
"Maaf Suster barusan saja saya mendapatkan kabar kalau Resya baru aja kabur dari Rumah Sakit apa itu benar?" tanya Revan yang setibanya di Rumah sakit ini.
"Iya tadi memang Pasien baru aja melarikan diri dari Rumah sakit ini tapi tak lama kemudian seseorang laki-laki pun datang dan membawanya kembali ke sini. Katanya pasien ini hendak inggin melakukan rencana bunuh diri makanya laki-laki itu bergegas membawanya kembali ke Rumah sakit ini?"balas Suster kemudian.
"Seorang laki-laki, kalau boleh tahu siapa seseorang itu. Apa dia pernah datang kesini sebelumnya atau mengenal pasien?"tanya Revan dengan menunjukkan wajah penasarannya.
"Tidak, orang itu tidak mengenal siapa Pasien ini, lantaran seseorang itu menemukannya di jalan dan dalam keadaan tidak kesengajaan!"balas Suster yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya.
"Baiklah kalau gitu karena anda sudah kembali, bisakah saya mengurus pasien yang lainnya?"timpal Suster itu lagi.
"Baiklah Sus pergilah, tidak apa-apa,"balas Revan yang kemudian Suster itu pun pergi dari ruangan rawat ini.
"Bunuh diri apa sampai segitunya kehancuran yang kamu rasakan saat ini, sampai-sampai kamu gunakan cara bodoh seperti itu Resya?"gumam Revan sembari dirinya yang memberikan tatapan manis pada Resya yang sedari masih tertidur lelap. Kemudian lamunannya pun tersadar setelah benda pipih yang berada di sakunya berdering.
"Siapa yang meneleponku?"gumam Revan yang kemudian ia pun mengambilnya sekaligus mengangkatnya.
📞" Iya Dav, gimana apa kamu sudah menemukan titik terangnya siapa orang yang sudah menabrak Resya pada waktu itu?"tanya Revan pada David.
📞" Untuk sampai detik ini kita belum menemukan bukti yang jelas tentang siapa orang yang menabrak Resya Kapten. Karena pada saat kejadian kecelakaan itu berlangsung, disini dalam kondisi diguyur hujan yang sangat deras. Jika ada bukti yang tertinggal disini pastinya bukti itu masih ada, akan tetapi karena kondisinya waktu itu sedang hujan deras tidak ada bukti yang tertinggal sama sekali disini. Dan yang kita temukan hanyalah menemukan handphone Resya sama sandal jepit sebelah kanan yang tertinggal disini, sedangkan sandal sebelah kirinya tidak tahu kemana kaburnya?"balas David sembari sedikit memberikan ledakannya.
📞 "Kamu bisa ngelawak juga ternyata. Oh iya aku sampai lupa apa disekitar lokasi tidak ada rekaman Cctv yang terpasang didekat sana?"tanya Revan lagi.
📞 "Tidak ada Tuan, disini tempatnya sangat sepi jadi tidak mungkin jika disini ada perekam Cctv sebagai pengintai diwilayah ini?"balas David lagi.
📞 "Sangat sulit ternyata. Karena jika ada cctv yang terpasang disini, kita tidak perlu lagi susah payah mencarinya. Akan tetapi karena Cctv itu tidak tersedia aku jadi bingung dengan cara apalagi kita bisa mengetahui siapa pelaku itu sebenarnya?"
📞" Ya sudah karena saya masih ada tugas saya tutup dulu ya telfonnya Kapten nanti saya akan menghubungi anda lagi.
📞 "Baiklah, kabari saya jika ada sesuatu yang kamu ketahui Dav!"
📞" Baik Tuan,"balas David yang kemudian mereka pun menutup telfonnya.
"Mumpung dia masih belum tersadar lebih baik aku keluar sebentar. Karena aku laper inggin memberi makanan dulu?"gumamnya yang sesekali ia pun menatap kearah Resya yang kemudian ia pun pergi dari ruangan ini.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian.
