
"Rasya ini beneran kamu sayang? Kamu beneran masih hidup?"
"Iya Ma ini Rasya Putra kesayangan Mama," balas Rasya yang langsung memeluk Mamanya.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih engkau telah mengembalikan Putra kami terima kasih," ucap Mamanya sembari menitihkan air matanya.
"Rasya?" ucap Papanya yang langsung merangkul Putranya.
"Pa, maafkan Rasya jika Rasya harus pakai membunuh untuk mengalahkannya maafkan Rasya?"balas Rasya dengan memeluk Papanya se'erat mungkin.
"Kamu tidak salah Rasya. Apa yang sudah kamu lakukan itu memang benar kamu jangan menyesali apa yang sudah terjadi," balas Papanya dengan memberikan semangat pada Rasya.
"Terima kasih Pa, terima kasih," balas Rasya tak henti-hentinya mau melepaskan pelukannya dari Papanya.
Tok
Tok
Tok
"Maaf menganggu waktunya sebentar," ucap seseorang yang tak lain adalah Revan beserta anak buahnya.
"Rasya kamu pasti sudah tahu apa tujuan kapten datang kesini? Kapten tidak ingin memaksamu tapi keluarga dari Bella meminta kamu untuk segera mempertanggung jawabkan perbuatan kamu, biar pun kamu dalam kondisi tidak sengaja kamu sudah membuat nyawa seseorang melayang jadi maaf jika kapten harus menjemputmu secara terpaksa seperti ini?"
"Tidak apa-apa kapten, kapten hanya menjalankan tugas, sedangkan kesalahaan Rasya memang salah dan Rasya sudah siap mempertanggung jawabkan perbuatan Rasya. Dan sekarang Rasya ingin menyerahkan diri ke Polisi jadi cepat borgol kedua tangan Rasya?"ucap Rasya sembari mengarahkan kedua tangannya pada Revan.
"Aku tidak masalah jika kamu ingin menyerahkan diri kamu, tapi apa kamu lupa siapa aku?"timpal seseorang yang kemudian Sifa datang sembari kursi rodanya yang didorong oleh Silvi.
"Sifa apalagi yang ingin kamu tunggu?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertanya apa kamu menyuruh-ku untuk menunggu untuk lebih lama lagi? Apa kamu mau cincin yang aku kenakan ini akan menunggu status itu hinga beberapa tahun lagi? Apa kamu tidak ingin menikahi-ku sebelum kamu menyerahkan diri kamu ke-polisi?"
"Sifa apa yang kamu katakan kamu sudah tahu kalau aku bakal mendekam dipenjara. Dan pastinya kamu juga tahu berapa lamanya aku akan mendekam disana, jadi dengan cara menikahi-mu aku rasa itu salah satu tindakan yang tidak tepat aku tidak ingin menjalankan hubungan suami-istri dalam jarak jauh apalagi kondisiku masih jelas-jelas masih menjadi seorang tahanan. Aku tidak mau membebankan pikiran kamu hanya karena memikirkan aku aku tidak mau?"
"Terus apa kamu ingin melupakanku?"
"Sebisa mungkin aku tidak akan melupakanmu Sifa, sebisa mungkin aku akan menyimpan perasaan ini dalam-dalam. Pertanyaan-ku apa kamu mampu menyimpan perasaan kamu hanya untukku?"tanya Rasya, tapi Sifa nampak terdiam tidak menunjukkan suaranya.
"Aku tahu balasan dari apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu terdiam maka itu artinya kamu sendiri masih belum yakin jika kamu mampu menyembunyikan perasaan itu. Baiklah tidak apa-apa mungkin perasaan kita memang sudah seharusnya kita hilangkan dan jika kita berjodoh pasti Tuhan akan menjaga kedua hati kita dan pastinya Tuhan akan mempertemukan kita dilain waktu lagi," balas Rasya dengan menundukkan kepalanya serasa berpasrah akan keadaan.
"Baik Kapten cepat bawa aku, Mama ... papa Rasya pergi dulu kak. Kak Rasyel tolong jaga mereka ya?"
"Kamu tenang saja aku akan menjaga mereka, kabari Kakak kalau kamu ada masalah disana," ucap Rasyel dengan merangkul dan memeluknya.
Selangkah Rasya berniat akan pergi, langkahnya yang mulai keluar dari ruangan tiba-tiba langkahnya pun terhenti setelah Sifa yang mengatakan sesuatu.
