
Di salah tempat yang sangat ramai dan biasa dikunjungi oleh banyak orang, terdapat lah tiga pria bertubuh kekar berjalan bersandingan dengan memasukkan tangan mereka masing-masing kedalam sakunya membuat mereka terlihat sangat tampan dan gagah, yang kemudian mereka memasuki salah satu tempat tersebut.
Berjalan menuju bagian administrasi, mereka pun lantas bertanya pada salah satu seorang penjaga disana.
"Maaf Sus, tujuan kita datang kesini kita inggin bertanya pada Suster, pasien atas nama Resya aninditya korban dari tembakan kemaren itu berada di kamar mana ya?" tanya Revan sanjaya yang tak lain adalah seorang Polisi.
"Tunggu pak, saya akan mencarinya terlebih dulu," balas sang Suster.
"Baiklah, saya tunggu!" balas Revan kemudian.
"Maaf kayaknya anda salah tempat, disini tidak ada pasien atas nama Resya aninditya maupun pasien korban tembakan yang kalian sebutkan tadi?"
"Salah tempat, Suster lucu bagaimana mungkin kita bisa salah kita masih mengingatnya, bahkan sampai sekarang, karena kita sendiri yang membawa pasien itu sendiri ke Rumah sakit ini?" timpal Rio.
"Maaf bukannya maksud saya untuk membantah kalian, tapi memang pada kenyataannya pasien yang anda maksud tidak ada di Rumah sakit ini. Jika kalian tidak percaya kalian bisa memeriksanya sendiri ini datanya," sahut sang Suster yang kemudian ia pun menunjukkan sebuah laptop pada mereka. Karena merasa penasaran mereka lantas memeriksanya.
"Iya memang didalam data ini benar tidak ada data yang cocok dengan pasien atas nama Resya, tapi bagaimana mungkin itu terjadi kita kan dapat identitas pasien itu lewat ponselnya ini. Bahkan sampai sekarang ponsel dari pasien itu masih ada pada kita," ujar Rio.
"Iya, kita sendiri yang membawanya, apa mungkin dia melarikan diri?" timpal Revan dengan sedikit bingung.
"Tunggu, kalian tadi membicarakan pasien misterius yang berada dikamar 57 itu?" tanya salah satu seseorang yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Pasien misterius, maksud Suster?" tanya balik Revan.
"Iya beberapa hari yang lalu saya sempat dibuat bingung lantaran pasien yang saya jaga di kamar nomer 57 yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Bahkan bukan hanya pasiennya saja yang menghilang tapi data diri dari pasien itu sendiri juga ikut menghilang termasuk rekaman cctv pada tanggal pasien itu dirawat di Rumah sakit ini," ucap sang Suster yang ikut membuat mereka jadi semakin bingung.
"Menghilang, menghilang gimana apa ada seseorang yang menculik pasien itu?" tanya Revan.
"Soal itu saya kurang paham pak, karena kejadiannya terjadi dengan sangat cepat."
"Ini bukan kasus penculikan, tapi lebih tepatnya ada seseorang yang meretas data diri pasien itu. Dan menghapus data diri supaya tidak ada jejak yang tertinggal. Dan jangan berfikir kalau apa yang kalian pikirkan sekarang sama seperti yang aku pikirkan saat ini!" timpal Revan yang menatap kearah Rio.
"Tayger lee, apa mungkin kelompok Mafia itu pelaku dari dalang semua ini, kasus peretasan, penghapusan data diri dan juga penyamaran bukannya ini kasus yang sama yang kita selidiki dulu dimana tanpa sepengetahuan kita mereka membobol masuk kedalam kantor polisi dan menghapus semua data diri pelaku yang menjadi buronan yang atas nama Richard si mafia itu?"
"Iya kasusnya memangnya sama tapi dia sudah membuktikan pada kita dengan memberikan petunjuk kalau dia tidaklah salah dan bukan dia juga pelaku pembunuhan sadis itu, dan Black blaker lah pelaku aslinya Jadi akan lebih baik kita lupakan perkara itu, tapi yang bikin aku sedikit heran jika dia memang orang yang menculik pasien itu apa motif utamanya kenapa mereka menculik pasien itu?" ujar Revan dengan penasaran.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan mereka inggin membunuh pasien itu.
"Itu tidak mungkin memang Tayger lee terkenal jahat dan kejam tapi sejahat-jahatnya dia, dia akan menyelidiki terlebih dulu siapa latar belakang dari seseorang yang sedang mereka sekap itu.
"Iya yang kamu katakan memang benar Rev, jadi sekarang apa yang harus kita lakukan, apa kita akan mencari wanita itu?" tanya Rio.
"Akan lebih baik kita jangan mencarinya. Apalagi ini menyangkut geng Tayger lee aku tidak mau gara-gara masalah ini, kita akan kena imbas dan berhadapan dengan mereka.
"Baiklah Rev, jika itu memang keputusan kamu, apa kita boleh buat mendingan sekarang kita tuntaskan kasus yang lain. Karena kita masih banyak tugas yang belum kita tuntaskan."
