
Tampak sepasang kekasih yang tengah bermain di taman bunga, raut wajah senang terpancar dari keduanya. sang pria langsung memegang salah satu tangan dari sang gadis tersebut, sehingga membuat sang gadis langsung memandang ke arahnya. Pria itu tersenyum dan langsung memutar-mutar tubuh gadis itu secara perlahan.
Gadis itu tampak tertawa bahagia, sedangkan sang pria dia tampak tersenyum karena melihat gadisnya tersenyum.
"Rasya. Hari ini aku sangat senang sekali, karena aku bisa menghabiskan waktuku bersamamu!" ucap Gadis itu.
"Benarkah. Kalau begitu aku pun sangat senang bisa menghabiskan waktuku bersama denganmu calon Istriku," jawab Rasya sambil berhenti memutar tubuh Sifa.
Suasana yang mesra yang dihasilkan oleh mereka nampaknya telah didukung oleh suasana yang terlihat sangatlah cerah tanpa adanya awan mendung yang tak terlihat menyinari Langitan.
"Rasya?"tanya Sifa.
"Iya Sifa ada apa?"tanya baliknya.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau seumpama kita dipisahkan akan keadaan apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan terus mempertahankan hubungan kita ini?" tanya Rasya yang kemudian membuat Sifa pun berpaling darinya.
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu bertanya seperti itu?"tanya Sifa.
"Ya soalnya aku lihat belakangan ini kamu tambah semakin cantik. Dan aku takut kalau kecantikan kamu akan memisahkan kita karena adanya orang ketiga.
"Sayang lihatlah aku, di dunia ini laki-laki yang cuma ada di hatiku itu cuma kamu, jadi kamu jangan punya pikiran yang aneh-aneh seperti itu jujur aku tidak Suka. Dan jika kamu masih mengatakannya lagi aku akan sedih."
Rasya langsung memegang kedua bahu Sifa.
"Kau tidak perlu sedih, aku yakin pasti Tuhan akan selalu menyatukan kita untuk selalu bersama, jadi kau tidak boleh sedih lagi ya, sayang. Baiklah untuk mengembalikan suasana apakah kamu mau lihat apa yang sudah aku siapkan untukmu saat ini," ucap Rasya sambil melepaskan kedua tangannya dari bahu Sifa.
"Apa yang kau bawa untukku?" tanya Sifa dengan wajah penasarannya.
Rasya tampak mengeluarkan sebuah mahkota yang terbuat dari bunga, Sifa yang melihat itu matanya langsung berbinar. Rasya langsung memasangkan mahkota bunga itu ke atas kepala Sifa.
Sifa tampak tersenyum manis.
"Sayang aku sangat menyukainya, apalagi ini adalah mahkota yang kau buat. dan aku tau kau pasti membuatnya dengan penuh kasih sayang dan cinta," jawab Sifa dengan tersenyum manisnya.
Rasya yang mendengar itu hanya tersenyum, dia langsung mengusap lembut pucuk rambut Sifa. Dan kemudian ia pun mendekap tubuh Sifa dengan sangat erat.
"Entah kenapa aku punya firasat jika kita akan berpisah. Aku berharap diantara kita berdua tidak ada lagi masalah mau pun pihak ketiga yang berniat ingin menghancurkan hubungan kita,"batin Rasya yang semakin erat ia memeluk Sifa.
" Aku sangat mencintai kamu Rasya. Aku sangat mencintai kamu."
"Aku juga sangat mencintai kamu Sifa," balas Rasya dengan membalas senyuman manisnya
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
Pernak-pernik khas hiasan pernikahan mengitari gedung mewah itu, bunga-bunga tampak segar tertata rapi di sekitar ruangan.
Hari sudah menjelang pagi, sayup-sayup terdengar suara angin di luar sana. Tampaknya, langit hari ini pun mengerti. .
Pernikahan Sifa dan Rasya sudah di depan mata, gadis berusia 27 tahun dari habis subuh sudah didandani sangatlah cantik dengan balutan gaun berwarna putih mengkilap yang seketika membuat semua orang pun takjub akan kecantikannya.
