertanyaan yang saya ucapkan tadi?"
"Tidak Nek, Nenek tidak salah kok, ya sudah saya pergi dulu permisi!"
Resya yang tanpa berkata sepatah kata lagi padanya, ia pun bergegas pergi meninggalkannya. Merasa terheran sekaligus penasaran dengan permasalahan apa yang dialami oleh Wanita itu, Nenek itu pun akhirnya menyuruh asistennya untuk menyelidiki latar belakang Wanita itu yang tak lain adalah Resya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1