
Aku memang tidak pernah tahu seperti apa wajah anda yang sebenarnya. Aku rasa anda adalah Wanita yang sangatlah cantik, sama seperti kecantikan anda yang dengan berbaik hati mau mendonorkan kedua kornea mata anda untukku.
Bagiku anda adalah pahlawanku, aku tidak bisa berkata banyak pada anda, tapi yang pasti aku sangat berterima kasih pada anda. Karena anda, aku bakal bisa melihat semuanya pemandangan indah yang ada dimuka bumi ini, hanya itu yang bisa aku ucapkan jadi sekali lagi terima kasih, terima kasih karena anda sudah berbaik hati mau mendonorkan kedua kornea mata anda untukku terima kasih.
Air mata yang akhirnya bercucuran dari kedua sudut matanya. Richard yang melihat Resya, ia inggin sekali mengusap air mata itu, tapi apa daya yang bisa ia lakukan, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah terdiam tanpa berani menunjukkan suaranya yang sebenarnya.
"Aku tidak tahu perasaan apa yang akan kamu rasakan nanti, jika kamu akhirnya tahu kalau kornea mata yang tertanam pada kedua matamu adalah kornea mata dari Bibik minah. Orang yang sangat kamu kenal sendiri Resya, maafkan aku Resya...maafkan aku, karena aku belum bisa berterus terang kepadamu maafkan aku!"batinnya yang hanya bisa terdiam, sembari melihat Wanita yang berada disampingnya meneteskan air matanya.
Awalnya yang suasana nampak sangat sedih, kini hanya hitungan menit suasana pun berubah menjadi mencekam setelah Richard yang tiba-tiba berlutut meringis kesakitan, sembari memegang perutnya dengan erat.
Revan dan Natali yang melihatnya. Seketika pandangan mereka pun beralih menatap kearahnya dengan menunjukkan ekpresi terkejutnya. Tak inggin Resya mencurigai akan kehadiran dirinya yang berada disampingnya, Richard pun dengan sengaja, ia menahannya sembari membungkam mulutnya sendiri dengan keras, dalam keadaan tidak berdaya dan bersimpuh di tanah. Richard pun dengan sekuat tenaga ia menahan semuanya, dan memberi kode pada mereka untuk secepatnya membawa Resya pergi dari hadapannya.
"Resya..mendingan sekarang kita pergi dari sini, ada orang gila yang mulai mendekat kearah kita. Aku takut kalau orang gila itu bakal menggangu kita, jadi lebih baik kita secepatnya pergi dari sini ya Resya?"ucap Natali yang terlihat sangatlah cemas, sembari pandangannya yang terlihat sangatlah cemas kearah Richard.
"Pergi dari sini, tapi Natali aku...."
Belum juga Resya selesai berkata, Natali yang dengan sigap ia pun membawa Resya agar secepatnya pergi dari tempat ini. Akhirnya rencana yang ia lakukan pun berhasil dengan membawa Resya pergi dan kembali masuk kedalam Mobilnya.
__ADS_1
Melihat Resya yang berhasil pergi dan menjauh dari hadapannya, Richard pun akhirnya mulai berani membuka mulutnya dan sesekali ia pun merintih kesakitan.
"Ah...."rintihan sakit yang Richard rasakan, bahkan Revan yang berada disampingnya, ia hanya bisa terdiam dengan perasaan yang terlihat sangatlah cemas.
"Richard kamu kenapa. Apa yang kamu rasakan, kenapa kamu sampai meringis kesakitan seperti ini, kamu tidak apa-apa kan?"tanya Revan yang juga terlihat sangatlah khawatir.
"A...aku tidak papa ini mungkin efek dari tusukan tadi, jadi cepat bawalah aku pergi dari sini. Pesankan aku grab online agar aku cepat sampai ke Rumah, cepat pesankan aku mohon!" perintah Richard yang masih dengan eratnya ia menggenggam perutnya.
"Aku akan pesankan tapi kamu harus berkata jujur padaku. Apa yang sebenarnya terjadi padamu sekarang, kenapa kamu bisa meringis sakit seperti ini. Aku tidak percaya kalau ini adalah efek dari tusukan itu. Aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, jadi cepat katakan padaku!" tegas Revan sembari berlutut tepat didepan Richard.
"Baiklah jika kamu masih tidak inggin berkata jujur padaku, tapi yang jelas cepat atau lambat aku pasti bakal mengetahui rahasia apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?"tegas Revan yang kemudian ia pun dengan segera menghubungi salah satu nomo yang tertera pada layar ponselnya.
******
Tak jauh berbeda dengan kecemasan dan kekhawatiran yang dirasakan Natali dan Juga Revan saat ini. Secara diam-diam Resya pun merasakan hal yang sama, apalagi sesaat ia yang tak sengaja mendengar suara rintihan seseorang yang terdengar sangat jelas dari telinganya tadi.
"Apa aku tadi hanya salah dengar, atau aku memang lagi mendengar suara seseorang yang lagi merintih kesakitan, tapi jika beneran ada seseorang, siapa seseorang itu?" batinnya yang kemudian ia pun bertanya pada Natali yang sedari tadi fokus menatap kearah luar Mobil ini.
__ADS_1
"Natali?" tanya Resya yang kemudian Natali pun beralih menatapnya.
"Iya, Resya ada apa?"
"Aku tadi sempat mendengar seseorang kayaknya lagi merintih kesakitan. Apa didekat kita tadi ada seseorang yang sedang lagi kesakitan?"tanya Resya yang spontan membuat Natali pun sangat terkejut.
"Seseorang yang lagi kesakitan, ka ...kayaknya tidak ada Res, mungkin kamu lagi salah dengar lagi tadi, sedari aku disana tidak ada orang sama sekali tuh terkecuali hanya kita bertiga."
"Kok aneh ya, padahal tadi aku merasa mendengar dengan sangat jelas suara rintihan itu, mungkin aku yang lagi salah dengar tadi Nat, oh iya mana Revan kenapa hanya kita berdua yang berada disini, dimana dia?" tanya Resya.
"Kak Revan aku lihat dia lagi berbicara dengan seseorang, tak lama ia juga akan kembali!"balas Natali yang merasa menyesal.
"Oh baiklah kalau gitu."
"Maafkan aku Resya! Maafkan aku, karena aku sudah dengan teganya membohongimu, maafkan aku. Sebenarnya apa yang terjadi pada Richard, kenapa dia terlihat sangat kesakitan seperti itu. Apa dia punya penyakit yang serius?"batinnya yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
BERSAMBUNG
__ADS_1