Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
RINTIHAN SAKIT.


__ADS_3

"Dokter apa yang terjadi, apa lukaku ini sangatlah parah?" tanya Richard pada salah satu Dokter laki-laki yang telah menanganinya."


"Sudah berapa lama anda mendiamkannya seperti ini?" tanya balik Dokter.


"Kurang lebih 30 menit Dok, memangnya ada apa?" tanya Richard lagi yang sedikit merasa penasaran.


"Ternyata setelah saya periksa menggunakan alat ****** terdapat lah luka tusukkan yang tepat mengenai ginjal kanan Tuan, dan ini sangat berbahaya bagi kesehatan Tuan selanjutnya, jika dalam kurang waktu yang lama Tuan tidak segera melakukan transformasi ginjal ada kemungkinan ginjal Tuan akan rusak lebih parah dari ini?"balas Dokter yang seketika membuat wajah Richard yang tadinya merasa biasa-biasa saja kini pun wajahnya seketika berubah memerah.


"Apa luka tusukkan ini sangatlah parah?"


"Ini luka ini sangatlah parah Tuan."


"Maaf Dok saya mau tanya jika manusia hidup hanya punya satu organ ginjal, apa seseorang itu akan masih bisa bertahan hidup lebih lama?"


"Kemungkinan resiko untuk bertahan hidup sangatlah tipis Tuan, kalau pun ia akan bisa bertahan, mungkin seseorang itu akan merasakan rasa sakit yang amat parah akibat dari kerusakan organ tersebut."


"Baiklah saya mengerti sekarang, cepat lakukan operasi penjahitan sekaligus cabutlah sisa kayu itu agar tidak mengalami infeksi yang berkelanjutan agar darahnya juga tidak terus mengalir, soal transformasi ginjal biar aku sendiri yang mengurusnya, yang terpenting sekarang aku inggin luka ini cepat kering dan tidak mengeluarkan darah lagi!"


"Baiklah Tuan saya akan segera menjahitnya sekaligus membersihkan semuanya!"


Ruangan yang terlihat sedikit redup dengan adanya sinaran cahaya dari beberapa lampu yang menyala tepat diatas berlangsungnya operasi yang dilaksanakan pada hari ini.


Hanya adanya satu Dokter yang menggunakan seragam hijau pun terlihat sangat sibuk, dan tidak bisa diganggu membuat suasana terlihat mencekam dan sedikit tegang.


Sedikit demi sedikit seseorang Wanita yang tak lain adalah rekan Dokter itu ia pun ikut membersihkan percikan da*ah yang sudah memenuhi hampir seluruh tubuh Richard, mulai dari kepala, lengan tangan dan wajahnya. Dengan kondisi membalikkan tubuh Richard menjadi terbalik kearah kanan, Dokter pun pun akhirnya mulai menjalankan operasinya dibagikan perut kanan Richard.


Bergegas Dokter pun menggeluarkan semua barang yang berada dikotak daruratnya yang terdiri dari beberapa jenis barang seperti, gunting, jarum suntik, pisau bedah , selang oksigen sekaligus infus darurat,dan juga air alcohol sekaligus obat-obatan yang lainnya.


Langkah pertama setelah Dokter memasang infus, sekaligus menyiram alcohol itu. Dokter yang baru ingat jika ia lupa tidak membawa obat bius, ia lantas langsung bertanya pada Richard.


"Astaga Tuan aku lupa tidak membawa obat bius, apa Tuan sanggup menahan rasa sakit ini nanti?"


"Tidak masalah, cepat lakukan operasi itu sekarang!"balas Richard yang tanpa berkata lagi, Dokter yang melihatnya ia langsung memulainya.

__ADS_1


Dengan langkah berhati-hati Dokter pun perlahan-lahan mulai menggambil sisa kayu yang terdapat pada luka tusukkan luka itu. Setelah berhasil membersihkannya ia lantas menjahitnya dan semua rasa sakit yang tiba-tiba menyerang Richard, ia pun berusaha sekuat tenaga dan menggenggam erat pada salah satu benda untuk jadi pelampiasannya dan tetap tenang menahan rasa sakit ini agar operasi penjahitan sekaligus pengambilan sisa-sisa kayu tadi berhasil dibersihkan tanpa harus mengakibatkan infeksi pada nantinya.


