Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
SEASON TIGA, BAB 231 ( AWAL MULA )


__ADS_3

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN


"Kemana sih Rasya sekarang kenapa dia belakangan ini sering susah sekali dihubungi bahkan dia tidak seperti Rasya yang aku kenal dulu. Sudahlah lebih baik aku telfon dia sekarang.


Segera Sifa mengambil benda pipih, menekan salah satu nomor yang tertera pada layar ponselnya. Tak lama sambungan yang ia nanti mulai tersambung pada ponselnya.


📞" Sifa ada apa kenapa kamu tiba-tiba menghubungiku?"tanya balik Rasya.


"Maaf Rasya aku menganggu waktu-mu sebentar. Aku hanya ingin tanya kamu lagi ada dimana sekarang? Apa kamu lagi kerja? Apa kamu lagi sakit kenapa kamu sangat sulit dihubungi?"balas Sifa yang nampak khawatir.


"Maaf Sifa aku masih punya tugas banyak sekarang. Dan pastinya aku juga lagi sibuk banget sampai-sampai susah untuk memberi-mu kabar. Dan maafkan aku kalau aku sering mengabaikan chat kamu ya sudah aku tutup ya telfonnya,"balasnya segera Rasya langsung menutup sambungan telfonnya tanpa menunggu Sifa yang belum juga membalas ucapannya.


"Rasya bisa-bisanya kamu mengabaikan aku seperti ini. Jika kamu sangat sibuk apa sepantasnya kamu menutup telfon tanpa menunggu balasan dariku. Kamu? Kamu memang sudah sangat berubah Rasya kamu sudah sangat berubah.


Dalam perjalanan Sifa yang akan hendak akan balik pulang ke-Rumah. Akan tetapi dalam perjalanan yang tanpa Sifa sengaja dia tidak sengaja melihat Rasya dan juga seorang Wanita yang sedang asyik makan bersama disalah satu Restoran yang tempatnya tak jauh dari lokasi ia berdiri sekarang.


Karena merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Rasya dan juga Wanita itu disana, bergegas Sifa pun menghampiri mereka.


"Rasya, sedang apa dia disana? Dan siapa Wanita itu apa yang mereka lakukan disana?" apa mereka sedang makan bersama, lebih baik aku temui mereka saja!" ucapnya yang kemudian tanpa memikirkan apa-apa lagi, Sifa pun menghampiri mereka.


"Rasya kamu mau aku suapin ini sangat enak lo?" pinta Wanita itu yang tak lain adalah Nadia dengan menyodorkan sesendok nasi goreng untuk dia suapan ke Rasya.


"Baiklah itu kayaknya juga sangat enak!" balasnya yang kemudian dia pun melahap sesendok nasi goreng yang diberikan Nadia barusan.


"Gimana enak kan?"


"Iya sangat enak?" balasnya yang kemudian Nadia pun membersihkan nasi yang masih tertinggal didekat bibir Rasya.


"Ganteng-ganteng kok belepotan sih?" goda Nadia sembari membersihkannya.


"Rasya? Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Sifa yang kemudian membuat Rasya dan juga Nadia pun spontan terkejut dengan kehadiran Sifa yang secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Pu ...Putri? kamu sedang apa disini?" tanya Rasya dengan muka sangat terkejut.


"Ada apa ini siapa wanita cantik ini?Apa jangan-jangan wanita cantik ini adalah kekasih gelap kamu makanya sifat kamu secepat ini berubah terhadap-ku?"


"Sifa aku ...bisa jelaskan kamu jangan berperi sangka buruk dulu, aku dan juga Nadia tidak melakukan apa-apa kita hanya makan malam bersama dan tidak lebih dari itu!" ucap Rasya dengan sangat gugup.


"Apa lagi yang ingin kamu jelaskan Rasya. Bukankah dengan kamu berbohong pada-ku yang bilang kalau kamu masih sangat sibuk padahal sesungguhnya apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu malah makan enak-enak disini, tapi kamu berbohong jika kamu masih sangat sibuk. Apa ini yang kamu bilang tentang kesibukan yang sesungguhnya?"


"Sifa aku mohon aku bisa menjelaskan semuanya sama kamu? Nadia ini cuma teman aku. Dia teman sewaktu aku masih SMA jadi harusnya kamu paham dan mengerti akan posisi-ku ini hubungan kita ini tidak lebih jadi aku mohon percayalah sama aku.


"Baiklah jika kamu hanya menganggap dia hanya sebatas teman, tapi kamu menganggap dia sebagai teman spesial kamu dan lebih memilih mengabaikan-ku baiklah mendingan kita akhiri hubungan kita ini. Untuk apa kita harus memiliki hubungan jika pada akhirnya diantara kita tidak pernah ada kejujuran mau pun kepekaan jadi sudahlah kita sudahi saja hubungan kita ini.


"Kamu? Jadi kamu dengan mudahnya menyudahi hubungan kita ini baiklah kalau itu yang kamu mau kita sudahi saja hubungan ini. Ayo Nadia kita pergi.


