
Dengan perlahan Richard pun menangkap tikus berwarna putih yang sangat mungil dan ia pun menjauhkan tikus itu dari jarak agak jauh agar tikus tersebut tidak menganggu Resya lagi.
"Sudah, aku sudah membuangnya, jadi cepat kemari-lah apa kamu mau dihampiri lagi sama mak-nya si tikus itu," ledek Richard.
"Jangan sampai itu terjadi, anaknya aja sudah bikin geli seperti itu, apalagi maknya ataupun bapaknya yang ada aku bakal pingsan lagi.
"Tapi gak bakal ada lagi kan tikus disini?" tanya Resya sembari melihat kanan kiri, dan mulai turun dari atas meja.
"Ya tergantung kalau kamu mau bersanding denganku. Aku rasa gak bakal ada yang mengganggumu,"timpal Richard yang seketika membuat pandangan Resya beralih menatapnya.
"Apa seperti itu cara kamu menggoda seorang wanita. Dan ada berapa banyak wanita yang berhasil kamu goda?"
"Maksud kamu apa?" Aku tidak pernah menggoda siapa-siapa!" timpal Richard kemudian.
"Ohh kamu tidak pernah mengoda seorang wanita, terus apa yang kamu lakukan tadi bukannya kamu baru aja menggodaku?" sahut Resya secara langsung.
Hingga kemudian suasana yang berubah menjadi canggung tanpa ada ucapan yang terdengar dari telingga mereka masing-masing. Bahkan mulut mereka pun serasa terbungkam tidak mampu mengatakan apapun lagi.
Resya yang pada saat itu sedang melihat-lihat, pandangan pun tertuju pada sebuah jendela tanpa menunggu ia menghampirinya.
"Astaga ternyata ada jendela disini," gumam Resya yang akhirnya menggangkat kursi untuk dia naikin.
"Kamu, apa yang inggin kamu lakukan ?" tanya Richard yang melihat Resya yang sedang hendak inggin menaikki kursi.
"Tanpa kita sadari disini ada jendela, mungkin disinilah jalan keluar bagi kita agar kita bisa keluar dari tempat ini?" balas Resya yang kemudian ia pun perlahan-lahan menaikki kursi kayu tersebut.
Melihat tindakan apa yang dilakukan Resya saat ini, Richard yang melihatnya ia malah memberikan reaksi yang berbeda yaitu menertawakannya secara langsung.
"Kenapa kamu malah tertawa, apa ada yang lucu!" tanya Resya dengan menunjukkan tatapan sinisnya.
"Heyyy apa kamu lupa kita ini berada dilantai dua, jadi mana mungkin ada jendela yang berlanjut menuju ke, jadi kalaupun ada jendela yang ada pasti bawahnya sudah pasti losss langsung terjun kebawah. Apa kamu inggin terluka apa!.
"Gak, aku gak percaya!.timpal Resya yang tidak mempercayai perkataannya.
__ADS_1
Setelah berhasil menaikinya rasa kesal pun menghampirinya, lantaran ternyata memang benar yang dikatakan Richard tadi jika luar jendela ini tidak ada tangga yang akan jadi menyangganya.
"Kenapa wajah kamu terlihat kusut gitu?" tanya Richard sedikit meledeknya.
"Ternyata memang benar, diluar langsung loos. Sekarang apa yang harus kita lakukan, apa kita akan terkunci sampai besok disini?" ujar Resya nampak pasrah.
Melihat Resya yang terlihat kehilangan keseimbangan untuk bisa turun dari kursi tinggi, Richard pun lantas menawarkan diri.
"Apa kamu butuh bantuan? kelihatannya kamu sedang kesusahan?" tawar Richard tetapi Resya mengabaikannya.
"Tidak, aku bisa sendiri!" sahut Resya dengan ketusnya.
"Baiklah, tapi inggat kalau kamu sampai jatuh aku gak bakal nolongin,"
"Terserah, lagian aku juga bisa jaga diri!.
Baru juga Richard selesai berkata, Resya pun kehilangan keseimbangan yang akhirnya kursi yang ia injak pun oleng. Richard yang melihat hal itu ia pun spontan langsung berdiri dan menangkap tubuh Resya yang sudah oleng ke samping.
