
Dalam sebuah ruangan yang nampak megah dan sangat mewah terdapat lah seseorang yang sedang termenung meratapi nasibnya, dengan terduduk disalah satu sofa berwarna hitam sembari lirikan matanya yang terus-menerus melirik ke suatu arah.
"Aku sadar jika kekayaan yang aku miliki selama ini ternyata tidak sebanding dengan kesepian dan kekecewaan yang aku rasakan saat ini. Untuk apa pula aku mendapatkan semuanya jika apa yang aku butuhkan nyatanya tidak semudah itu untuk aku dapatkan. Penyesalan, memang pada dasarnya semua orang akan merasakan apa itu penyesalan dan itulah yang aku rasakan saat ini, jika aku punya kesempatan yang kedua, mungkin aku tidak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan itu untuk membahagiakannya, tapi aku sadar waktu tidak semudah membalikkan fakta dan keadaan,"ucapnya yang baru saja terhenti yang kemudian ia pun mendengar suara ketokan pintu dari luar.
TOK......TOK.....TOK.
"Siapa yang bertamu hari ini?"tanya Richard pada dirinya sendiri, tak mau menunggu ia pun segera bangkit dan membuka pintu depan tersebut.
Setelah tepat berada didepan pintu, sesaat ia membukanya ia pun terkejut dengan siapa seseorang yang hadir dihadapannya saat ini.
"Resya...."
"Ternyata kamu masih ingat siapa aku?"balas Resya yang tanpa menunggu ijin dari Richard, ia pun segera masuk kedalam.
"Resya, ada apa? Kenapa kamu datang kesini?"tanya Richard ketika tahu jika Resya lah orang yang bertamu pada hari ini.
"Ternyata selama aku pergi kamu nampak sangatlah susah kalau dilihat dari raut wajahmu saat ini, dimana Istri dan Mertuamu kenapa Rumahmu sangatlah sepi tanpa berpenghuni seperti ini?" tanya Resya dengan melepaskan kaca matanya.
"Ka ...kamu sudah bisa melihat?"
"Kenapa? Apa kamu terkejut?"
__ADS_1
"Sudahlah kamu jangan banyak berkata, apa yang sebenarnya kamu inginkan, kenapa kamu bisa datang kesini?"
"Tujuanku datang kesini. Aku hanya inggin memberikan sepucuk surat ini untukmu. Karena setelah aku pikir-pikir setelah aku kehilangan Anak kita, untuk apa aku harus mempertahankan laki-laki sepertimu, jadi keputusanku sekarang aku inggin kamu tanda tangani surat perceraian ini karena aku mau kita pisah!"
Mendengar perkataan apa yang barusan dikatakan Resya, dengan Resya yang mengulurkan sebuah surat Padanya balasan yang diberikan Richard, ia malah tertawa dan menganggap jika apa yang dilakukan Resya saat ini hanyalah sebuah gurauan semata.
"Kenapa kamu tertawa. Apa aku terlihat sedang bergurau sekarang?" tegas Resya dengan tatapannya yang tambah semakin tajam kearah Richard.
"Untuk apa kamu memberiku surat ini, jika pada kenyataanya aku tidak akan pernah mau menanda tangani surat perceraian itu!"
"Apa maksudmu, kamu tidak inggin menanda tanganinya. Apa kamu inggin bermain-main denganku?"
"Aku tidak pernah inggin bermain-main atau pun mempermainkan perasaanmu, tapi aku lakukan itu karena aku sadar jika aku sangat mencintaimu, jadi aku tidak inggin melepaskan kamu yang kedua kalinya!"
"Kalau aku tidak mau, apa kamu inggin terus memaksaku?"balasan Richard yang beralih membuat Resya pun berbalik menatapnya.
Tatapan Resya yang semakin tajam melihat kearahnya ditambah lagi ucapan Resya yang terhenti dan hanya menatapnya dengan tatapan sinis membuat Richard pun akhirnya perlahan-lahan mulai melangkahkan kakinya menuju kearah Resya dimana ia berdiri tegak sekarang.
Dengan tatapan Richard yang berdalih menatap dirinya dan memperhatikan dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat pandangan Resya pun seketika menciut dan terlihat sedikit cemas.
"Apa yang ingin kamu lakukan. Apa kamu inggin macam-macam denganku?"
__ADS_1
Tak menghiraukan ucapan yang dikatakan Resya, Richard pun tambah semakin mendekatkan dirinya kearah Resya hingga rasa panik yang Resya rasakan saat ini membuatnya tak berfikir yang kedua kalinya hingga ia yang tak segan-segan memberikan satu tamparan yang tepat mengenai pipi kanan Richard.
Terkejut dengan tindakan apa yang dilakukan Resya saat ini, Richard hanya mengusap pipinya yang masih merasa panas akibat terkena tamparan tadi.
"Itu adalah balasan karena kamu sudah dengan beraninya bertindak seperti itu. Aku pertegaskan ke kamu biar pun kita masih sah menjadi sepasang Suami, Istri jangan berharap kalau aku akan terpikat sama rayuanmu, jika hari ini kamu tidak inggin menanda tanganinya dengan senang hati aku akan menunggu keputusanmu itu!"
Selangkah Resya akan pergi dari hadapan Richard, dengan sigap Richard pun menarik tangan kanan Resya dan mencengkram kedua tangannya.
"Jika rayuanku tidak berhasil meluluhkan hatimu. Aku rasa kali ini aku akan bisa berhasil meluluhkan nya, jadi nikmatilah!"
Ucap Richard yang langsung terhenti sesaat ia melihat bibir mungil Resya, tanpa berfikir yang kedua kalinya, ia pun memberikan satu kec*pan tepat pada bibir mungil tersebut. Terkejut dengan tindakan apa yang dilakukan Richard saat ini, Resya hanya menatapnya dengan tatapan bingung dan kosong.
"Apa kec*pan itu masih sangatlah kurang untukmu?"tanya Richard yang hanya membuat Resya terdiam tanpa berkata.
Tak mau menyia-nyiakan waktu yang berharga, Richard yang sudah diselimuti oleh hawa na*su iya pun kembali mengecup bi*ir Resya beberapa kali, bahkan bukan hanya memberikan kec*pan tapi iya juga tak segan-segan menguasai dan ******* secara perlahan-lahan bib*r tersebut.
Tersadar dengan apa yang dilakukannya saat ini, Resya pun mendorong Richard yang kemudian dengan langsung ia pun memberikan satu tamparan lagi pada Richard.
"Semakin lama kamu dibiarkan, kamu tambah semakin ngelunjak. Itu adalah balasan karena kamu dengan beraninya mengecup ku tanpa seijin ku. Bahkan dengan beraninya juga kamu mempermainkan bib*r manisku ini apa kamu mengerti!" tegas Richard.
Tanpa berkata mau pun mengucapkan sepatah kata lagi pada Richard, Resya pun akhirnya perlahan-lahan mulai pergi meninggalkan tempat ini, tanpa mau menengok kebelakang yang dimana Richard telah menatapnya. Resya terus berjalan tanpa mau memperdulikannya lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG.