
Tak berapa lama kemudian, Verrel dan Rangga yang akhirnya sampai di-kantin dia yang baru aja masuk di pintu kantin, dia dibuat terkejut lantaran Rasya yang juga kebetulan akan keluar dari pintu itu pun tidak sengaja saling bertabrakan, yang akhirnya membuat kedua ponsel mereka pun terjatuh bersamaan.
Karena ponsel mereka yang bermerek sama percis, sekaligus warna yang sama jadi mereka tidak sempat memeriksa kembali ponsel tersebut.
"Astaga kamu itu kalau jalan punya mata gak sih untuk aja ponselku tidak pecah?" ucap Rasya yang kemudian langsung menggambil salah satu ponsel yang tergeletak dilantai.
"Maaf, aku tidak sengaja, lagian kamu siapa suruh main hape sambil jalan!" balasnya yang kemudian dia pun menggambil yang satunya lagi.
"Oh iya aku masih ada urusan jadi kamu makan sarapan dulu sama Verrel, aku dan Gibran sudah sarapan tadi,"ucap Rasya.
"Baiklah itu tidak masalah aku akan makan bersama Verrel nanti," balasnya kemudian Rasya dan Gibran pun cabut terlebih dulu.
"Ingat rahasia mu ada ditangan-ku jadi jangan coba-coba untuk mencari masalah," bisik Verrel pada Sifa.
"Iya ... Iya," balas Sifa dengan wajah kesalnya.
"Baiklah bagus aku pegang omongan kamu itu. Oh iya hari ini aku niatnya mau irit kamu mau kan traktir aku makan gratis!" balas Verrel sambil tersenyum.
"Baiklah pesanlah. Dan terserah kamu mau pesan menu apa biar aku yang akan bayar nanti," balas Sifa dengan wajahnya yang semakin jutek.
"Terima ya ya Rangga kamu itu memang teman terbaikku deh," balas Verrel yang dengan candanya ia mencubit pipi Rangga dengan gemasnya.
"Isttt itu orang penggen banget aku injak-injak, beraninya dia menggancamku seperti itu, kenapa harus dia sih yang tahu identitasku yang sebenarnya, jika sudah seperti ini apa yang harus aku lakukan, aku tahu betul dia itu siapa, jika aku mengingkarinya maka dia pasti akan mengasih tahu semua orang siapa aku sebenarnya.
Hah apa yang harus aku lakukan, ingat Sifa kamu harus tetap tenang ... Tenang ... Dan jangan takut oke, masih ada jalan untuk mengatasi masalah ini, jadi mendingan kamu tetap tenang, ya sudahlah mendingan sekarang aku aku saran dulu daripada mikirin masalah yang membuatku pikiranku hampir pecah kaya gini," batin Sifa yang akhirnya ia menyantap pesanan yang barusan ia pesan tadi.
Belum juga ia selesai makan, tiba-tiba dia ia pun dibuat terkejut setelah dirinya yang mendengar ada suara pesan masuk dalam ponsel yang ada di genggamannya itu. Setelah memeriksanya.
" Lah, ponselku kok jadi jelek gini wallpaper nya, ini kan bukan ponselku?" tanya Sifa dengan terkejut, Verrel yang mengetahuinya ia kemudian mengambil dan melihat balik ponsel itu.
"Apa kamu yakin ini bukanlah ponselmu?"tanya Verrel l.
"Gak tahu nih, aku rasa ponselku telah telah tertukar tadi, tapi dengan milik siapa?" ucap Sifa yang merasa bingung. Dan kemudian dia pun ingat kejadian tabrakannya dengan Rasya tadi.
"Tunggu tapi aku baru sadar bukankah ponsel Rasanya juga sama percis yang seperti kamu punya?" tanya Verrel, seketika raut wajah Sifa seketika berubah panik.
"Astaga ma*i aku! Maaf Ver aku harus segera pergi sekarang, aku ada urusan yang sangat penting dah!" ucap Sifa yang kemudian dia pun berlari sangat kencang.
"Ada apa lagi dengan itu anak, apa benar ponselnya benar-benar tertukar sama milik Rasya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Sedangkan Reza dan temannya yang baru aja sampai di ruang kerja mereka, dia belum menyadari sama sekali akan ponsel yang ia pegang saat ini.
