
"Kalian? Untuk apa kalian datang kesini apa aku menyuruh kalian untuk kemari?"
"Plak...
"Kamu? Apa yang kamu lakukan kenapa kamu menamparku?"
"Apa kamu masih ingin bertanya padaku? Apa kamu masih ingin aku menjawab pertanyaan yang barusan kamu ucapkan? Sudahlah aku capek dengan semua ini. Selama ini kita hidup dalam berumah tangga apa yang kamu lakukan apa kamu pernah membuatku bahagia, tidak kan? Jadi untuk apa kita harus mempertahankan hubungan seperti ini. Sekarang aku sudah putuskan daripada aku harus menderita dengan cara seperti ini akan lebih baik kita bercerai dan hidup sendiri-sendiri, itu kan yang kamu mau?"Sekejap mata Richard terdiam, melihatnya tak berkutik Resya pun angkat bicara.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak bisa menjawab apa-apa atas perkataan apa yang aku ucapkan sekarang ini? Kamu pengecut Richard! Kamu pengecut! Kamu pengecut karena bisa-bisanya hanya mempermainkan hati seorang wanita kamu sangat pengecut!"
Satu ucapan yang mampu Resya ucapkan setelah itu sesaat pandangan Resya yang mulai pergi dari hadapannya.
"Apa kamu sudah puas sekarang ini kan yang kamu mau?" tegas Revan dengan tatapan tajamnya.
"Aku bilang pergi," usirnya tanpa meliriknya.
"BUK...BUK..
Satu benturan pun tepat mengenai Richard lantaran tak terima Richard berkata seperti tadi. Akhirnya tahan Revan pun dengan sengaja telah membenturkan kepala Richard mengenai tembok yang akhirnya darah pun mengalir dari sudut kanan keningnya. Tak sampai disitu Revan pun dengan beraninya ia langsung mencengkram kemeja Richard dengan menunjukkan tatapan tajam dan amarah yang seketika memuncak.
"Dasar laki-laki bajingan apa yang sebenarnya yang kamu inginkan. Apa kamu sangat menginginkan melihat Resya menderita. Apa kamu sangat menginginkan jika Resya akan mati dengan begitu kamu akan terbebas dan berbahagia dengan wanita lain. Apa itu alasan kamu yang sesungguhnya. Sekarang apa kamu sudah bangga dan bersenang hati lantaran apa yang kamu inginkan akhirnya telah tercapai juga. Apa itu keinginanmu yang sesungguhnya, ayo bangunlah, ayo bangunlah dan tunjukkan jati dirimu ayo bangunlah,"gertak Revan yang henti-hentinya ia memberikan pukulan itu pada Richard.
BUK...BUK...BUK...
"Hay pengecut apa yang sedang merasuki dirimu. Apa yang membuatmu jadi berdiam dan tidak berdaya seperti ini? Ayo lawan aku! Ayo lawan aku! Hayy brengsek ayo lawan kenapa kamu hanya diam. Apa kamu sudah tidak bisa mendengar ku? Apa kamu sudah tuli bangunlah, bangunlah!"bentak Revan yang terus menerus akan tetapi Richard hanya terdiam dan tidak perduli jika dirinya menjadi bahan pukulan Revan.
"Aku tidak perduli jika kamu akan membunuhku saat ini juga aku tidak akan perduli atau pun melawan-mu, tapi aku mohon tolong jaga Resya, tolong jaga dia. Hanya kamulah orang yang bisa membantuku saat ini, tolong jaga dia,"ucap Richard yang seketika membuat pandangan Revan pun beralih fokus kearah Richard. Pukulannya yang secara terhenti.
"Apa maksud kamu, kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu ingin mempermainkan perasaannya lagi?" tanya Revan yang merasa terheran.
"Jika anda inggin aku menjelaskan semuanya tidak ada waktu yang lama bagiku untuk menjelaskan semua itu. Jika anda ingin membunuhku mau pun memasukkan aku ke Penjara, aku mohon beri kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan misi dan rencana yang selama ini telah aku rencanakan jangan buat semua pengorbanan-ku terbesarku lenyap tanpa adanya hasil aku mohon!"
Terkejut dengan perkataan apa yang dikatakan Richard saat ini, hati Revan pun rasanya seketika terbuka. Bahkan yang tadinya ia mencengkram Richard tanpa ampun, kini cengkeraman itu itu perlahan-lahan mulai ia lepaskan sesaat ia melihat tatapan yang Richard berikan kepadanya saat ini.
"Apa kamu bisa berjanji. Apa perkataanmu itu bisa meyakinkanku?" tanya Revan.
__ADS_1
Awalnya yang suasana nampak sangat sedih, kini hanya hitungan menit suasana pun berubah menjadi mencekam setelah Richard yang tiba-tiba berlutut meringis kesakitan, sembari memegang perutnya dengan erat.
Meringis sejadi-jadinya membuat Revan yang sedari tadi berada disampingnya merasa terheran. Berbalik memperdulikannya.
"Richard kamu kenapa. Apa yang kamu rasakan, kenapa kamu sampai meringis kesakitan seperti ini?" tanya Revan yang juga terlihat dengarlah khawatir.
Tak kuasa menahan rasa sakit yang terus-menerus menusuk dirinya. Dalam hitungan menit tubuh Richard yang tadinya tegak berdiri dihadapannya, kini dalam hitungan detik tubuh tegak itu seketika roboh.
"Richard bangunlah, Richard bangun!"
Tidak menunggu lama Revan akhirnya melarikannya ke Rumah sakit. Tak menunggu waktu lama mereka pun telah sampai.