"Baiklah aku akan selalu mengingat akan perkataan kamu itu, tapi jika diantara kita ada yang tidak datang aku akan menganggap jika hati kita memang tidak lagi bersatu," balas Rasya yang tanpa berkata lagi ia segera pergi sembari dituntut beberapa anak buah Revan.
"Aku akan selalu menunggu Rasya ... Aku akan selalu menunggumu," batin Sifa yang hanya bisa tersenyum, Resya yang melihat ia hanya memberikan pelukan pada Putrinya.
6 Tahun kemudian
Hari berlalu dengan sangat cepat. Awalnya hukuman yang harus dijalani Richard adalah seumur hidup. Kini ia bisa bernafas dengan sangat lega setelah masa hukuman telah diubah. Setelah tertahan hampir 6 tahun lamanya akhirnya Rasya bisa menghirup udara segar setelah ia dinyatakan bebas.
Keluar dari dalam sel dengan membawa ranselnya. Penampilannya nampak-lah berubah, bahkan kumis yang panjang tidak membuat ketampanannya hilang.
"Terima kasih Tuhan. Terima kasih karena engkau telah memberikan kesempatan pada hamba untuk menata kehidupan hamba lebih baik lagi terima kasih.
Senyuman lepas yang dihasilkannya telah membuktikan jika apa yang ia rasakan saat ini sangatlah membahagiakan dirinya.
__ADS_1
Melanjutkan lagi perjalanannya, tempat yang pertama kalinya ia datangi adalah kediaman seseorang yang mungkin selama ini telah menguatkan dirinya.
Tak menunggu waktu yang lama. Akhirnya ia bisa menginjakkan kakinya tepat didepan kediaman Sifa.
Akan tetapi yang membuat Rasya tersentak kaget. Bahkan ransel yang ia bawa tadi seketika terjatuh setelah terdapat-lah janur kuning yang melengkung didepan rumah Sifa.
"Janur kuning? Tidak, ini tidak mungkin. Sifa apa dia hari ini berniat akan menikah dengan Pria lain?" gumamnya yang kemudian datanglah seseorang.
"Iya. Apa yang kamu katakan memang sangatlah benar. Sifa dia ...dia memang akan melangsungkan pernikahan hari ini. Ngomong-ngomong selamat ya atas kebebasan-mu sekarang ini," timpal seseorang yang tak lain adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kulit putih.
"Siapa anda? Apa aku mengenal anda?"tanya Rasya nampak penasaran dengan siapa ia berhadapan sekarang.
"Aku adalah Ronaldo calon Suami yang jodohkan dengan Sifa. Dan Alhamdulillah hubungan kita sudah terjalin selama 3 tahun lamanya kalau boleh tahu anda siapa? Apa anda mengenal Sifa?"tanya Pria itu.
Tak menjawab ucapan yang dilontarkannya. Mata Rasya terlihat berkaca-kaca, tidak berani menatap ia bergegas pergi dari pandangannya tanpa mengucapkan satu kalimat pun pada Pria itu.
Sedangkan Pria itu yang melihatnya ia hanya menunjukkan senyumannya. Berlalu ia pun segera masuk kedalam rumah tersebut.
"Tidak Rasya kamu tidak boleh cengeng bukankah ini yang kamu inginkan sejak dulu. Bukankah kamu sudah ikhlas jika Sifa suatu saat nanti akan menikah dengan Pria lain jadi jangan cengeng?"batinnya yang berusaha tetap tegar.
Air matanya tidak bisa ia bohongi jika ia terlihat sangatlah kecewa dan sedih akan kabar pernikahan ini.
Berjalan dengan adanya lamunan yang menyertai dirinya. Duduk disalah satu kursi taman sembari meminum sebotol air putih. Rasya hanya bisa menatap dan memandangi pemandangan yang indah. Akan tetapi keindahan yang sangat indah ini nyatanya tidak sebanding dengan perasaan kecewa yang ia rasakan saat ini.
Merasa kesal ia berencana akan pergi meninggalkan taman ini. Akan tetapi belum juga ia pergi langkahnya terhenti setelah hadirnya seseorang anak kecil berumur 6 tahun yang bermain bola. Dan tak sengaja bola itu mengarah kearah tepat mengenai kepala Rasya.
"Ais siapa sih yang melempar bola bikin suasana tambah runyam saja!"kesalnya yang langsung mengambil bola itu. Tak lama ank kecil itu mulai menghampirinya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1