
Berada dalam meja kerjanya, pandangan Rasya yang sedari tadi nampak sibuk memeriksa beberapa laporan kasus kejahatan. Pandangannya dikejutkan akan hadirnya sesosok Wanita yang tiba-tiba datang dan langsung memegang pundaknya.
"Bella kamu ... Kamu kenapa ada disini bukankah kamu di kantor kepolisian yang lain?"
"Iya Rasya memang beberapa bulan yang lalu aku dipindahkan ke-kantor lain, tapi sekarang aku kembali ditugaskan kesini dan tidak aku sangka aku bertemu kamu lagi disini, gimana kabar kamu apa kamu baik-baik saja aku lihat kamu tidak ada perubahan sama sekali disaat terakhir aku mengenalmu?"
"Mm seperti yang kamu lihat saat ini, aku baik-baik saja, senang bisa bertemu dengan kamu lagi," balas Rasya yang nampak bingung sedikit panik.
"Ada apa Rasya kenapa kamu terlihat gugup seperti itu berhadapan denganku kamu gak lagi ada masalah kan?"tanya Bella.
"Tidak. Tidak ada masalah kok, oh iya aku ada urusan yang harus aku selesaikan jadi gak papa kan kalau aku tingal dulu?"
"Iya gak papa pergilah," balas Bella yang hanya bisa tersenyum.
"Baiklah kalau gitu aku permisi dulu," balas Rasya yang tanpa berkata, ia segera pergi dari pandangan Bella.
"Wanita itu ngapain dia disini, dia yang sudah berani menggoda Rasya dulu apa sekarang dia berniat ingin merebut Rasya lagi dariku, tidak, untuk kali ini aku tidak akan pernah membiarkan dia sampai berhasil," batin Rangga/ Sifa yang memberikan tatapan sinisnya dari jarak kejauhan.
"Memang dulu aku gagal memilikimu tapi aku pastikan kali ini aku tidak akan pernah gagal untuk mendapatkan kamu lagi Rasya," batin Bella yang terus saja tersenyum, tak lama pandangannya dibuat terkejut setelah ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya.
"Maaf aku tidak sengaja maafkan aku," ucap Sifa sembari menundukkan kepalanya.
"Hey kamu itu kalau jalan punya mata gak sih, apa kamu gak lihat aku dari tadi berdiri disini apa kamu buta karena tidak melihatku?" bentak Bella dengan wajah amarahnya.
"Maaf Tante aku kira Tante tidak ada disini tadi, maafkan aku," balas Sifa yang hanya tertunduk.
"Tante? Apa aku gak salah dengar tadi, kamu memanggilku dengan sebutan Tante?"tanya Bella serasa tidak terima.
"Iya Tan maafkan aku, tapi bukankah umur Tante itu memang udah tua diatas 40 tahunan jadi benar akan kalau aku memangil Tante dengan sebutan Tante apa itu salah?"tanya Sifa dengan polosnya.
__ADS_1
"Hey aku ini masih muda dan umurku juga baru 29 tahun bisa-bisanya kamu panggil aku dengan sebutan Tante apa kamu tidak waras?"gertak Bella dengan menjitak kepala Rangga/ Sifa.
"Astaga maafkan aku Tan, aku kira Tante itu umurnya sudah 40 tahunan soalnya Tante itu suka marah-marah terus jadi aku tidak bisa bedakan wajah Tante maafkan aku, maafkan aku!"
"Dasar sudah pergilah aku tidak mau melihat muka kamu lagi pergilah," bentaknya, tak lama Rangga yang mendapatkan perintah untuk pergi, ia pun akhirnya pergi dari pandangan Bella.
"Dasar siapa sih dia berani sekali dia ledekin aku seperti itu, sudahlah yang ada darah tinggi-ku bakal naik kalau ngeladenin Pria gila itu, tapi kenapa aku merasa dia agak aneh ya dari wajah sampai suaranya bahkan wajahnya serasa tidak asing tapi dimana aku melihatnya sudahlah lupakan soal itu masih ada urusan yang lebih penting daripada aku ngurusin Pria tadi," ucap Bella yang akhirnya ia pun pergi dari tempat ia berdiri saat ini.
