Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Pukulan membabi buta


__ADS_3

Tatapannya yang sedari tadi terus berputar ke seluruh arah, sesaat iya melihat gorden jendela berwarna putih yang sangat panjang yang sudah terpasang disela-sela jendela. Seketika ia pun mempunyai ide, dan tanpa berfikir lagi dengan langkah cepat lan sigap. Richard pun menarik gorden tersebut, alhasil gorden itu pun seketika terputus dari pengikatnya yang hanya mengisahkan kain panjang tersebut.


Mengikat kembali ujung Gorden dengan melilitkan-nya ke lingkaran tubuhnya, ditambah lagi mengikatnya kembali disalah satu pembatas pagar anak tangga, Richard pun lantas terjun dari ketinggian dua meter dan meluncur kelantai bawah, para musuh yang tak bisa berkutik melihat lawannya berhasil lolos dari cengkraman mereka.


Richard yang berhasil terjun dan mendarat tepat disaat para penjahat yang hendak inggin memukulnya, pukulan demi pukulan pun tepat mereka dapat sesaat Richard yang meluncurkan dengan beberapa pukulan yang tepat mengarah kearah mereka.


Terjun kebawah, membasmi satu persatu musuh, Gibran dan juga rekannya kesusahan melawan para penjahat dengan tangan kosong, melihat musuh yang berdatangan secara terus-menerus terlihat ketiganya mulai kalah. Bahkan wajah mereka yang kelihatan sudah sangat kelelahan dengan nafas yang tidak beraturan membuat mereka bertiga bingung dengan cara apa lagi mereka bisa terbebas dari amukan sang Singa jantan tersebut.


" Aku sudah sangat kelelahan, aku sudah tidak mampu lagi melawan mereka, mereka sangatlah kuat!" ucap Richard dengan nafasnya yang tidak beraturan, sesaat Gibran pun menimpali pembicaraannya.


"Mereka sangatlah kuat, terus sekarang apa yang harus kita lakukan, jika kita terus berdiam disini yang ada kita sama aja menyerahkan nyawa kita sendiri ke mereka!" gumam Richard yang mulai kebingungan. Sesaat Richard mulai merasakan rasa sakit bagian tangan kanannya.


"Aw!"batinnya.


Tak tahan dengan rasa sakit yang ia tahan sedari tadi, akhirnya ia pun mengambil jarum suntik yang sudah ia siapkan dari rumah, ia mulai menyuntikkan sesuatu pada lengan kanannya.

__ADS_1


Rasa sakit yang sudah tidak bisa ditahan lagi, dengan berbarengan rasa perih yang semakin menjadi membuat wajah Richard seketika berubah memerah. Rasa inggin sekali menjerit tapi ia tahan, karena sebagai seorang Mafia hal seperti ini memang sudah sangat sering ia lalui.


"Tuan? Sudah siapkah?"tanya Gibran dengan lirikan matanya.


"Kamu sendiri?"ucapnya tanpa melirik.


Sama-sama berlari sekuat tenaganya Richard beserta anak buahnya akhirnya berhasil menghindari serangan amukan para musuh, berhasil keluar dari halaman rumah bergegas Richard mengaitkan se-balok kayu pada gagang depan pintu untuk agar bisa menahan para penjahat agar tidak berhasil keluar dari dalam ruangan.


Selangkah Richard berhasil keluar dari dalam rumah itu. Akan tetapi sesampainya mereka dihalaman Rumah, Richard pun dibuat terkejut lantaran masih ada dua penjahat yang ternyata masih berjaga dihalaman sana.


"Apa kamu sudah punya rencana?" bisik anak buah Erlangga dengan senyum licik kearah satu sama lain.


"Bagiku banyak ide yang lagi bertebaran untuk melawannya. Hay pengecut sinilah bukan ayo lawan kita,"tantang penjahat dengan langsung ia ancang-ancang'an menendang Richard hinga tersungkur.


"Dasar bedebah rasakan ini!"

__ADS_1


Sedangkan pelaku yang satunya lagi berniat ingin menusuk Richard. dia pun langsung menyerang pelaku dan menendang tangan pelaku yang tadinya membawa senjata tajam. Akibat tendangan itu, pisau yang dipegang pelaku pun terlepas dari genggamannya sendiri.


Pelaku yang berniat akan mengambil pisau tersebut. Richard dengan sigap ia pun terlebih dulu menendang pisau itu mengunakan kakinya dan pisau itu pun mengarah jauh dari arah penjahat.


Pelaku yang berusaha untuk melawan. Richard pun langsung memukulnya dan mengakibatkan pelaku pun tersungkur jatuh ketanah.


Tanpa berfikir lagi, Richard pun langsung menjatuhkan diri ketanah, akibat tindihan tak terduga itu pelaku pun tak berdaya dan mereka pun melakukan pergulatan yang mengakibatkan pelaku pun kalah.


Dengan tangan kosong, Richard akhirnya melepaskan sabuknya sebagai bahan cadangan untuk mengikat tangan kedua pelaku.


"Cepat katakan dimana istriku ayo cepat katakan," gertaknya dengan mencengkram rahang salah satu pelaku hinga berdarah.


"Istrimu ada di-ruangan bawah tanah!"


"Terima kasih," balasnya kemudian mendorong pelaku hinga tersungkur kebelakang.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2