Penjara Cinta Mafia Kejam

Penjara Cinta Mafia Kejam
AMARAH RASYA


__ADS_3

"Rasya akhirnya kamu pulang juga, duduklah sayang!"pinta Mamanya Rasya, beralih Rasya pun duduk disamping Mamanya.


"Ada apa Ma kenapa Mama menyuruh Rasya untuk duduk?"tanya Rasya yang masih terlihat bingung.


"Gini sayang Mama perhatikan belakangan ini kamu terlihat sangat murung. Dan Mama dengar-dengar juga katanya kamu baru aja diputusin sama Sifa apa itu benar?"tanya Mamanya.


"Iya Ma yang Mama katakan memang benar. Aku memang sudah putus sama Sifa, tapi sudahlah lupakan masalah itu Rasya tidak ingin membahasnya lagi ya sudah Rasya tingal masuk kedalam dulu ya." Belum juga Rasya melangkahkan dari tempatnya, Mamanya terlebih dulu menarik dan menyuruh Rasya untuk duduk kembali.


"Tunggu sayang Mama belum selesai ngomong ada hal lain lagi yang ingin Mama katakan. Dan ini menyangkut soal hubungan percintaan dan masa depan kamu nanti, Mama dan Papa sudah memutuskan kalau kita bersedia ingin menjodohkan kamu dengan seseorang dari anak teman Papa jadi kamu gak keberatan kan sayang?"


"Dijodohkan apa itu tidak terlalu berlebihan Ma, Rasya sudah dewasa dan Rasya bisa mencari calon buat Rasya sendiri jadi Rasya kira Rasya tidak butuh perjodohan yang Mama maksud tadi!"


"Sayang Mama tahu kamu masih sangat susah untuk melupakan Sifa, tapi ini juga menyangkut soal bisnis yang dijalankan Papa dan Mama, kami terpaksa menjodohkan kalian demi kelangsungan nama baik keluarga kita dan berjalannya rencana kerja sama kita jadi kamu gak masalah kan sayang.


"Mama dan Papa selama ini sudah terlalu baik sama aku. Apalagi Mama, biar pun dia bukanlah Mama kandung-ku dia mengangapku sudah seperti Putra kandungnya sendiri jadi mana mungkin aku bisa egois memikirkan diriku sendiri. Dan mungkin ini saatnya bagiku untuk membalaskan balas Budi yang selama ini dilakukan Mama,"batin Rasya yang terus saja menatap Mamanya dengan tatapan memelas.


"Sayang gimana apa kamu keberatan kalau kamu keberatan Mama tidak akan memaksa kamu lagi.


"Iya Rasya mau Ma, mungkin dengan cara inilah Rasya bisa melupakan Sifa," balas Rasya dengan spontan.


"Apa kamu serius sayang kamu gak lagi merasa terpojok kan?"tanya Mamanya.


"Tidak kok Ma, Rasya serius ingin melakukan semua ini, mungkin adanya Wanita pengganti Sifa, Rasya bisa melupakannya dengan mudah.


"Baiklah sayang kalau gitu,


"Ya sudah Rasya masuk kedalam kamar ya Ma.


"Iya sayang.


2


"Ingat hari ini pertama bagimu menjalankan tugas bersama kita, jadi ingat tetap waspada dan jangan sampai kamu mengecewakan kita apa kamu mengerti!"tegas Rasya.


"Iya Rasya aku mengerti!"balas Rangga yang hanya mampu menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Menjalankan laju kendaraannya menuju ke-lokasi terjadinya kasus hari ini. Dalam perjalanannya yang nampak sangat ramai akibat adanya kendaraan yang melajukan laju kendaraannya berlalu lalang, Rangga yang pada saat itu dapat tugas untuk mengendarai, ia tak sengaja hampir menabrak penguna jalan lantaran pengendara lain yang asal terobos menerobos tanpa memikirkan keselamatan penguna yang lain.


Terkejut, Rangga segera mengerem pedal mobil alhasil ketiga temannya hampir celaka tak terkecuali dirinya sendiri.


