Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
MENGANCAM


__ADS_3

Tanggal: 30 Agu 2022


Subjek: 2


"Aku tidak tahu sudah berapa hari aku dikurung Bella dalam ruangan bawah tanah seperti ini. Jika aku tidak segera melarikan diri aku tahu betul Bella pasti akan terus saja menahanku tanpa memberiku kesempatan untuk bebas, tapi jika aku hanya berdiam diri apa yang akan terjadi selanjutnya apa aku akan terus saja terduduk tidak berdaya seperti ini?"batinnya yang merasa risau.


Tak lama suara langkah kaki seseorang mulai menampakan dirinya. Kaki mulus dengan balutan sepatu hak tinggi terlihat mulai menghampirinya. Gadis berparas cantik, berpakaian modis serba hitam mulai menghampiri langkah dimana Rasya terikat saat ini.


Berada tepat dihadapan Rasya, Wanita itu nampak tersenyum sinis sembari membelai wajah tampan yang dimiliki Rasya. Rasya berusaha menghalang-halangi niat Wanita itu untuk membelai wajahnya tapi semua itu sia-sia karena kedua kaki dan tangan Rasya yang terikat dengan rantai besi tak bisa membantu dirinya untuk berbuat banyak.


"Sampai kapan kamu akan terus-menerus menyembunyikan ku seperti ini sampai kapan?"tegas Rasya dengan raut wajah emosinya, Bella yang mendengar bentakan itu ia hanya tampak tersenyum sinis.


"Rasya ... Rasya masih dalam kondisi tidak berdaya pun kamu masih berani membantahku. Apa kamu sadar dimana kamu berada sekarang? Kamu itu sudah berada digenggaman ku jadi beribu kali pun kamu berusaha untuk meminta dibebaskan semua itu akan percuma karena aku tidak akan pernah melakukannya. Kamu itu hanya milikku jadi selain aku! Aku pastikan tidak akan seseorang lain lagi yang berhak untuk mendapatkan-mu apa kamu mengerti!"ucap Bella.


"Biadab, mungkin kata itu yang tepat untuk aku ucapkan ke kamu, kamu itu Wanita biadab egois yang hanya memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan ini sangatlah salah, dengan cara menculik seorang laki-laki hanya untuk memilikinya itu salah satu tindakan yang sangat salah apa kamu mengerti!"tegas Rasya.


"Sudahlah terserah kamu, kamu mau bilang apa tapi apa kamu sadar jujur aku sangat suka melihatmu dalam keadaan tidak berdaya seperti ini. Karena apa? Karena aku bisa melihatmu lebih puas dan pastinya aku bisa membelaimu sesuka hatiku apa kamu mengerti!" Membelai dengan pelan dada kekar yang dimiliki Rasya, Bella nampak menikmatinya sedangkan Rasya nampak risi dengan apa yang dilakukan Bella saat ini.


"Saat ini kamu bisa sesuka hati memainkan apa yang kamu mau, tapi lihat saja tidak akan lama aku pastikan kamu akan mendekam didalam sel tahanan atas tindakan tak terpuji ini.


"Rasya ... Rasya ... Kamu itu sangat percaya diri kalau kamu itu bisa terbebas dari genggamanku karena aku pastikan semua itu tidak akan pernah terjadi. Pertama semua orang termasuk keluarga dan teman-teman kamu sudah mengira kalau kamu itu sudah meningal dalam tragedi kecelakaan itu jadi mana mungkin kamu akan bisa terbebas pada kondisimu yang seperti ini. Sudahlah kamu itu jangan mencoba untuk melarikan diri karena seberusaha apa kamu berusaha untuk melarikan diri semua itu akan sangat percuma karena yang ada kamu akan terluka dengan sendiri, ya sudah aku masih ada urusan dan aku ingin melihat seperti apa wajah Sifa sekarang apa dia masih menangisi kepergian kamu atau malah sebaliknya?"


"Baiklah aku tidak masalah jika kamu tidak mau memakannya itu juga tidak merugikan ku. Oh iya tapi kalau seumpama kamu melihat Wanita yang kamu cintai terluka kira-kira gimana ya reaksi kamu nanti?"


"Aku masih terima kamu perlakukan aku layaknya hewan seperti ini, tapi jika aku tahu kamu merencanakan sesuatu untuk melukai Sifa maka taruhannya aku sendiri yang tidak akan segan-segan untuk memberimu perhitungan apa kamu paham!"


"Terus apa kamu pikir aku akan takut gitu dengan ancaman kamu itu? Rasya ... Rasya aku itu tidak akan pernah takut yang namanya ancaman, tapi sekarang aku seperti sedang terbuka hatiku untuk melepaskan-mu. Aku putuskan aku tidak akan pernah mencelakai Sifa asalkan kamu mau menikah denganku apa kamu bersedia? Aku pastikan jika kamu mau menikahi denganku aku tidak akan pernah ada niat untuk melukai Wanita yang kamu sukai itu ya itu kalau kamu bersedia.


"Sekarang gantian apa aku harus percaya sama tipuan-mu itu? Ingat Sifa itu bukanlah Gadis yang mudah ditaklukkan jadi aku rasa jika kamu berniat ingin melukainya aku rasa kamu akan gagal karena dia tidak akan pernah masuk dalam jebakan kamu apa kamu paham!"


"Baiklah jika kamu tidak percaya aku bisa membuktikan ucapan-ku ini? Siang ini aku akan membuat kamu percaya dengan semua yang aku katakan apa kamu paham!"ucapnya segera Bella pun pergi dari hadapan Rasya.


"Tidak Rasya kamu harus percaya kalau Sifa pasti'tidak akan dengan mudahnya masuk jebakan ia kamu harus percaya.


______________________________


"Sudah dua hari Rasya dinyatakan meninggal tapi kenapa sampai sekarang aku masih belum percaya kalau Rasya sudah meninggal. Dan kenapa sampai detik ini filing sangatku sangat kuat jika Rasya sedang membutuhkan bantuan ku," batin Sifa yang terus terdiam dalam lamunannya, tak lama seseorang datang dengan menawarkan satu buah minuman pada Sifa, terkejut Sifa pun beralih menatap pandangan seseorang itu.


"Bella?"


"Apa aku boleh duduk disebelah kamu?"tanya Bella yang menawarkan dirinya.

__ADS_1


"Baiklah duduk aja," balas Sifa dengan raut wajahnya yang terlihat memendam sesuatu.


"Kini saatnya aku untuk berpura-pura baik padanya," batin Sifa sembari meminum minuman yang barusan diberikan Bella tadi.


"Apa kamu masih memikirkannya?"tanya Bella tanpa menatap kearah Sifa.


"Maksud kamu?"tanya balik Sifa.


"Ya aku perhatikan kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aku tahu mungkin kehilangan seseorang bukanlah salah satu hal yang mudah, tapi kamu harus percaya perginya seseorang bukan cara untuk menjerumuskan diri kedalam penderitaan. Dia akan terus bersedih, jika disini kamu masih memikirkannya," ucap Bella.


"Apa sangat kelihatan jika aku masih memikirkannya?"tanya Sifa.


"Jika kamu tidak kelihatan masih memikirkannya. Dan perkataan yang aku ucapkan adalah sebuah kebohongan kamu bisa bertanya pada seluruh detektif disini apa aku bohong atau tidak! Ya sudah aku masih ada urusan. Aku juga tahu aslinya kedatanganku kesini hanya bikin kamu kesal kan jadi aku pergi saja, tapi ingatlah disini masih membutuhkan detektif yang semangatnya sepertimu jadi jangan bikin hanya gara-gara soal asmara kamu melimpahkan rasa kecewamu pada detektif yang lain ya sudah aku pergi dulu," ucapnya segera ia pun pergi dari hadapan Sifa.


