
Dalam ruangan yang terlihat sepi terdapat lah seseorang yang telah terduduk diatas kursi dengan tangan dan kaki yang sama-sama terikat. Selama kurang lebih beberapa menit ia tidak sadarkan diri. Akhirnya tak lama ia pun tersadar, akan tetapi setelah tersadar ia dibuat bingung dimana dirinya berada sekarang.
"Aw..kepalaku, kenapa kepalaku merasa sakit gini? Dimana aku berada sekarang, kenapa aku bisa berada ditempat seperti ini?"
Baru beberapa ia mengucapkan sesuatu seseorang pun datang dan langsung mengejutkan dirinya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku, siapa kamu berani sekali kamu menculik ku lepaskan aku! Lepaskan aku!"gertak Sandra yang berusaha inggin memberontak.
"Heyy kamu berisik sekali, bisa gak kamu itu jangan teriak-teriak sakit nih kuping kita!"tegas seseorang laki-laki.
"Wanita siluman bisa gak kamu jangan teriak-teriak, lagian percuma aja kalau pun kamu teriak sekeras mungkin karena tidak akan ada orang yang bakal mendengar teriakanmu itu, apa kamu sadar itu!"tegas Gibran yang kemudian ia memunculkan diri bersama dengan ketiga temannya.
"Kalian, kalian bukannya anak buah Richard? Iya, benar kalian anak buah Richard. Apa senekat ini kalian, sampai-sampai kalian berani menculik Istri dari Tuan kalian sendiri apa kalian inggin cepat mati!"
"Aku baru sadar kalau Tuan kita ternyata sangat salah memilih seorang Istri seperti dia. Sekarang aku pertegaskan ke kamu diam-lah jika kamu tidak inggin bernasib celaka apa kamu mengerti!"tegas Reza dengan wajah geramnya.
Merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba seseorang pun datang dan lagi-lagi mengagetkan Sandra, seseorang itu adalah Richard.
"Sayang syukurlah kamu datang, aku tahu kamu pasti akan datang dan menyelamatkanku, mereka ...mereka telah menculik-ku dan berniat inggin menodai ku jadi aku minta habisi mereka karena mereka tidak pantas untuk diampuni, habisi mereka sayang!"
Mendengar perkataan apa yang barusan diucapkan oleh Sandra, spontan Richard dan para anak buahnya yang mendengarnya pun tertawa lepas melihat tipuan dari mak lampir ini.
"Sayang, kalian kenapa tertawa. Apa kamu tidak percaya dengan perkataan aku tadi, mereka, mereka memang berniat inggin mencelakai Istri kesayangan kamu ini. Aku berkata jujur, aku tidak berbohong sayang,"bela Sandra untuk meyakinkan Richard.
"Istri kesayangan, Gibran kira-kira kata-kata itu pas Banget buat aku gak sih. Karena jujur aku rasa perkataan itu sama sekali tidak cocok untukku?"timpal Richard yang kemudian ia menatap tajam kearah Sandra, Sandra yang mendengarnya ia hanya memberikan tatapan bingungnya.
__ADS_1
"Iya benar Tuan, memang kata-kata itu sangat tidak pantas untuk Tuan. Bahkan dibilang kata-kata itu hanyalah kata-kata sampah!"timpal Gibran dengan tertawa lepas.
"Kamu berani sekali kamu berkata seperti itu?" tegas Sandra.
"Sudahlah Sandra aku sudah muak sekaligus capek menghadapi mu, selama berbulan-bulan aku berpura-pura menjadi orang gila yang hanya akan nurut dan percaya dengan semua tipuan dan omong kosong yang kalian katakan padaku, kini saatnya aku untuk menyelesaikan semuanya. Kira-kira darimana kita memulainya. Apa kita perlu memulainya dari kejadian gimana Mamamu lah orang yang telah menabrak Resya hingga ia buta dan Mengalami keguguran?"
"Richard apa yang kamu katakan, kenapa kamu berkata seperti itu? Siapa orang yang omong kosong, aku sama sekali tidak mengerti?"
"Diam, selama ini aku sudah cukup diam dan mendiamkan perbuatan kalian, tapi semakin lama kalian dibiarkan kalian tambah semakin menjadi. Bahkan kematian Bibik Minah itu semua juga ulah kalian kan? Karena kalianlah orang yang telah menabraknya bahkan kalian tidak ada sedikit rasa kasihan kalian kepada Bibik, melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan dijalanan kan?"
Mendengar perkataan yang barusan dikatakan Richard soal Bibik, wajah Sandra pun seketika memerah.
"Apa jadi Bibik minah meninggal?"batinnya yang terlihat takut.
"Apa, Bibik meninggal tidak itu tidak mungkin. Richard apa yang terjadi, kenapa Bibik bisa meninggal itu tidak mungkin kan?" cela Sandra dengan ekpresi wajahnya yang terlihat bersedih.