"Baiklah kalau gitu kita pergi sekarang."
"Baiklah."
"Ya sudah makasih atas infonya ya Sus, kabari kita jika sewaktu-waktu di Rumah sakit ini ada pasien yang sama dengan ada yang difoto ini ya?"
"Baiklah Pak, kita akan kabari lagi jika sewaktu-waktu pasien itu ada di Rumah sakit ini."
"Ya sudah kita pamit dulu."
"Baiklah."
"Tidak nyonya untuk urusan belanja biasanya kan saya yang melakukannya, jadi biar saya aja yang pergi ke Pasar.
"Bik, bibik ini cuma asisten rumah tangga rumah ini jadi bibik jangan coba-coba di mengatur saya, saya nyonya paling tua di Rumah ini jadi terserah saya kalau saya menyuruh dia pergi ke pasar jadi lebih baik sekarang bibik cepat pergi ke dapur karena banyak tugas yang belum bibik kerjakan.
"Sudah Bik saya gak papa kok, mana catatan belanjaan yang perlu saya beli nanti?"
"Ini, dan ingat jangan coba-coba untuk kabur atau pun menggambil keuntungan uang ini apa kamu mengerti."
"Baik nyonya sama mengerti."
"Baiklah cepat pergi dan ini upah buat ongkos kamu naik kendaraan, karena saya tidak mengijinkan pak supir untuk mengantar kamu," ujar Mama Sandra
"Baik nyonya," blas Resya.
__ADS_1
Aku tidak pernah tahu kenapa hidupku harus menderita dengan cara seperti ini, dulu pada saat aku masih tinggal bersama Mama tiri ku, dia juga bersikap sangat kasar dan jahat sama aku .
Dan kenapa sekarang pada saat aku sudah menikah kenapa aku harus mengalami penderitaan yang sama seperti ini lagi yaitu orang -orang yang sama sekali tidak menghargai ku dan juga tidak mengerti kondisiku yang sangat menyedihkan ini.
Apa aku memang sangatlah tidak pantas untuk bisa merasakan apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya .
Air mata Resya yang akhirnya tak bisa dia bendung lagi, karena menurutnya apa yang dikatakan orang-orang di Rumah ini benar-benar sudah sangat menyakiti hatinya.
Inggin sekali dia berteriak dan mengeluarkan semua amarahnya tapi dia juga ingat apa kata almarhum ibunya sewaktu masih hidup dulu, semarah apapun kamu..kamu tidak bisa mengeluarkan emosi kamu dengan melakukan tindakan berteriak atau pun mengucapkan kata yang tidak seharusnya dia katakan.
Karena jika itu sampai terjadi dia bukan akan meredakan amarah lawan melainkan mengadu amarah satu sama lain.
"Iya yang dikatakan Mama memang benar, jika aku melawan mereka, mereka malah akan membuat dia tambah semakin marah dan dendam terhadapku. Dan aku akan menunjukkan kelemahan ku nanti Jadi yang harus aku lakukan saat ini, aku harus gunakan dengan kepala dingin untuk mengatasinya."
Karena hanya itu cara satu-satunya untuk melawannya, apalagi selama ini aku gak pernah diajarkan oleh Mama untuk membantah atau pun melawan orang yang lebih tua dariku.
Jika nanti sikap Mama mertua semakin menjadi..barulah aku bertindak. Ingat Putri kamu bukan tipe orang yang mudah putus asa dan gampang untuk menyerah..jadi ingatlah masih ada tuhan yang akan menjaga dan melindungi kamu," ucap Resya yang kemudian membuat dirinya merasa lebih tenang.
Berjalan menuju ke halaman Rumah dan menunggu pesan online yang barusan ia pesan tadi, tak lama mobil hitam yang ia pesan pun datang juga.
"Apa ini atas nama pak Roland?" tanya Resya.
"Iya benar saya, dengan mbak Resya," balas seseorang itu.
"Iya Pak."
"Ya sudah mari masuklah," perintah seseorang itu.
Dan tak mau menunggu lebih lama, Resya pun akhirnya memasuki mobil avanza berwarna hitam tersebut. Setelah menjalankan laju kendaraannya tiba-tiba dari belakang kursi penumpang muncullah seorang pria yang wajahnya sengaja ditutupi dengan kain masker berwarna hitam.
Resya yang akhirnya menyadari lewat cermin depan Mobil tersebut, ia yang baru aja hendak akan berteriak seseorang itu dengan sigap langsung membungkam mulut Resya dengan kain yang sudah dikasih obat bius. Tak menunggu lama obat bius itu pun akhirnya mulai merasuk, Resya yang mencoba memberontak kesadarannya seketika mulai menghilang hingga tidak membutuhkan waktu lebih lama Resya akhirnya jatuh pingsan.
"Misi kita sudah selesai jadi sekarang tinggal kita bawa wanita ini ke Markas Tuan Alex!. Perintah seorang bermasker tersebut.
"Baiklah," balas sang supir gadungan tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG.