
"Akhirnya kasus ini berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun," ucap Rasya kemudian pandangannya teralihkan menatap Sifa yang masih nampak murung disampingnya.
"Oh iya apa kamu keberatan jika aku membawamu ke-suatu tempat?"
"Ke-suatu tempat memangnya kamu ingin membawaku kemana?"tanya Sifa.
"Jika kamu masih membangkang maka itu artinya kamu tidak keberatan jika aku membawamu ke-suatu tempat ayo ikut aku," ajaknya yang langsung mengandeng tangan Sifa.
"Kamu mau membawa-ku kemana?"
"Sudahlah nanti kamu sendiri juga akan tahu," balas Rasya segera ia mengandeng tangan Sifa dan membawanya pergi ke-suatu tempat.
Tidak menunggu waktu lama mereka akhirnya sampai ditempat yang sedari tadi Rasya maksud. Tatapan Sifa tak henti-hentinya teralihkan, sesekali ia menatap Rasya tapi beralih ia kembali menatap dimana Rasya membawanya saat ini.
"Tempat ini? Kenapa tiba-tiba kamu membawaku ketempat ini?"tanya Sifa yang akhirnya ia buka suara.
"Apa kamu masih mengingat hari pertama aku menembak-ku ditempat ini?"tanya Rasya tapi pandangannya masih nampak menatap lainnya.
"Apa kamu sendiri juga masih mengingatnya?"tanya Sifa, beralih tatapannya tertuju pada Sifa.
"Iya aku masih mengingat dengan jelas hari pertama dimana aku penembak-mu. Dan mungkin tujuan pertama-ku membawaku kemari aku juga ingin melakukan hal yang sama yang pernah aku lakukan dulu.
Berlutut tepat dihadapan Sifa. Rasya memegang kedua tangan mungil Sifa sembari menunjukkan tatapan seriusnya.
"Rasya apa yang kamu lakukan kenapa kamu berlutut seperti ini bangunlah!"perintah Sifa yang berusaha membujuk Rasya untuk bangkit, tapi Rasya menolaknya.
"Tidak. Aku tidak akan bangun sebelum aku mengungkapkan semua perasaan yang selama ini aku pendam terlalu lama. Jujur aku sangat bohong jika ditanya apa aku tidak mencintai kamu dan perasaan yang dulunya pernah hadir dalam sekejap hilang setelah lamanya kita putus. Memang awalnya aku berfikir perasaan itu sudah hilang tapi nyatanya itu salah. Dan niatku berlutut dihadapan kamu seperti ini, apa kamu mau memberikanku kesempatan kedua, membenahi semua kesalahaan yang dulu pernah aku lakukan?"
"Apa kamu yakin ingin memulai dari awal lagi. Apa kamu seyakin itu dengan perasaan kamu saat ini?"
"Iya aku sangat yakin dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi jadi kamu bersedia kan?"
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Sayang kamu kenapa cengar-cengir seperti itu kamu gak lagi ada masalah kan?"
"Mama. Mama dan Papa kapan duduk disini?"
"Mama dan Papa sudah sedari duduk disini, bahkan bisa dibilang disaat kamu masuk tadi kami sudah berada disini kenapa sayang?"
"Iya sayang ada apa tidak kaya biasanya kamu mendapatkan ekpresi sebahagia ini ada apa?"tanya Richard.
"Baiklah kalau Mama dan Papa sangat penasaran ingin tahu apa yang membuatku sebahagia ini. Aku bakal bilang sama kalian tapi kalian jangan kaget ya?" ucap Sifa beralih kedua orang tuanya saling bertatapan satu sama lain.
"Kaget! Kenapa harus kaget sayang yang pasti tidaklah.
"Aku dan Rasya kita jadian lagi Ma ... Pa aku rasa dia sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik jadi akhirnya kita putuskan untuk kembali bersatu lagi," balas Sifa nampak tersenyum malu, tapi berbeda dari raut wajah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kalian bersatu?"tanya Richard.
"Iya Pa dan Sifa sangat senang sekarang."
"Kenapa Pa? Kenapa raut wajah kalian nampak merasa tidak sebahagia yang Sifa rasakan saat ini?"
"Apa kamu serius Rasya sudah berubah lebih baik lagi?"tanya Resya.
