Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
Gagal ngerjain


__ADS_3

"Kamu? Kenapa kamu mengendong-ku seperti tadi apa kamu gak malu banyak orang yang lihat tadi.


"Terus kenapa kalau banyak orang yang lihat. Apa mereka berani menegur-ku? Tidak kan, jadi sudahlah.


"Sekarang kita sudah sampai di kamar VVIP ini, berhubung kita hanya kebagian satu kamar kamu pilih tidur dimana kamu?"


"Apa aku harus menjawabnya juga. Kan aku seorang wanita jadi harusnya kamu juga ngerti dan peka terhadap seorang wanita.


"Tunggu? Perasaan dari tadi aku itu tanya baik-baik sama kamu tapi kenapa kamu malah ngegas terus ya?"


"Dah-lah terserah. Ini udah malam jadi aku ingin tidur. Dan kamu? Sebagai seorang laki-laki jantan dan perkasa kamu harus tidur di-sofa itu tanpa ada penolakan apa kamu mengerti?"


"Disini aku yang jadi atasannya tapi kenapa malah dia yang jadi sok penguasa disini?" gumamnya yang merasa bingung sendiri.


Seakan-akan tak perduli dengan perkataan dan ocehan yang barusan diucapkan oleh Resya. Richard yang dengan langsung, ia mengambil satu buah bantal dan berlalu ia merebahkan tubuhnya bersandingan dengan Resya saat ini. Terkejut Resya segera bangkit dan tak segan-segan memarahiku tanpa henti.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah tidur disini, bukankah tadi aku memerintahkan-mu untuk tidur di-sofa apa kamu tidak dengar atau memang pura-pura tidak dengar?"


"Aku ngantuk jadi jangan ganggu aku. Dan disini aku yang jadi atasannya jadi kalau kamu keberatan kamu boleh tidur di-sofa menganti-ku aku tidak masalah kok.


"Kamu? ist dah-lah malas malam-malam ribut sama baiklah biar aku yang tidur di-sofa.


"Eh tunggu?"


"Ada apa?"


"Baiklah kalau kamu ingin tidur disini tidurlah karena aku baru ingat kalau ada proposal yang belum aku kerjakan. Jadi sebagai gantinya cepat pergi ke dapur dan buatkan aku kopi,"perintah Richard yang membuat pandangan Resya beralih menatapnya.

__ADS_1


"Apa kamu memerintahkan-ku?"tanyanya dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kenapa apa kamu tidak terima? Apa kamu keberatan dengan perintah-ku ini?" tanya Richard.


"Baiklah aku akan buatkan. Dan aku doakan semoga kamu tidak bisa tidur sampai besok puas," gertaknya tanpa berkata ia segera pergi dari hadapan Richard yang sedari tadi hanya menertawakannya.


"Gila itu orang makin lama di baikkin malah makin ngelunjak aja, mentang-mentang bos dia seenaknya aja asal nyuruh orang, untung aja dia itu suami-ku coba aja kalau tidak sudah aku pukul dari tadi, tapi kayaknya itu orang harus dikasih pelajaran tapi apa? batinnya sembari memikirkan sesuatu yang kemudian pandangannya pun teralihkan pada suara arah.


Melihat sebuah benda berisi bubuk putih yang tak lain adalah garam, Resya pun tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan tersenyum sinis melihat benda itu ia pun mengambilnya.


Sesaat kemudian Resya pun akhirnya kembali keruangan kerjanya tak lupa ia sambil membawa secangkir kopi beserta cangkirnya, berlalu ia pun menarohnya disamping Richard berada.


"Ini Tuan kopinya silahkan diminum oh iya pak sekalian saya hanya inggin mengasih tau, jika bapak inggin meminumnya akan lebih baik jika bapak meminum sambil melihat saya karena aku rasa itu akan bikin kopi yang sedang bapak santap akan tambah merasa manis," godanya yang seketika membuat Richard beralih menatap dirinya dengan tatapan bingung


"Melihat wajah kamu? Untuk apa aku harus melihat wajah kamu? sambung Richard yang berlalu mengabaikannya tanpa ada lirikan mata yang ia berikan pada Resya.