____________________
" Kenapa aku harus bertemu dengan Bella lagi, dia orang pertama yang sudah bikin aku kehilangan Sifa. Dan dia juga orang pertama yang sudah bikin ke-salah pahaman itu terjadi pada waktu itu gara-gara ke-salah pahaman yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang dia tiba-tiba muncul disaat aku akan dijodohkan dengan Wanita lain aku takut dia merencanakan sesuatu, tapi apa ini hanya perasanku saja?"gumamnya dengan berkata sendiri.
"Hey apa yang kamu pikirkan? Kamu gak lagi gila kan karena berkata sendiri?" ucap Rangga yang tiba-tiba datang dan langsung menyentuh jidatnya.
"Tidak, aku tidak lagi memikirkan apa-apa kok hanya ada satu masalah yang mengganjal pikiranku saja," balas Rasya spontan.
"Kamu tahu Wanita yang bernama Bella? Wanita yang tadi pagi pindah ke-kantor ini?"tanya Rasya.
"Bella ... Oh iya Wanita yang tadi iya aku kenal ada apa? Apa kamu juga mengenal Wanita itu?"
"Gini sebenarnya aku juga dulu pernah bertemu dengan dia, lebih tepatnya kita memang sudah kenal cukup dekat, tapi satu hal yang aku tidak suka darinya iyalah aku tidak suka jika dia seperti sedang mengatur-atur aku layaknya kita ada hubungan spesial gitu. Apalagi dulu disaat ada ke-salah pahaman ku kepada kekasihku dia sama sekali tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi jadi akhirnya aku dan Kekasihku putus tanpa adanya sebab yang pasti jadi kamu mau kan bantuin aku?"
"Ke-salah pahaman jadi pada waktu itu Rasya beneran tidak ada hubungan dengan Wanita itu? Aku yang terlalu posesif dan menuduhnya tanpa sebab yang jelas?"batin Rangga/ Sifa yang malah bengong.
"Hey Rangga aku sedang berbicara denganmu apa kamu masih mendengar-ku?"tanya Rasya yang langsung menjitak jidat Rangga
"I ... Iya aku masih mendengar-mu. Aku hanya berfikir jadi maksud kamu kalian dulu sudah sama-sama saling mengenal?"
"Iya kita memang sudah sama-sama saling mengenal!"
__ADS_1
"Jadi tambah susah dong aku untuk mendapatkannya!" balas Rangga spontan.
"Apa kamu bilang tadi?"tanya Rasya yang akhirnya bisa tersenyum lepas.
"Tidak. Aku tidak berkata apa-apa kok.
"Jangan bohong aku tadi mendengar kamu sedang berkata soal susah untuk mendapatkannya, jadi itu artinya kamu cinta sama Bella ya kan?"tanya Rasya yang mencoba memaksanya untuk mau mengakui.
"Kamu jangan berkata keras-keras malu lagi didengar banyak orang!"
"Astaga jadi benar kamu menyukainya?"
"Iya aku menyukainya apa kamu puas!"
"Iya aku sangat puas, ya sudah gimana kalau aku bantu kamu supaya kamu mendapatkan cinta Bella?"
"Kamu serius?"tanya Rangga.
"Iya aku serius bagiku tidak mudah membantu kamu untuk mendapatkannya, ya mungkin yang susah aku takut kalau dia tidak menyukaimu. Aku hanya bisa membantu-mu sedangkan berhasil apa tidak itu jadi urusan akhir jadi gimana apa kamu setuju?"tanya Rasya.
"Iya aku setuju ada baiknya kita berjuang terlebih dulu, diterima atau tidaknya itu kan sudah jadi hal akhir jadi aku tidak keberatan
"Thanks ya
"Oke sama-sama Bray," balas Rasya dengan menepuk pundaknya.
"Ayo Mak lampir kini saatnya Sifa untuk mengerjai-mu!" batin Sifa dengan tersenyum sinis.
BERSAMBUNG.
__ADS_1