"Iya Ma, Sifa yakin dia sudah sangat berubah dia sudah membuktikan banyak perubahan yang aku lihat beberapa bulan ini, jadi itulah yang membuatku mau menerima dan memberikan dia kesempatan lagi.
"Baiklah terserah kalau itu memang sudah jadi keputusan kamu Papa tidak mau ikut campur," balas Richard yang nampak kecewa. Bahkan dari raut wajahnya tidak bisa dibohongi lagi, pergi dari hadapan keduanya membuat Sifa tambah merasa tidak enak hati
"Papa!" ucap Sifa tapi tak dihiraukannya.
"Sayang sudah jangan dengarkan apa yang diucapkan Papa kamu dia mungkin lagi butuh waktu untuk menerima semua ini. Apalagi ....
"Apalagi apa Ma? Apa ada masalah yang menimpa Papa sekarang?"tanya Sifa nampak cemas.
"Mendingan untuk lebih jelasnya lagi kamu samperin Papa kamu, mungkin dengan kamu sendiri yang bertanya langsung kamu bisa memikirkan keputusan yang pas nanti," balas Resya, tapi membuat Sifa tambah merasa sangat bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
*
*
*
"Sifa kamu kenapa menyusul Papa?"
"Tadi Sifa dengar dari Mama katanya Papa ada masalah apa yang membuat Papa menjadi gelisah seperti ini. Dan perkara apa yang Papa pikirkan cepat cerita-lah pada Sifa? Papa gak mungkin gelisah seperti ini hanya karena tidak setuju dengan hubungan Sifa dan Rasya kan?"tanya Sifa.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Papa menjadi seperti ini tidak kaitannya sama sekali dengan hubungan kalian!"
"Terus jika bukan karena hubungan Sifa. Apa yang membuat Papa terlihat gelisah seperti ini?"
"Kamu pasti tahu kan perusahaan Papa yang Papa dirikan beberapa bulan ini di Korea?"
"Iya Sifa tahu Pa. Ada apa dengan Perusahaan itu?"
"Papa baru aja mendapatkan kabar jika nilai saham perusahaan itu mulai mengalami penurunan sangat drastis akibat Papa yang tidak pernah mengunjunginya.
"Astaga terus apa yang harus kita lakukan sekarang Pa? Itu gak bisa dibiarkan terlalu lama Pa, jika semakin lama Papa tidak mengendalikannya Sifa takut kalau penurunannya akan tambah semakin merosot nanti.
"Makanya itu dia sayang, Papa dan Mama berniat ingin pindah kesana, sedangkan Silvi rencana juga mau Papa ajak, pertanyannya jika Papa pergi kesana siapa yang akan menjaga kamu disini. Setelah semua orang tahu adanya identitas siapa asli Papa, Papa takut kalau kamu akan menggalami hal buruk dan dijadikan pelampiasan balas dendam pada musuh Papa yang tanpa Papa sadari memusuhi Papa . Tak terkecuali kamu ikut bersama kita ke Seoul dan pindah kesana karena hanya itu cara satu-satunya sayang.
"Jika Sifa ikut dengan Papa gimana nasib impian Sifa yang ingin menjadi seorang detektif?"
"Kalau soal impian kamu Papa tidak akan menghalanginya. Disana lebih banyak universitas elit yang pastinya bisa menjamin seratus persen impian kamu bakal berhasil jadi gimana apa kamu sudah bisa memutuskan?"
__ADS_1
"Baru sehari aku dan Rasya memutuskan bersama, tapi kenapa lagi-lagi keadaan mengharuskan kita untuk berpisah. Apa ini sudah jadi tanda jika Rasya memang bukan orang yang bisa mendampingiku?"batin Sifa dengan lamunannya, tak lama Richard pun menyadarkannya.
"Sayang gimana apa kamu sudah membuat keputusan karena Papa sudah memesan tiket 5 orang termasuk untuk Rasyel. Jika kamu bersedia Papa bisa menambahkan satu lagi untukmu.
"Baik Pa. Sifa sudah putuskan, Sifa mau pindak ke Seoul dan Sifa yakin disana Sifa bisa menggapai impian Sifa menjadi seorang Polisi. Jadi Papa gak keberatan kan?"