"Apa maksud dia berkata seperti itu? Apa dia bermaksud ingin memberi semangat atau malah sebaliknya? Tapi kenapa aku lihat tidak ada rasa curiga yang ia tunjukkan?"gumamnya yang merasa bingung sendiri.


Dengan melanjutkan perjalanannya menyisir anak jalan, Sifa yang dalam keadaan bingung dan putus asa, dia pun sampai tidak fokus dimana pada saat Sifa yang hendak akan menyebrang ke seberang jalan, terdapat-lah sebuah mobil yang melaju kearahnya dengan kecepatan agak sedang.


Sifa maupun pengendara mobil yang sama-sama terkejut, mereka pun akhirnya sama-sama berteriak keras. Sifa yang terkejut dia pun akhirnya terjatuh, sedangkan pengendara mobil yang dengan sigap dia pun langsung mengeremnya. Dan untung saja tidak terjadi hal yang tidak mereka inginkan.


Pengendara mobil yang menyadari jika dirinya hampir saja menabrak seseorang, mereka pun lantas bergegas keluar dan mengecek keadaan seseorang itu.


Akan tetapi sesampainya ia keluar, bukan perkataan baik yang terima Sifa melainkan.


"Maaf Buk, tapi disini bukan hanya saya yang salah. Aku akui saya lalai karena tidak melihat arah kanan mau pun kiri, tapi Ibu sendiri juga salah karena mengendarai mobil dengan cara teledor jadi mana mungkin Ibu bisa menghakimi saya seperti itu!"


"Anda itu sudah salah tapi masih aja bisa membantah ya? Kamu itu rasakan ini!"


Satu tamparan hampir saja mengenai pipi kanan Sifa, akan tetapi seseorang yang pada saat itu sedang melihat tindakan Wanita itu, dia pun spontan langsung mencengkram tangan Wanita kasar itu yang hampir saja mau menampar Sifa. Seorang Wanita yang bernama Bella itu pun spontan menghempaskan tangan sambil memperingatkan sesuatu kepadanya.


"Jika sampai anda berani menyakiti dia, maka jangan salahkan aku kalau aku bakal memberi perhitungan ke anda, apa anda sadar dengan siapa anda berhadapan saat ini?" gertaknya yang langsung menghempaskan tangan Wanita itu dengan sangat kasar.


"Siapa anda? Kenapa anda berani sekali mengancam-ku seperti itu?"


"Harusnya saya yang tanya apa anda sadar dengan siapa anda berhadapan saat ini? Kami adalah seorang Detektif. Dan Wanita itu adalah Putri dari seorang Pria yang cukup berkuasa jika anda berani membantah kasus ini saya saja luruskan kejalur hukum jika anda bersedia apa anda paham! Pergilah!"gertaknya kemudian Wanita itu pun pergi dengan wajah kesalnya.


"Bella kamu kenapa masih mau menolongku dan mau menghadapi Wanita seperti itu?"


"Sifa kamu itu sebenarnya lagi kenapa sih! Kamu itu seorang Detektif harusnya kamu ancam dia supaya Ibu itu tidak berani menghakimi-mu seperti tadi,"


"Aku tidak bisa mengancam dia hanya sebatas seratus yang aku miliki saat ini, sudahlah jangan hiraukan.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita pergi aku akan mengantarmu pulang," ajak Bella yang langsung menarik tangan Sifa agar masuk kedalam mobilnya.


BERADA DALAM MOBIL.


"kenapa kamu memandangku seperti itu? Kamu gak lagi berpikiran aneh kan mengenai diriku ini?"


"Jujur, sebenarnya aku agak penasaran akan siapa dirimu. Aku juga dengar kalau kamu itu menyukai Rasya apa itu benar?"


"Kamu tahu darimana soal kabar kalau aku menyukai Rasya?"


"Ya dengar dari anak-anak yang lain, mereka pernah membicarakan soal ini dulu.