"Suster kenapa Suster membawa kembali bubur itu, bukannya Pasien sudahlah sadar?"tanya Revan yang setibanya kembali sesaat ia mendapatkan pesan.
"Pasien tidak mau makan, jadi daripada Muhajir lebih baik aku bawa kembali untuk pasien yang lainnya?"balas salah satu Suster yang masih membawa satu nampan bubur buat Resya.
"Ya sudah sini berikanlah padaku biar aku yang membereskannya Sus!" ucap Revan.
"Baiklah, ini!"balas Suster yang kemudian ia pun memberikannya pada Revan.
Segera masuk dan mendapati Resya yang hanya terdiam melamunkan sesuatu tanpa adanya suara yang ia keluarkan.
"Kamu, kenapa kamu tidak mau makan. Apa kamu tidak inggin sembuh dan keluar dari Rumah sakit ini?"ucap Revan yang kemudian ia pun meletakkan nampan berserta Bubur itu diatas nakas.
"Tidak, aku tidak inggin sembuh. Aku hanya inggin ikut bersama dengan mereka, Papa...Mama..dan anakku aku inggin bersama dengan mereka!" balas Resya yang seketika membuat Revan yang berada disampingnya ia pun terkejut, ia pun menggambil kursi ia gunakan duduk.
"Apa sebodoh ini kamu jadi orang. Apa kamu tidak bisa berfikir lebih jernih ketika inggin melakukan sesuatu. Apa kamu pikir dengan rencana kamu melakukan bunuh diri kamu akan bisa berkumpul dengan keluargamu di Surga sana, tidak itu semua tidak akan pernah terjadi. Dengan kamu melakukan bunuh diri yang ada kamu akan tambah semakin menambah banyak dosa dan yang ada kamu tidak bisa berkumpul dengan keluargamu disana dan yang ada malah kamu akan berada di N*raka dengan siksaan yang sangat besar dan lebih menyakitkan dari penderitaan yang kamu alami selama ini. Karena melakukan bunuh diri itu sangatlah tidak boleh dilakukan bagi semua umat Islam. Apa kamu mengerti!" tegas Revan yang kemudian membuat Resya malah menangis dengan sangat deras.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang ini sudahlah sangat membuatmu terluka dan hati kamu mungkin sudah hancur menjadi berkeping-keping, tapi sadarlah Tuhan tidak pernah diam melihat umatnya menderita seperti ini. Karena Tuhanlah yang sudah memberi ujian ini padamu. Selalu ingatlah kalau kamu tidak pernah sendiri, masih ada orang yang peduli dan sayang sama kamu entah itu siapa tapi aku yakin diluar sana masih ada orang yang sangat menyayangimu jadi berjuanglah, berjuanglah!"ucap Revan yang kemudian membuat Resya pun beralih melihat kearahnya.
"Tunggu kamu tahu darimana kalau aku seorang Polisi?" tanya Revan.
"Aku bertanya pada Suster tadi,"balas Resya.
"Sudahlah jangan banyak tanya sekarang makanlah, badanmu sudahlah sangat kurus apa kamu inggin melakukan diet lagi. Jadi jika kamu tidak inggin aku memaksamu lebih kasar lagi jadi cepat makanlah!" perintah Revan.
"Baiklah aku akan memakannya sekarang,"balas Resya yang kemudian Revan pun membantunya.
Berhasil membujuk Resya untuk mau makan, ia pun merasa sangat lega. Lamunannya pun terhenti setelah ia melihat ada seseorang yang dengan diam-diam telah menguping mereka.
"Siapa orang itu?"batin Revan yang tanpa berkata, ia pun langsung berlari. Sedangkan seseorang itu yang melihat jika dirinya telah kepergok,bergegas ia pun berlari
Akan tetapi niatnya untuk berlari pun gagal setelah Revan yang dengan sengaja langsung menendang sebuah kursi kecil kearah seseorang itu. Seketika orang itu pun terjungkal. Tak memberi ampun Revan dengan segera langsung melipat tangan kanan seseorang itu mengarah kebelakang.