"Baiklah sayang Papa tidak masalah demi kamu Papa rela melakukan apa aja. Ya sudah besok kita berangkat. Sekarang Papa mau telfon Om Revan dulu.
"Baik Pa.
"Maafkan aku Rasya. Maafkan aku jika aku harus meninggalkan kamu tanpa alasan yang jelas, maafkan aku," batin Sifa yang terlihat bersedih.
Pagi yang cerah telah menampakkan sinarnya kembali. Jam yang sudah menunjukkan pukul 06:30 yang artinya hanya membutuhkan beberapa menit maka jam kerja akan segera dimulai.
Halaman Kantor kepolisian yang tadinya damai, kini berubah menjadi pandangan yang sangat mengejutkan bagi mereka semua lantaran adanya seseorang yang mengendarai mobil sport merah mewah yang tiba-tiba memasuki halaman mereka.
Sifa yang nampak murung ia terlihat bersedih sembari duduk di-kursi taman. Tak lama ketiga sahabatnya pun muncul.
"Hey Sifa apa yang kamu lakukan sendiri disini kamu gak lagi menunggu seseorang kan?"tanya Gibran.
"Apa yang harus aku lakukan pada mereka jika hari ini adalah hari terakhirku menginjakkan kaki di kantor kepolisian ini?"batinnya yang hanya nampak murung.
"Hey aku sedang berbicara denganmu kenapa kamu malah bengong? Ada apa?"tanya Gibran lagi.
"Tidak. Tidak ada apa-apa kok mungkin perasaan kalian saja yang aneh. Oh iya aku ada keperluan jadi aku tingal dulu ya." Selangkah Sifa akan pergi, Rasya menghalanginya.
"Apa kamu mau kita anterin?"tawar Rasya.
"Tidak usah aku bisa sendiri kok," balas Sifa, berlalu ia melepaskan genggaman tangan Sifa darinya.
"Sifa apa yang sebenarnya terjadi dengannya kenapa dia jadi berubah seperti ini, aku harus berbicara langsung kepadanya," batin Rasya yang tanpa berkata lagi, ia langsung mengejar Sifa tanpa sepengetahuan Sifa sendiri.
"Sifa aku inggin berbicara empat mata denganmu," ucap Rasya yang langsung menarik tangan Sifa, hendak ingin membawa pergi, tapi Sifa menghalanginya dan langsung menghempaskan tangan Rasya yang sedang mencengkeramnya..
"Ada apa sih Rasya. Kalau elo memang inggin berbicara, berbicara langsung aja disini ngapain pake acara sembunyi-sembunyi segala," balasnya yang spontan membuat
Rasya berhenti dari langkahnya.
"Elo. Sejak kapan kamu memanggilku dengan sebutan elo, bukannya biasanya kamu itu memanggilku dengan sebutan namaku atau kamu. Kenapa sekarang kamu menyebutku dengan sebutan elo. Kamu gak lagi amnesia lagi kan Sif, kamu gak lagi sakit kan?" tanya Rasya dengan memegangi rambut Sifa.
"Astaga Rasya kamu itu. Apa kamu tahu aku itu baru aja pergi ke-salon untuk menata rambutku dan buat poni indah ini, bahkan biayanya juga sangat mahal jadi harusnya kamu gak perlu mengacak-acak segala.
"Sif, jujur aku bingung sama kamu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu kenapa kamu berubah seperti ini, dulu kamu itu orangnya gak suka bergaya sok keren dan sosialita seperti ini kenapa sekarang kamu malah jadi bermasalah ketika aku hanya menyentuh rambutmu sekali aja.
"Sudahlah Rasya, aku masih ada urusan, jadi lebih baik kita selesaikan pembicaraan kita dulu ya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Sifa kenapa dia jadi berubah seperti ini. Apa setelah aku mengungkap perasaan-ku waktu itu itu yang bikin dia berubah? Apa itu penyebabnya. Aku harap ini hanya sementara dan aku harap Sifa berubah menjadi Sifa yang dulu. Karena jujur aku lebih suka sama Sifa yang dulu dari pada Sifa yang sekarang," batin Rasya dengan menatap kearah Sifa yang mulai hilang dari pandangannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.