
Berjalan dengan langkah kaki pelan dan mengendap-endap, Sifa akhirnya memergoki keberadaan Erlangga dimana ia datang disalah satu markas yang tempatnya terlihat sangatlah kumuh layaknya seperti gudang tak terpakai, kini pandangan itu pun beralih menatap kearah suara arah dimana ia tanpa sengaja telah mendengar suara tembakan yang terdengar sangat jelas di telinganya.
Langkah kakinya pun seketika terhenti, sesaat ia pun melihat dan perlahan-lahan mulai menghampiri arah suara itu berasal.
Dan tak lama rasa curiga dan penasarannya pun akhirnya terkuak sesaat ia melihat seseorang yang tergeletak diatas tanah dengan banyak berlumuran darah di tengah perutnya.
Tangan dan kaki yang seketika lemas bahkan sangat sulit untuk ia gerakkan setelah ia tahu tindakan keji yang barusan dilakukan seseorang tepat di arah pandangannya saat ini. Dalam keadaan duduk dan menguping disalah satu semak-semak yang cukup tinggi, ia pun akhirnya tahu dengan sangat ada lima gerombolan orang yang berjas hitam yang baru saja melakukan tindakan keji tersebut.
Tidak inggin mencari masalah pada mereka, Bintang yang tadinya duduk, ia pun memutuskan untuk bangkit dari tempat persembunyiannya. Akan tetapi nasib baik pun menyertainya, baru selangkah ia melangkahkan kakinya ia sudah dibuat panik lantaran kakinya yang tak sengaja menginjakkan ranting kayu.
KRAK..
"Siapa kamu? apa kamu telah mematai-matai kita?
Terkejut lantaran ada seseorang yang memergokinya, dengan langkah cepat Sifa pun bergegas pergi untuk menghindari kejaran pada Pria berjas hitam tersebut.
Akibat kelalaiannya ini para gerombolan Pria berjas itu pun akhirnya mengetahui jika ada sesosok mata yang melihat langsung tindakan keji yang dilakukan mereka.
Tidak inggin mendapatkan masalah bergegas Sifa pun berlari sekuat tenaganya agar bisa terhindar dari kejaran mereka. Akan tetapi lagi-lagi ia pun ceroboh sesaat ia yang tak sengaja terpleset hingga ia pun terjatuh dan bersimpuh di tanah.
Tepat jatuh sesaat kakinya yang terpleset tanah yang licin. Dalam keadaan bersimpuh di tanah, Sifa yang berniat bangkit dan pergi dari tempat ini, wajahnya pun seketika berubah sesaat pandangannya yang tak sengaja melihat dari bawah yang terdapat sepatu hitam yang tiba-tiba menghadang dihadapannya.
Dengan pelan ia pun menundukkan kepalanya keatas dan betapa terkejutnya dia saat dia tahu siapa orang yang telah mengejutkannya tadi.
"Cepat bawa dia sekarang!. tegas salah satu Pria dengan muka garangnya.
"Apa yang inggin kalian lakukan kepadaku?" apa yang inggin kalian lakukan?" gertak Sifa yang terlihat panik menatap pandangan mereka.
"Jangan dengarkan dia, cepat bawa dia masuk kedalam sekarang," perintah seseorang bertubuh kekar yang tak lain adalah Erlangga.
"Baik Tuan," balas anak buahnya, berlalu mereka memaksa Sifa untuk ia bawa masuk.
Di sebuah ruangan terdapat banyak seseorang berseragam hitam yang tak lain adalah seorang bodyguard yang telah berbaris rapi menyambut kedatangan Tuannya. Melihat Tuannya berjalan bersama dengan seorang gadis.
__ADS_1
Setelah itu Erlangga menyuruh anak buahnya untuk mengikat gadis tersebut.
Kemudian Erlangga duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kursi tawanan yang tak lain adalah Sifa.
Erlangga menggepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan urat-urat lehernya terlihat jelas.
"Sebenarnya aku malas berhadapan dengan anak kecil, jadi cepat katakan padaku apa yang kamu lakukan tadi, kenapa kamu membuntuti kita. Dan apa rencana mu apa kamu sengaja ingin memata-matai kita? cepat jawab," bentaknya yang berhasil membuat Sifa berkeringat dingin.
"Ma, maafkan saya Om, maafkan saya, saya sama sekali tidak pernah ada niat untuk membuat om marah maafkan saya. Saya berani jujur kalau saya tidak pernah berniat untuk mematai-matai Om, tadi saya hanya berjalan kaki karena saya habis belajar kelompok di Rumah teman saya yang tempatnya tak jauh dari lokasi tadi dan kebetulan Rumah saya tak jauh dari lokasi tadi, jadi maafkan saya Om, maafkan saya.