Jatuh kelantai tepat diatas dada Richard membuat pandangan mereka pun seketika tidak bisa teralihkan. Detak jantung yang seketika berdegup kencang membuat Richard mau pun Resya sendiri tidak mampu mengucapkan sepatah katapun lagi, hingga kesadaran kembali sesaat Richard yang mencoba meledeknya.
Sontak Resya yang mendengar ucapannya itu, iya pun bergegas bangkit dari atas tubuh Richard, rasa malu pun tidak bisa ia sembunyikan lantaran kedua pipinya yang seketika memerah.
"Astaga perasaan apa itu yang aku rasakan tadi, kenapa sekarang hatiku jadi berdegup kencang seperti ini?" batin Richard dengan ekpresi yang masih terlihat kebingungan.
"Kamu, kenapa kamu jadi terdiam apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Richard yang kemudian ia pun perlahan-lahan mulai menghampiri Resya, Resya yang menyadari itu, ia pun seketika menjadi panik.
"Astaga apa yang inggin dia lakukan, kenapa dia menatapku dengan tatapan seperti itu?" batin Resya yang akhirnya ia pun perlahan-lahan memundurkan diri kebelakang.
"Apa yang inggin kamu lakukan, jangan coba-coba cari kesempatan.
Mendengar ancaman yang diucapkan oleh Resya, tidak membuat Richard menghentikan niatnya tersebut. Dan semakin dekat ia pun akhirnya mendekatkan wajahnya tepat berhadapan dengan wajah Resya.
Tatapan mereka yang belum juga teralihkan hingga lima menit kemudian kesadaran mereka pun akhirnya telah tersadar setelah terdenggar suara langkahan kaki dan juga ketokan pintu yang seketika membuat mereka pun akhirnya berpaling.
__ADS_1
DOK....DOK...DOK..
Suara ketukan pintu terdenggar.
"Suara ketukan pintu!.
Seketika tatapan mereka pun teralihkan, bergegas mereka pun berlari kearah pintu.
"Heyy buka pintunya siapapun kalian, cepat buka pintunya!" teriak Richard sembari mengedor-ngedor pintu sekuat tenaganya.
"Tuan ini aku Gibran, maaf kalau aku baru datang, aku baru saja membaca pesan yang Tuan kirim, jadi lebih baik Tuan mundur-lah biar saya dobrak," ucapnya kemudian Richard menimpalinya.
"Jangan didobrak, mungkin kunci tadi masih berada tak dekat dari posisi kamu berada sekarang, jadi carilah," titahnya Richard.
"Baik Tuan saya akan mencarinya.
Melihat kunci yang berada tak jauh dari jarak kunci. Gibran kemudian memungutnya, membuka pintu gudang. Setelah hampir beberapa jam mereka terperangkap didalam rasa lega akhirnya bisa mereka hirup dengan segar.
"Syukurlah kamu datang dengan tepat waktu. Sekali lagi terima kasih sudah mau membukakan pintu jadi, ya sudah aku pamit dulu dah,"
Satu ucapan yang hanya diucapkan Resya. Pergi dalam keadaan terburu-buru layaknya sedang dihantui oleh suatu hantu yang sangat menyeramkan. Tatapan Gibran kemudian berpaling melihat kearah Tuannya yang nampak sedang memikirkan sesuatu. Apalagi melihat Resya yang nampak melirik Tuannya dengan raut wajah takutnya membuat Gibran tak segan-segan menggodanya.
"Tuan. Tuan gak lagi melakukan sesuatu kan sama Resya?" tanya Gibran nampak terlihat menahan senyumannya.
"Apa maksud kamu?" tanya Richard mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dia terlihat ketakutan melihat tuan. Apa mungkin disaat tuan dan dia terkunci, tuan sudah melakukan sesuatu yang akhirnya membuatnya nampak malu, ya kan ngaku aja,"
"Gibran apa kamu mau aku kunci didalam sana sendirian, jika kamu mau yuk masuk sekarang didalam sana tikus-tikus sudah menunggu kehadiran-mu tuh," celetuknya kemudian Gibran yang mendengarnya ia memalingkan pandangannya dan terdiam.
"Kenapa kamu diam?"
"Maaf Tuan, saya ngalah baiklah sekarang kita pergi tuan ini udah mau larut malam, jadi mendingan Tuan jalan duluan,"ucapnya dengan raut wajahnya yang nampak takut.
__ADS_1
BERSAMBUNG.