
Berada dalam kantin dan memesan beberapa menu makanan. Mereka berempat nampak asyik menikmati semua menu makanan yang barusan mereka pesan tadi, tak lama Verrel yang merasa heran ia pun mengatakan sesuatu.
"Tumben hari ini tidak ada kejahatan yang harus kita selesaikan biasanya satu hari pun kita tidak bisa istirahat lantaran menumpuknya kasus kejahatan yang sudah meraja lela," celetuk Verrel dengan bersanding bersama tiga sahabatnya.
''Biasanya kamu selalu mengeluh kalau ada tugas yang harus kita jalankan kenapa giliran tidak ada kasus kamu malah sewot!" sahut Rasya kemudian.
''Tidak, siapa juga yang sewot?"
''Terus yang barusan kamu katakan tadi?"
''Iya iya aku ngaku," balas Verrel dengan memalingkan pandangannya.
''Hey kalian sudah dengar berita apa tidak?" timpal Gibran kemudian menimpali pembicaraan mereka.
''berita? Berita apa?" tanya Sifa.
"Iya berita apa aku kok tidak tahu apa-apa?" tanya Verrel lagi.
''Astaga aku kira kalian sudah melihatnya. Ini tadi aku kan dengar-dengar dari orang-orang katanya baru aja ada komperensi pers, tapi belum juga acara itu dimulai salah satu seseorang yang berkuasa telah melayangkan misi panas tepat mengenai dada dari seseorang itu!"
"Tunggu maksud kamu dia telah menembak seorang itu banyak kerumunan orang?" timpal Rasya.
"Iya lebih tepat seperti itu," jelas Gibran.
''Aku rasa itu bukan lagi kehilangan akal, tapi seseorang itu memang sudah merencanakannya dari jauh-jauh hari!" timpal Sifa dengan santainya berkata, ketiga pria yang mendengarnya seketika menatapnya.
"Kenapa kalian malah jadi pada menatapku?" tanya Sifa.
''Maksudnya semua ini sudah ia rencanakan?" tanya Verrel
''Iya lebih tepatnya seperti itu. Apa berita ini sudah sampai ditelinga kapten?" tanya Sifa.
''Iya kapten sudah mengetahuinya jadi aku rasa tidak akan lama kita kan mendapatkan tugas ini," timpal Gibran.
''Yah baru juga mau santai-santai sudah ada aja kejahatan lagi," kesal Verrel.
''Apa pelakunya sudah tertangkap?" tanya Rasya.
''Belum, sampai sekarang pelaku belum juga tertangkap, tapi ada kamera cctv yang berhasil menangkap wajah dari penjahat itu jadi aku rasa dia tidak akan lama ia akan segera tertangkap," timpal Gibran.
''Baguslah kalau gitu jadi kita tidak perlu susah-susah untuk menangkapnya," balas Rasya.
Tak lama datanglah seseorang yang menghampiri mereka dan menepuk pundak Rasya.
"Rasya kalian disuruh keruangan Kapten Revan jadi cepatlah kesana," pinta seseorang itu.
"Kan baru juga dibilang Kapten sudah memangil kita," celetuk Rasya.
"Baiklah tunggu apa lagi cepat kita kesana," ajak Rasya dengan merangkul Verrel dan juga Gibran.
"Baiklah ayo.
*
*
*
"Maaf Kapten apa Kapten memangil kita?"tanya Rasya.
"Iya kapten memangil kalian, cepat duduklah," perintahnya kemudian mereka berempat pun duduk saling berhadapan dengan kapten.
"Ada apa kapten kenapa kapten tiba-tiba memangil kita. Apa kapten menyuruh kita untuk menangkap buronan yang sudah jadi incaran polisi itu?"
"Darimana kamu tahu kalau kalian memang kapten tugaskan untuk menangkap buronan itu?" tanya balik Revan.
"Iya kapten soalnya kita sudah dengar kabar penjahat itu," timpal Verrel dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah kalau kalian memang sudah paham dengan permintaan kapten ini jadi kapten tidak perlu menjelaskan akan misi yang harus kalian lakukan nanti. Penjahat ini terkenal dengan kelicikannya karena ia mampu mengelabui banyak orang disaat aksinya ia luncurkan. Bahkan banyaknya orang-orang disana tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menangkapnya. Jadi kalian kapten tugaskan untuk melacak lokasi kejadian itu apa kalian paham!"
"Iya Kapten kita paham!"
"Baiklah hanya itu yang bisa kapten ucapkan, cepat lakukan tugas kalian!"
"Baik Kapten kita akan melakukan tugas kita permisi!"
"Baiklah berhati-hatilah.
Mendatangi salah satu tempat yang diduga menjadi tempat persembunyiannya. Pandangan keempat manusia itu nampak kosong memandang bangunan yang terlihat sangat kumuh, kotor dan tidak berpenghuni.
"Apa kamu yakin ini tempat yang diduga menjadi sarang persembunyiannya?" colek Verrel pada bahu Rasya lantaran terlihat ketakutan.
"Iya ini memang benar tempatnya kenapa? Apa kamu takut untuk masuk?" tanya Rasya mencoba menantangnya.
"Tidak. Siapa juga yang takut ya sudah ayo kita masuk kesana sekarang,"ajaknya terlebih dulu ia pun melangkahkan kakinya memasuki tempat anger ini.
"Apa kamu serius ia ini memang benar tempatnya? Jika memang benar untuk apa pelaku itu bisa bersembunyi disini jika diluar sana masih banyak hotel mau pun villa yang menjadi tempat persembunyiannya?" tanya Gibran.
"Entah aku sendiri juga tidak tahu apa alasan pelaku kenapa dia menjadikan tempat ini sebagai tempat persembunyiannya. Dan aku juga tidak salah dengar, kapten juga tidak salah mendapatkan info jika memang benar inilah tempatnya," jelas Rasya.
"Sudah jangan banyak tanya ayo kita masuk dan ingat selalu berhati-hati dan waspadalah."
"Baiklah.
Memulai menyisir satu persatu ruangan dari tempat kosong ini, mereka tidak menemukan akan adanya jejak yang ditinggalkan penjahat itu jika memang disinilah pelaku melakukan persembunyian.
"Kita sudah hampir menyisir semua tempat ini tapi kita tidak menemukan jejak akan pelaku itu, terus dimana pelaku bersembunyi?"tanya Rasya.
"Tunggu masih ada satu tempat yang belum kita geledah," timpal Sifa dengan jari telunjuknya yang menunjuk pada satu arah yaitu ruangan kosong dengan pintu yang terkunci.
"Ruangan ini masih terkunci apa mungkin pelaku itu bersembunyi didalam sini?"
"Bisa jadi, jadi cepat doprak pintu ini segera," perintahnya pada ketiga temannya.
"Baikal Gibran, Verrel bantu untuk mendobrak pintu ini.
"Baiklah.
Segera masuk dan menodongkan senjata mereka buat jaga-jaga, mereka dikejutkan dengan adanya karpet tipis yang masih tertata rapi diatas lantai, dengan adanya beberapa pakaian laki-laki yang masih berserakan.
"Ini ada karpet dan juga pakaian laki-laki jadi memang benar jika pelaku memang bersembunyi disini, terus sekarang dimana pelaku itu?"
"Kita harus waspada pelaku telah mengetahui niat kita untuk menyergap tempat persembunyiannya. Pelaku juga punya pegangan pistol juga jadi aku sarankan kalian semua selalu waspada dan berhati-hatilah. Sifa cepat kamu berlindung dibelakang-ku!" perintahnya segera Sifa langsung berada dibelakangnya.
Tatapan mereka menjulur keberbagai arah, liriknya tak juga teralihkan, pandangan mereka hanya terfokuskan didepannya lantaran mereka tahu jika mereka sendiri juga sedang diawasi oleh pelaku tersebut.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan apa kita perlu meminta bantuan pada Polisi yang lainnya?" gumam Sifa.
"Akan lebih baik jangan. Karena jujur aku rasa pelaku itu sudah cabut dari tempat ini, jika mereka masih berkeliaran disini harusnya sudah sedari tadi seseorang itu menyerang balik ke-kita tapi apa sekarang? Tidak ada tanda-tanda jika pelaku itu menampakkan diri kan?"
"Jadi maksud kamu kita percuma menyergap tempat ini jika pada akhirnya tempat sudah kosong dan pelaku sudah berhasil melarikan diri?" timpal Verrel.
"Iya aku rasa seperti itu, jadi mendingan kita pergilah karena percuma kita disini kalau orang yang kita cari sudahlah pergi dari tempat ini.
"Baiklah kalah itu memang keputusan-mu ayo cepat kita cabut," ajak Verrel, kemudian ketiganya mulai keluar dari ruangan seram ini.
"Verrel kamu satu mobil sama Gibran biar Sifa sama aku.
"Tapi kenapa? Biasanya kamu selalu sama Gibran?" timpal Verrel.
"Jangan membantah paham!" jelas Rasya.
"Iya ...iya!" balas Verrel segera ia pun masuk kedalam mobilnya.
"Pelaku sudah kabur dari tempat ini terus kemana sekarang perginya pelaku itu?"
__ADS_1
"Entahlah aku rasa pelaku itu sudah mengetahui akan niat kita. Jadi jika nanti malam kita menggerebek tempat itu rasanya semua itu percuma karena aku rasa ia tidak akan pernah kembali biar pun itu salah satu tempat persembunyiannya!" balas Rasya dengan tangannya yang fokus pada laju kendaraannya.
"Iya aku rasa juga begitu," balasnya Sifa yang kemudian ia tidak sengaja memandang Rasya.
"Kenapa kamu menatap-ku dengan tatapan seperti itu?" tanya Rasya.
"Tidak. Aku tidak menatapmu aku hanya melihat pemandangan diluar jendela mobil ini saja," balas Sifa mencoba menyangkalnya.
"Baiklah kalau kamu masih tidak mau mengaku juga," balasnya dengan tersenyum.
Lagi santainya mereka berada dalam satu mobil tanpa ada rasa kepanikan diantara keduanya. Tak lama dering ponsel mulai bergetar dengan keras yang akhirnya pandangan keduanya mulai terfokuskan pada suara dering ponsel tersebut.
"Suara ponselmu berbunyi kenapa kamu tidak menjawabnya?" tanya Rasya akan tetapi Sifa langsung menimpalinya.
"Suara ponselku kamu salah itu bukanlah suara dering ponselku lagi," balas Sifa sesaat pandangan mereka spontan berubah dan menatap satu sama lain.
"Itu suara ponselku!" timpal salah seorang laki-laki yang tiba-tiba memunculkan diri dari belakang tempat duduknya. Mengancam dengan senjata pistolnya yang ia arahkan ke leher Sifa pandangan Rasya mulai panik, sedangkan Sifa yang menjadi sasarannya ia nampak terdiam biar pun dirinya dari kondisi kepanikan.
"Kamu? Sejak kapan kamu berada didalam mobil kita?"
"Cepat jalankan mobil kalian ketempat paling sepi jika kamu tidak ingin aku membunuhnya tepat dihadapan-mu!"
"Rasya cepat jalankan mobilnya!" perintah Sifa, Rasya yang merasa tegang ia pun mulai melajukan laju kendaraannya.
"Eh Rasya sama Sifa kenapa lama sekali nyetirnya apa mereka berniat ingin pergi ke-suatu tempat?" tanya Gibran yang lagi mengendarai mobilnya yang tadinya akan disusul oleh mereka.
"Mungkin mereka mau pergi ke-suatu tempat, jadi biarkan saja mereka," timpal Verrel.
Melakukan kendaraannya menuju ketempat yang lebih sepi dari jangkauan orang-orang mau pun pengguna jalan. Pelaku berhasil membawa Sifa untuk keluar dari dalam mobil. Rasya yang nampak panik takut akan terjadi sesuatu pada Sifa ia hanya mengikuti semua perintah yang diinginkan penjahat tersebut.
''Anda? Anda adalah orang yang selama ini dicari kenapa anda bisa menyelinap masuk kedalam mobil kita. Apa yang ingin anda lakukan apa anda ingin membunuh kita?" tegas Rasya berlalu laki-laki itu langsung mendorong Sifa kearah Rasya.
"Aku tidak ada urusan sama kalian, bisakah kalian memberikan aku makanan kepadaku?" pintanya dengan raut wajah memelas-nya. Rasya mau pun Sifa yang menatapnya mereka berbalik menatap satu sama lain.
"Makanan?" tanya Rasya dengan wajah terkejutnya.
"Aku sangat lapar jadi saya mohon berikan makanan ringan kepadaku," pintanya lagi.
Melihat sikap laki-laki dihadapan mereka bersikap tidak biasa, Rasya menatap kearah Sifa, Sifa yang melihatnya ia mengisyaratkan untuk memberikannya.
"Terima kasih!" balas seseorang itu yang langsung mengigit satu roti itu secara brutal layaknya telah kelaparan setengah mati.
Melihat manusia dihadapannya seperti sedang kehabisan makanan. Sifa tidak tega untuk melihatnya, memberikan dua bungkus lagi kepada seseorang itu, seseorang yang mereka tahu adalah seorang buronan ia menatapnya dengan tatapan melas.
"Kenapa kalian mau memberikan roti kalian kepada-ku? Bukankah tujuan kalian datang kesini bertujuan untuk menangkap-ku?" tanya laki-laki yang berukuran 40 tahunan tersebut.
"Sebelum kami membalas pertanyaan dari anda, apa anda bersedia menjawab pertanyaan dariku? Kenapa anda seperti ini?"
"Maksudnya?"
"Anda adalah seorang buronan yang sudah dicari banyak orang lantaran kasus kejahatan yang sudah anda buat, tapi kenapa sekarang keadaan anda seperti seseorang yang sedang kesusahan. Bahkan saya lihat anda sangat dekil dan kurus apa beberapa hari ini anda belum makan sekali pun?" tanya Sifa dengan wajah penasarannya.
"Aku menjadi buronan baru lima hari sekarang. Dan selama itu aku memang tidak ada asupan makan sama sekali, bahkan tempat tingal aku hanya mampu berteduh didalam rumah kosong yang katanya sangatlah angker. Aku melakukan semua itu bertujuan karena aku ingin menghindari kejaran dari mereka? Dari mereka yang berusaha untuk memfitnahku lebih dalam lagi," timpal laki-laki dengan pandangannya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sifa yang mulai mendekatinya. Laki-laki itu yang ingin menghampirinya, Rasya dengan sigap ia mengangkat tangannya dan menodongkan pistol kearah pria itu.
''Jangan mendekat aku minta jangan pernah mendekat kearah kita jika anda tidak ingin merasakan peluru panas ini!" ancam Rasya dengan tegas.
''Jika anda ingin menembak-ku cepat tembak-lah, biar aku mati dan bisa mati dengan ketenangan sekaligus bisa berkumpul dengan Putri-ku di-surga sana," balas Pria itu kemudian Rasya menimpalinya.
''Membunuh banyak orang dengan cara membantai anda bisa berkata jika anda akan masuk surga apa saya tidak salah dengar?"
''Jika anda bilang saya adalah seorang pembunuh saya tidak akan marah karena itu memanglah benar, tapi aku melakukan semua ini karena dendam akan keadilan yang tidak sepenuhnya berpihak pada rakyat kecil," balasnya.
''Maksud anda apa berkata tentang keadilan, jika anda masih bisa berfikir tenteng keadilan terus kenapa anda tega menembak pria itu?"
''Dendam. Mungkin itulah yang tepat untuk aku ucapkan saat ini."
__ADS_1
''Dendam? Dendam apa yang anda maksud itu?"
BERSAMBUNG.