
Memandang indah pemandangan yang berada dari luar jendela. Resya nampak menikmati pemandangan itu dari dalam jendela kamar hotel ia berdiri sekarang ini.
Tak lama datanglah langkah seseorang yang nampak tak membuat pandangan Resya berpaling menatapnya. Melingkari tubuh Resya dan memeluknya dari belakang Resya merasa hangat akan pelukan yang dihasilkan pria tersebut.
"Kamu? Kenapa pagi-pagi gini aku sudah mencium aroma harum dari tubuh-mu? Memangnya kamu mau kemana?" tanya Resya yang membalas pelukan tersebut.
"Apa kamu lupa aku kan masih punya satu hutang lagi yaitu memberikan pelajaran pada lelaki hidung belang itu, jadi gak mungkin kan kalau aku akan melewatkannya?"
"Baiklah aku kira kamu akan lupa sama tugas kamu satu itu. Oh iya jika kamu berniat ingin mengerjai laki-laki itu apa kamu akan gunakan aku sebagai senjatanya?" tanya Resya, berlalu Richard membalikkan tubuh Resya tepat mengarah dihadapannya.
"Gak mungkinlah kalau aku akan gunakan kamu sebagai senjatanya. Untuk kali ini aku akan meminta bantuan pada Gibran, semoga aja dia mau akan perintah yang akan aku perintahkan padanya. Oh iya sebelum aku pergi apa aku boleh meminta satu permintaan?"tanya Richard dengan ekpresi-nya yang sedikit memohon.
"Meminta? Meminta apa?" tanya balik Resya.
"Ini!" balasnya dengan menunjukkan kearah bibirnya sendiri, terkejut Resya malah menunjukkan senyuman malunya.
"Tunggu? Maksud kamu? Kamu minta cium?" tanya Resya nampak tidak percaya.
"Iya, itu udah tahu," balas Richard nampak malu.
"Tidak, tidak ada cium-ciuman jadi cepat pergilah," perintah Resya dengan mendorongnya.
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu memberikan apa yang barusan aku minta tadi," balas Richard nampak ngeyel.
"Astaga kamu itu ternyata selain nyebelin bisa juga bikin enek ya, udah- udah cepat pergi," usirnya dengan beberapa kali ia mendorongnya.
"Astaga Resya apa itu ...?" Tunjuk Richard dengan jarinya yang menunjukkan salah satu arah yaitu AC.
"Apaan tidak ada apa-apa? Mana Richard tidak ada apa-apa?" balas Resya nampak tak kebingungan.
"Itu ...Ac-nya nyala ...!" ledeknya yang tanpa aba-aba langsung memberikan satu kecupan pada pipi kanan Resya. Terkejut Resya yang berniat ingin menegurnya Richard sudah terlebih dulu kabur dari hadapannya.
"Richard ... bisa-bisanya dia ledekin aku seperti itu awas aja nanti," balas Resya yang nampak tersipu malu. Bahkan raut wajahnya yang ingin tertawa tak bisa dibohongi lagi.
__ADS_1
Berbeda dari suasana gembira yang dilalui Richard mau pun Resya saat ini. Terlihat dari agak kejauhan Gibran yang nampak berjalan dengan langkahnya yang terlihat pelan seperti tidak ada semangat yang membantu menopangnya.
Richard yang mengetahuinya ia langsung menghampirinya.
"Tuan ada apa? Kenapa Tuan memerintahkan-ku untuk cepat-cepat datang menemui Tuan pagi ini?" tanya Gibran dengan kedua tangannya sembari membawa sesuatu.
"Iya saya sengaja menyuruh-mu untuk datang pagi-pagi karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu. Oh iya apa dres yang aku minta kemaren sudah kamu bawakan?" tanya Richard membuat pandangan Gibran sedikit terheran-heran.
"Iya Tuan saya sudah membawakannya ini tuan,' balasnya dengan memberikannya pada Richard. Akan tetapi Richard malah menepisnya.
"Jangan!"
"Maksud tuan? Ini kan untuk Resya tapi kenapa Tuan malah menolaknya?" tanya Gibran nampak heran.
"Jika aku ingin memberikannya pada Resya. Aku pastinya tidak akan memerintahkan-mu untuk memilihkannya karena sejujurnya itu untuk dirimu sendiri," balas Richard seketika mendapatkan sahutan dari Gibran.
"Maksud Tuan, tapi saya kan laki-laki dan adik saya juga berat badannya jauh berbeda dengan Resya jadi pastinya dia akan menolaknya jadi lebih baik Tuan terimalah ini," ucapnya lagi dengan memberikan itu lagi pada Richard.