BEBERAPA MENIT KEMUDIAN.


"Saya sudah berhasil menjahitnya Tuan, jadi beristirahatlah jika Tuan inggin luka ini cepatlah sembuh."


"Tapi kayaknya jika aku harus beristirahat itu tidaklah mungkin, ada sesuatu hal yang harus aku lakukan, jadi mau tidak mau aku harus pergi, jadi maaf aku harus pergi meninggalkan Markas ini!"


"Tuan, Tuan inggin pergi kemana, Tuan kan baru aja melakukan penjahitan karena adanya luka tusukan jadi mendingan Tuan istirahatlah disini. Biarlah saya dan anak buah Tuan yang mengurus pemakaman Bibik."


"Tidak, saya tidak bisa melakukan itu. Sekarang waktunya pemakaman Bibik Minah, sebagai orang satu-satunya yang ia kenal, maka aku harus menghadirinya walau pun aku sendiri sedang terluka parah seperti ini. Aku tidak masalah jika aku harus menahan rasa sakit ini, lukaku ini hanyalah luka kecil nanti juga akan sembuh,"balas Richard pada Gibran.


"Baiklah jika itu memang keputusan Tuan mari saya antar,"balas Gibran yang kemudian ia ikut membantu merangkul Richard untuk berjalan.


"Baiklah."


******


Berdiri tepat disamping makam Bibik yang sudah tertata rapi dengan tanah, Richard pun hanya bisa meratapi makam Bibik dengan pandangan dan tatapan penyesalannya.


"Kenapa Tuhan, kenapa disaat semuanya sudah teratasi dengan baik dan mereka sudah berhasil aku jebloskan kedalam penjara. Kenapa lagi dan lagi musibah menimpaku. Jujur setelah adanya luka tusukan yang tepat mengenai Ginjalku ini, aku yakin mungkin hidupku tidak akan bertahan lama, bahkan aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang akan aku rasakan nanti.


Aku bisa aja menggambil salah satu ginjal milik Bibik, tapi aku sadar itu bukanlah tindakan yang tepat. Bibik orang yang baik jadi mana mungkin aku bisa mencuri organ dalam milik Bibik yang jelas-jelas Bibik adalah orang yang sangat baik. Apalagi kematian Bibik semua ini gara-gara aku, jadi aku tidak bisa melakukan ini.


Mungkin musibah yang aku alami saat ini adalah sebuah teguran agar aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Dan meninggalkan pekerjaan yang sangat menjijikkan ini, jujur aku sudah capek dengan semua ini, aku inggin hidup normal seperti orang-orang pada umumnya, hidup menjadi seseorang yang tanpa ada rasa dendam dan kebencian yang menghantuiku, aku sudah sangat lelah dengan semua ini, aku sudah lelah."batin Richard yang hanya bisa meneteskan air matanya sembari terus-menerus mengelus batu nisan tersebut.


"Semua ini salahku, salahku. Akulah orang yang harus bertanggung jawab atas kematian Bibik, semua ini salahku! Salahku!"gertak Richard yang terus-menerus memukul tanah ini.


"Kamu yang sabar, semua ini sudah takdir Tuhan, jadi kamu jangan coba-coba untuk menyalahkan diri kamu sendiri. Tuhan sendiri yang sudah mengatur setiap Nyawa manusia. Dan Tuhan lebih menyayangi Bibik Makanya Tuhan menggambil Bibik terlebih dulu, jadi kamu jangan coba-coba menyalahkan dirimu sendiri?"ucap Revan yang mencoba menenangkan Richard dan mencoba membantunya untuk bangkit.


"Jadi ayo bangkitlah."