__ADS_1
"Aww lepaskan aku! Lepaskan aku! Sakit. lepaskan aku!"gertak Seseorang itu yang tak lain ternyata dia adalah Gibran.
"Kamu anak buahnya Richard kan. Apa yang kamu lakukan disini apa kamu berniat inggin mencelakai Resya lagi. Apa Tuan kamu yang menyuruhmu untuk jadi mata-mata disini? Cepat katakanlah apa dia yang menyuruhmu?"gertak Revan yang tambah semakin mempererat tarikannya.
"Iya Tuanku lah yang menyuruhku untuk memata-matai kalian apa anda puas sekarang!"balas Gibran yang sesekali ia pun meringis kesakitan setelah Revan yang menindihnya dengan menginjak kaki Gibran dan menariknya.
"Bajingan seperti anda tidak boleh bebas lagi sekarang. Ayo ikut aku kekantor Polisi karena kamu pantas untuk mendekam disana, ayo cepat jalan dan ikutlah aku jika kamu tidak inggin menyesal, ayo cepat jalan sekarang!" gertak Revan.
"Sial jika aku sampai tertangkap, maka semuanya akan sia-sia, oh iya Polisi ini kan tidak membawa sengaja kenapa aku harus takut?"batin Gibran dengan senyum sinisnya, yang kemudian tanpa aba-aba yang ia berikan Gibran pun membanting tubuh Revan dari belakang hingga Revan pun terpelanting dan tepat jatuh terbalik.
BRUAK...
"Awww punggungku!" ujar Revan dengan memegang punggungnya.
"Anda memang seorang Polisi, tapi anda lupa aku adalah anak buah Tuan Richard yang tak kalah hebat dari Tuannya. Jadi sebelum anda ingin menangkap ku periksalah sengaja anda terlebih dulu. Apa anda sudah membawa senjata apa belum?"ucap Gibran dengan senyum sinisnya.
"Dasar bedebah!"balas Revan dengan memberikan tatapan tajamnya.
"Titip salam sama tukang urutnya ya?"ledek Gibran yang tanpa berkata lagi, ia pun bergegas pergi meninggalkan Revan.
"Heyy bajingan jangan kabur kamu! heyy...dasar bedebah berani sekali ia membanting ku seperti ini. Aku tidak bisa membiarkan mereka berhasil melukai Resya jadi akan lebih baik Resya harus segera pergi meninggalkan Rumah sakit ini, iya itu ide yang paling tepat.Pungungku aku rasa aku memang harus pergi ke tukang urut sekarang!" gumamnya yang kemudian ia pun bangkit dari tempat ia jatuhkannya tadi.
KEDIAMAN RICHARD.
"Sayang apa kamu tidak keberatan jika nanti kita datang ke Rumah sakit. Karena aku inggin memeriksakan janin yang ada dikandungan ku ini, kan sudah lama aku tidak memeriksanya jadi kamu gak masalah kan kalau kamu mau mengantarkan aku?"ucap Sandra pada Richard yang terduduk diatas meja laptopnya.
"Baiklah itu tidak masalah, nanti aku akan memberitahu Gibran agar dia bisa mengendalikan masalah yang ada di Markas jam berapa nanti kamu akan datang kesana?"balas Richard.
"Mmm kalau jam 10:00 nanti kamu bisa kan?"tanya Sandra.
"Baiklah itu tidak masalah,"balas Richard kemudian.
"Baiklah kalau gitu,"balas Richard.
__ADS_1
"Rencana yang sangat tepat, dengan aku mengajak Richard kesana. Otomatis dia akan tahu kondisi Resya seperti apa. Jika memang benar dugaanku ini jika Resya keguguran. Aku tidak bisa membayangkan semarah apa nanti Richard mengetahui kabar ini, mungkin yang lebih parahnya ia mungkin akan menceraikan Resya nanti?"batin Sandra dengan tersenyum sinis.
BERSAMBUNG