"Astaga aku jadi malu sekarang, padahal perasaan yang aku miliki pada Rasya itu terbilang sudah lama tapi kenapa harus terbongkar sekarang ini sih, kan pasti pikiran orang-orang pada berfikir yang tidak-tidak.


"Sudahlah soal itu kamu jangan anggap serius, lagian aku sekarang percaya kalau kamu berbeda dari sifat yang aku pikirkan. Aku berfikir kamu termasuk Wanita yang penutup atau bisa dibilang kamu termasuk orang yang suka penyendiri dan pemarah!"


"Memang kalau orang melihatku mereka akan berfikir kalau aku adalah Wanita yang pendiam dan sulit untuk diajak berteman, tapi sebenarnya semua itu berubah dari rasa trauma yang aku miliki sejak SMA," balas Bella dengan menundukkan kepalanya.


"Rasa trauma? Memangnya kamu punya trauma apa?"tanya Sifa dengan wajah penasarannya.


"Sejak sedari kecil hidupku sangat menyedihkan. Aku diasuh oleh Mama tiri-ku sejak usia 8 tahun setelah Mamaku yang meninggal dunia di usiaku masih berumur 8 tahun. Aku rasa hidupku akan sama setelah diasuh hanya dengan tingal Papa kandungku, tapi semua itu berubah ketika Papaku memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang Wanita. Kemudian beberapa bulan Papaku meningal akhirnya aku diasuh oleh Mama tiri-ku tapi semua kebahagiaan rasanya sudah hampir redup. Belum lagi aku selalu dikucilkan di Sekolah lantaran sifat dan penampilan yang terlihat kampungan. Untuk melanjutkan hidup dan pendidikan-ku aku terpaksa kerja ditempat karaoke aku tahu kerjakan itu sangat tidak dianjurkan tapi jika aku tidak melakukannya aku tidak tahu apa aku masih bisa bertahan sampai sekarang. Hinga akhirnya aku berhasil menempuh pendidikan sampai kuliah dan memulai pekerjaan dari awal menjadi seorang Detektif. Pertama kali aku menyukai Rasya? Karena dia Pria yang cukup perhatian dan baik yang sudah dengan baik hati mau membimbing-ku setiap kali menjalankan tugas. Dan maaf kalau waktu itu aku sempat membuat hubungan kalian redup gara-gara ke-salah pahaman itu maafkan aku?"


"Jadi seperti itu rupanya. Aku tidak akan menyangka kisah hidup kamu akan strategis itu, terus sekarang Mama tiri-mu apa tahu keberadaan kamu?"


"Alhamdulillah aku sudah beberapa bulan ini tidak ikut tingal dengannya jadi aku sudah aman darinya, tapi yang aku takutkan aku takut jika suatu saat ini aku ketemu lagi dan dia memerintahkan untuk kembali menjadi Wanita penghibur di karaoke," balasnya.


"Kamu tenang saja Bel, setiap waktu kamu butuh bantuan ku cerita-lah karena aku akan siap untuk menolong-mu," balas Sifa dengan menepuk pundak Bella.


"Apa kamu serius mau menolongku?"


"Iya aku serius mau menolong-mu. Maafkan aku jika selama ini aku sudah berprasangka buruk sama kamu maafkan aku,"


"Kamu tidak perlu minta maaf kamu tidak salah kok," balasnya dengan tersenyum.


"Apa aku boleh memelukmu?"tanya Sifa.


"Silahkan," balas Bella yang akhirnya Sifa memeluknya dengan wajah penuh penyesalannya.


"Aku tidak tahu apa ucapan yang kamu katakan ini memang jujur atau tidak Bella, tapi kenapa aku merasa kamu memang jujur mengatakannya," batin Sifa.


"Sesuai rencana, ternyata menjebak dia tidak terlalu sulit untuk dilakukan," Batin Bella dengan tersenyum sinis.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2