Setelah Sifa akhirnya mengetahui penghianatan yang dilakukan Rasya dan juga Nadia kepada dirinya. Membuat hati Sifa sangat hancur berkeping-keping, sedangkan Rasya entah apa yang membuatnya sehingga tidak berjuang mempertahankan hubungan yang sudah setengah tahun ia perjuangkan.


"Kenapa kamu sangat tega melakukan semua ini sama aku Rasya kenapa?"


"Kenapa akhir-akhir ini aku sering mual setiap kali menghirup aroma bau masakan. Dan ini sama percis seperti yang aku alami beberapa tahun yang lalu ketika mengandung Sifa dan Silvi. Apa jangan-jangan aku sedang mengandung?" gumamnya sembari mengelus perutnya yang masih rata.


Rasa gugup sekaligus was-was seketika menyertai dalam pikirannya. Setelah beberapa menit rasa gugup dan penasaran muncul dalam bayang-bayang pikirannya tak lama rasa lega mulai ia tunjukkan setelah perlahan-lahan Resya mengambil benda yang tadi masih dalam celupan cairan itu.


Dan jawaban yang sedari tadi ia nantikan kini dalam hitungan detik jawaban itu mulai nampak terlihat. Terkejut, bahkan sampai membekap mulutnya sendiri tak percaya jika apa yang ia lihat saat ini beneran nyatanya.


"Positif hamil ."


Iya tanda garis merah dua tertera pada testpack yang ia bawa saat ini. Raut wajahnya seketika berubah memancarkan aura kebahagiaan. Rasa syukur tak henti-hentinya ia panjatkan setelah menyadari jika dalam perutnya terdapat-lah sesosok janin yang telah dititipkan oleh Tuhan yang maha kuasa.


"Terima kasih Tuhan, terima kasih engkau telah memberikan karunia ini pada kita terima kasih. Richard pasti akan sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini aku harus menelfon-nya.


Mengambil ponsel yang berada diatas nakas, sedetik Resya ingin menekan nomor yang tertera pada layar ponselnya tiba-tiba niatnya terhenti setelah ia mendapatkan ide yang tiba-tiba muncul dalam benaknya.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak boleh memberitahu Richard secepat ini, ini kabar yang sangat membahagiakan jadi aku kasih kejutan ke dia ia itu lebih bagus lagi.


Ting tong ....


Suara bel alarm berbunyi yang menandakan jika hadirlah seseorang yang mulai memasuki kediaman mewah ini. Dan seseorang itu ternyata yang tak lain adalah Richard sendiri.


Setelah melakukan aktivitasnya sepanjang hari, nampak Richard sudah kelelahan dan hanya bisa merebahkan tubuhnya diatas sofa.


"Sayang kamu sudah pulang?" tanya Resya, berlalu pandangan Richard beralih menatapnya.


"Kamu darimana aja sayang. Apa kamu tidak mau menyambut pulangnya Suami kesayangan kamu ini?" balasnya yang terlihat kesal.


"Astaga kamu itu mudah sekali sih cemberut seperti itu. Aku tadi habis memanaskan makan malam jadi maaf ya kalau aku tidak menyambut kehadiran kamu tadi?" balasnya dengan senyumannya yang terlihat sangat berbinar-binar. Richard yang melihatnya ia berlalu bangkit dari tempat rebahan-nya dan menatap Istrinya dengan tatapan penasaran.


"Sayang kamu kenapa? Kenapa aku lihat kamu kayaknya lagi bahagia banget hari ini, kamu gak lagi menyembunyikan sesuatu kan dari aku?" tanyanya dengan manja.


"M... sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu, tapi kamu sudah terlebih dulu membuat-ku kesal jadi aku putuskan tidak jadi untuk memberitahu-mu!" balasnya dengan pura-pura memalingkan pandangannya dari Richard.


"Hey ...apa yang barusan kamu bilang. Kenapa malah aku yang membuat-mu kesal, bukankah harusnya aku yang kesal lantaran kamu tidak menyambut-ku. Tapi ya sudahlah maaf kalau aku udah bikin kamu kesal. Baiklah sebagai permintaan maaf aku apa yang kamu inginkan apa kamu ingin menghukum-ku biar kamu mau memaafkan-ku?" bujuk Richard dengan godaannya.


"Jadi kamu mau menerima hukuman dariku?" tanya Resya dengan memanyunkan bibirnya.


"Iya aku mau!" balas Richard yang tak kalah mencoba menantangnya.


"Baiklah berhubung sekarang aku lagi bahagia banget, jadi aku urungkan niat kamu untuk menghukum-mu tidur luar. Tapi sebagai gantinya aku bisa satu permintaan dan aku mau kamu mau mengabulkan permintaan aku ini!"


"Permintaan? Permintaan apa?" tanya balik Richard.


"Ini!" balasnya dengan menyentuh bibirnya sendiri.


"Maksud kamu?" balas Richard.

__ADS_1


"Ih kamu itu gak peka banget sih," balasnya hanya bisa memanyunkan bibirnya sembari memalingkan pandangannya dari Richard. Richard yang melihatnya ia berlalu menatapnya dan tak lupa memberikan satu kecupan pada bibir mungil tersebut. Resya yang terkejut ia hanya bisa tersenyum malu dibuatnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2