__ADS_1
Bulu mata palsu dan ombre lips yang menawan, menambah kesan kecantikannya. Memang Resya tak salah memilih MUA untuk pernikahan anaknya, karena ia memang tak akan salah memilih.
"Cantik," puji Resya, melihat bayangan Putrinya di depan cermin.
Gaun putih dengan hiasan pernak-pernik kaca dan mutiara, sepatu putih yang indah di kakinya. Gadis ini begitu cantik, lebih cantik dari biasanya.
"Wahhhhh, kakak-ku ternyata sangat cantik banget ya hari ini,"puji Silvi pada Sifa.
"Kamu bisa aja membangunkan suasana," balas Sifa yang nampak bisa tersenyum.
"Tapi jujur kamu sekarang sangat cantik Sifa, bahkan aku sama sekali tidak mengenalimu?"
"Kamu lupa ya? Kita kan kembar jika kamu memujiku itu artinya kamu juga memuji diri kamu sendiri paham kan!"balas Sifa dengan tersenyum.
"Astaga satu orang ini memang tahu aja niatku memujinya," balas Silvi yang langsung memeluk Sifa dari belakang.
Akan tetapi belum juga acara dimulai, Sifa tiba-tiba melamun entah karena apa
"Sifa sayang kamu kenapa? Kenapa kamu malah melamun dan terlihat bersedih ada apa sayang?"tanya Mamanya yang langsung memeluknya.
"Entahlah Ma, Sifa merasa aneh saja," balas Sifa.
"Aneh gimana kak Sifa?"tanya Silvi.
"Iya perasaan Sifa tiba-tiba tidak tenang seperti sedang gugup, entah apa yang membuatku jadi gugup seperti ini?" balas Sifa yang kemudian Mamanya yang mendengar, ia langsung mengecup dan memeluk Putrinya.
"Sifa sayang kamu tidak perlu takutkan itu, kamu merasa gugup karena ini sudah jadi hal biasa yang dialami setiap pengantin baru jadi tenang ya?"
"Iya sayang sama-sama, ya sudah Mama turun dulu ya karena masih ada tamu undangan yang harus Mama sambut, kamu disini dulu aja biar Silvi yang menemanimu," ucap Resya.
"Iya Ma," balas Sifa tapi entah kenapa wajah sedihnya masih tidak bisa dihilangkan lagi.
"Perasaan apa ini sebenarnya kenapa aku malah jadi tidak tenang kaya gini," batin Sifa yang menegang hatinya sendiri.
Sedangkan Rasya yang berada dalam mobil bersama supirnya, ia nampak tidak bisa menunjukkan raut wajah senyumannya.
"Hari ini hari pernikahanku aku tidak menyangka jika apa yang aku impikan selama ini akan segera terwujud," batin Rasya yang nampak tersenyum.
"Pak bisa cepat sedikit gak, soalnya ini sudah mau pukul 19:00 kita sudah tidak punya cukup banyak waktu," pinta Rasya pada supirnya.
"Baik Tuan," ucap seseorang itu dengan suara yang cukup kasar.
"Tunggu kenapa Pak Yanto suaranya jadi aneh gitu ya apa bapak sedang sakit?" tanya Rasya.
"Tidak Tuan saya tidak sakit, saya hanya mengalami peradangan tenggorokan nanti juga akan sembuh," balas Supirnya.
"Baiklah pak kalau gitu," balas Rasya.
Sedangkan keluarga Rasya yang berada dalam satu mobil yang sama pandangan Rasyel tak henti-hentinya menatap kearah mobil yang berada dihadapannya yaitu mobil pengantin, terlihat ia yang terlihat cukup panik.
__ADS_1
"Rasyel kamu gak kenapa-kenapa kan?"
"Tidak Pa, aku tidak kenapa-kenapa kok hanya saja kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya?"ucap Rasyel.
"Tidak enak, maksud kamu?"tanya Mamanya.
"Ya maksud aku. Aku merasa jika perasaan-ku cukup tidak lega melihat Rasya yang naik ke mobil itu apa aku harus memperhatikan dan menyuruhnya untuk bergabung bersama kita saja," balas Rasyel.
