
"Anda ini sangat lucu apa yang dikatakan kekasih-ku ini memang benar dan kami tidak pernah berbohong jadi percayalah pada kami.
"Ya sudah kalau kamu memang tidak bohong aku mau kalian berciuman di hadapanku sekarang." Terkejut Sifa mau pun Rasya yang menatap satu sama lain.
"Apa maksud kamu? Jadi kamu menyuruh kita untuk berciuman disini? Ditempat yang banyak pengunjung seperti ini? Yang benar saja mana mungkin ini kan tempat umum. Dan kami masih punya rasa malu jadi maaf kami tidak bisa.
"Iya yang dikatakan dia memang benar mana mungkin kita akan melakukan itu ditempat umum seperti ini.
"Jadi kalian takut? Berarti memang benar kalau kalian ini bukanlah sepasang kekasih kan sungguhan kan? Kalian hanya mempermainkan-ku saja kan?"
"Astaga kau ini susah sekali membuat mu mempercayai pada kami.Oke baiklah aku akan melakukan itu. Dan aku akan mencium kekasihku dihadapan banyak orang ini termasuk tepat dihadapan-mu tapi kamu jangan menggoda kita ya.
"Astaga apa yang akan dia lakukan? Apa dia beneran akan mencium-ku? Jantung-ku kenapa tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang seperti ini?" batin Sifa yang merasa tidak karuan.
Pandangan keduanya tak bisa mereka hindari menatap kearah satu sama lain. Bagaikan berada dalam satu kandang yang dipenuhi dengan adanya raungan singa yang siap menerkamnya membuat mereka tidak bisa lagi berkata mau pun melakukan rencana lagi. Rencana yang sudah mereka jalankan hampir seratus persen jika mereka setitik saja lengah mungkin rencana yang sudah susah payah mereka jalankan akan membuahkan hasil yang sia-sia.
Kedua pandangan yang semakin mendekat jika kedekatan keduanya tingal menghitung jentik jari. Sifa yang tidak tahu lagi harus berbuat apa, tatapan matanya akhirnya ia pejamkan tak ingin merasakan apa yang harusnya ia rasakan.
Satu kecupan tepat mengenai bibir mungil Sifa setelah Rasya yang dengan sengaja atau melakukannya karena terpaksa berhasil memberikan satu kecupan manis tepat mengenai bibir mungil tersebut.
Niat hati tidak ingin merasakan kecupan tersebut. Tapi apa yang ia lakukan nyatanya tidak membuahkan hasil, kecupan yang tepat mengenai bibirnya akhirnya membuat kedua matanya terbuka dengan lebar.
"Astaga apa yg barusan telah aku lakukan? Kenapa aku melakukan itu, tidak itu pasti cuman mimpi, iya itu hanya mimpi," batinnya yang tidak berani menatap Sifa, sedangkan Sifa yang baru saja merasakan kecupan itu pandangannya mulai buyar"
Dari kejauhan Gibran yang sedang berjaga dari kejauhan nampak terkejut tidak main setelah pemandangan apa yang barusan ia lihat barusan.
"Astaga dia beneran melakukan itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Langkah seseorang mulai menginjakkan kakinya dan masuk kedalam mobil. Lantaran terkejut dengan apa yang barusan ia lihat tadi, ia tidak fokus jika Verrel masuk kedalam mobilnya yang akhirnya membuat Gibran terkejut yang kedua kalinya.
"Astaga Verrel kamu ngagetin aku aja sejak kapan kamu datang dan masuk kedalam mobil ini?" tanyanya dengan wajah yang terheran-heran.
"Apa aku harus menjawabnya? Apa kamu tidak punya mata aku barusan saja masuk kedalam sini apa kamu tidak melihatnya?" tanya balik Verrel yang nampak ikut bingung.
"Jadi aku yang tidak konsen maaf, aku lagi banyak pikiran makanya tidak melihatmu tadi maaf ya?"
"Baiklah tidak masalah. Oh iya kenapa kamu detektif? Kenapa wajahmu terlihat memerah ada apa? Astaga perutku kalau aku tau bakal seperti ini baik aku tidak memakan sambal tadi sial banget sih aku ini," ucapnya lagi dengan mengelus perutnya.
*
*
*
__ADS_1
"Akhirnya kalian tiba juga gimana rencana kita apa pelaku berhasil masuk jebakan? Pelaku tidak curiga kan dengan penyamaran kalian ini?" tanya Verrel sesaat Rasya mau pun Sifa yang baru aja masuk kedalam mobil.
"Semuanya berjalan dengan sangat sempurna. Pelaku sama sekali tidak mencurigai kita baiklah cepat jalankan mobilnya," ucap Sifa tapi pandangannya masih fokus menatap kearah bawah.
"Syukurlah kalau gitu aku cukup lega sekarang. Ya sudah tunggu apa lagi cepat jalankan mobil ini sekarang," perintah Verrel, Gibran pun mulai menjalankan lagi laju kendaraannya.
Berada dalam satu mobil yang sama. Akan tetapi dari pandangan Sifa, Rasya mau pun Gibran nampak dingin akan berada dalam kecanggungan.