Jam kerja yang belum dimulai membuat para Detektif memutuskan untuk main ponsel terlebih dulu. Rasya yang akhirnya membuka ponsel yang ada digenggamannya itu pun seketika terkejut, lantaran ponsel itu tidak ada password-nya.
"Yah ini kok ponselku tiba-tiba ada password-nya bukankah selama ini aku tidak memiliki password apa-apa pada ponselku?" ucapnya yang berlalu Gibran menimpali pembicaraannya.
"Ya mungkin kamu yang lupa kali memberikan password itu," timpalnya dengan santai.
__ADS_1
"Aku masih ingat betul, kayaknya aku juga tidak lagi pikun aku memang benar tidak memberikan password apa-apa pada ibu ponsel!"
Merasa bingung, Rasya yang mencoba mengutak-atik beberapa kali ponselnya dirinya dibuat terkejut setelah adanya'seseorang yang langsung mengambil ponsel itu secara spontan.
Terkejut dengan kehadiran Putri yang tiba-tiba langsung menggambil ponsel yang ada di genggamannya, spontan Rasya pun dibuat terkejut. Dan kemudian Rasya pun menatap kearah Rangga dengan tatapan misterius.
"Maaf ponsel kita telah tertukar, jadi aku inggin mengambilnya?" ucap Rangga, tapi Rasya terlebih dulu telah menahan ponsel tersebut.
Belum juga Rangga berhasil sepenuhnya menggambil ponselnya dari genggaman tangan Rasya.
"Sejak kapan kamu jadi tidak punya tata krama seperti ini?"
"Maaf tadi aku hanya cemas!" balas Rangga yang mulai khawatir.
"Cemas! Cemas soal apa ini kan hanya ponsel?"tanya Rasya yang mulai mempertanyakannya.
"Sudahlah ini kan hanya masalah sepele jadi kita tidak perlu meributkannya. Ya sudah aku masih mau melanjutkan makan lagi dan ini ponsel mu dah!" ucap Rangga yang tanpa berkata ia segera pergi dari hadapan Rasya.
"Aneh itu anak hanya sebuah ponsel aja paniknya minta ampun. Apa ada sesuatu yang ia sembunyikan dari dalam ponselnya itu?"ucap Gibran yang menggelengkan kepalanya.
"Iya mungkin itu bisa jadi penyebab pertamanya," balas Rasya dengan menahan senyumannya.
RUANGAN KERJA
"Teman-temanmu pada kemana?"
"Apa aku boleh duduk?"pinta Bella.
"Silahkan duduklah," ucap Rasya yang mengijinkannya.
"Oh iya aku perhatikan kalian sangat dekat?" tanya Bella, beralih Rasya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kalian? Siapa aku sama ketiga temanku? Ya jelaslah kita kan sangatlah dekat, kan kita satu regu," balas Rasya secara langsung.
"Tapi menurutku kayaknya kamu harus mulai berhati-hati sama Pria yang bernama Rangga itu. Karena aku merasakan ada keanehan pada diri pria bernama Rangga itu?" ucap Bella, tak lama pandangan Rasya beralih menatapnya dengan tatapan sinis.
"Kenapa dengan Rangga? Aku rasa dia Pria yang normal dan juga baik," balas Rasya mencoba membelanya.
"Iya itu dugaan kamu tapi tidak dengan dugaan-ku, aku rasa dia pria yang aneh bahkan aku curiga dia itu seorang perempuan," ucap Bella yang secara spontan.
"Ada apa dengan kamu? Jika kedatangan kamu hanya ingin menjelekkan dirinya lebih baik kamu pergi saja, jika kamu tidak mau pergi biar aku yang pergi paham!"balas Rasya yang merasa kesal dan langsung meninggalkannya tanpa sepatah kata pun yang ia ucapkan.
Tanpa berkata sepatah kata lagi, Rasya segera pergi dari pandangan Bella. Tak lupa raut wajah kesal yang Rasya tunjukkan Rasya padanya membuat Bella tambah merasa ikut kesal.
"Dasar susah sekali mencoba memberitahu Rasya akan siapa Rangga sebenarnya, tapi kamu tidak boleh kalah Bella dia kesal karena dia tidak tahu yang sejujurnya akan siapa Rangga yang sebenarnya nanti dia juga akan tahu,"gumam Bella dengan senyum sinisnya.
