
Aku tidak tau lagi kesalahan apa yang aku perbuat kepadanya, kenapa dia sampai segitu membenciku. Bahkan dengan kasarnya dia tega memperlakukan aku seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan sekarang untuk apa adanya sebuah janji suci yang barusan kemaren ia ucapkan jika pada kenyataanya ia yang tak lain ada Suamiku sendiri dia malah memperlakukan aku seperti ini.
Dari pada aku harus hidup dengan bayang-bayang penderitaan lebih baik aku pergi saja dari sini. Aku tidak perduli se'marah apa dia nanti yang jelas aku harus meninggalkan rumah terkutuk ini.
"Tapi dengan cara apa aku bisa kabur dari dalam gudang ini, dia bahkan tidak mengijinkan orang-orang untuk menolongku. Tapi jika aku terus berdiam diri disini aku rasa masalah lebih besar pasti akan menghampiriku,"batinnya yang merasa cemas.
Mata yang beralih melihat ke kanan maupun ke kiri untuk mencari sesuatu, hingga pandangannya seketika fokus pada jendela yang ternyata masih berfungsi.
"Jendela, jadi ternyata ada jendela aku tahu sekarang aku harus kabur lewat jendela ini,"ucapnya yang kemudian tanpa berfikir resiko apa yang akan terjadi, ia bergegas mencongkel jendela itu dengan linggis dan bergegas ia pun loncat dari ketinggian yang sekiranya hanya satu meter.
Akan tetapi niatnya untuk kabur dari dalam gudang ini yang awalnya berhasil lancar, sesaat kemudian hambatan pun datang setelah pintu jendela yang tidak sengaja terpentok keras yang akhirnya bunyi pun keluar dari hingga menuju ke kuping Richard yang saat itu sedang makan bersama dimeja makan.
"Astaga Resya kamu ceroboh sekali,"ucapnya sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Suara apa itu?" tanya Richard pada kedua orang yang ada dihadapannya.
"Itu bukannya suara berasal dari gudang, apa dia melarikan diri?" timpal Mama mertua.
"Brengs*k!" balas Richard yang kemudian ia bergegas pergi menuju ke gudang disusul oleh Sandra, Mamanya dan juga Bibik.
Sesampainya Richard didepan Gudang ia langsung menendang pintu dengan sangat keras dan alhasil pintu yang tadinya tertutup rapat kini berubah menjadi hancur berantakan dilantai.
"Kemana dia? Kenapa dia tidak ada disini?" tanya Sandra dengan melenggak-lenggok kanan, kiri.
"Sial dia melarikan diri, kalian tunggu disini biar aku yang mencarinya,"balas Richard segera berlari keluar.
"Astaga Resya kenapa dia senekat ini. Sekarang Tuan Richard sudah malah besar kira-kira apa yang inggin dilakukan tuan Richard nanti?" batin Bibik yang terlihat cemas.
"Seru juga ya lihat pertengkaran seperti ini?" batin Sandra dengan tersenyum.
Tanpa meninggalkan pesan maupun surat yang berisi pesan untuk Richard. Resya akhirnya diam-diam pergi meninggalkan rumah ini, karena dia sudah tidak sanggup lagi hidup didalam Rumah yang akan membuat hidupnya akan tambah semakin menderita karena hinaan dan juga siksaan batin yang dilakukan oleh Suaminya sendiri, Tanpa sepengetahuan Richard. Resya akhirnya berhasil keluar dan pergi dari Rumah yang dimana menjadi tempat siksaannya.
Baru beberapa menit setelah Resya berhasil kabur dari rumah Richard, Resya sudah mulai kecapean setelah ia berlari menghindari kejaran Richard. Nafas berat pun mulai menyertainya hingga ia putuskan untuk duduk dipinggir pembatas jalan.
"Lelah sekali, tapi syukurlah aku berhasil kabur dari kejaran pria jahat itu jadi sekarang aku bisa merasa aman,"gumam Resya yang kemudian tiba-tiba dari arah belakang, seseorang langsung menarik lengan tangannya dan siapa sangka orang itu ternyata yang tak lain adalah Richard,
"Kamu!" ucap Resya dengan wajah terkejutnya.
"Cepat masuk!" perintah Richard yang dengan kasarnya langsung mendorong tubuh Resya kedalam mobil.
"Jangan coba-coba untuk kabur lagi, jika kamu gak mau aku menghabisi mu nyawamu pada hari ini juga!" perintah Richard dengan wajah seramnya.
"Ma*i aku, dia sudah menemukanku terlebih dulu sebelum aku kabur lebih jauh. Sekarang apa yang harus aku lakukan, apa dia benar-benar akan membunuhmu?" batin Resya terlihat takut.