Verrel yang memperhatikannya, ia akhirnya bertanya langsung pada Rasya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Rasya ...Sifa ... Kalian kenapa? Kenapa aku perhatikan sedari tadi kalian hanya berdiam diri tanpa bersahutan. Bukankah biasanya kalian sering ribut terus setiap kali bertemu? Ada apa?" tanya Verrel yang nampak bingung.
"Tidak, kita tidak apa-apa kok mungkin kamu aja yang punya pikiran seperti itu," balas Sifa dengan pandangannya yang tak berani menatap Rasya begitu juga sebaliknya.
"Sudahlah kalian ini tidak usah seperti ini, yang terjadi ya biarlah terjadi anggap aja apa yang barusan kalian lakukan tadi itu cuma mimpi oke.
"Tunggu memangnya mereka habis melakukan apa? Kenapa aku bisa tidak tau apa-apa kalian bisa menjelaskan semuanya kan padaku termasuk pada kamu kamu juga detektif Reno?"
"Sudahlah jangan membahas soal itu lagi, mendingan sekarang kita cepat pergi dari sini sebelum pelaku itu mencurigai kita.
"Oke baiklah kalau gitu,"
*
*
*
"Kenapa kan rumah kamu masih jauh dari sini, biar sekalian kita antar kamu.
"Tdk usah.ini sudah lumayan dekat kok dari arah Rumah-ku.Yaa sudah aku pulang dulu ya berhati-hatilah kalian.
"Baiklah.
Setelah perginya Sifa, nampak raut wajah Rasya berubah tidak seperti tertekan akan sesuatu hal.
"Lega? Lega gimana maksudnya? Jadi sedari tadi kamu tidak merasa lega jika berada disamping detektif Sifa?" tanya balik Verrel dengan wajah herannya.
"Astaga apa yg kau pikirkan, bukan itu maksud ku, sudahlah jangan bahas soal itu lagi apa kita tidak ada obrolan lain lagi selain soal itu apa? Tapi ngomong-ngomong kenapa sekarang disini sangat panas ya aku jadi gerah gini kamu tidak nyalain Ace nya ayo cepat nyalain sekarang.
"Apa kau sakit detektif Rasya? Kalau kamu memang sakit mendingan sekarang kita ke RS untuk periksa kondisi kamu ini jelas-jelas disini tuh dingin banget kenapa kamu malah jadi gerah sendiri?".
"Iya dia ini aneh sekali muka kamu ini seperti yang barusan kamu katakan, dimana wajahmu sekarang juga memerah, kenapa? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?"
__ADS_1
"Tau'ah cepat jalankan mobilnya sekarang kalau kita hanya berdiam diri seperti ini kapan kita akan sampai di-rumah?"
"Iya ... Iya bawel amat sih kamu ini.
Akhirnya kim pun melajukan mobilnya.sdg junjhihyun ia pun tlh sampai dikediamannya"
"Sayang kamu udah pulang?"
"Iya Ma Sifa baru aja pulang wah kayaknya enak banget nih makan malamnya Sifa boleh makan sekarang kan Ma?"
"Tentu saja boleh lah sayang. Ya sudah kamu mandilah dulu baru setelah itu kamu baru boleh makan ya.
"Ih Mama ini. Makan dulu aja ya Sifa sudah sangat lapar nih.
"Sayang akan lebih nyaman kamu mandi dan bersihkan tubuh kamu dulu. Apa kamu gak bisa mencium aroma tubuh-mu ini bau asam akibat seharian kamu melakukan aktifitas jadi mandi dulu ya?"
"Baiklah kalau gitu Ma Sifa akan mandi dulu, tapi ingat jangan dihabisin ya?"
"Iya sayang kamu tenang saja Mama tidak akan habisin kok, lagian Mama juga baru aja makan tadi. Apalagi Papa kamu juga belum pulang jadi otomatis terserah kamu mau habisin semua ini Mama tidak akan melarang cepat mandilah.
"Baiklah. Mama ini memang Mama Sifa yang paling cantik dan baik. Ya sudah Sifa mandi dulu ya
"Iya sayang berhati-hatilah jangan terburu-buru.
"Iya Ma.
dan sth makan junjhihuun pun membaringkan tubuhnya kekasur.dan dia pun ingin tidur.akan tetapi ia slalu keingat bayang2 kejadian td"
"Kalau gini caranya bagaimana aku bisa tidur kalau selalu ingat akan bayang-bayang kejadian tadi ingat Sifa tidurlah ...tidurlah ...
"Sayang kamu kenapa berteriak ada apa?"
"Mama tidak ada apa-apa kok Ma, tadi Sifa cuma takut aja karena ada kecoa yang tiba-tiba menghampiri Sifa makanya sifa teriak tadi tapi Sifa sudah gak papa kok Ma kecoak-nya sudah pergi kok maaf ya Ma Sifa sudah bikin Mama panik
"Astaga kamu ini bikin Mama kaget aja. Ya udah cepat tidur ya ini udah malam sayang belum lagi besok kamu juga harus memulai aktifitas kamu lagi jadi cepat tidur ya jangan main hp.
"Iya Mamaku sayang Sifa akan tidur kok Mama jangan khawatir ya
"Ya sudah Mama matikan ya lampunya?"
"Baik Ma selamat malam.
BERSAMBUNG.
__ADS_1