"Dokter gimana keadaan teman saya Dok apa yang terjadi dengannya?"
"Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini terus. Kita harus segera mendapatkan pendonor ginjal yang cocok untuknya?"
"Tunggu dok, Maksud dokter apa! Saya tidak mengerti apa maksud dari omongan dokter barusan? Donor ginjal? Donor ginjal apa maksud Dokter?"
"Jadi anda tidak tau soal penyakit yang diderita oleh Richard, baiklah saya akan memberitahu anda. Teman anda sekarang hidupnya hanya tergantung pada satu ginjal yaitu ginjal kanannya. Akibat luka tusukan yang tak sengaja mengenai ginjalnya, jadi mau tidak mau ia harus rela ginjal kirinya untuk diambil agar tidak mengalami infeksi lebih parah jadi yang perlu kita lakukan kita harus segera mendapatkan pendonor yang cocok agar kondisinya tidak akan lebih buruk nanti."
"Jadi sampai kapan dia akan bisa bertahan jika hanya mengandalkan satu ginjal seperti ini?" tanya Revan dengan putus asa.
"Soal itu kemungkinan tidak akan lama, tapi sebagai seorang teman kamu harus menyemangatinya karena dengan dukungan pasti dia akan bisa melewati semua ini. Dan saran aku segeralah cari pendonor ginjal dalam kurang waktu 1 bulan, jika melebihi batas waktu itu ada kemungkinan dia akan gagal untuk melakukan tranparansi ginjalnya."
"Baik dok terima kasih."
"Ya udah saya tinggal dulu."
"Baik dok."
"Jadi ini alasan kenapa sikap kamu jadi berubah seperti ini kamu melakukan semua ini karena kamu tidak inggin Resya sampai tahu kondisi kamu yang seperti ini. Tapi kenapa kamu harus menyembunyikannya dariku juga kenapa?" batin Revan yang merasa tidak percaya dengan perkataan dokter barusan.
Akhirnya revan pun masuk dan melihat keadaan Richard. Richard yang masih terbaring dengan keadaan yang sangat pucat membuat Revan pun tidak tega melihatnya. Dan setelah tidak sadarkan diri beberapa saat kemudian Richard pun telah sadarkan diri. Setelah sadar dia pun terkejut melihat Revan siaga disampingnya.
"Revan? Kamu ngapain ada disini?" tanya Richard dengan wajah terkejutnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak pernah bilang soal penyakit kamu ini Rich. Kenapa juga kamu harus menyembunyikan semua ini dari aku dan juga Resya kenapa?"
"Apa maksud kamu aku tidak mengerti?"
"Jadi kamu masih tidak mau ngomong sama aku siap kondisi kamu sekarang ini? Kamu masih mau menyembunyikan soal penyakit kamu ini dariku. Apa perlu aku bertanya lagi pada dokter mengenai kondisi kamu sebenarnya?"
"Jadi kamu sudah mengetahui semuanya?"
"Iya aku sudah mengetahui semuanya, sekarang aku juga baru sadar kalau mungkin ini alasan yang membuat kamu jadi berubah jadi kasar kan sama Resya. Karena kamu tidak inggin Resya sampai mengetahui tentang penyakit kamu ini kan? Aku tidak masalah jika kamu tidak inggin memberitahu semua ini pada Resya . Tapi setidaknya kamu harus kasih tau aku karena aku ini sahabat kamu, harusnya kamu tidak usah merahasiakan semua ini dariku!"
"Maaf Rev, mungkin kamu sekarang lagi marah dan kecewa sama aku, tapi aku melakukan semua ini karena aku tidak inggin merepotkan kamu."
"Aku bisa pahami itu. Tapi apa kamu akan terus merahasiakan semua ini dari Resya? Apa kamu akan terus menutupi kondisi kamu yang sebenarnya pada Resya? Dia berhak tau semuanya Rev, dan jika kamu tidak sanggup untuk memberi tahunya aku akan membantu kamu biar aku yang memberitahunya aku akan membawa Resya kesini sekarang juga."
Revan yang berniat inggin pergi, Richard pun langsung menariknya dan melarangnya.
"Jangan. Aku minta sama kamu? Kamu jangan pernah memberitahu soal ini sama Resya karena aku tidak inggin dia mengetahui kondisi ku saat ini!"
"Tapi Kenapa Richard?"
"Karena sekarang aku hanya ingin ia menjauh dariku. Karena semakin dia dekat dengan-ku yang ada aku akan membuat nyawanya melayang. Apalagi dengan kehadiran calon anakku? Aku tidak mau sesuatu buruk terjadi padanya jadi kamu mau kan mengabulkan permintaan-ku ini?"
"Terus jika aku tidak mau!"
"Kalau kamu tidak mau maka itu artinya kamu juga menginginkan sebuah pukulan mendarat tepat di-wajahmu," ancam Richard.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada didalam pikiran kamu? Kamu seorang mafia kamu kan bisa membunuh musuh-mu dan bisa melindunginya dengan tangan kamu sendiri tanpa harus meminta bantuan pada orang lain?"
"Iya aku memang bisa melindunginya tapi tidak dengan sekarang. Sekarang aku lemah akibat ginjal ini. Sedangkan kedua musuhku berhasil kabur dari dalam sel tahanan. Akan sangat beresiko jika aku membiarkan Resya terus bersama diriku jadi kamu paham kan?"
"Apa Erlangga berhasil kabur?"
"Iya!"
BERSAMBUNG.
__ADS_1