Sedangkan Rasya yang sedari tadi nampak tidak tenang dan terus saja memberikan tatapan tajamnya akhirnya omelan yang ditakutkan Rangga pun benar-benar terjadi setelah mereka sampai di lokasi.


"Rangga kamu itu sebenarnya bisa menjalankan tugas apa tidak sih, kamu itu laki-laki kenapa fisik kamu sama seperti perempuan jika kamu memang tidak punya keahlian menjadi seorang detektif harusnya kamu cari tugas lain saja apa kamu paham!"tegas Rasya, sedangkan Rangga yang mendapatkan omelan ia hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Maaf, maafkan aku," balas Rangga.


"Maaf. Apa kamu pikir dengan kata maaf musibah akan begitu saja terhindar. Ingat kecerobohan seseorang adalah salah satu hal yang sangat aku benci apa kamu paham! Sudahlah aku malas,"tegas Rasya yang tanpa berkata lagi, ia segera turun dari mobil. Dan tak lupa menutup pintu mobil dengan kerasnya.


"Astaga Rasya itu kenapa suka marah-marah terus sih, Rangga kamu jangan masukkan kehati omongan Rasya ya dia hanya emosi,"jelas Gibran sesaat ia pun segera turun mengejar Rasya.


"Iya yang dikatakan Gibran benar kamu jangan masukkan kehati ya apa yang barusan diucapkan oleh Rasya," timpal Verrel sembari menepuk pundak Rangga seakan-akan memberikan dukungan.


"Iya aku ngerti kok, terima kasih karena kalian sudah mau memahami-ku!"


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


"Rasya apa yang kamu lakukan kenapa kamu malah membentaknya seperti tadi, dia anak baru jadi jelas dia masih butuh belajar sama kita, jadi harusnya kamu pahami soal itu!"


"Rasya aku tahu kamu pasti sangat marah kepadanya tapi setidaknya kamu tahan emosi kamu, dia juga punya kelemahan jadi kamu jangan buat dia merasa kurang percaya diri akan hal ini. Setiap orang butuh proses untuk mencapai batas yang ia inginkan," jelas Verrel yang mencoba menenangkannya.


"Sudahlah jangan bahas soal ini. Ayo kita lakukan tugas kita," balas Rasya yang kemudian pergi dari pandangan keduanya. Sedangkan Rangga yang berjalan dengan santai, ia melihat Rasya yang terlihat sangat marah, wajah senyumannya tiba-tiba terukir dari bibir manisnya.


"Entah kenapa melihat kamu marah seperti itu aku malah jadi merasa senang Rasya. Karena setidaknya aku sudah mengetahui jika keperdulian kamu terhadap orang lain sudah terlihat jelas dan itulah yang membuatku merasa sangat senang sekarang, biar pun aku sadar kamu marah dan perduli bukan karena kamu melihat wujud-ku sebagai Sifa," ucap Rangga yang ternyata dia adalah Sifa.


FLASH BACK.


"Untuk apa Papa masih bertanya soal itu.Hubungan aku dan Rasya sekarang sudah tidak bersatu lagi, bahkan mungkin sekarang Rasya sudah membenciku jadi akan lebih baik kita alihkan ke'pembicaraan yang lain saja Pa," timpal Sifa yang mencoba mengalihkan pembicaraan lain.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Papa? Apa kamu masih mencintainya?"tanya Richard.


"Apa Papa sangat ingin tahu tentang isi hati Sifa saat ini?"balas Sifa.

__ADS_1


Memandang satu sama lain tanpa ada kedipan sekali pun, Richard segera membekam tubuh Sifa dan memeluknya dengan sangat erat.


"Katakan pada Papa apa yang telah kamu rasakan saat ini. Katakan pada Papa kalau kamu sudah sangat yakin jika Rasya memang pendamping yang kamu inginkan dan kamu tunggu-tunggu selama ini ayo katakan.