Setelah Richard menjalankan lagi laju kendaraannya, mereka memasuki kawasan jalan tikus yang akan di lalui nya Resya yang merasa agak merinding karena jalanan yang sedang mereka lewati terlihat sangatlah sepi bahkan hanya tidak ada satu pun orang yang melintasi jalanan tersebut.
__ADS_1
"Jalan ini seram sekali kenapa kamu malah melewati jalan ini, apa tidak ada jalan lain lagi apa?" tanya Resya tapi dihiraukan oleh Richard.
Mendengar perkataan yang diucapkan Resya, Richard hanya terdiam tanpa menggeluarkan suara sepatah kata pun.
"Mendingan aku minta sama kamu, sekarang kita balik kejalan awal, aku mempunyai firasat tidak enak jadi lebih baik ayo cepat kita tinggalkan jalan ini!"perintah Resya.
"Sekali lagi kamu berbicara maka aku tidak akan segan-segan untuk menurunkan mu dijalan ini!"ancam Richard dengan menunjukkan tatapan tajamnya.
Mendengar ancaman yang diucapkan Richard, bibir Resya seketika terdiam dan tidak berani untuk menggerakkannya.
Karena bukan warga asli sini jadi mereka tidak mengetahui kabar yang sering dibicarakan oleh orang-orang yang tempat tinggalnya tak jauh dari jalan tikus ini. ditambah lagi lampu penyinaran juga tidak terlalu banyak.
Richard yang dengan sikap santai dan dengan memegang setir mobil. Tiba -tiba ada hal yang seketika membuat pandangan mereka seketika teralihkan setelah mereka melihat sendiri dari arah depan jalan yang hendak akan mereka lewati terdapat seseorang yang sedang dalam keadaan tergeletak ditengah jalan dan kondisi tidak berdaya didampingi dengan adanya kendaraan roda dua yang tergeletak tak jauh dari pria itu.
"Siapa itu? Biar aku periksa!"
"Jangan!" sahut Resya yang langsung menghalangi Richard dengan menarik tangan kirinya.
"Aku bisa jaga diri, apa kamu lupa aku ini seorang penjahat jadi kamu gak usah khawatirkan aku, yang perlu kamu khawatirkan sekarang persiapkanlah diri kamu menghadapi hukumanku dariku nanti!" tegas Richard.
Tanpa berfikir yang kedua kalinya, Richard dengan beraninya dia pun memberhentikan laju mobilnya. Kemudian keluar dari mobil, tak lupa ia pun menyelipkan sebuah pis*ol dibalik bajunya sebagai jaga-jaga dan menghampiri seseorang yang sedang tergeletak tersebut.
"Suasana disini sangatlah sepi, apa mungkin orang ini korban tabrak lari. Coba aku periksa detak jantungnya." berjongkok disamping orang itu, ia langsung memeriksa detak jantungnya .
"Detak jantungnya aman!"
" Ini bukanlah darah, tapi ...,"ucap Richard yang melirik kearah belakang.
Kemudian tiba-tiba dari belakang Richard berjongkok terdapat lah tiga orang bertubuh kekar dengan tubuh yang terselimuti tato yang juga membawa sebuah senjata tajam seperti gol*k dan celurit.
" Bos apa yang harus kita lakukan pada pria ini..dia mempunyai kendaraan yang sangat bagus. Dan jika kita bisa mendapatkannya itu pasti akan berharga sangat tinggi?" gumam salah satu pelaku pada Bos atasannya.
"Kalian, apa yang akan kalian lakukan. Apa kalian inggin membegal ku?" tanya Richard tapi tidak dihiraukan oleh mereka.
"Banyak omong, cepat serang laki-laki itu sekarang!" perintah sang bos.
"Baik Bos."
Pukulan demi pukulan pun siap mendarat tepat mengenai dada kekar Richard. akan tetapi Richard dengan sigapnya dia langsung menghindari setiap pukulan yang hendak akan dilakukan oleh para pelaku untuk mengenai dirinya.
"Dasar bajing*n jika kalian berniat melawanku, aku rasa kalian akan kalah karena aku bukanlah saingan kalian,"ucap Richard yang terus-menerus memberi pukulan ke mereka.
"Banyak omong," timpal pria itu yang langsung memukul tepat dada Richard.
"Astaga apa yang harus aku lakukan sekarang. Dia bisa ma*i kalau melawan mereka semua sendiri, apa yang harus aku lakukan sekarang, aku gak bawa ponsel lagi gimana dong ini,"gumam Resya yang terlihat sangat cemas dan bingung.
Karena pelaku yang berjumpa melebihi tiga orang, sedangkan dia hanya satu ditambah lagi dengan senjata yang digunakan pelaku. Richard pun mulai kesusahan melawan mereka apalagi menghindari setiap serangan pelaku yang inggin menebasnya mengunakan gol*k dan juga celurit yang mereka gunakan sekarang.