Tak tahan dengan perkataan omong kosong yang diucapkan Sandra lagi, Richard pun akhirnya memberikan dua tembakan yang tepat mengenai arah yang lain. Mendengar suara tembakan itu, Sandra yang tadinya berusaha meyakinkan Richard kini usahanya pun ia urungkan dengan wajah yang memerah ia oun putus hanya berdiam diri.
"Sekali lagi kamu berusaha untuk menipuku lagi, maka misi inilah yang akan menghancurkan tubuhmu apa kamu mengerti!"tegas Richard dengan raut wajah yang penuh dengan amarahnya.
"Richard aku tidak tahu harus dengan cara apa agar kamu percaya sama aku, kalau aku tidak pernah bertindak sejahat itu, jika aku berniat untuk apa aku melakukannya? Apa alasannya?"balas Sandra dengan memelas.
"Sandra...Sandra ...baiklah jika kamu masih tidak inggin mengaku, maka lihatlah ruangan sana!"ucap Richard dengan menunjukkan jarinya kearah depan.
Setelah pandangan Sandra yang hanya fokus dan tertuju pada arah itu. Pandangan dan mata Sandra pun seketika terbuka lebar setelah ia melihat siapa Seseorang yang ia lihat saat ini. Gimana ada seseorang Wanita yang telah terikat dengan kondisi tidak sadarkan diatas kursi dan seseorang itu yang tak lain ia adalah Monika Mamanya Sandra.
__ADS_1
"Mama... Richard apa yang kamu lakukan pada Mama, kenapa Mama bisa pingsan apa yang kamu lakukan padanya?"
"Apa kamu inggin tahu apa yang terjadi pada Mama kamu, dan balasannya adalah ini!" ucap Richard yang kemudian ia pun menunjukkan sebuah pistol pada Sandra yang kemudian Pistol itu pun ia dekatkan pada dagu Sandra.
"Kamu tahu kan ini apa? Jadi cepat beritahu aku jika kamu tidak inggin misi dari pistol ini akan menembus perut Mama kamu!"
"Kamu jahat Richard, kamu jahat!"
"Sandra...kamu itu kenapa pake acara menangis segala. Apa kamu pikir dengan kamu menangis aku akan luluh dan secepat itu memaafkan mu? Sandra ...Sandra ...tidak sebodoh itu kali. Gibran lepaskan pakaianmu biar dia gunakan untuk mengusap air matanya itu. Karena tissue ini terlalu bersih untuk mengusap air mata kotor Wanita ini!"tegas Richard dengan melirik kearah Gibran.
"Maaf Tuan tapi aku sangat menyayangkan pakaianku untuk jadi korbannya. Apalagi jika aku harus merelakannya pada Wanita licik seperti dia, jadi itu tidaklah mungkin, kalau mau didalam sana ada kain lap tidak akan ada masalah jika aku harus mengambilnya sekarang?"timpal Gibran dengan tersenyum sinis.
"Aku minta kamu lepaskan aku, kalau kamu tidak inggin menyesal!"tegas Sandra dengan menunjukkan tatapan tajamnya.
"Menyesal untuk apa aku harus menyesal? Aku hanya akan menyesal karena selama dua tahun ini aku telah hidup bersama dengan dua penjahat seperti kalian. Bahkan yang lebih menyesalnya lagi. Aku menyesal karena aku telah termakan oleh Perkataan pembunuh seperti kalian!
Apa kamu pikir aku tidak tahu, Mamamu kan orang yang telah membunuh keluargaku, bahkan dengan sadisnya ia menyuruh orang-orang untuk membunuhnya sekaligus tanpa memberi ampun. Sekarang yang ada pada diriku hanyalah kebencian dan kemarahan jadi janganlah berharap jika aku akan memaafkan mu!
Dan kini saatnya pembalasanku atas kematian mereka, aku bisa saja membunuh kalian bahkan kalau perlu aku juga mampu memut*lasi tubuh kalian dan memotong- motong beberapa bagian yang kemudian aku berikan pada peliharaan hewan-hewan dibelakang Markas ini, tapi setelah aku pikir-pikir secara dalam lagi, kayaknya cara itu terlalu cepat untuk membuat kalian sadar dan merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan.
Jadi hidup didalam jeruji besi lah cara untuk membuat kalian merasakan penderitaan bertubi-tubi itu, jadi sudahlah tidak ada gunanya aku berkata lebih dalam lagi. Gibran, David, Reza cepat bawa mereka masuk kedalam dua mobil yang berbeda. Karena jika kita membawanya dalam satu mobil, aku takut ada kejadian yang tiba-tiba terjadi, jadi memisahkan mereka cara itulah yang tepat saat ini!"
"Baik Tuan, kita akan membawa Mama Monika sedangkan Mak lampir ini biar Tuan aja yang menjaganya,"timpal Gibran.
"Baiklah aku tidak keberatan ayo kita bawa mereka sekarang."
__ADS_1
"Richard aku mohon beri aku kesempatan aku mohon, Richard dengarlah aku, aku mohon!"ucap Sandra yang sama sekali tidak hiraukan oleh Richard.
BERSAMBUNG