"Iya Pa jujur biar pun hubungan aku dan Rasya sudah punah hampir beberapa bulan. Aku merasa cinta itu sangat sulit untuk hilang dalam bayang-bayang-ku. Apalagi setelah tak sengaja kita berada dalam satu projek yang sama aku merasa cinta itu diam-diam telah muncul dan akhirnya sekarang, sekarang cinta itu sangat sulit untuk hilang lagi," balas Sifa yang hanya menundukkan kepalanya sembari menunjukkan raut wajah sedihnya.


"Ambillah," perintah Richard sembari memberikan satu buah tiket pada Sifa. Terkejut, Sifa hanya menatapnya dengan tatapan bingung.


"Tiket? Tiket untuk apa Pa?"tanya Sifa dengan wajah herannya.


"Kamu ambil dan kembalilah ke-Jakarta. Karena misi Papa sudah selesai yaitu mengetes seberapa besar perasaan yang kalian miliki. Jika Rasya masih sangat mencintai-mu dia pasti akan terus berjuang memperjuangkan dan menyimpan hatinya hanya untukmu. Papa yakin jika dia masih sangat mencintaimu dia pasti tidak akan bisa berpaling dari wanita lain karena ia tahu hati yang ia miliki separuhnya sudah menjadi milikmu, jadi kini saatnya kamu untuk mendapatkan separuh hati yang masih tertanam dari hati Rasya jadi pergi dan rebut-lah.


"Ini pasti bohong kan Pa. Papa gak mungkin ngerjain aku kan?"tanya Sifa yang akhirnya air matanya mulai menetas.


"Bukan Papa kamu namanya kalau dia tidak punya ide senekat ini sayang. Maafkan Papa dan Mama karena telah membuat hubungan kalian kembali terpisah maafkan kita," timpal Resya yang memeluk putrinya.


"Kak Sifa kita melakukan semua ini bersama-sama. Bahkan Rasyel sendiri pun ikut membantu kita, jika kita yang membuat hubungan kalian memudar kini saatnya kami juga yang harus membenahinya. Kami sengaja melakukan semua ini karena kamu ingin mengetes seberapa besar perasaan yang Rasya miliki pada Kak Sifa, makanya kita sengaja mengatur semua rencana ini termasuk berpura-pura pindah ke Korea karena kenyatannya semua ini sudah jadi rencana kita Kak," timpal Silvi yang kemudian muncul bersanding dengan Rasyel.


"Kalian benar-benar sudah tega. Aku kira kalian bakalan setega ini memisahkan aku sama Rasya tapi ternyata semua berbeda dari dugaan-ku," ucap Sifa yang tak henti-hentinya air matanya mulai membanjiri kedua sudut matanya.


"Cepat pergilah Papa sudah memesankan tiket untukmu. Dan jam penerbangan tingal menghitung beberapa jam lagi jadi cepat pergilah!"perintah Richard.


"Terus gimana dengan kalian? Dan Perusahaan Papa?"tanya Sifa.


"Kamu tenang saja sayang semua perusahaan Papa aman terkendali tanpa ada halangan sedikitpun jadi cepat pergilah.


"Baik Pa aku sayang Papa. Aku sayang sama kalian semua sampai bertemu kembali di Jakarta.


Satu kata yang akhirnya terucap dari mulut Sifa. Wajah bahagia akhirnya terpancar dari kedua sudut matanya, segera berlari keluar dari rumah ini. Ia akhirnya masuk kedalam Mobil yang siap untuk mengantarnya.


"Apa Sifa berhasil menumbuhkan perasaan Rasya yang kini masih merasa kecewa padanya?"tanya Resya.


"Aku percaya Sifa bukanlah Wanita biasa. Dan aku juga percaya Sifa punya seribu cara untuk merencanakan misi mencari cinta sejatinya jadi kita hanya menunggu hasilnya saja," timpal Richard dengan memberikan satu kecupan tepat mengenai kening Resya.


"Apa Papa serius?" tanya Silvi balik

__ADS_1


"Iya Papa sangat serius sayang," balas Richard yang kemudian memberikan rangkulan pada Silvi juga, Rasyel yang melihatnya ia juga membelai pucuk rambut Silvi sembari mengendong buah hatinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2