__ADS_1
Berhasil terhindar dari serangan celurit begal itu, Richard yang tanpa sengaja telah menjatuhkan Pistol yang sedang ia sembunyikan tadi, ia yang inggin mengambilnya tenaganya sudah tidak sanggup lagi ketika ketiga pria itu terus memukulinya tanpa henti. Da*ah pun bercucuran setelah lengan kanannya yang terkena satu tebasan celurit penjahat itu.
"Aw..lenganku!" rintihan Richard dengan menahan menekan lengkapnya.
Karena sudah cukup lelah, Richard yang akhirnya berpasrah dan pukulan demi pukulan pun dilontarkan oleh pelaku yang terus menerus memukuli tubuh Richard hingga babak belur.
Melihat Richard yang sudah tidak berdaya dengan terkapar di tanah, pelaku yang berniat inggin menusukkan pisau tepat mengenai dada Richard, Resya yang melihatnya ia tidak tinggal diam menyadari pistol yang dibawa Richard terpental jatuh tepat dihadapannya dengan sigap Resya pun memungut pistol itu dan menembakkan satu peluru tepat mengenai kaki kanan pria pembegal itu.
Dyar....
Pelaku yang melihat temannya sudah tidak berdaya lagi akibat tembakan itu pelaku yang beralih melihat kearah Resya mereka yang berniat inggin menghampirinya Resya dengan langsung ia menekan tekanan yang akhirnya satu tembakan lagi tepat mengenai si pelaku.
Melihat kedua temannya tidak berdaya diatas tanah ia yang tidak mau kehilangan nyawa ia langsung meninggalkan kedua temannya yang dalam keadaan tergeletak dan berlumuran darah tersebut.
Merasa tenaganya cukup kuat lagi Richard pun menghampiri kedua pelaku yang sudah terkena tembakan tadi, tapi masih tersadar. Dengan mengarahkan tangan kanannya kebelakang dan menginjak luka akibat tembakan tadi akibatnya dua pelaku itu pun meringis kesakitan.
"Ahhh sakit ... Ahh!"
"Cepat katakan padaku siapa orang yang sudah menyuruh kalian untuk bertindak seperti ini, cepat katakan!"tanya Richard dengan tegas.
"Gak aku gak mau memberitahu mu, lebih baik aku ma*i dari pada aku harus mengatakan yang sejujurnya pada kamu!"
"Mmm baiklah jika itu keinginan kamu."
Dyar...Dyar...
Tak mau menunggu lama Richard pun berhasil menembakkan dua peluru tepat mengenai dada pelaku. Alhasil pelaku itu seketika tewas ditempat.
"Tidak!" teriak temannya yang histeris melihat temannya tewas dihadapannya sendiri.
"Kamu sekarang lihat kan gimana nasib malang yang dialami teman kamu ini, jadi sekarang cepat kasih tahu aku, siapa orang yang menyuruhmu bertindak dan berusaha inggin membunuhku cepat kasih tahu aku.
Jika kamu gak mau nasib kamu akan sama seperti yang dialami teman kamu ini cepat katakan!"
"Ba ... baiklah aku akan memberitahumu. Orang yang menyuruh kita, dia ... Dia ... Adalah Alex. Dia yang menyuruh kita untuk membunuhmu,"balas Pelaku itu dengan penuh wajah ketakutannya.
"Pintar,"balas Richard dengan tersenyum.
Tak mau memberi kesempatan yang kedua kalinya pada orang yang salah. Dengan langsung Richard pun mengarahkan pis*olnya tepat kearah pelaku itu. Dan lagi...dan lagi satu tembakan pun tepat mengenai pelaku itu, tewas ditempat itulah yang terjadi saat ini.
Dyar..
"Dan itu adalah tembakan terakhir karena kamu sudah beraninya bikin warga disini cemas dan merasa ketakutan. Sekaligus itu adalah balasan karena kamu sudah sadisnya memperko*a seorang wanita yang tidak berdosa ditempat ini dan membuangnya ke jurang untuk menghilangkan jejak. Jadi rasakan lah!" ucap Richard yang kemudian ia pun menghampiri Resya. Yang sedari tadi hanya terdiam sembari membungkam mulutnya sendiri setelah ia menyaksikan dua ma*at yang tergeletak dihadapannya.
" Kenapa kamu hanya diam. Sekarang kamu tahu kan siapa aku. Apa yang pernah aku katakan maka tidak mungkin akan aku mengingkarinya. Dan perkataan ku yang bilang aku akan menghukum mu itu juga masih akan berlanjut, tapi karena kamu sudah menyelamatkanku maka sekarang kamu bebas. Dan aku tidak akan menghukum mu, jadi cepat sekarang kamu jalankan mobil ini aku tidak bisa mengendarai karena luka di lenganku ini, cepat!" perintah Richard dengan kondisinya yang masih memegang erat lengannya.
"Ba ... Baiklah," balas Resya sedikit takut.
__ADS_1
BERSAMBUNG.