"Dasar Wanita aneh kenapa sih di harus dipindahkan ke Kantor kepolisian ini? Dan kenapa juga aku harus bertemu lagi dengan Wanita gesrek itu lagi dan lagi bikin aku gerah aja," ucapnya sembari berjalan sendiri, tak disangka ocehannya didengar Verrel dan juga Sifa yang lagi berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Hey kamu kenapa ngomel-ngomel sendiri kamu gak lagi kesambet kan?"tanya Verrel yang langsung merangkulnya.
"Tidak. Aku baik-baik saja hanya saja aku dibuat kesal akan ulah si Wanita lampir itu?"balas Rasya dengan kesal.
"Wanita lampir siapa Rasya kok seram gitu kamu ngomongnya," balas Verrel mencoba menggodanya.
"Iya itu si Bella, dia itu Wanita yang aneh bukan, masak dia bilang kalau Rangga itu perempuan yang benar saja," ucap Rasya spontan Sifa yang mendengarnya pun terkejut tidak main.
"Apa Bella tahu akan siapa aku?"batinnya yang merasa panik.
"Tunggu Bella berkata seperti itu?"tanya Verrel yang sesekali pandangannya melirik kearah Rangga/ Sifa.
"Iya aneh kan?"
"Sudahlah Rasya soal Bella kamu tidak perlu cemas kaya gitu, kamu kaya gak tahu siapa dia aja sudahlah jangan pedulikan itu," ucap Verrel mencoba mengalihkannya.
"Iya benar Rasya kamu gak perlu perdulikan siapa dia, dia mungkin berani mengataiku seperti itu karena aku duluan yang lancang menembaknya kemaren, jadi gak salah kalau dia bakal marah dan memberikan respon cepat seperti itu?"balas Rangga.
"Kamu menembaknya kapan?"tanya Rasya.
"Kemaren! Kemaren aku membujuk Rangga untuk berani mengungkapkan perasaannya pada Bella karena aku tidak mau dia akan mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, tapi ternyata dugaan-ku sangatlah benar terjadi kamu yang sabar aja ya Bray mungkin dia bukan jodoh yang Tuhan kirim untukmu," balas Verrel dengan menepuk pundaknya.
"Iya Bro aku juga udah ikhlaskan dia. Aku malah sangat bersyukur dia tidak menerimaku karena aku tahu sifat aslinya dia seperti apa sekarang." balas Rangga.
"Sudah-sudah kalian kok malah jadi curhat sih, ya sudah kita keluar yuk," ajak Rasya.
"Baiklah ayo." Tanpa berkata lagi, mereka pun akhirnya pergi kemeja kerja masing-masing.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
✍️" Sifa aku rasa secepatnya kamu harus mengakui semua rahasia kamu ini termasuk mengatakan yang sejujurnya pada Rasya akan siapa kamu sebenarnya karena aku takut jika dia tahu dari Bella langsung dia akan tambah sangat membenci-mu jadi cepatlah beritahu dia."
Satu pesan yang telah Verrel kirimkan lewat pesan ke-ponsel Sifa. Tak lama pesan itu pun Sifa baca.
✍️" Iya Verrel aku juga punya rencana untuk memberitahu Rasya yang sebenarnya akan siapa aku. Bella sudah tahu siapa aku, jadi itu artinya cepat atau lambat aku rasa dia akan berusaha memberitahu Rasya entah bagaimana itu caranya ," balas Sifa.
✍️" Baguslah kalau kamu memang sudah ada rencana, cepatlah lakukan secepatnya kamu sudah tidak punya banyak waktu sekarang!"
✍️" Iya kamu tenang saja tidak akan lama aku akan memberitahunya," balasnya.
✍️" Baiklah aku tutup dulu,"
✍️" Baiklah.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan bagaimana bisa Bella mengetahui rahasia-ku ini? Rencana-ku gagal total karena adanya orang pengganggu jadi sekarang cepat atau lambat aku harus segera membongkar identitas-ku sendiri jika aku tidak ingin masalah besar tambah semakin menyerang ku!"
BERSAMBUNG.
__ADS_1