"Astaga Rasyel itu mungkin cuma perasaan kamu lagi bercampur antara panik dan cemas memikirkan kondisi Richard sekarang, tapi yakinlah Richard dia pasti baik-baik saja jadi kamu jangan punya perasaan yang tidak-tidak,"
Dalam perjalanan yang tadinya terlihat tentram tanpa ada hambatan atau pun rintang yang terjadi. Tak lama suara terdengar dari dalam saku Revan yang terdengar berbunyi nyaring dan membuat Revan pun akhirnya memperhentikkan laju kendaraannya.
Dalam perjalanan Rasya menuju ke kediaman Sifa yang biasanya hanya menempuh jarak sekitar 1 jam'an dari Rumahnya. Akan tetapi dalam perjalanannya kali ini tanpa Rasya sadari dia harus kehilangan cukup banyak waktu, lantaran tanpa dia duga mobil yang dia kendarai ternyata menggalami rem blong, supirnya yang tadinya inggin berhenti lantaran ia melihat ada seorang nenek-nenek yang membawa tongkat dan hendak inggin menyebrangi jalan, karena merasa kasihan ia pun berniat inggin membantunya tapi betapa terkejutnya dia setelah mencoba untuk mengerem pedal tersebut. Dan apa yang terjadi selanjutnya.
"Kasihan sekali nenek-nenek itu kita harus membantunya," pinta Rasya, tapi sang supir yang hendak akan memperhentikkan ia nampak kebingungan.
"Ada apa ini? Kenapa Mobil ini remnya tidak berfungsi seperti ini, ada apa?" ucap supir yang merasa cemas sekaligus was-was. Dan dengan berusaha dia pun menyeimbangkan laju setir yang dia kendalikan.
"Astaga Tuan apa yang harus kita lakukan sekarang, rem mobil ini sama sekali tidak bisa dikendalikan?"
Karena menghindari sebuah Truk yang tiba-tiba melintas dihadapannya, terkejut ia pun akhirnya membanting setirnya ke-kiri menabrakkan mobilnya tepat mengenai sebuah pohon yang berdiri tepat dipinggir jalan
Dan terjun bebas dasar jurang yang teraliri sungai yang beraliran deras kedua mata Rasyel dan kedua orang tuanya seketika tak berkedip, panik dan langsung memperhentikkan laju kendaraannya.
"Rasya ...."
Satu teriakan yang mampu mereka ucapkan setelah apa yang tidak ia bayangkan terjadi dihadapannya sendiri.
Membuka pintu secepat kita, Mamanya yang ingin terjun ke-jurang ingin menyelematkan Putranya, tapi tak lama ia dihadang oleh Rasyel mau pun Suaminya dengan susah payah.
"Rasya ... aku harus menolong Rasya aku harus menolongnya.
"Jangan Ma itu sangat berbahaya itu sangat berbahaya,"
"Terus apa aku harus diam, dia membutuhkan bantuan kita, kita harus menolongnya Rasya ...."
"Aw...?" suara rintihan kesakitan Sifa yang keluar setelah dia tidak sengaja tangannya telah tergores oleh gelas yang pecah sewaktu ia ingin mengambilnya."
"Astaga tanganku kenapa bisa terluka," ucapnya kemudian ia teringat akan Rasya.
"Astaga Kak Sifa baik-baik saja? Astaga Kak tangan kakak terluka biar aku yang mengobatinya," balas Silvi segera mengambil P3K dan langsung memperban luka ditangan Sifa.
"Kenapa perasaanku jadi sangat tidak tenang seperti ini ada apa sebenarnya?" batin Sifa yang tambah semakin panik, bahkan Silvi yang sedang berbicara dengannya dia tidak menggubrisnya.
"Kak Sifa kenapa? Apa yang Kak Sifa rasakan saat ini apa Kak Sifa merasakan sakit?"
"Silvi kenapa sampai sekarang Rasya belum datang? Bukankah acara ini akan dimulai beberapa menit lagi tapi kenapa tidak kunjung datang kesini?"
"Soal itu mungkin Rasya masih dalam perjalanan kamu kan tahu jalanan kearah sini kan membutuhkan sedikit kesabaran apalagi kalau udah terkena mancet, jadi mungkin mereka lagi terkena mancet jadi kamu yang tenang ya tidak akan terjadi apa-apa kok," balas Silvi mencoba menenangkannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.