"Aku menyuruh-mu membeli itu bukan untuk Resya atau pun untuk Adik-mu tapi aku memberikannya untuk dirimu sendiri. Lebih jelasnya nanti kamu juga akan tahu, jadi cepat ayo ikut aku," ajaknya yang langsung membawa Gibran masuk kedalam hotel lagi.
"Tunggu kenapa Tuan malah membawaku ketempat salon seperti ini, apa tuan ingin merubah penampilan -ku lebih keren dari sekarang ini?" tanya Gibran dengan raut wajahnya yang terlihat bahagia.
"Iya aku berniat ingin merubah penampilan kamu. Karena aku lihat aku bosen aja melihat menampilkan -mu yang gini-gini aja jadi kamu gak masalah kan?"
"Astaga Tuan kalau tuan ingin merubah penampilan -ku tambah keren jelas aku gak masalah-lah," balas Gibran dengan rasa percaya dirinya.
"Richard ada apa kenapa kamu membawa Gibran kesini?" tanya Resya kemudian Richard membisikkan sesuatu pada Resya.
"Apa? Apa kamu seriusan?" tanya Resya sampai membungkam mulutnya sendiri, terkejut dengan ekpresi wajah Resya yang nampak berubah, raut wajah percaya diri Gibran pun seketika luntur.
"Kamu? Kenapa kamu terkejut sampai seperti itu? Tuan, sebenarnya apa yang sedang tuan rencanakan saat ini?" tanya Gibran nampak panik.
"Intinya sekarang aku tidak bisa menjelaskannya secara detail sama kamu, jadi sekarang cepat kamu masuk ketempat ganti dan segeralah kamu ganti pakaian kamu dengan pakaian wanita yang sedari tadi kamu pegang ini!" perintah Richard seketika Gibran pun lemas.
__ADS_1
"Apa, maksud Taun. Aku ...aku harus memakai semua pakaian ini, termasuk rok mini ini juga?" tanya Gibran dengan ekpresi wajah terkejutnya.
"Sudahlah jangan banyak membantah cepat masuklah dan ganti pakaian kamu, karena kita gak ada waktu lagi," perintah Richard.
"Gak. Aku gak mau, mau ditaruh dimana harga diriku ini. Aku itu laki-laki sungguhan yang benar saja masak aku harus memakai pakaian wanita seperti ini sih gila kali," sewot Gibran.
"Baiklah kalau kamu tidak mau aku tidak masalah. Akan tetapi bersiaplah kalau aku akan menyebarkan video kamu dimana kamu tertidur dengan keadaan mendengkur dan pastinya air liur kamu itu mengalir bagaikan air terjun tiada henti. Jadi terserah aku gak masalah!"
"Jangan, baiklah aku bakal memakai semua pakaian ini, tapi aku mohon jangan sebarkan video itu, jika itu sampai tersebar harga diriku sebagai seorang mafia seketika akan jatuh baiklah aku akan pakai semua ini, tapi kalian tunggu diluar ya?" titah Gibran dengan wajah pasrah-nya.
"Baiklah akan aku tunggu!" balas Richard dengan tersenyum, kemudian Richard mau pun Resya akhirnya keluar dari kamar ini terlebih dulu.
"Masuk jebakan juga nih anak," batin Richard dengan menahan tawanya.
"Richard kamu tega banget kerjain Gibran sampai segitunya?"
"Sudahlah ini hanya sementara, nanti aku juga akan memberikan upah yang setimpal untuknya," balasnya yang hanya bisa tersenyum.
"Baiklah," balas Resya yang nampak ikut pasrah dan prihatin.
"Apes banget sih kamu Gibran, masak kamu harus memakai pakaikan kaya gini sih, yang benar saja!" gumamnya yang kemudian ia pun memasuki ruangan ganti dengan langkah kaki pelannya.
"Wey ...Gibran apa kamu udah selesai ganti, kamu kenapa lama banget sih didalam kamu gak memakai pakaian apa yang aku perintahkan tadi?" tanya Richard dengan sedikit mengeraskan suaranya. Dan beberapa kali ketokan pintu kamar tersebut.
"Berisik, kamu bisa gak jangan berisik sebentar lagi aku bakal keluar, aku hanya menunggu waktu dan mental yang kuat untuk berhadapan dengan kalian paham!" gertak balik Gibran yang nampak pasrah.
"Baiklah ...baiklah aku tidak akan mengugup'i-mu tapi kamu udah pakai pakaian kamu kan?"tanya Richard.
"Sudah. Aku sudah memakainya.
"Baiklah berarti sekarang Resya boleh masuk kan?" tanya Richard spontan mendapatkan sahutan dari Gibran.
"Masuk, untuk apa Resya harus ikut masuk?" balas Gibran mulai panik.
__ADS_1
"Sudahlah nanti kamu juga akan tahu.
BERSAMBUNG.