
"Berdua dalam satu kamar. Itu artinya malam ini aku akan tidur seranjang dengannya. Astaga apa yang harus aku lakukan sekarang, aku lihat di YouTube banyak Mafia yang mencari-cari kesempatan didalam kesempitan seperti ini. Jika dia sampai...astaga aku gak bisa bayangin apa yang akan terjadi malam nanti. Jika dia melakukan lebih dari itu, atau mungkin dia berusaha inggin membunuhku gimana apalagi setelah dia yang waktu menembak ku aku rasa dia sangat membenciku.
Mendengar langkah suara seseorang yang ternyata adalah Richard yang baru aja selesai melakukan ritual mandinya. Tatapan Resya pun seketika terfokuskan pada laki-laki yang berada di hadapannya yang hanya menggenakan sehelai handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya. Dan hanya menyisakan te*anjang dadanya.
"Apa yang kamu lihat. Apa kamu sedang memperhatikan badanku yang bertelanjang seperti ini. Cepat mandilah!"
Tanpa mengucapkan sepatah kata padanya, Resya akhirnya bergegas berjalan menuju ke kamar kecil. Akan tetapi sesampainya ia disana rasa terkejutnya tambah menjadi sesaat ia melihat kamar mandi yang pengiring temboknya hanya terbuat dari kaca tanpa adanya tembok yang menutupinya.
"Apa ini serius. Kamar mandi ini tidak ada penghalang temboknya. Ini gak boleh terjadi!"gumamnya yang kemudian ia pun kembali ketempat semula.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu kembali apa kamu tidak inggin mandi?"
"Dari pada tubuh polos ku harus jadi bahan tontonanmu nanti, mendingan untuk malam ini aku gak mandi!"ucapnya yang seketika membuat Richard pun menatapnya dengan tatapan heran.
"Terserah lagian aku juga gak akan tidur satu ranjang denganmu jadi aku aman karena tidak akan mencium aroma tubuhmu nanti."
"Baiklah. Bahkan walaupun sudah berada satu kamar yang sama, ia bahkan tidak sudi jika harus tidur satu ranjang denganku?"batinnya yang menundukkan kepalanya kebawah.
__ADS_1
" Buanglah wajah memelas mu itu di hadapanku. Karena percuma aja kalau pun kamu menunjukkannya kepadaku. Aku juga gak akan pernah memperdulikan mu!"sentak Richard yang kemudian ia pun menggambil sebuah selimut putih yang kemudian ia menghampiri Sofa putih yang akan jadi tempat untuk tidurnya sementara.
Tanpa memperdulikan perasaan yang dirasakan Resya yang menjadi Istrinya saat ini. Richard pun memejamkan matanya yang kemudian ia pun mencoba untuk tertidur.
Tanpa memikirkan mau pun memasukkan ke hati, Resya akhirnya merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan memalingkan wajahnya kearah kanan dan membelakangi Richard yang sedang tertidur. Mencoba untuk kuat dan bertahan walau pun hatinya sedang rapuh dan air matanya yang secara diam-diam telah mengalir dari kedua sudut matanya.
"Kamu pasti kuat Resya...kamu pasti kuat." Batinnya yang menggenggam selimut dengan sangat erat.
Lagi dan lagi hari ini tidak akan pernah menjadi hari seceria seperti hari yang sebelumnya. Jika dulunya ada seseorang yang selalu memberikan semangat kepadanya, mungkin mulai saat ini semangat yang selalu ditunjukkan seseorang itu hanya akan jadi kenangan yang mungkin akan sangat sulit untuk dia lupakan.
Dan aroma parfum yang melekat pada tubuh pria itu mungkin hanya akan bisa ia sentuh dan cium lewat dalam mimpinya. Karena pada kenyataanya mempunyai seorang Suami tidak akan sepenuhnya membuat ia merasakan kebahagiaan yang ada yang ia rasakan hanyalah penderitaan dan air mata yang tidak bisa terhenti- hentinya meneteskan air matanya.
Melihat Resya yang masih tertidur pulas. Richard pun sengaja menyiramnya mengunakan segelas air yang berada diatas nakas yang tepat mengenai wajah Resya. Karena terkejut Resya pun seketika bangun.
"Ada gunanya juga air itu untuk membangunkan mu."
"Apa yang kamu lakukan kenapa kamu menyiram-ku mengunakan air seperti ini. Jika kamu inggin membangunkan ku kamu kan bisa menyentuh tubuhku dan membangunkan ku dengan pelan."
__ADS_1
"Berani kamu menasehati ku seperti itu. Mau aku siram , mau pun pakai cara pukul dan kasar sekalipun itu kan hak aku jadi terserah aku mau pakai cara. Kamu itu hanyalah istri kedua jadi jangan berharap aku akan memperlakukan kamu layaknya seorang Istri karena itu gak akan mungkin pernah terjadi apa kamu mengerti!"tegasnya dengan mencengkram dagu Resya. Yang kemudian ia melepaskannya dengan kasar.
"Kamu mau kemana? Kenapa kamu sudah rapi seperti itu apa kita akan keluar dari sini?"
"Apa? Kita?" tanya Richard dengan ketawa secara sinisnya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Resya.
"Sudahlah gak ada gunanya aku ngeladenin wanita sepertimu aku mau pergi. Jangan ikuti aku!"
"Apa yang kamu lakukan. Apa kamu akan mengunciku didalam kamar ini? Apa kamu akan menyekap ku?" tanyanya dengan menunjukkan tatapan tegangnya.
"Jika kamu sudah tahu kenapa pake acara tanya segala. Sudahlah jangan banyak berkata!"ucap Richard yang kemudian ia pun mendorong tubuh Resya sampai tersungkur diatas kasur. Dan bergegas ia pun menguncinya dari luar.
"Richard buka pintunya. Richard buka, kamu gak bisa mengurungku didalam sini seperti ini. Buka pintunya!"teriak Resya tapi tidak dihiraukan oleh Richard.
"Teriak lah sekeras mungkin karena tidak akan ada orang yang akan mendengarnya?". Ucapnya dengan menunjukkan senyum sinisnya. Dan kemudian Richard pun pergi dari hadapan pintu Hotel ini.
__ADS_1
"Percuma kalau pun aku berteriak sekeras mungkin tidak akan ada orang yang akan berani membuka pintu ini. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"gumamnya yang kemudian ia pun terduduk dilantai dengan memeluk kedua lututnya.
BERSAMBUNG.