Menyadari Richard yang bangkit dari tempat duduknya dengan segera Richard pun menghalanginya.


"Tuan. Apa yang ingin Tuan lakukan?


"Memangnya kenapa dan apa urusan anda? kemana pun aku akan pergi itu kan hak ku sendiri, sedangkan kamu? Kamu hanyalah sekretaris apa kamu mengerti?" tegas Richard yang tanpa berlalu akan pergi dari hadapan Resya.


"Maaf Tuan, tadi Tuan kan menyuruhku untuk membuatkan kopi tapi tuan seenaknya aja asal mau pergi jadi aku tidak mengijinkannya jadi jika Tuan ingin pergi habiskan kopi itu terlebih dulu barulah aku akan mengijinkan Tuan untuk pergi kemana pun Tuan mau,"


"Apa kamu sedang memerintahkan ku? Ingatlah aku tahu kenapa kamu bersikeras melarang ku seperti ini. Dan dugaan ku pastinya kamu memberikan sesuatu kan pada kopi itu makanya kamu bertindak aneh seperti sekarang ini,"


"Bagaimana dia bisa tahu kalau aku mencampurkan garam pada kopinya ini? batinnya yang terlihat takut dengan pandangannya yang tidak berani menatapnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam. Apa kamu sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin kamu takut karena rencana kamu telah tercium sekarang?


"Ti ...tidak aku tidak takut dan siapa yang bilang kalau di kopi ini ada racun atau pun hal yang tuan pikirkan, baiklah jika kamu tidak percaya biar aku yang meminumnya. Dan jika dalam waktu 5 menit aku meninggal maka itu artinya ucapan mu memanglah benar. Akan tetapi jika ucapan mu sama sekali tidak benar maka." belum juga selesai berkata tiba-tiba Resya pun merasa bingung mau berkata apa lagi.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu sedang kehabisan kata-kata sekarang?" timpalnya yang kemudian membuat Resya pun berkata.


"Baiklah aku akan meminumnya karena mungkin dengan cara seperti inilah kamu bisa percaya kalau aku memang tidak pernah ada niat untuk melakukan hal yang tidak mungkin aku lakukan.


Dengan beberapa tegukan Resya akhirnya mulai menghabiskan kopi yang barusan ia berikan pada Richard. Niat hati ingin mengerjainya tapi apa yang ia dapat, ia malah mendapatkan karma atas perbuatan yang telah ia lakukan sendiri.


Dan jika pada umumnya kopi akan berada pahit atau pun manis, berbeda dengan apa yang telah dirasa Resya saat ini. Meminum kopi dengan perpaduan rasa antara pedas, pahit dan asin telah membuat ekpresi wajah Resya tidak bisa lagi terhindari.


Melihat raut wajah Resya yang tiba-tiba berubah mengerut seperti menahan sesuatu. Richard yang melihatnya hanya bisa tertawa malu.


"Apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Apa kamu mulai merasakan sesuatu?" tanya Richard yang terlihat meledeknya.


"Tidak, siapa yang bilang? balasnya.


"Baiklah setelah aku melihat kamu meminum kopi ini dan tidak ada reaksi apa-apa. Dan kamu juga masih kokoh berdiri tepat dihadapan-ku jadi itu artinya ucapan kamu memanglah benar, baguslah kalau gitu sekarang kamu sudah bisa mengijinkan ku untuk pergi kan?


"Iya aku mengijinkan mu untuk pergi, jadi cepat pergilah sekalian jangan balik lagi," balasnya yang membuat langkah Richard terhenti.


"Apa kamu bilang?" tanya Richard dengan wajah terkejutnya.


"Tidak tuan," balas Resya yang langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2