"Iya Tuan ayo bangkitlah Tuan tidak sendiri, masih ada kami yang siap membantu Tuan, jadi bangkitlah."

__ADS_1


"Makasih ya Revan jujur setelah aku mengenalmu. Aku merasa seperti mempunyai seorang abang yang mampu mendamaikan hati seorang adiknya, terima kasih. Dan kalian, memang aku sudah tidak memiliki keluarga lagi, tapi melihat kalian aku seperti memiliki keluarga, Adik dan Kakak kalian seperti saudara kandungku sendiri, jadi sekali lagi aku ucapkan terima kasih, terima kasih."


"Aku melakukan semua ini karena aku tahu kamu juga orang yang baik, Tapi karena adanya dendam yang melekat pada dirimu inilah yang membuatmu menjadi seseorang yang kejam seperti ini. Dunia belumlah berakhir jadi tata hidupmu untuk lebih baik lagi,"ucap Revan.


"Baiklah aku akan pikirkan nasihat kamu ini."


"Sama halnya seperti kita Tuan, kita sudah bersama sedari masih duduk dibangku SMA jadi kita tahu semua penderitaan yang Tuan alami, semuanya sudah berakhir jadi kini saatnya Tuan untuk menggambil dan menyelesaikan masalah Tuan pada Nyonya Resya, jadi kejarlah kembali cinta Nyonya Resya."


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Gibran, Richard malah menatap balik kearah Revan dengan menunjukkan tatapannya.


"Kamu pantas untuk mendapatkan semuanya jadi kejarlah dia. Oh iya aku sampai lupa, operasi yang dilakukan Resya telah berhasil dengan sangat lancar tanpa halangan apapun, bahkan ia juga sudah tersadar sekarang, tadinya aku sudah beberapa kali menghubungimu tapi hasilnya kamu selalu tidak menjawabnya. Aku terkejut ketika dapat kabar dari David kalau kamu tadi terluka parah. Apa lukamu sudah sembuh? Kamu tidak lagi mengalami luka yang serius kan?"


"Kamu tenang saja Rev, tubuhku ini sangatlah kebal, tadi aku hanya dapat luka tusukan sedikit nanti juga akan sembuh!"balas Richard dengan tersenyum.


"Baiklah kalau gitu, ya sudah kalau gitu kita pulanglah Bibik sudah tenang disana,"ajak Revan.


"Baiklah."


"Maafkan aku jika aku harus memendam ini sendiri. Maafkan aku juga kalau aku tidak memberitahu kalian yang sejujurnya mengenai kondisiku ini, kalian sudah banyak membantuku dalam segala hal dan kini saatnya aku untuk mengatasi masalah ini sendiri,"batin Richard yang secara diam-diam ia pun menatap satu persatu kearah mereka. Selangkah ia akan berjalan, tiba-tiba ia pun merasakan sakit diperutnya, akibat rasa sakit itu ia pun sempat berhenti dari langkahnya.


"Aw...perutku!"


"Richard kamu tidak papa kan? Kamu masih merasakan sakit?"tanya Revan.


"Aku tidak apa-apa, ini hanyalah luka yang kecil, nanti juga akan sembuh kalian jangan cemas!"balas Richard yang mencoba meyakinkan mereka.


"Apa kamu serius kamu baik-baik saja? Wajah kamu sangatlah pucat?"tanya Revan.


"Iya aku serius aku baik-baik saja, jadi kalian jangan cemaskan itu. Ya sudah rasa sakit ini sudah mulai menghilang Sekarang, jadi ayo kita jalan lagi,"ajak Richard.


"Aku harus kuat menahan rasa sakit ini. Aku tidak mau gara-gara aku yang merasakan rasa sakit ini, mereka akan curiga pada kondisiku yang sesungguhnya?"batin Richard dengan sekuat tenaga ia mencoba tetap kuat menahan rasa sakitnya ini.


"Baiklah ayo kita jalan sekarang!"balas Gibran yang kemudian mereka pun melanjutkan lagi perjalanan mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2