"Apa kamu pikir kamu bisa menipu saya?" tanyanya yang terlihat tidak mempercayainya.
"Maaf Tuan, tapi dia bukannya anak gadis yang tadi berada di Rumah Tuan Erlangga. Dan saya tadi sempat melihat dia ini sedang belajar kelompok bersama dengan Putra Tuan yaitu Aden Reno dan teman Wanita yang satunya," timpal salah satu anak buahnya.
"Apa kamu serius?" tanya Erlangga lagi.
"Iya saya yakin Tuan, coba sekarang Tuan tanyakan pada Putra Tuan. Apalagi melihat gadis ini yang masih memakai seragam sekolah itu bukannya sudah membuktikan bukan," timpal anak buahnya.
"Baiklah saya akan menelfon Reno sekarang," sahutnya yang kemudian ia mengambil handphone-nya didalam sakunya.
" Papa...untuk apa Papa menelfon ku," gumam Reno yang kemudian ia pun mengangkatnya.
📞 Iya Pa, ada apa? kenapa Papa menelfon Reno apa Papa ada masalah?" tanya Reno balik.
📞 Tidak, Papa hanya ingin memastikan saja apa benar tadi di Rumah kamu belajar kelompok dengan dua teman kamu? tanya Erlangga yang membuat Reno terheran.
📞 Iya, tadi memang Reno beneran lagi belajar kelompok. Ada apa Pa, tumben-tumben Papa tanya?" tanya balik Reno dengan wajah bingungnya.
📞 Tidak, tidak ada apa-apa ya sudah Papa matikan dulu," balasnya tanpa berkata, Erlangga bergegas mematikannya.
📞 Baiklah," balas Reno yang terlihat keheranan.
"Gimana Tuan?" tanya anak buahnya.
__ADS_1
"Lepaskan gadis ini sekarang," perintahnya.
"Baik Tuan," balas anak buah, berlalu mereka melepaskan ikatan tali yang terdapat dikedua tangan Sifa.
"Pergilah," perintah Erlangga dengan pandangannya yang tanpa melihat kearah Sifa.
"Apa Tuan serius? tanya Sifa yang tidak percaya.
"Iya saya serius cepat pergilah," perintahnya dengan tegas.
"Baik Tuan terima kasih, terima kasih," ucap Sifa yang berlalu ia bergegas pergi dari hadapannya.
Bergegas dikeluarkan dari markas ini. Dan pandangan mata Sifa yang tak henti-hentinya memandang kesemua arah. Dan Sifa melihat jika dalam markas ini terdapat lah beberapa senjata ilegal sekaligus benda-benda yang menurutnya sangatlah langka.
"Jadi disini kalian menyimpan semua senjata itu," batinnya dengan tersenyum.
Tak jauh berbeda dari lokasi penyanderaan yang dialami Sifa. Lebih tepatnya dikediaman Mamanya Reno, Sandra terlihat panik apalagi melihat jika Silvi ternyata punya saudara kembar dan ia baru menyadarinya sekarang.
Apalagi Sandra juga tidak bisa dibohongi ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang terlihat licik. Dan jika ia memandang mata Sifa terlalu dalam terdapatlah jiwa berbeda yang dimiliki oleh Sifa, berdiri sembari memandang pemandangan dari dalam jendela sembari memikirkan sesuatu, Sandra akhirnya dihampiri oleh Reno yang sedari tadi telah memperhatikannya.
"Mama kenapa? kenapa Mama terlihat sedang memikirkan sesuatu apa Mama ada masalah? tanya Reno yang kemudian Mamanya membalikkan tubuhnya.
"Tidak sayang, hanya saja Mama merasa ada yang aneh dengan Sifa.
"Sifa. Maksud Mama kembaran Silvi, memangnya dia kenapa?
"Entahlah yang jelas Mama merasa dia terlihat aneh saya. Bahkan pandangannya sudah membuktikan jika dia bukanlah gadis biasa jadi saran Mama mulai sekarang kamu berhati-hatilah ketika dekat dengannya. Dan soal Silvi kayaknya Mama punya rencana lain. Dan setelah Mama pikir-pikir jika dia dibiarkan hidup terlalu lama itu akan membuat kita tambah bahaya. Apalagi dia juga tahu siapa identitas Mama jadi pastinya dia tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi
"Maksud Mama. Mama ingin membunuhnya?
"Sepertinya seperti itu.
"Baiklah aku hanya ikut saran Mama aja.
__ADS_1
BERSAMBUNG